Mengintip Kegagalan Suksesi Bisnis Keluarga

Meskipun tak semua perusahaan keluarga gagal melakukan suksesi kepemimpinan. Tapi nyatanya sebagian besar bisnis keluarga berakhir pada generasi ketiga. Apa pasalnya?

Menurut statistik hampir 90% bisnis keluarga berakhir di generasi ketiga, tidak dapat melanjutkan ke generasi berikutnya. Tentunya ada kesalahan secara umum yang menyebabkan terjadinya hal tersebut. Beberapa praktik berikut disinyalir sebagai faktor kegagalan dalam melakukan suksesi bisnis keluarga ke generasi berikutnya.

Diantaranya  tidak dipersiapkan dan dibuat perencanaan. Di mana pemilik perusahaan menjalankan  bisnis berjalan seperti biasa. Memang pada para pendiri atau pemegang saham mula-mula senang melihat perkembangan perusahaan yang dipimpin sendiri maupun dengan beberapa orang yang menjadi pendiri, seluruh posisi kunci dipegang erat-erat.

Namun demikian, seiring dengan perjalanan waktu, tak terasa para pendiri perusahaan semakin menua, lemah dalam fisik, lemah dalam berpikir tapi tetap merasa diri kuat. Meskipun generasi kedua (anak-anak) pemilik perusahaan sudah berumur – yang seharusnya siap – secara perlahan – melakukan sosialisasi mempersiapkan kepemimpinan untuk generasi kedua, tapi tidak dianggap anak yang tidak mampu menggantikan diri mereka. Tak pelak lagi,  ketika harus terjadi suksesi kepemimpinan di perusahaan di generasi kedua, maka generasi penerus menerima secara kaget, dan karena selama ini tidak diberi kesempatan, tidak tahu apa yang seharusnya diperbuat.

Boleh jadi pimpinan perusahaan sebagai generasi pertama akan membagi tanggung jawab sama rata sesuai dengan warisan. Membagi warisan kepada beberapa anak dalam bentuk saham dengan sama rata adalah sesuatu yang baik, tidak pilih kasih.

Namun, jika itu disertai dengan pembagian tanggung jawab dalam manajemen akan terjadi ketimpangan jika tidak menempatkan “the right person in the right position”. Salah satu contoh dengan menempatkan sesuai urutan usia, yang lebih tua lebih berkuasa. Faktor kemampuan, bakat, pendidikan, dan wawasan tidak diindahkan, akibatnya kembali gagal di tengah jalan.

Menempatkan generasi penerus pada posisi yang tidak berpengaruh. Dengan dalih agar belajar dari bawah, maka generasi penerus ditempatkan di posisi yang tidak berpengaruh. Konsekuensinya karyawan di bagian tersebut akan cenderung hilang respek dan penuh kecurigaan dan kedua, bagi generasi penerus, di bawah sadar mereka timbul perasaan rendah diri, hal ini akan berisiko besar ketika secara mendadak dia harus mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Tidak memiliki rasa percaya diri, berlamban-lamban dalam mengambil keputusan karena tidak mengetahui mana prioritas dan mana yang tidak, sebagaimana dikutip dari artikel berjudul: Faktor kegagalan Dalam Melakukan Suksesi Bisnis Keluarga, yang dibuat oleh okezone.com, pada 19/5/2017.

Tidak dibuatkan sasaran jelas. Sasaran disimpan baik-baik di benak generasi pertama dan generasi kedua, masih dari sumber yang sama,  hanya disuruh untuk memperhatikan dan belajar dari apa yang dilakukan oleh generasi pertama. Sasaran atau objektif memang sebagian besar merupakan keinginan dan tekad generasi pertama yang dituangkan ke dalam bentuk perencanaan, strategi dan program agar diketahui oleh setidaknya posisi-posisi kunci di perusahaan.

Generasi penerus seharusnya mendapat penjelasan, secara pribadi: apa, mengapa, dan bagaimana sasaran dibuat dan bagaimana harus dilaksanakan dan selanjutnya diingatkan bahwa sasaran tersebut akan menjadi tanggung jawab generasi penerus untuk mencapainya.

Sementara menyimpan sebagai rahasia exit plan (Perencanaan untuk estafet, serah tanggung jawab). Pemimpin yang berhasil bukan saja yang menunjukkan dirinya mampu dan hebat, juga dilihat apakah dia berhasil mencetak generasi penerus yang mampu minimal sama dengan dirinya, dan jika mungkin melampaui.

