Kreativitas Pemda Menghadapi Jalan Tol

Oleh: Yuniman T  Nurdin

 

Jalan tol menjadi urat nadi ekonomi. Sebab, jalan yang ada sebelumnya sudah tidak mampu lagi menampung  arus kendaraan yang lalu-lalang di jalan provinsi atau pusat. Di titik-titik tertentu, (pasar, lintasan kereta api, perempatan dll) kerap menjadi biang kemacetan di jalan-jalan  di negeri ini.

Entah berapa banyak waktu terbuang hanya untuk menembus kemacetan di titik-titik jalan tersebut. Berapa banyak Bahan Bakar Minyak (BBM) terbuang sia-sia di lintasan kemacetan. Sehingga transportasi darat yang seharusnya menjadi biaya murah yang dapat menghubungkan wilayah-wilayah di seluruh pelosok Indonesia, justru menyebabkan munculnya ekonomi biaya tinggi. Kehilangan waktu tempuh, kehilangan produktivitas menjadi kesia-siaan dalam peradaban umat.

Kehadiran jalan tol menghilangkan kesemrawutan fenomena itu. Tol mampu memangkas waktu tempuh transportasi darat. Tol menjadi “penawar dahaga’ pengusaha transportasi dan masyarakat yang telah puluhan tahun republik ini merdeka, telah terjebak dalam inefisiensi dalam transportasi. Tol mampu menghilangkan kegalauan tatkala arus mudik lebaran masyarakat transportasi darat terjebak dalam ketidak nyamanan di perjalanan.

Itu sebabnya, negara maju seperti Amerika Serikat di era tahun 54 melontarkan gagasan  transformasi pembangunan jalan raya bebas hambatan. Dalam sebuah pidato Wakil Presiden Richard Nixon mengucapkan pidato itu di depan para gubernur, menggunakan catatan yang ditulis tangan oleh Presiden Dwight Eisenhower. Presiden Eisenhower tidak dapat menghadiri pertemuan itu karena kematian dalam keluarganya. Inilah kutipan dari pidato itu:

“Jalan jalan raya yang ada di Amerika sekarang ini sudah ketinggalan jaman karena dibuat berdasar jalan setapak suku Indian, tanpa rencana yang menyeluruh. Jalan jalan yang ada dibuat untuk memenuhi keperluan lokal, dalam era trans-kontinental. Setiap tahun milyaran jam terbuang karena kemacetan lalu lintas, jalur yang harus dialihkan dan lain lain. Ini berarti pemborosan milyaran dolar.”

Presiden Eisenhower mengusulkan program pembangunan jalan raya bernilai 50 milyar dolar, selama 10 tahun. Bagian terakhir sistem itu, sebuah proyek jalan raya, terowongan dan jembatan yang disebut The Big Dig di Boston, baru diresmikan tahun beberapa tahun yang lalu, 50 tahun, bukan 10 tahun, setelah pidato Richard Nixon, sebagaimana dikutip dari voaindonesia.com.

Karena itu, proyek paling ambisius dalam sejarah Amerika dimulai. Biaya proyek membangun jalan raya sepanjang 64 ribu kilometer yang diselesaikan dalam 50 tahun ini, lebih dari 130 milyar dolar.  Dan McNichol, penulis beberapa buku mengenai proyek The Big Dig mengatakan, jaringan jalan raya Amerika menjadi mesin ekonomi yang sangat perkasa.

Empat tahun belakangan ini di bawah (Kabinet Indonesia Kerja, Jokowi) melakukan pembangunan secara massif pembangunan tol di Indonesia. Akhir tahun ini, tol Trans Jawa ( Merak – Surabaya) sepanjang 870 km akan selesai. Kemudian dilanjutkan pembangunan tol sampai Banyuwangi yang diharapkan selesai 2019.

Itu baru tol Trans Jawa. Secara pararel pun dibangun tol Trans Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Inilah sebuah harapan besar dalam membangun fundamental ekonomi nasional. Rencana yang besar itu tak ada yang salah. Memang efeknya tidak langsung terasa. Tapi fasilitas itu (penumpang) dan efisiensi bagi pengusaha angkutan serta peluang munculnya ekselerasi ekonomi makin terbuka lebar!

Dan secara bersamaan pun – pembangunan tol laut – menjadi instrumen terintegrasi yang dapat meningkatkan daya saing negeri ini. Apa yang salah atas kebijakan tersebut? Bila muncul pertanyaan tingkat produksi dalam negeri masih rendah, sehingga kehadiran infrastruktur tersebut, tak terasa dampaknya, maka sama saja mempertanyakan: “mana duluan antara telur dan ayam”. Dikotomi tersebut tak perlu dipertentangkan, karena akan menimbulkan “debat kusir” tidak menyelesaikan masalah.

