Perlu Perencanaan Suksesi Kepemimpinan Perusahaan Keluarga

Hanya sekitar 30 persen dari perusahaan keluarga yang mampu bertahan hingga generasi kedua, bahkan hanya sekitar 13 persen perusahaan keluarga di Indonesia yang dapat bertahan hingga generasi ketiga. Oleh karena itu, perlu persiapan dan perencanaan dalam suksesi kepemimpinan perusahaan keluarga!

Berdasarkan data Riset Daya Qarsa menemukan 95 persen perusahaan di Indonesia merupakan perusahaan keluarga yang berkontribusi sebesar 82 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dan memberikan 40 persen kontribusi terhadap kapitalisasi pasar di Indonesia.

Founder & Managing Partner (CEO) Daya Qarsa Dr Apung Sumengkar

Riset tersebut dituangkan dalam buku bertajuk: “Bangkit Setelah Pandemi: Mengembalikan Kesuksesan Perusahaan Keluarga Setelah Pandemi Covid-19”. Daya Qarsa menemukan sebanyak 70 persen perusahaan keluarga di Indonesia tidak mampu bertahan hingga generasi kedua.

Sementara  Founder & Managing Partner (CEO) Daya Qarsa Dr Apung Sumengkar mengatakan jumlah perusahaan keluarga di Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh tiga sampai empat kali lipat dalam lima sampai 10 tahun mendatang. Jumlah itu merupakan di atas rata-rata global.

 “Hanya sekitar 30 persen dari perusahaan keluarga yang mampu bertahan hingga generasi kedua, bahkan hanya sekitar 13 persen perusahaan keluarga di Indonesia yang dapat bertahan hingga generasi ketiga,” kata  Apung Sumengkar secara virtual, pada18/4.

Menurut Nawawi (2006), kepemimpinan merupakan kegiatan sentral di dalam kelompok organisasi, dengan seorang pemimpin puncak sebagai figur sentral yang memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam mengefektifkan organisasi untuk mencapai tujuannya. Namun dibalik tanggung jawab seorang pemimpin tidak lepas semata kepada bawahannya.

Sementara Menurut Colquitt, Lepine dan Wesson dalam Purnomo (2016) menyatakan bahwa “Leadership as the use of power and influence to direct the activities of followers toward goal achievement” yang berarti kepemimpinan sebagai pengguna kuasa dan pengaruh untuk mengarahkan aktivitas pengikut ke arah pencapaian sasaran, sebagaimana dikutip dari buku bertajuk: Kepemimpinan Dalam Perusahaan Keluarga, oleh: Seno Andri dan Kisya Hayuni, yang diterbitkan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau.

Seperti halnya di dalam sebuah perusahaan keluarga, perlu adanya persiapan peralihan kepemimpinan antar generasi sebagai calon penerus berikutnya. Suksesi kepemimpinan merupakan masalah yang cukup vital bagi suatu perusahaan, sebab dapat mempengaruhi kesinambungan hidup suatu perusahaan. Suksesi kepemimpinan dibutuhkan baik dalam perusahaan keluarga maupun perusahaan non keluarga, perusahaan besar maupun perusahaan kecil (Juliani, 2002).

Adanya berbagai alasan diatas membuat sebuah organisasi atau perusahaan menahan suksesi. Kesalahan dalam memilih pemimpin baru dapat berakibat fatal bagi sebuah organisasi atau perusahaan kemungkinan menjadikan organisasi itu tidak berkembang atau pun tidak maju. maka dari itu perlunya persiapan perencanaan suksesi dalam sebuah organisasi atau perusahaan demi keberlangsungan dan kemajuan sebuah organisasi.

Banyak perusahaan yang tidak bisa bertahan sampai generasi ketiga. Alasannya banyak perusahaan keluarga yang mengalami konflik internal. Ini biasanya terjadi antara anak-anak sebagai penurus bisnis keluarga. Adanya keirian hati dan rasa tidak adil membuat konflik semakin besar dalam bisnis keluarga. Oleh karena itu, perencanaan yang matang sangat dibutuhkan dalam menentukan suksesi yang baik dan berkualitas.

Sementara  Apung Sumengkar mengatakan jumlah perusahaan keluarga di Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh tiga sampai empat kali lipat dalam lima sampai 10 tahun mendatang. Jumlah itu merupakan di atas rata-rata global.