Di samping itu, konflik terus mewarnai banyak perusahaan keluarga. Tidak hanya perusahaan besar,  tapi banyak  perusahaan kecil yang mengalami pecah kongsi antar saudara dalam menjalankan bisnisnya. Oleh karena itu, perlu tangan profesional untuk meminimalisir konflik dalam perusahaan keluarga. Berbagai konflik disebut selalu menghantui sebuah perusahaan keluarga.

Selain itu, penggunaan peran yang tepat sebagai manajer dan sebagai pemilik, merupakan persoalan yang sering timbul. Perusahaan keluarga biasanya tidak memiliki struktur yang sudah terdefinisi dengan baik, seorang manajer yang sekaligus pemilik bisa memiliki pekerjaan yang tidak terbatas, apa saja dikerjakan. Kondisi ini membuat karyawan sering bertindak pasif karena tidak memiliki wewenang dan merasa tidak dipercaya. Manajer yang sekaligus pemilik sering sulit memimpin perusahaan karena sikap karyawan yang anggota keluarga bisa lebih sulit untuk diatur daripada mereka yang bukan anggota keluarga. Sebab itu memang membutuhkan anggota keluarga yang memiliki kedisplinan sendiri, sehingga bertindak sesuai batas wewenang yang diberikan dalam organisasi.

Selain memiliki beberapa kelebihan, bukan berarti bisnis keluarga tidak memiliki kelemahan. Setidaknya ada 5 kelemahan yang mungkin terjadi dalam bisnis keluarga. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain (1) Ketergantungan terhadap keluarga, (2) munculnya agency cost sebab dari altruism, (3) tantangan dalam menyiapkan suksesor, (4) pembatasan sumber daya, (5) peran yang ambigu, sebagaimana dikutip dari eljohnnews.com/kutukan-bisnis-keluarga-benarkah, pada  6 April 2021.

  • Ketergantungan terhadap keluarga menjadi kelemahan dari bisnis keluarga karena kendali anggota keluarga baik secara formal maupun informal menentukan takdir perusahaan menjadi lebih baik atau lebih buruk. Hal ini mungkin terjadi apabila perusahaan dikuasai oleh anggota keluarga yang tidak kompeten ataupun kurang beretika.
  • Kelemahan selanjutnya adalah (2) munculnya agency cost sebab dari altruism, meskipun dalam kelebihan bisnis keluarga salah satunya adalah minimnya konflik antara pemilik dengan manajer bukan berarti tidak timbul konflik. Salah satu potensi konflik adalah adanya nepotisme dalam penunjukkan manajer, bukan karena seseorang tersebut ahli dan memang dibutuhkan perusahaan melainkan karena orang tersebut memiliki faktor kekerabatan dengan pemilik perusahaan.
  • Kelemahan selanjutnya adalah (3) tantangan dalam menyiapkan suksesor, sejalan dengan kelemahan kedua maka bisnis keluarga akan dihadapkan pada dilemma dalam menyiapkan penerus. Perusahaan akan menghadapi pertanyaan: Apakah ada seseorang dalam keluarga yang mau mengambil alih? Jika ada, apakah dia mampu menjalankan perusahaan tersebut?
  • Bertolak belakang dengan salah satu kekuatan bisnis keluarga yaitu keunggulan sumber daya, salah satu kelemahan bisnis keluarga adalah (4) pembatasan sumber daya. Contohnya adalah jajaran manajemen tingkat atas hanya akan bisa diisi oleh anggota keluarga, sedangkan karyawan berprestasi yang bukan anggota keluarga tidak akan bisa mencapai posisi yang tinggi dalam manajemen perusahaan. Hal ini menyebabkan karyawan-karyawan yang berpotensi dan memiliki kompetensi lebih akan cenderung meninggalkan perusahaan keluarga tersebut.
  • Kelemahan selanjutnya adalah (5) adanya ketidakjelasan peran, anggota keluarga dalam sebuah bisnis keluarga seringkali memainkan beberapa peran dalam bisnis yaitu sebagai pemilik, manajemen, dan keluarga; hal ini menyebabkan anggota keluarga salah memposisikan diri terkait perannya dalam mengambil keputusan bisnis.[] Yuniman Taqwa/Ilustrasi: inspira.my.id