Apakah Kita Sudah Jadi Manusia?

Oleh: Yuniman Taqwa Nurdin

Mei lalu saya bincang-bincang dengan seorang pengusaha resto di bilangan Bekasi. Boleh jadi pengusaha resto tersebut cukup sukses. Rekam jejak sebagai pengusaha yang dijalankan lebih dari 20 tahun ini belakangan ini membuat saya berdecak kagum. Betapa tidak, berkali-kali ia acap ditipu dengan rekan bisnisnya. 

Namun peristiwa demi peristiwa penipuan itu, menurutnya tak membuat sakit hati kepada rekan bisnisnya. Ia tetap bersahabat walau sempat dicurangi dalam berbisnis. Meskipun rekan bisnisnya – berdasarkan atribut penampilannya  – menunjukkan seorang yang taat menjalankan perintah agama. Tapi ketika berhadapan dengan urusan “cuan”, seakan-akan atribut itu lenyap dalam identitas dirinya. Ia menjadi “opportunity” yang kehilangan nilai religius.

Rupanya, masih menurut narasumber tersebut – sebagian besar masyarakat kita mengalami kontaminasi terhadap    tuah nilai-nilai religius. Nilai itu hanya merupakan titah yang dijalankan karena stempel dalam dirinya sebagai pemeluk agama. Tapi, ketika ia dihadapkan dalam kondisi duniawi – stempel itu terkontaminasi dengan nilai-nilai hedonisme, sehingga essensi hidup  seakan merupakan “topeng” untuk menunjukkan identitas religiositas, di satu pihak, sementara di pihak lain, mudah terseret dalam  pragmatisme kehidupan.

Saya pun teringat seorang teman beberapa tahun yang lalu berkisah tentang seorang alim ulama  – dalam suatu siang jalan di pusat keramaian – di pasar dengan membawa  lampu lentera. Spontan perilaku sang ulama tersebut mengundang tanya banyak orang di sana.

“Bapak, kok siang-siang membawa lampu lentera? Mau cari apa di siang bolong membawa lampu lentera?” , tanya seorang  yang sedang kongkow-kongkow di kedai kopi  siang ini sambil menatap Bapak itu penuh tanda tanya.

“Saya mau cari manusia!,” jawab  sang bapak serius, sembil melanjutkan perjalanan tanpa mempedulikan orang yang bertanya itu.

“Di sini semuanya orang. Hilir mudik yang Bapak jumpai  sepanjang kaki Bapak melangkah, Bapak berjumpa dengan manusia,” jawab salah seorang yang duduk di kedai kopi itu sambil tertawa.

“Bukan! Sepanjang jalan saya tidak menemukan manusia! Saya hanya menemukan monyet  yang hilir mudik sambil menyantap makanan dan tangannya memegang berapa buah untuk siap dimakan!

Spontan orang-orang yang kongkow-kongkow itu terperanjat! Bapak itu sudah gila. Orang-orang yang dia jumpai sepanjang jalan tidak dianggap manusia. “Sudah gila kali Bapak itu,” ketus seorang yang sedang duduk-duduk di warung kopi sambil tertawa…!

Cerita itu menggelitik saya  untuk menangkap tafsir apa di balik kata-kata Bapak itu  yang berjalan membawa lentera di siang bolong. Saya menangkap ada nilai-nilai yang hilang dalam diri manusia, sehingga orang-orang yang dijumpai bukan dianggap manusia. Ia menganggap manusia yang dijumpainya itu tak ubahnya sebagai monyet yang rakus – tak pernah berhenti makan – walaupun beberapa buah telah dimakan, tapi tangan-tangan monyet itu tetap memegang buah-buah lain. Entah apa yang dirasakan dalam metabolisme diri monyet. Meski sepertinya sudah kenyang, tapi nalurinya tetap saja tak pernah puas  untuk mencari makan.

Apakah manusia-manusia modern saat ini – mengalami evolusi —  seperti hipotesa Darwin bahwa manusia mulanya dari seekor monyet. Tapi, dengan perjalanan waktu – ribuan tahun – mungkin jutaan tahun monyet itu berevolusi menjadi manusia.

