CSR Bank DKI, Terapkan Created Shared Value

Program  CSR Bank DKI dijalankan dengan empat pendekatan, yaitu pendekatan ekonomi,  filantropi, sosial kemasyarakatan dan pendekatan terintegrasi dengan menjaga profit dan keseimbangan yang mendukung pembangunan DKI Jakarta.

Boleh jadi Bank DKI mengimplementasikan berbagai program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan konsep triple bottom line.  Di mana tujuan bisnis bukan semata mencari keuntungan (profit), tetapi turut bertanggungjawab kepada masyarakat (people) dan lingkungan (planet). Manajemen Bank DKI percaya dengan mengaplikasikan ketiga hal tersebut akan menjadi kunci penggerak terlaksananya pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.

Menurut Herry Djufraini, Sekretaris Perusahaan Bank DKI,  implementasi CSR dirumuskan berdasarkan prioritas kegiatan dengan mempertimbangkan beberapa aspek, yaitu: memiliki dampak luas bagi masyarakat (bukan individu atau kelompok kecil);  dilaksanakan oleh organisasi kemasyarakatan dan stakeholder; dan berdampak positif dalam membangun kapasitas komunikasi Bank.

“Dalam merumuskan kegiatan CSR, Bank DKI juga melakukan koordinasi bersama berbagai pemangku kepentingan dan instansi terkait  berdasarkan pendekatan Created Shared Value (CSV),” Herry serius kepada pelakubisnis, pada 30 Maret lalu.

Sedikitnya, menurut Herry,  ada empat  pendekatan CSV  yang dijalankan. Pertama, Pendekatan Ekonomi.  Dalam menjalankan kegiatan usahanya, yakni menyediakan produk dan layanan jasa perbankan kepada nasabah dan debitur, Bank DKI memiliki tanggung jawab memberikan perlindungan kepada konsumen melalui keterbukaan informasi mengenai produk dan layanan serta akses terhadap komunikasi yang  didalamnya mencakup kesempatan pengaduan nasabah dan mediasi perbankan.

Kedua, Pendekatan Filantropi. Bank DKI  menerapkan program CSR berupa  sumbangan dalam bentuk uang, barang atau bentuk lainnya kepada pemangku kepentingan yang membutuhkan.

Ketiga, Pendekatan Sosial Kemasyarakatan. Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Bank DKI selalu menekankan  membangun hubungan keterkaitan dengan seluruh pemangku kepentingan. Bank DKI dan terus meningkatkan nilai dari kontribusi Bank DKI kepada pemangku kepentingan.

Keempat, Pendekatan Terintegrasi.  Bank DKI mendorong peningkatan kontribusi kepada masyarakat melalui integrasi antara peran Bank DKI sebagai entitas bisnis yang menekankan pada profit, dengan peran Bank DKI sebagai entitas sosial. Bank DKI memandang penerapan ini dengan menjaga keseimbangan antara keuntungan dan mendukung pembangunan DKI Jakarta.

“Bank DKI senantiasa mengintegrasikan CSR ke aktivitas Bisnis sebagai kegiatan yang saling mendukung. Jadi, tidak bisa dipisahkan secara dikotomis apakah CSR Bank DKI tersebut termasuk ke dalam Cost / Profit semata,” jelasnya serius

Lebih lanjut ditambahkan, sumber pendanaan Program CSR Bank DKI  berasal dari Anggaran dari Tahun Buku berjalan yang telah dianggarkan dan diprogramkan untuk diimplementasikan pada tahun buku yang berjalan. Mekanisme penetapan anggaran program CSR ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran tahun berjalan.

Selain itu, menurut Herry, sumber pendanaan program CSR juga berasal dari Rekening Bank DKI Peduli. Program ini  melibatkan partisipasi nasabah Bank DKI, dan juga masyarakat pada umumnya.

Contohnya membantu masyarakat dan tenaga medis yang terdampak pandemi Covid-19. Dalam hal ini perusahaan menggalang dana sumbangan dari karyawan Bank DKI  yang bertajuk  Rekening SS Donasi.

Selain itu, ada bantuan dari Unit Pengelolaan Zakat Bank DKI.Unit Pengelolaan Zakat Bank DKI sebagai pengelola zakat karyawan juga melakukan penyaluran dana zakat tersebut untuk program CSR khususnya pada bantuan sosial kemasyarakatan,” tandas Harry menjelaskan sumber dana pembiayaan kegiatan CSR Bank DKI.

Program CSR Bank DKI, jelas Herry, fokus pada pengembangan komunitas (community development) di luar perusahaan. Pada tahun 2020, realisasi program CSR Bank DKI sebesar 92,64% disalurkan untuk Sosial Kemasyarakatan (Social Community) di luar perusahaan. Sedangkan 2,02% disalurkan untuk Pendidikan dan Kebudayaan (Education and Cultural), untuk pengembangan UMKM (MSMEs) sebesar 0,95%, dan untuk pelestarian lingkungan hidup (environment) sebesar 4,38%.

Herry menambahkan, program CSR Bank DKI menyasar pada lima aspek utama, yakni pendidikan, budaya, UMKM, Sosial Kemasyarakatan, dan Lingkungan Hidup. “Tentunya ada KPI yang ditentukan dan selalu dievaluasi  setiap program CSR Bank DKI.

“Perluasan mobilisasi kegiatan CSR Bank DKI didukung oleh berbagai elemen mulai dari karyawan Bank DKI hingga berbagai pemangku kepentingan mulai dari Pemprov DKI Jakarta hingga mitra kerja Bank DKI,” jelas Herry.

Sedangkan di sektor pendidikan, program CSR Bank DKI mencakup pemberian bantuan dana, dukungan terhadap kegiatan atau program yang bertujuan  meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,  khususnya di DKI Jakarta.  Di mana  pelaksanakan dijalankan oleh institusi-institusi  pendidikan.

Namun demikian, menurut Herry, juga dikontribusikan pada sekolah dan universitas, lembaga pendidikan non-formal (lembaga kursus/pelatihan), lembaga pemerintah, seperti  Departemen Pendidikan Nasional dan kantor-kantor dinas di bawahnya, organisasi pelajar dan mahasiswa serta pendidik seperti  guru, dosen, maupun wali murid

“Sasaran dari program-program tersebut selaras dengan upaya Bank DKI berkolaborasi dalam pembangunan khususnya di DKI Jakarta. Melalui program CSR Bank DKI di sektor pendidikan dan budaya, Bank DKI telah turut serta dalam peningkatan kualitas SDM di DKI Jakarta maupun Indonesia,” kata Herry mengunci percakapan.[] Siti ruslina/Ilustrasi: Ist