Jaringan Diaspora Menjadi Andalan Rendang Gadih Menempuh Pasar Ekspor

Masuk di momen yang tepat menggunakan social media (socmed) dan bisnis e-commerce yang sedang naik daun,  Rendang Gadih  muncul dengan strategi komunikasi yang tepat hingga penetrasi pasar pun terasa  lebih mudah. Brand Awareness didapat dan alhasil penjualan terus naik hingga mencapai kapasitas produksi 6 ton per bulan.  Pembelinya tak hanya dari pasar domestic, Rendang Gadih pun sudah terbang ke pasar ekspor.

Brigita Lydia Syahniva, Owner Rendang Gadih/Foto: pelakubisnis.com

Tak kalah menarik dari ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2023 adalah  hadirnya UMKM  kategori panganan tradisional.  Beragam produk andalan daerah hadir namun ada satu produsen makanan tradisional namun panganannya sudah go internasional dan booth nya pun hadir di hall kategori makanan dan minuman berskala nasional. Siapa yang tidak kenal dengan Rendang Gadih? Untuk yang suka belanja online biasanya mafhum dengan brand masakan rendang ini.

Kehadiran   booth  PT Gadih Minang Anugerah (Rendang Gadih)  turut menyemarakkan event TEI tahun ini, mewakili  Pemerintah Kota Payakumbuh, Sumatera Barat .  Namun target sasaran ownernya di TEI 2023 ini  bukan para buyer ekspatriat melainkan para diaspora Indonesia yang tersebar di seluruh dunia dan jumlahnya sangat besar , ada jutaan orang  Indonesia tinggal di luar negeri.   “Biasanya yang banyak datang memesan itu orang Indonesia yang tinggal di luar negeri dan mereka itu para eksportir,”ungkap Brigita Lydia Syahniva, Owner Rendang Gadih.

Mengambil bahasa minang Rendang Gadih yang berarti Rendang Gadis,  Lydia, demikian sapaan bagi wanita minangkabau ini menjelaskan, usaha produksi rendang  ini berdiri tahun 2015. Langkah awal pemasaran dilakukan melalui  instagram. Siapa sangka ternyata  penetrasi pasar di tahun pertama  berjualan lewat social media (socmed) cukup efektif  untuk Rendang Gadih.  Dari socmed juga muncul  banyak masukan dari pelanggan nya. “Dari situ muncul masukan, kami yang tadinya hanya memproduksi rendang kering, kemudian ada yang minta rendang basah. Lalu dibuatlah rendang basah. Cuma tahan berapa lama?,”tutur istri dari Dedy Syandera P, ST,  Owner Rendang Gadih ini.

Pun  Lydia dan Dedy tak sendirian  mengelola usaha ini. Dari awal usaha rendang dibangun,  orangtua ikut andil  dan menjadi pendiri  Rendang Gadih.  “Pak Syafruddin itu papa saya, beliau di perusahaan menjabat sebagai komisaris,”aku Dedy seraya menambahkan, usaha ini dibangun bersama orangtua, ide dan modal darinya, tetapi  resep rendang sendiri dari sang mama, Dra H Anwida A. “Kami mulai produksi awal dari dapur mama juga,”ujar Dedy.

Keseriusan Dedy dan Lydia membesut usaha rendang ini tercermin dari apa yang telah dihasilkan. Awalnya memang tidak mudah membangun usaha makanan jika ingin berkembang. Tidak sekedar produksi lalu dilempar ke pasar. Tapi Rendang Gadih juga memiliki banyak sertifikat perizinan terkait dengan  kualitas produk, kehalalan hingga  proses produksi. Misalnya, untuk mendapatkan izin edar pangan olahan MD BPOM yang diakui Lydia itu tidak mudah. Namun Rendang Gadih  sudah ada sertifikat izin edar Pangan Olahan MD BPOM, juga memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).  

