Langkah Kolaborasi Aerostreet Mendulang Sukses
Dalam waktu 3 menit, 23 detik item produk sepatu hasil kolaborasi Aerostreet dengan Luwak White Koffie terjual 5000 pasang sepatu. Tak hanya sekali, merek sepatu asal Klaten Jawa Tengah ini sudah berkolaborasi berkali-kali dan penjualannya selalu laris terjual hanya dalam hitungan menit.
Beli kopi, gratis sepatu? Demikian gurauan Debby Dbay ketika me-review produk sepatu Aerostreet jenis high cut berwarna kombinasi cokelat dan krem dari channel YouTube-nya. Dari kemasan dus sepatu yang ditunjukkan sang YouTuber sangat membuat viewers penasaran. Karena desain kemasan sepatu Aerostreet menyerupai desain kemasan produk Luwak White Koffie. Lalu pada 4 sisi pinggir penutup kotak, tertera #lokaltakgentar, lalu ada alamat Instagram @kopiluwakofficial, ada tagline ‘Kopi Nikmat Nyaman Diminum’ dan pada sisi alamat Instagram @aerostreet tertera “2 in 1 Coffee Shoes”. “Wow ada kopi luwaknya,”teriak Debby Dbay ketika membuka kotak dus sepatunya yang ternyata ada bonus kopi luwak.

Yap! Satu lagi kreativitas anak bangsa dari industri sepatu yang sukses berkolaborasi dengan banyak merek di Tanah Air. Tak hanya dengan Luwak White Koffie. Pada Juni 2021, kolaborasi pertama Aerostreet dilakukan dengan akun meme terbesar di Indonesia, ‘Dagelan’. Setelah itu berturut-turut kolaborasi dengan BonCabe, Indomie, Promag, Le Minerale, Wafer Tango yang menampilkan motif wafer 3D, Sheila on 7 (grup musik), Better Chocolate Sandwich, Tini Wini Biti dan sebagainya. Masing-masing selalu menampilkan gambaran unik yang membedakan satu merek dengan merek lainnya.
Pendek kata, tak kurang dari 30 merek pernah digandeng Aerostreet. Adhitya Caesarico, Direktur Utama PT Adco Pakis Mas selaku produsen Aerostreet, di acara “Indonesia Brand Forum (IBF) 2022 Conference” mengatakan, “Dalam dua tahun terakhir ini hampir setiap bulan Aerostreet menjalin kerjasama dengan banyak merek. Ya, karena dengan berkolaborasi, brand kami cepat naiknya. Selain itu ide besar dari kolaborasi ini, bagi saya kalau yang diangkat Aerostreet nya secara terus menerus pasti suatu saat akan bosen juga, jadi kita coba gandeng brand lain untuk berkolaborasi bersama. Sehingga setiap akhir bulan kami pasti rilis satu kolaborasi dengan berbagai brand dengan genre-nya yang berbeda-beda juga” ujar pria yang akrab disapa Rico ini, seraya mengungkap dalam kolaborasinya hanya memproduksi jumlah terbatas yaitu 5000 pasang sepatu.
Rico melanjutkan, dalam upaya memberikan sensasi produk sepatu yang berbeda dan out of the box, Aerostreet tak pernah berhenti untuk terus melakukan sinergi bersama dengan berbagai brand melalui campaign apa saja yang akan diusung ke depan. “Karena ini produk konten maka yang diutamakan adalah campaign yang dibawa sekaligus fresh dan baru, sehingga bisa menciptakan viral,” pangkasnya.
Lebih lanjut Rico mengatakan “Seperti contoh kolaborasi kami dengan air kemasan Le Minerale yang mengusung tema daur ulang, dan ini merupakan sesuatu yang baru dan beda. Ada lagi kolaborasi kami dengan Asean Para Games yang juga menuai banyak pujian,” tegas alumni SMA The Brito, Yogyakarta, Jawa Tengah ini.
Tidak hanya itu, baru-baru ini Aerostreet, melakukan kolaborasi dengan Luwak White Koffie. Saat itu Luwak White Koffie mau rilis produk baru, sementara Aerostreet juga mau rilis produk baru. “Out of the box dari kolaborasi ini benar-benar taste baru dari kopi luwak tersebut. Ketika dus sepatu dibuka pertama kali sama konsumen, baunya Luwak White Koffie kemasan baru itu tercium,” tandas Rico.
Rico menambahkan branding Aerostreet mengarah taste baru kopi luwak. Sebelumnya belum pernah ada sepatu dengan aroma kopi. Berarti tidak hanya bermain di indra visual saja, tapi ada sense lain yang dihadirkan untuk customer experience.
