Tahu Bakso dan Sale Pisang Asal Semarang Rambah Pasar Australia dan Amerika Serikat

Semarang, 22 Februari 2024, pelakubisnis.com – Salah satu produk hasil usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tahu  bakso ‘Tomell’ dan  sale  pisang ‘Rodjo Sale’ berhasil  merambah  pasar  Australia  dan  Amerika Serikat.  Produk  hasil  PT  Kingkaf  Makmur  Sejahtera  yang  digeluti  Ika  Yuanita  tersebut  terus melakukan inovasi untuk memperluas jangkauan pemasaran dan penjualan produknya. Wanita asal Semarang, Jawa Tengah itu mampu memasarkan produknya hingga ke Jepang.

Ika mengakui, tahu  bakso  dan  sale  pisang  adalah produk  buatannya yang paling banyak  diminati. Tahu  bakso olahan  Kingkaf  ini  mampu bertahan  hingga  delapan  bulan dalam  suhu ruang karena dikemas dengan menggunakan teknologi modern.

“Kingkaf melihat peluang dari orang-orang Indonesia yang sangat menyukai cemilan. Para diaspora Indonesia di luar negeri pasti tidak mudah untuk menemukan cemilan yang familiar di lidah mereka. Betul  saja,  cemilan  tahu  bakso  dan  sale pisang  menjadi  makanan  yang  disukai  para  diaspora, terutama  di Amerika  Serikat  dan  Australia,” ungkap  Ika saat  ditemui  di  sela  pameran pada  Rapat Kerja Kementerian Perdagangan, di Hotel Padma Semarang, Jawa Tengah, pada 21/2.

Ika menyatakan, sale pisang Kingkaf diperoleh dari petani pisang di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Pisang  yang  digunakan  tidak  pernah  dibeli  dari  penjual,  tapi  langsung  dari  petani  sehingga  dalam kondisi matang yang sesuai. Pisang yang digunakan juga pisang khusus, yaitu pisang silangan yang memiliki tekstur lebih kenyal.

“Berbagai produk Kingkaf akhirnya bisa merambah pasar internasional. Mulai dari Amerika Serikat, Australia, Jepang, Malaysia,  dan Singapura. Kingkaf memanfaatkan penjual  ulang yang  ada  di negara-negara  tersebut  untuk  memasarkan  produknya.  Khusus  untuk  pasar  Amerika  Serikat, Kingkaf rutin mengirim produk tahu bakso dan sale pisang setiap bulan. Kingkaf juga memiliki toko di Brisbane, Australia untuk membantu merambah pasar di negeri kanguru tersebut,”ujar Ika.

Ika mengungkapkan, terdapat banyak tantangan yang harus dilalui Kingkaf sebelum sukses seperti saat  ini.  Kingkaf didirikan  pada2017  dengan  produk  awal  kopi  robusta,  arabika,  dan  liberika. Kopi-kopi tersebut dipetik dari petani-petani binaan dinas bidang pertanian Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Produk  kopi  Kingkaf  pada  awalnya  dipasarkan  dengan metode waralaba dan  berhasil  tersebar  di empat  titik, yakni  tiga  di  Semarang  dan  satu  di  Madiun.  Selain waralaba, Kingkaf juga  menjual produk pertama mereka melalui penjual ulang yang tersebar di Palembang, Jakarta, dan Bali.

Ika  meneruskan,  Kingkaf  akhirnya membuat  produk  baru  dengan  mengembangkan green  coffee untuk   diet.Ternyata produk   baru   tersebut   banyak   diminati masyarakat.   Produk   kopi yang dipasarkan Kingkaf berbentuk bubuk dan roasted bean.

“Selain  itu, Kingkaf  jugaterus  berinovasi  dalam  mengembangkan  produk  minuman  tradisional fermentasi jahe dan lemon ‘Jaenak’, minuman jahe dengan sensasi yang berbeda karena ada soda alaminya. Minuman yang diberi nama Jaenak ini merambah milenial,” ungkap Ika.

Ika  mengatakan, Kingkaf juga  kembali mengembangkan  berbagai produk  lainnya. Beberapa  di antaranya, teh celup rempah yang terdiri dari lima varian, yaitu teh pegel linu, teh masuk angin, teh uwuh, teh angkrah, dan teh rosella. Lalu, terdapat juga produk kerupuk udang dan wingko babat.

“Kingkaf akan selalu mengedepankan kualitas. Contohnya, produk fermentasi bawang putih Kingkaf yang menggunakan prebiotik, bukan sekadar dipanaskan. Lalu, produk fermentasi jahe dan lemon Kingkaf  yang  memiliki  sensasi  soda  alami  menggunakan  laktobasilus  sehingga  memperlancar pencernaan,”imbuh Ika.[]sp/foto: ist