Dia menjelaskan, persentase yang kecil ini menunjukkan rintangan yang besar dalam menjaga keberlangsungan bisnis keluarga , jumlah perusahaan keluarga di Indonesia. Padahal, perusahaan keluarga adalah salah satu harapan untuk merealisasikan potensi ekonomi Indonesia. “Berdasarkan survei kami, rintangan tersebut diperparah dengan adanya Covid-19, dimana 47 persen responden menganggap pandemi Covid-19 sebagai kekhawatiran utama perusahaan keluarga saat ini,” lanjut Apung.

Riset Daya Qarsa menemukan empat tantangan utama yang dihadapi oleh perusahaan keluarga. Salah satunya adalah banyak perusahaan keluarga mengalami penurunan bisnis secara signifikan dan kesulitan dalam bertransformasi digital. Kondisi keuangan perusahaan di masa pandemi yang membuat pendapatan menurun tidak memungkinkan perusahaan untuk transformasi digital. Sehingga akhirnya membuat perusahaan kesulitan untuk menjangkau pelanggan yang saat ini sudah ramai berselancar di saluran digital.

Hal ini terjadi akibat pemimpin perusahaan keluarga yang kurang memiliki kesadaran akan pentingnya transformasi digital yang berdampak kepada lambatnya strategi digitalisasi perusahaan. Pemimpin perusahaan masih kurang memiliki pemahaman dan pengetahuan mengenai infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung proses operasional sehari-hari.

Tantangan lainnya yang dihadapi perusahaan keluarga adalah memastikan kesehatan fisik maupun mental karyawan, serta membenahi budaya dan cara berpikir karyawan yang masih konvensional. Lalu, tantangan dalam perencanaan dan penerapan manajemen suksesi yang belum maksimal, dan penerapan sistem tata kelola perusahaan yang profesional. 

Daya Qarsa telah membantu beberapa perusahaan keluarga di Indonesia, salah satunya adalah Kalla Group yang memiliki berbagai jenis usaha (konglomerasi). Daya Qarsa dan manajemen Kalla Group bekerja sama mendesain struktur organisasi perusahaan holding agar bisa lebih lean dan agile dalam menghadapi perubahan yang terjadi karena pandemi Covid 19. 

Daya Qarsa telah membantu beberapa perusahaan keluarga di Indonesia, salah satunya adalah Kalla Group yang memiliki berbagai jenis usaha (konglomerasi). Daya Qarsa dan manajemen Kalla Group bekerja sama untuk mendesain struktur organisasi perusahaan holding agar bisa lebih lean dan agile dalam menghadapi perubahan yang terjadi karena pandemi Covid 19.

“Ini adalah kolaborasi pertama kami dengan Daya Qarsa dalam mendorong transformasi bisnis dan organisasi kami. Daya Qarsa memiliki latar belakang konsultasi bisnis dan organisasi yang kuat serta pengetahuan yang mendalam untuk membantu kami memecahkan permasalahan yang ada akibat terdampak pandemi,” ujar Direktur People & Process Kalla Group, Disa Novianty.

Disa juga menjelaskan bahwa perusahaan mereka melakukan perubahan pada seluruh aspek-aspek krusial untuk dapat bertahan melewati pandemi. Mulai dari membenahi trust & value yang berhubungan dengan sikap karyawan dan kepuasan kerja, manajemen keuangan, tata kelola perusahaan, manajemen manusia, dan infrastruktur pendukung untuk menunjang kegiatan perusahaan.

Daya Qarsa merupakan konsultan transformasi strategis yang menawarkan layanan program terintegrasi; mulai dari perumusan strategi hingga implementasi bisnis digital. Daya Qarsa membantu organisasi menjalani transformasi bisnis dengan pendekatan yang sistematis dan komprehensif.

Daya Qarsa adalah bagian dari Daya Lima Group, sebuah perusahaan kepemimpinan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun dalam menilai dan mengembangkan pemimpin di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara. Tujuan strategis Daya Lima adalah untuk membantu transformasi perusahaan dan menghasilkan pemimpin yang bermisi dalam memajukan sumber daya manusia melalui ide-ide segar, keterampilan terdepan, dan kasih sayang untuk generasi masa depan.[] Yuniman Taqwa