Pertamina Canangkan Targetkan 10 GW EBT Tahun 2026

Dari mulai pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam program Desa Energi sampai sampai investasi pengembangan EBT skala Besar. Sedikitnya ada 8 inisiatif yang dikembangkan Pertamina untuk mencapai target tersebut. Apa  saja Programnya?

Desa Energi Berdikari Cilacap merupakan bagian dari Program Pengembangan EBT (Energi Baru Terbarukan) dalam kerangka ESG (Environmental, Social & Governance). Program berbasis CID (Community involvement development) yang dijalankan Pertamina RU IV Cilacap ini  merupakan komitmen Pertamina mengakselerasi transisi energi hijau (green energy) di Indonesia.

Desa Energi Berdikari Cilacap, misalnya,  bertujuan meningkatkan akses masyarakat di desa terpencil dan terisolasi terhadap energi yang ramah lingkungan, terjangkau dan berkelanjutan. Program ini  sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat sehingga lebih sejahtera.

Pengembangan Desa Energi Berdikari Cilacap memanfaatkan sumber energi surya dan angin yang tersedia sepanjang tahun di desa Ujung Alang, Cilacap. Dengan teknologi hybrid energy pole (HEOP), kedua sumber energi ini diolah menjadi listrik yang bisa menerangi rumah penduduk, sekolah dan berbagai aktivitas ekonomi warga.

Desa Ujung Alang, Cilacap merupakan desa terisolasi, di mana 80 persen penduduknya  bekerja sebagai nelayan musiman dan buruh tambak. Terbatasnya akses listrik, transportasi dan komunikasi membuat desa ini tertinggal dibanding desa lainnya. Desa ini  gelap gulita kala malam hari, karena tidak tersedia listrik.

Teknologi Hybrid Energy Pole (HEOP) yang dikembangkan Pertamina RU IV Cilacap telah mengubah desa yang gelap gulita menjadi terang benderang. Warga desa bisa menikmati listrik bersih tanpa emisi.

Energi listrik bersumber dari 15 kincir angin dan 24 solar panel, penghasil energi yang ditampung di dalam storage penyimpanan daya. Dari keseluruhan kincir dan solar panel dapat menghasilkan daya sebesar 16.200 WP (Watt Peak) yang disimpan di storage masing- masing dan dialirkan menggunakan kabel kepada 78 Rumah tangga, 1 sekolah, 1 masjid dan 2 rumah produksi.

Tak hanya menghasilkan energi, teknologi ini mengurangi hingga 126,4 ton CO eq/tahun.  Inilah wujud komitmen Pertamina dalam mencegah perubahan iklim dan pemanasan global.

Pjs Vice President Corporate Communication Pertamina Heppy Wulansari menjelaskan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dalam program Desa Berdikari Cilacap merupakan upaya Pertamina mengurangi jejak emisi dalam kerangka ESG (Environmental, Social & Governance).

“Program pengembangan Energi Baru terbarukan (EBT) Pertamina menargetkan untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 30% pada tahun 2030. Upaya untuk mencapi target tersebut adalah peningkatan total kapasitas EBT menjadi 10,2 Gigawatt pada tahun 2026,” kata Happy dalam rilisnya yang disampaikan pada 4 Juli lalu.

Hal itu sesuai arahan Presiden Joko Widodo, PT Pertamina (Persero) mempercepat proyek dan investasi dengan menggenjot pelaksanaan proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dapat mendukung target ketenagalistrikan nasional.

Adapun target tersebut dapat membantu Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) hingga Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

PT Pertamina (Persero)  hingga tahun  2026 mendatang mengalokasikan investasi sebesar 72 miliar dolar AS atau Rp 1.032 Triliun (Rp 14.366 per dolar AS). Alokasi investasi ini mencakup semua lini bisnis Pertamina. SVP Research and Technology Innovation Pertamina , Oki Muraza menjelaskan total 72 miliar dolar AS ini dialokasikan Pertamina  sejalan dengan agenda pengurangan emisi karbon.

“Pertamina berkomitmen  mengembangkan Energi Baru Terbarukan dengan alokasi biaya kapital 14 persen dari keseluruhan anggaran Jangka Panjang,” ujar Oki 20 Maret lalu, sebagaimana dikutip dari republika.co.id

Oki merinci untuk wilayah hulu migas Pertamina menganggarkan sebesar 34 miliar dolar AS. Sedangkan untuk hilir mencapai 28 miliar dolar AS. “Disektor Gas dan EBT kami mengalokasikan 11 miliar dolar AS atau sebesar 14 persen dari alokasi capex yang kami rencanakan,” ujar Oki.

Pertamina  menargetkan pada tahun ini kapasitas terpasang proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebesar 672 M. Targetnya hingga 2026, total kapasitas PLTP milik Pertamina bisa mencapai 1.128 MW.  Oki Muraza menjelaskan target ini sejalan dengan kontribusi Pertamina dalam pengurangan emisi global dengan meningkatkan portofolio green energy.