Menurutnya, dari awal kolaborasi memang ada urgensi-nya, karena konsumen Aerostreet kebanyakan anak milenial, mereka fasih betul terhadap sosial media. Setiap kali buka handphone sudah banyak dapat informasi. “Bosan dengan sebuah produk sepatu, mau diapain sih sebenarnya. Apa yang membedakan produk sepatu kita dengan brand-brand yang lain. Kalau sepatu hanya dijual sepatu saja, kayaknya seperti gitu-gitu aja. Jadi idenya seperti Deddy Corbuzier mengundang tamu yang berbeda-beda. Itu awal ide besarnya,” jelas Rico seraya menambahkan, upaya tersebut dilakukan agar konsumen-konsumen milenial melirik lagi ke brand Aerostreet yang membedakan dengan sepatu-sepatu yang lain.
Dengan model kolaborasi yang dibangun ini tambah Rico, menjadikan kebutuhan akan koleksi sepatu semakin tinggi dan sekaligus menjelaskan barang yang dipasarkan limited edition. “Mereka yang membeli produk ini biasanya meng-upload di sosial media, sehingga menjadi promosi gratis bagi Aerostreet,”tukasnya.

Proses kolaborasi yang dilakukan Aerostreet, kata Rico, mengangkat 99 persen brand lokal lain. Misalnya kolaborasi dengan Le Minerale. Produk ini ada keinginan bagaimana cara agar botol Le Minerale bisa di recycle. Bagaimana bisa sepatu Aerostreet ada produk recycle botol Le Minerale-nya. Dan hasilnya tercipta produk sepatu dengan kombinasi botol bekas Le Minerale sebagai bagian dari estetika sepatu Aerostreet. Sama halnya dengan produk Kopi Luwak, misalnya, apa yang mau diangkat dalam komunikasinya? Ternyata taste baru dengan rasa baru! Maka terciptalah sepatu Aerostreet Luwak White Koffe.
Rico menjelaskan langkah hingga terjalin sebuah kolaburasi brand. Prosesnya dimulai dari campaign-nya mau mengarah kemana? Kemudian dicari produk tersebut. Satu sampai tiga hari buat mock up dan diajukan kepada pihak yang diajak berkolaborasi. Setelah disetujui, biasanya sampel sudah ada dan dalam tempo satu bulan sudah jadi produk. “Maksimal dua bulan sudah bisa sampai langsung ke konsumen,” jelas Rico.
Seberapa besar dampak kolaborasi hingga eksekusi mampu menelurkan strategi yang out of the box? “Contoh yang sudah kita praktekkan kemarin itu lewat Asian Para Games. Ini benar-benar sampai viral. Melalui Asian Para Games ini, sepatu digunakan untuk disabitlities. Sebenarnya ini menyimpang banget. Tapi kita punya sudut pandang 100 persen berbeda,”katanya yang mampu membawa asosiasi brand produk sepatu tak hanya sebagai produk fesyen tapi Aerostreet juga bisa membawa campaign disabilities masuk ke industri fesyen.
Brand Aerostreet sendiri lahir tahun 2013. Tidak dengan tangan kosong Rico terjun ke dunia bisnis hingga menemukan usaha produksi sepatu. Sejak remaja ia sudah memiliki bakat berdagang. Usia 19 tahun ia sudah membantu ayahnya yang seorang pekerja pabrik percetakan, menjual buku hasil produksi pabrik tempat ayahnya bekerja. Ibunya juga distributor sepatu. Namun muncul milestone dimana usaha sang ibu hampir bangkrut. Saat itu sekitar tahun 2006, ia mulai membantu ibunya terjun ke industri sepatu.
Mengutip dari solopos.com, sekitar 6 tahun Rico berhasil mengembangkan usaha orangtuanya. Menjual beberapa brand sepatu seperti New Era, Ando, ATT, dan lainnya. Terjun berjualan sepatu membuat jaringan distribusinya meluas hingga muncul permintaan yang menantangnya untuk memproduksi sepatu.
Tak tanggung-tanggung ia sampai mendalami produksi sepatu hingga ke Tiongkok. Disana ia tertarik dengan mesin pembuat sepatu tanpa lem. Waktu itu teknologi mesti tersebut masih terbilang baru. Tak ayal ia rela menetap di industri rumahan setempat selama 1 bulan untuk belajar membuat sepatu dengan mesin serupa.
Dari bekal ilmu tersebut ia mulai membesut produk sepatu bermerek Aerostreet. Memaksimalkan gudang sepatu milik keluarga dan mulai memproduksi sepatu. Di tahun pertama kapasitas produksinya mencapai 1000 pasang sepatu dengan jumlah tenaga kerja 30-40 orang.
Hingga akhinya ia menemukan strategi kolaburasi yang membuat brand Aerostreet viral dan dikenal masyarakat khususnya kalangan milenial.
Diakuinya, kolaborasi out of the box ini benar-benar memberi dampak yang baik dan pada akhirnya masyarakat membicarakan tentang brand Aerostreet. Dan tentu pastinya akan berkontribusi ke brand awareness. [] Siti Ruslina/Sumber: YouTube Debby Dbay
