Review “Hamka & Siti Raham: Vol.2”
Oleh: Abrar Rizq Ramadhan
Seri kedua dari Trilogi Buya Hamka besutan Falcon Pictures dan Starvision kembali berlanjut di penghujung tahun 2023. Film yang disutradarai oleh Fajar Bustomi ini mendapatkan rating yang lebih tinggi dibanding seri pertamanya, yakni dengan total score ImDB: 8.2/10. Sementara untuk Buya Hamka Vol.1, hanya mendapat score 6.7/10. Ada beberapa aspek yang menurut subjektifitas penulis terkait peningkatan ini, meskipun secara hype, Hamka & Siti Raham Vol.2 tidak mendapat antusias berlebih dibanding Vo.1. Namun, mari kita memandang film ini dari segi sinema dan bukan dari segi antusias. Ada banyak sekali nilai lebih yang ditampilkan di Vol.2, mulai dari costume makeup, sinematografi, akting, dan lain-lain.

Jalan Cerita
Melanjutkan akhir menggantung di seri sebelumnya, Vol.2 dibuka dengan scene perjuangan Buya Hamka beserta anak dan pendukungnya melakukan aksi gerilya di masa revolusi, lebih tepatnya di tahun 1947. Skenario di masa ini penulis pandang masih terdapat beberapa kekurangan, seperti alur yang diloncat dan gambaran perang revolusi kemerdekaan yang tidak terealisasi. Dari sudut pandang sejarah, penulis melihat masa revolusi sebagai masa-masa penuh perdarahan dan kesusahan. Kedua aspek itu memang tergambar dalam film namun tidak sempurna. Tidak ada konflik dengan prajurit KNIL Belanda sama sekali melainkan bentrokan dengan pemuda desa setempat dan laskar jihad Hizbullah. Infiltrasi revolusi dalam revolusi memang menjadi narasi umum dalam sejarah masa revolusi (1945-1949), namun penggambarannya tidak begitu hebat dan lebih menekankan pada sisi dramatis serta emosional terhadap keluarga Buya Hamka. Sisi dramatis ini yang menjadi aspek kekurangan dalam film Hamka & Siti Raham Vol.2 sebagai film sejarah, namun menjadi nilai lebih sebagai film drama religi.
Masa revolusi kemudian berakhir dengan timeskip menuju demokrasi terpimpin (1959-1965), di tahun 1949. Ini kembali menjadi kekurangan, karena timeskip dan loncatan cerita yang berlebihan serta terdapat plot hole. Karena perjuangan Hamka dimulai dari awal agresi militer Belanda 1, namun semuanya terasa cepat tanpa penjelasan detil sehingga timeline menunjukkan akhir masa revolusi tanpa proses revolusi yang tergambarkan. Mungkin ini menyesuaikan dengan kisah hidup asli Buya Hamka, namun akan sangat menarik jika penulis script lebih menekankan perspektif Hamka selama periode ini. Seperti pandangan Hamka terhadap aksi pemberontakan PKI Madiun oleh Munawar Musso dan pemberontakan DI/TII oleh Kartosoewirjo.
Setelah beres dengan masa revolusi, kini penonton dihadirkan dalam babak berikutnya yang menampilkan suasana pemerintahan Sukarno era demokrasi terpimpin. Meski periode demokrasi liberal telah terlewat dan penonton tidak bisa melihat peran Hamka semasa dirinya menjabat di kementerian agama, gambaran yang dihadirkan dalam film soal resistensi Hamka terhadap demokrasi terpimpin terpampang jelas dalam film ini dan ini yang menjadi pembeda dan nilai plus dari Vol.2. Dalam periode ini, Hamka bertentangan secara politik oleh sahabatnya, Sukarno. Hamka rasa Sukarno telah mengkhianati apa yang mereka perjuangkan dulu, sehingga Hamka kerap mengkritik dan menulis artikel yang menyindir sistem pemerintahan demokrasi terpimpin.
