Ekspor Indonesia Tetap Optimis, Meski Ekonomi Dunia Melambat

Meski ekonomi dunia melambat, tapi Kemendag optimis me­natap tahun 2024. Walau tetap waspada terhadap tantangan di masa depan. Apalagi, prediksi pertumbuhan ekonomi global menurut berbagai lembaga inter­nasional menunjukkan adanya perlambatan. Bagaimana siasat mendongkrak ekspor?

Januari lalu Ekspor Indonesia mengalami kontraksi  dibandingkan Desember 2023 (MoM). Penurunan  ekspor  Januari  ini  merupakan  pola  tahunan  yang  terjadi  pada  awal  tahun. Namun, nilai  ekspor periode Januari 2024 lebih tinggi jika dibanding periode 2020, 2021, dan 2022.

Hal itu disampaikan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, dalam rilis yang disampaikan pada 16/2 lalu. Sementara ekspor Indonesia pada Januari  2024 mencapai  US$  20,52  miliar atau  turun  8,34%  dibanding  Desember  2023 (MoM) atau turun 8,06 % dari periode yang sama  tahun lalu (YoY). Penurunan ekspor di Januari 2024 terjadi sejalan dengan turunnya ekspor nonmigas sebesar 8,54 % dan ekspor migas sebesar 5,50 % (MoM).

Namun demikian, Neraca perdagangan Indonesia periode  Januari 2024 kembali mencatatkan surplus sebesar  US$  2,02  miliar.  Surplus  Januari  ini,  terdiri  dari  surplus  nonmigas  sebesar  US$  3,32  miliar  dan  defisit perdagangan   migas   US$   1,30   miliar.

Zulkifli   Hasan   mengungkapkan,   Indonesia mencatatkan  surplus  neraca  dagang  selama  45  bulan  secara  beruntun dan  surplus  ini  menopang  kinerja perdagangan Indonesia ke depan.“Surplus perdagangan  Januari  2024  memperpanjang  catatan  surplus  beruntun  yang  terjadi  sejak  Mei  2020. Surplus  Januari  2024  merupakan  perkembangan  positif dan  dapat  menopang kinerja  perdagangan  luar  negeri Indonesia ke depan,”kata Zulkifli Hasan.

Mendag: Ekspor Indonesia akan berlanjut tumbuh tahun 2024/foto: doc. Kemendag

“Memasuki 2024, kita me­natap optimistis, namun tetap waspada terhadap tantangan di masa depan. Apalagi, prediksi pertumbuhan ekonomi global oleh berbagai lembaga inter­nasional menunjukkan adanya perlambatan,” kata Zulhas, saat Konferensi Pers Capaian Ki­nerja Perdagangan 2023 dan Outlook Perdagangan 2024, di  Jakarta pada 4/1/2024.

Menurut Zulhas, kinerja per­dagangan 2023 harus memberi­kan optimisme untuk mencapai pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, sebesar 5,20% di 2024. “Kunci peningkatan kinerja perdagangan 2024 ada­lah kolaborasi dan sinergi para pemangku kepentingan. Yaitu Pemerintah, pelaku usaha, aka­demisi, komunitas, dan pers,” sambungnya.

Kemendag memproyeksikan ekspor Indonesia akan melanjutkan pertumbuhan di tahun 2024. Dalam kegiatan Outlook Perdagangan Luar Negeri Indonesia 2024, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi memaparkan, ekspor rill barang dan jasa 2024 diproyeksi tumbuh 7,0 % atau sebesar Rp. 3.437 triliun.

Namun demikian, Didi mengingatkan perlambatan negara-negara ekonomi terbesar di dunia dalam beberapa waktu terakhir, yang dapat berdampak pada perdagangan global, termasuk Indonesia. Sebagai informasi, berbagai organisasi internasional memproyeksikan ekonomi negara maju tumbuh hanya 1,5 % di sisa 2023 dan kembali turun ke 1,4 % di 2024 mendatang.