Pertamina telah mengembangkan energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan melalui delapan inisiatif strategis, antara lain pengembangan kilang hijau, pengembangan bioenergi, komersialisasi hidrogen, gasifikasi, inisiasi ekosistem baterai dan penyimpanan energi terintegrasi, serta peningkatan kapasitas terpasang panas bumi. SVP Strategic Investment Pertamina, Daniel Purba mengatakan, Pertamina menargetkan peningkatan bauran EBT dari 1 persen pada tahun 2021 menjadi 17 persen pada  2030 mendatang.

Pertamina juga menargetkan dapat mengurangi emisi karbon hingga 30 persen pada  2030. Oleh sebab itu, investasi dalam jumlah besar harus dilakukan oleh Pertamina. Sehingga, dalam waktu 5 tahun atau di periode 2022-2026, total belanja modal atau capital expenditure (capex) Pertamina di sektor EBT mencapai US$ 11 miliar. Porsi capex EBT Pertamina mencapai 14 persen dari total capex perusahaan pelat merah tersebut di periode yang sama. Sebagaimana dikutip dari bisnis.com, 9/3 lalu.

“Komitmen Pertamina sejalan dengan upaya untuk menggunakan sumber daya dari domestik untuk menyuplai energi di dalam negeri menuju pengembangan energi bersih dan dekarbonisasi,” ungkap Daniel dalam media briefing Dubai Expo secara virtual, pada 18/3 lalu.

Menurut Daniel, salah satu cara efektif yang dilakukan Pertamina untuk meningkatkan perannya dalam pertumbuhan EBT dalam bauran energi adalah dengan membangun kolaborasi berbagai pihak secara global dengan target yang mengikat dan perencanaan transisi yang jelas. “Pertamina berkomitmen kuat untuk melaksanakan kesepakatan yg dihasilkan dari COP26 ini sejalan dengan transisi Energi yg tengah dijalankan oleh perusahaan,” pungkasnya.

Sementara Chief Executive Officer Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) Dannif Danusaputro mengatakan, Pertamina telah menugaskan subholding PNRE dalam mengimplementasikan agenda strategis Pertamina untuk mencapai target bauran energi mencapai 31 persen EBT pada tahun 2030.

“Kami bertekad mempercepat seluruh program green energy transition, khususnya delapan insiatif yang sudah dijalankan dari hulu hingga hilir,” ujarnya di sela rangkaian kegiatan EDM-CSWG G20 di Balkondes Karangrejo, Kecamatan Borobudur, pada 24/3, sebagaimana dikutip dari suaramerdeka.com.

Adapun inisiatif tersebut, jelas Dannif, antara lain merealisasikan target pengembangan energi bersih sebesar 10 gigawatt hingga 2026; mengembangkan proyek carbon capture utilization and storage (CCUS); melanjutkan mekanisme pembangunan energi bersih di operasi panas bumi; dan mengembangkan konsep green energy station.

Kemudian, menggunakan PLTS sebagai sumber energi listrik dan memasang panel surya dengan kapasitas total 500 megawatt hingga 2030 untuk penggunaan daya internal di seluruh operasi Grup Pertamina.

Dannif menambahkan, pihaknya akan mendukung kebijakan pemerintah yang menargetkan penurunan emisi sebesar 29 persen pada 2030. Sebab, pemerintah menargetkan emisi berkurang sebanyak 314 juta ton setara CO2 (tCO2e) pada 2030.

Langkah perseroan dalam mengimplementasikan agenda strategis tersebut semakin kuat dengan hadirnya dukungan global yang disuarakan dalam Task Force Energy, Sustainable & Climate G20 dalam serangkaian pertemuan dan aksinya untuk menyuarakan aspirasi berbagai segmen termasuk pelaku industri.”Pertamina bertekad untuk mempercepat seluruh program green energy transition,  khususnya 8 inisiatif yang sudah dijalankan dari hulu hingga hilir,” ujar Dannif, sebagaimana dikutip dari cnnindonesia.com, pada 24/3 lalu.

Dannif memaparkan, inisiatif strategis yang terus dilakukan Pertamina antara lain merealisasikan target pengembangan energi bersih sebesar 10 gigawatt (GW) hingga 2026.

Aspirasi 10 GW pada tahun 2026 antara lain terdiri dari 6 GW pada lini bisnis gas to power, 3 GW renewable energy, dan 1 GW adalah inisiatif EBT lainnya seperti pengembangan EV ecosystem dan energi hidrogen. Pada bisnis gas to power, yang saat ini sudah ada di dalam pipeline antara lain PLTGU Jawa-1 berkapasitas 1,8 GW dengan kemajuan proyek mencapai 97 persen; proyek IPP di Bangladesh berkapasitas 1,2 GW; serta proyek-proyek penyediaan listrik berbasis gas uap baik di dalam maupun luar negeri. Sedangkan pada bisnis renewable energy, kontribusi signifikan berasal dari geothermal yang dikelola oleh PGE dengan target kapasitas terpasang 1,1 GW pada tahun 2026. Sementara 1,9 GW berasal dari PLTS, PLTBg, smart grid, dan pembangkit listrik EBT lainnya.  [] Yuniman Taqwa