Entahlah, saya sendiri  tidak ingin melihat persoalan manusia berdasarkan teori Darwin. Saya lebih melihat persoalan manusia berdasarkan kontaminasi lingkungan yang di bawa – dari mulai kelahiran – sampai dia dewasa.  Tokoh aliran Empirisme, John Locke  berpendapat  bahwa manusia lahir ibarat kertas putih. Yang menentukan hitam putih seseorang tergantung dari faktor lingkungan di mana dia berada.

Dengan pendekatan Empirisme ini, maka yang menentukan nilai-nilai seseorang dimulai dari lingkungan keluarga dan lingkungan di mana anak tersebut berada. Lingkungan menjadi wahana belajar anak, sehingga tanpa sadar terbentuk nilai-nilai  yang sudah terkontaminasi dengan nilai-nilai yang dilihatnya sepanjang kehidupannya.

Meskipun orangtua mengajarkan norma-norma agama, tapi orangtua tidak konsisten mencerminkan nilai essensi dari sebuah ajaran agama. Boleh jadi meskipun si anak belajar nilai-nilai agama, tapi ia sangat rapuh terhadap sistim nilai yang ditawarkan di lingkungan. Lingkungan yang dipertontonkan dalam kemajuan zaman, mungkin telah kehilangan terhadap konsensus nilai agama.  Lingkungan terkontaminasi nilai hedonisme, pragmatis dan transaksional, sehingga potret itu memicu hilangnya nilai budi sebagai identitas mendasar sebagai manusia.

Yang membedakan manusia dengan monyet adalah akal budi yang tidak dimiliki makhluk lain selain manusia. Bila akal budi kita sudah tercemar dengan nilai-nilai  tersebut, pelajaran agama yang diperoleh ketika orang tua mulai memperkenalkan nilai-nilai agama, maka bukan tidak mungkin duniawi lebih mempunyai magnet  dibandingkan perangkat nilai abadi (agama-pen).

Meskipun aturan agama melarang melakukan perbuatan yang haram, umpamanya, tapi tuahnya  tak berpengaruh kuat dalam diri kita. Mungkin telah tercemar nilai duniawi yang menjanjikan kenikmatan.  Itu penafsiran saya terhadap ulama yang siang bolong membawa lentera mencari manusia, Ia tidak melihat manusia sebagaimana layaknya kodrat manusia yang dikehendaki Illahi.

Jadi wajar bila ulama tersebut tidak menemukan manusia saat ini. Manusia banyak terkontaminasi dengan “perangkap-perangkap duniawi”, sehingga kalau pun ia menjalankan ritual agama, tapi kehilangan  sifat manusia yang hakiki.

Manusia yang dilengkapi akal dan budi, tapi peralatan rohaniah tersebut tidak bekerja maksimal. Simbol-simbol agama yang dipelajari di masa kecil, misalnya, tidak membentuk karakter dalam dirinya. Dirinya terlalu lemah terhadap tawaran duniawi yang menjanjikan  kenikmatan.

Apa yang salah bila kondisi demikian banyak kita jumpai di masyarakat modern?  Ada suatu sistem pembelajaran yang hilang dalam mendidik anak-anak kita.  Orangtua turut bertanggungjawab terhadap fenomena demikian.

Tapi tidak hanya orang tuan saja yang memikul  kesalahan itu. Sistem pendidikan nasional kita kehilangan dalam menanamkan nilai-nilai  peradaban suatu bangsa. Pelajaran budi pekerti, kini hilang dalam sistem pendidikan nasional kita. Sejak kecil kita tidak lagi diajarkan budi pekerti sebagai dasar nilai dalam membangun peradaban di masa mendatang yang lebih manusiawi.

Seharusnya  pelajaran budi pekerti dijalankan sejak usia dini – dari mulai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) – terus berkesimbangunan proses-proses pembelajaran budi pekerti. Sementara pelajaran agama jangan hanya diajarkan secara simbolis tentang aturan-aturan beragama. Tapi, sudah harus menanamkan nilai-nilai tauhid  bahwa Sang Khalid menghendaki taat azas. Dan itu menjadi nilai mendasarkan, meskipun hidup dalam modernitas  zaman.

Saya rasa kita perlu kembali mengajarkan budi pekerti dalam dimensi  lebih luas di kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pertanyaannya apakah stakeholders mau dan mulai melakukan dari generasi sekarang, sehingga generasi mendatang tetap menjunjung nilai-nilai manusiawi dalam perspektif apa pun. Semoga![] foto ilustrasi: ist

Penulis pimpinan redaksi pelakubisnis.com