Kemendag Ajak Pengusaha Jawa Timur Garap Peluang Pasar Nontradisional

Surabaya,    18   Februari    2024, pelakubisnis.com – Direktorat    Jenderal Pengembangan  Ekspor  Nasional  (PEN), Kementerian    Perdagangan  (Kemendag)  mengajak  para  pelaku  usaha  Jawa  Timur  bersemangat meningkatkan ekspor pada 2024 ini. Salah satunya dengan menggarap peluang pasar nontradisional  secara  maksimal. Sejumlah  strategi  memperkuat kinerja  ekspor  melalui  diversifikasi  produk,  peningkatan  kualitas  produk,  dan  perluasan  pasar ekspor ke negara-negara nontradisional.

Demikian disampaikan  Direktur Jenderal  PEN  Kemendag  Didi  Sumedi  dalam  Diskusi  Kelompok Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) dengan tema “Penjajakan Diversifikasi Pasar Asia, Afrika, dan Pasifik” di Surabaya, Jawa Timur, pada 16/2. Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan  Dinas Perindustrian  dan  Perdagangan  Provinsi  Jawa  Timur,  Export  Center  Surabaya, serta asosiasi dan pelaku usaha berskala kecil, menengah, maupun besar di Jawa Timur.

“Kementerian Perdagangan menekankan pentingnya perluasan pasar ekspor ke negara-negara nontradisional  yang  prospektif.  Diversifikasi  pasar  merupakan  salah  satu  kunci  sukses  dalam meningkatkan  ekspor.  Kita  harus  terus  menjajaki  pasar  ekspor  baru,  khususnya  di  negara-negara yang memiliki potensi pertumbuhan ekonomi tinggi,”kata Didi.

Didi  menambahkan,  kegiatan  FGD  yang  digelar  kali  ini  menjadi  wadah  duduk  bersama  antara pemerintah  dan  pelaku  usaha  untuk  menentukan  pasar-pasar  nontradisional  prospektif  sebagai target penetrasi  ke  pasar-pasar  ekspor  baru  bagi  para  pelaku  usaha,  khususnya  pasar  di  wilayah Asia, Afrika, dan Pasifik.

Didi menekankan, perekonomian global saat ini menghadapi berbagai tantangan antara lain  ketidakpastian  geopolitik,  fluktuasi  harga  komoditas,  konflik  di  berbagai  belahan  dunia, ketegangan   perdagangan   antarnegara   besar,   hingga   perubahan   kebijakan   ekonomi   global. Semuanya   memiliki  dampak   langsung   maupun   tidak   langsung  terhadap  ekonomi   Indonesia. Namun,   di   tengah   ketidakpastian   ini,   Indonesia   terus   berupaya   untuk   memperkuat   posisi ekonominya, termasuk melalui peningkatan ekspor.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD 36,93 miliar sepanjang 2023. Nilai ekspor Indonesia pada periode Januari–Desember 2023  mencapai  USD  258,82  miliar,  sedangkan  nilai  impor  sebesar  USD  221,89  miliar.  Ada  tiga provinsi  dengan  kontribusi  ekspor  terbesar,  yaitu  Kalimantan  Timur  (10,48  persen),  Jawa  Barat (15,07 persen), dan Jawa Timur (8,5 persen).

Direktur  Pengembangan  Pasar  dan  Informasi  Ekspor  Kemendag Arief  Wibisono  menambahkan, salah  satu  peran Kemendag adalah  mengembangkan  pasar  tujuan  ekspor.  Terdapat  beberapa negara  prospektif  yang berpotensi  bagi  pelaku usaha  untuk  dapat  mengembangkan  pasar  ekspor mereka.

“Hasil analisis potensi pasar di kawasan Asia,  Afrika,  dan  Pasifik  menunjukkan  negara-negara tujuan  ekspor  potensial  antara  lain  India,  Pakistan,  Nigeria,  Afrika  Selatan,  Kenya,  Libya,  dan Persatuan   Emirat   Arab.   Kriteria   yang   digunakan   untuk   menentukan   potensi   negara-negara tersebut  adalah  potensi pertumbuhan  ekonomi,  jumlah  penduduk,  kestabilan  geopolitik,  dan penghubung ekspor ke negara lain,”ungkap Arief.

Kemendag   berkomitmen    memberikan   dukungan   penuh   kepada   para   eksportir Indonesia   melalui   berbagai   program   dan   inisiatif.   Program-program   pengembangan   ekspor tersebut diantaranya pelatihan ekspor, pendampingan sertifikasi, misi dagang, dan pameran luar negeri.  Pelaku  usaha   didorong  untuk  aktif  dalam  berkomunikasi  dan  berkoordinasi dengan   berbagai   pihak   demi   mengembangkan   pasar   ekspor,   khususnya   ke   negara-negara nontradisional yang prospektif.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (DPP GPEI) Toto Dirgantoro menyampaikan dalam FGD, Indonesia mempunyai setidaknya sepuluh jenis  produk  unggulan  yang  memainkan  peran  penting  dalam  perdagangan  global.  Kesepuluh produk tersebut adalah elektronika, otomotif, udang, kopi, minyak kelapa sawit, kakao, karet dan produk karet, tekstil, alas kaki, dan furnitur.

“Kami melihat ada beberapa  solusi  yang  dapat  digunakan  untuk  mengembangkan  pasar  ekspor. Pertama, melihat lebih detail produk dalam perjanjian perdagangan bilateral maupun multilateral. Kedua, membuka  peluang pasar di kawasan Amerika Latin  dan Afrika. Ketiga, bekerja sama lebih intensif  dengan  perwakilan  perdagangan  di  negara  tujuan  ekspor.  Keempat,  memaksimalkan Export Center Surabaya sebagai kepanjangan tangan Kemendag untuk mencari pembeli potensial, serta informasi pelatihan, bimbingan, dan penyuluhan tata cara ekspor,”kata Toto.[]sp