“Setiap tahun sertifikasi diaudit, baik izin BPOM, HACCP  (Hazard Analysis  and Critical Control Points-red), sertifikat halal juga untuk  SNI.  Memang ada biaya untuk mendapatkan proses tersebut,  tapi itu tak masalah asalkan produk kami tetap terjamin kualitasnya sehingga kami bisa menjelaskan ke customer. Itu cara kami meningkatkan kualitas produk dan memberikan keyakinan kepada customer,”terang Lydia beberapa waktu lalu di event TEI 2023.

Tak pelak, usaha Rendang Gadih semakin berkembang. Dari 1 item produk rendang daging tumbuk, kini itemnya semakin bertambah. Dalam brosurnya saja terdapat 28 SKU (stock keeping unit-red). Kini range produk semakin banyak. Ada rendang sapi iris, daging kerbau iris, beragam item rendang suwir, sampai rendang untuk vegetarian dimana ada rendang nangka, rendang jamur suwir, singkong,  dan rendang jengkol.   “Semua rendang kami masa kadaluarsanya 1 tahun, kecuali jengkol hanya 6 bulan,”tutur Lydia yang mantan karyawan perusahaan otomotif ini.

Tak hanya itu, dalam hal kemasan, Lydia dan Dedy menjaga kualitas produknya  berani  mengeluarkan biaya untuk membeli kemasan terbaik yakni dengan menggunakan kemasan alumunium foil (alufoil-red) . “Kalau pakai plastic transparan itu kadaluarsanya sekitar 6 bulan. Tapi dengan alumunium foil bisa sampai 1 tahun ,”jelas alumni Teknik Industri Universitas Andalas, Sumatera Barat ini.

Menurutnya produk Rendang Gadih bisa langsung dimakan tanpa harus direbus dulu bersama kemasan alufoilnya.  Namun dalam penyajiannya disebutkan juga boleh direbus atau dikukus bila ingin disajikan dalam kondisi hangat. “Demikian halnya dengan  produk bumbu rendang siap saji.  Tinggal rebus daging, lalu sudah ada bumbu dan minyak kelapa, jadi sudah lengkap. Seperti masak rendang biasa tapi dia matang lebih cepat,”papar Lydia.

 Ia melanjutkan, dalam menjalankan usahanya, ia dan suami mendapat banyak pembinaan dari beberapa inkubator bisnis UMKM.  Selain binaan Pemda Kota Payakumbuh, Pemprov Sumatera Barat, Bank Indonesia juga, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian.

Sejumlah pameran diikuti untuk membangun brand awareness  sekaligus  untuk mendapatkan pelanggan baru. Diakui  Dedy penjualan di pameran tidak sebesar omzet hari Rendang Gadih yang mayoritas lewat socmed dan marketplace.  “Pameran seperti TEI lebih kependekatan dulu, diskusi dulu, yang penting kita dapat kontaknya dan mereka juga kontak kita,”kata Lydia seraya mengakui  sudah ada sekitar 5 potential buyer didapat, namun kebanyakan eksportir orang Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Yang jelas Lydia bersyukur tahun ini omzetnya melebihi dari tahun-tahun sebelumnya sejak usaha Rendang Gadih berdiri. Menurutnya boleh jadi karena Rendang Gadih semakin dikenal, itemnya tambah banyak dan saat ini sudah memiliki distributor di Tangerang yang mengcover wilayah Jabodetabek. Alhasil saat ini pasar terbesar 70% masih di pasar domestic dan selebihnya masuk ke pasar ekspor melalui jaringan diaspora. “Ada sih orang Brunei Darussalam datang beli kesini. Selebihnya mereka diaspora Indonesia, orang Indonesia yang  jadi  eksportir ,”kata Lydia seraya menyebut kapasitas produksi Rendang Gadih sudah mencapai 6 ton per bulan. []Siti Ruslina/Foto: pelakubisnis.com