Bila produksi belum maksimal, misalnya, yang harus dicarikan instrumen untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Mungkin salah satu faktornya minimnya infrastruktur, sehingga daya saing investasi Indonesia masih rendah, sehingga investor kurang tertarik berinvestasi di daerah-daerah yang minim infrastruktur. Itu sebabnya pembangunan infrastruktur, seperti tol menjadi salah satu pendorong daya tarik investasi.

Jalan tol jangan dipandang dalam arti sempit! Hanya diperuntukan bagi kelas menengah ke atas yang memiliki kendaraan. Tol jangan dipandang sebagai pemicu kecemburuan sosial bagi masyarakat lokal yang selama ini menuai berkah dari jalan provinsi atau pusat yang dilintasi kendaraan-kendaraan antarprovinsi.

Sepanjang jalur Pantura, misalnya, berapa banyak Usaha Kecil Mikro (UKM) yang terpaksa ditutup karena makin berkurangnya kendaraan-kendaraan yang melintas di jalan tersebut. Berkurangnya volume kendaraan yang melintas di jalan tersebut, potensi meraih rejeki bagi UMK pun berbanding lurus dengan keadaan demikian!

Ini problem sosial baru. Itu sebabnya pemerintah daerah yang dilalui jalan tol jangan hanya menjadi penonton. Diperlukan kreativitas dari masing-masing kepala daerah untuk mengeksplorasi potensi daerah, agar kendaraan yang melintasi jalan tol dapat tertarik terhadap kearifan budaya lokal setempat. Keragaman budaya dan makanan khas hingga potensi wisata setiap daerah, diharapkan mampu menarik pengguna jalan untuk singgah dan berbelanja.

Justru kehadiran tol – bila mampu dimanfaatkan secara maksimal dapat meningkatkan potensi daerah. Ada banyak jalan menu “Roma”. Dia tidak berhenti pada satu opsi, melainkan banyak opsi yang bisa dikembangkan untuk menangkap multiplier effect dari kehadiran tol. Kreativitas memang diperlukan sebagai terobosan dalam menyikapi kondisi demikian.

Jangan terjebak fantasi masa lampau – comport zone – yang bertahun-tahun menikmati multiplier effect dari eksistensi  jalan-jalan provinsi, baik itu di Jawa, Sumatra dan pulau lainnya di Indonesia. Lalu lintas jalan provinsi yang selama ini telah memberi berkah, bukan berarti berkah tersebut “tercabut”  dari akar daerah itu. Melainkan hanya merubah sketsa, supaya ada keseimbangan baru yang akan menimbulkan multiplier effect jauh lebih besar skala ekonominya.

Beroperasinya jalan tol Trans Jawa ini, nantinya diharapkan akan meningkatkan perekonomian wilayah yang dilalui tol tersebut. Untuk itu, tempat peristirahatan (rest area) di jalan-jalan tol Trans Jawa diperuntukkan untuk mendukung kegiatan ekonomi lokal melalui Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMK). Paling tidak komitmen ini, menjadi salah satu opsi atas sindrum sosial yang akan terjadi atas kehadiran jalan tol.

Pemerintah daerah pun dapat mengeksploitasi potensi wisata daerah yang dapat ditawarkan ke masyarakat pengguna jalan tol. Bila selama ini masyarakat enggan mengunjungi lokasi wisata di suatu daerah karena minimnya akses jalan menuju ke sana, maka kehadiran jalan tol bisa menjadi pintu masuk mengeksploitasi potensi-potensi daerah yang ada.

Mungkin ada baiknya pemerintah daerah melakukan penyesuaian terhadap Tata Ruang Daerah Kabupaten/Kota terhadap kehadiran tol. Sebab, kehadiran jalan tol – di mana pun berada akan membawa dampak ekonomi bagi daerah setempat.

Oleh karena itu,  kreativitas dalam menghadapi budaya baru (jalan tol) merupakan “senjata terhunus” yang dapat membuka daerah menarik investasi masuk. Pertanyaannya, sejauhmana pemerintah daerah kreatif menghadapi kondisi demikian?

Saya yakin kreatif! Karena tak ada daerah yang hanya ingin menjadi “penonton” dari pembangunan yang ada. []

 

*Penulis pimpinan redaksi pelakubisnis.com