Kinerja ekspor  tahun 2024 diperkirakan akan  terkontraksi. Ini dipicu oleh perlambatan ekonomi dunia yang membuat permintaan ekspor menurun. Di mana  harga sejumlah komoditas  akan menurun. Tim ekonom Bank Mandiri memperkirakan kinerja ekspor tahun 2024 akan terkontraksi 1,50% dibandingkan 2023. Adapun kinerja ekspor 2023 pun diperkirakan akan terkontraksi 0,52 % dibandingkan tahun 2022.

Kalau di negara maju, ekspansi ekonomi itu lebih kecil lagi pertumbuhannya. Ini akan berpengaruh khususnya pada perdagangan global “ kata Didi dalam paparannya di Bandung, dikutip dari YouTube Kemendag, 23/11/2023. Dengan adanya berbagai dinamika global kita sebetulnya bukan pesimis, tapi ini merupakan tantangan buat kita.

Head of Industry Regional Research Bank Mandiri Dendi Ramdani mengatakan, kinerja ekspor pada tahun 2024 diperkirakan akan mengalami penurunan karena dua hal. Yang pertama adalah ekonomi global yang masih lambat berdampak pada permintaan ekspor yang lesu, sebagaimana dikutip dari kompas.id, pada 26/12/2023.

Mengutip data Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan ekonomi dunia pada 2024 diperkirakan 4,0 %, sama seperti 2023. Negara-negara mitra dagang utama Indonesia, seperti China dan Amerika Serikat, mengalami perlambatan ekonomi.

Pada 2024, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan 4,2 %, melambat dibandingkan 2023 yang 5,0 %. Begitu juga AS yang pada 2024 diperkirakan bertumbuh 1,5 % menurun dibandingkan 2023 yang sebesar 2,1 %. Padahal, ekspor Indonesia ke China mencapai 25,49 % dari total ekspor, sementara ekspor ke AS mencapai 9,54 % dari total ekspor.

Faktor kedua yang diperkirakan menurunkan kinerja ekspor adalah menurunnya sejumlah harga komoditas. Harga yang menurun ini merupakan normalisasi keadaan setelah sebelumnya harga ini melonjak akibat disrupsi pasokan dan permintaan yang dipicu pandemi dan dilanjutkan ketegangan geopolitik Rusia lawan Ukraina. Namun, kini aktivitas produksi dan distribusi sudah berangsur pulih dan hasilnya pasokan kembali lancar sehingga harga komoditas pun kembali normal.

Kementerian Perdagangan menargetkan pertumbuhan ekspor nonmigas tahun 2024 antara 2,5 hingga 4,5 %. Untuk mencapai target tersebut, Kemendag mengandalkan produk ekspor unggulan dan memperluas pasar ekspor nontradisional.

“Pemerintah akan tetap berupaya untuk mendorong pertumbuhan ekspor nonmigas sesuai target 2,5 – 4,5 %. Walaupun tantangannya harga komoditas dunia masih landau,” kata Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dalam keterangan pers Capaian Kinerja 2023 dan Outlook Perdagangan 2024 di Kementerian Perdagangan, Jakarta, pada 4/1/2024.

Upaya mewujudkan target ekspor 2024, Kementerian Perdagangan akan mengembangkan pasar baru non tradisional seperti India, Pakistan, Afrika Selatan, Nigeria, Meksiko, dan lainnya. Kemendag juga akan mengembangkan pasar di wilayah India dan Pakistan. Pada periode Januari-November 2023, nilai ekspor nonmigas India mencapai US$18,45 miliar, sebagaimana dikuntip dari antaranews.com, pada 4/1.

Menurut Zulkifli Hasan, Asia merupakan wilayah yang sangat luas sehingga masih dapat untuk dieksplorasi. Indonesia harus membuat produk-produk yang bernilai tambah seperti hilirisasi.”Andalannya tetap CPO, batubara, nikel, dan tentu produk-produk manufaktur dan juga produk hasil hutan,” katanya.[] Yuniman Taqwa/Siti Ruslina