Kita semua tahu bahwa periode pemerintahan demokrasi terpimpin menjadi sisi gelap sejarah Indonesia yang sering ditutupi oleh rezim orde baru. Hal ini karena kedekatan Sukarno dengan negara-negara komunis seperti Soviet dan RRC. Ditambah kemesraan Sukarno dengan PKI sendiri melebihi kedekatannya dengan PNI, partai yang ia dirikan dulu. Banyak kebijakan “revolusionernya” juga kerap menyusahkan rakyat seperti aksi konfrontasi dengan Malaysia yang membuat ekonomi nasional anjlok. Banyak tokoh-tokoh politik yang bertentangan dengan Sukarno kemudian dibungkam secara politik termasuk Buya Hamka.
Sebelumnya, Buya Hamka juga sering menerima serangan politik dari faksi komunis. Kelompok Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang berafiliasi dengan PKI, menuduh Hamka melalui Koran Bintang Timoer atas dugaan plagiasi roman Hamka, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dengan salah satu roman Prancis. Tidak sampai disitu, Hamka kemudian ditahan oleh rezim Sukarno pada awal 1964 atas tuduhan penggulingan presiden secara terencana. Dua tahun di penjara yang penuh siksaan sempat membuat Hamka patah hati, namun dirinya memutuskan untuk tetap semangat menjalani hidup dan melanjutkan karyanya yang tertunda yaitu: Tafsir Al-Azhar.
Masa tahanannya kemudian berakhir pada Mei 1966, 2 bulan setelah peristiwa Supersemar. Film kemudian bertransisi ke era orde baru dimana Hamka dilantik sebagai ketua umum pertama MUI (Majelis Ulama Indonesia) pada tahun 1975. Dirinya juga diminta oleh staf kepresidenan untuk mengimami sholat jenazah Sukarno yang merupakan permintaan personal sang panglima revolusi. Disini kita melihat bentuk keikhlasan Buya Hamka yang bahkan tetap bersikap baik sampai mengimami shalat jenazah sahabatnya yang pernah menahannya dulu.
Dan terdapat scene menarik yang telah penulis nantikan sselama pemutaran film Hamka & Siti Raham: Vol.2 ini, yakni scene kemunculan Astuti Ananta Toer, anak dari sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang meminta bimbingan kepada Buya Hamka dalam membimbing calon suaminya untuk menjadi mualaf. Film kemudian berakhir dengan kalimat ikonik Hamka di sidang pertama MUI.
Tambahan
Selain jalan cerita yang cukup baik, ada beberapa aspek tambahan yang menjadikan film ini lebih baik. Seperti akting, Vino G Bastian benar-benar sukses membawakan peran Buya Hamka. Entah apa trik yang dilakukannya tapi aksen minang yang sangat kental telah melekat dalam diri Vino. Selain itu, Laudya Cynthia Bella juga sukses membawakan peran Siti Raham sebagai istri dari Buya Hamka.
Penonton juga melihat Siti Raham ini sebagai tokoh support system terbaik bagi Buya Hamka. Selain akting, sinematografi tidak terdapat masalah dan terkesan cukup baik. Aspek yang menjadikan film ini semakin menarik adalah costume make up yang mampu membawakan sosok Buya Hamka dalam diri Vino semirip itu. Terdapat 3 transisi wajah Hamka, mulai dari masa revolusi, awal demokrasi terpimpin, dan akhir demokrasi terpimpin hingga orde baru. Semuanya dikemas dengan baik dan layaknya membawa kembali hidup sang ulama.
Kalau production design nampaknya tidak bermasalah, namun penulis rasa masih kurang megah. Mungkin karena lebih sering dialog di dalam rumah dibandingkan outdoor. Production design dari seri Trilogi Buya Hamka yang diekspektasikan sangat megah adalah di Vol.3, dimana Buya Hamka akan berkeliling Jawa dan naik haji ke kota Mekkah, Saudi Arabia. Selebihnya tidak ada yang bermasalah dan baik-baik saja. Penulis beri rating pribadi untuk Vol.2: 8.5/10.[]Ilustrasi foto: YouTube Warung Pengetahuan
