Slamet Sutrisno: Ciptakan Anjungan Migas Terbuat Dari Kayu di IPA 2024

Tangerang, 16 Mei 2024, pelakubisnis.com – Inovasi di sektor hulu migas memang  selalu terdepan. Kali ini di dalam ajang IPA Convention and Exhibition (Convex) 2024 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten yang diadakan pada 14-16 Mei 2024.

Dalam pameran  ini ditampilkan sebuah anjungan atau platofrm pengeboran untuk hulu migas yang terbuat dari kayu. Hanya saja platform tersebut merupakan miniatur kayu secara presisi kreasi dari Slamet Sutrisno, warga Grobogan, Jawa Tengah, yang merupakan pengrajin kayu serta Owner dari Markas Miniatur.

Tak hanya anjungan offshore, miniatur yang ditampilkan di Booth “Swa Mp – Swa Multi Persada” di pameran tersebut ternyata ada juga kapal Floating Storage Production and Offloading (FPSO) sampai rignya. Dukungan dari Swa Mp – Swa Multi Persada antara lain membantu modal kegiatan usahanya, membantu promosi, sampai membawa Markas Miniatur Jati ke berbagai pameran.

Dionysius Irianto, Komisaris Swa Multi Persada, mengungkapkan perusahaannya telah mendukung kegiatan usaha Markas Miniatur Jati sejak empat tahun lalu lewat program CSR perusahaan. “Waktu itu Pak Slamet ini kesulitan, padahal miniatur kayu ini sudah terkenal di luar negeri khususnya yang terkait oil and gas. Jadi kita bantu secara pemodalan dan pemasaran,” kata Dionysius.

Swa Mp berharap kerajinan miniatur kayu migas karya Slamet dan rekan-rekan juga bisa dilirik oleh perusahaan-perusahaan nasional yang ternyata saat ini masih kurang permintaannya, padahal di luar negeri miniatur kayu ini banyak yang mencari.

Hal senada juga disampaikan Slamet yang mengatakan peminat miniatur kayu kreasinya dari perusahaan lokal masih sangat minim. “Baru ada Saipem pada tahun ini. Harapan saya dengan perusahaan luar negeri saja bisa menghargai, perusahaan lokal juga bisa tertarik dengan miniatur kayu ini,” kata Slamet di IPA Convex (15/05).

Dia menerangkan, pesanan dari LinkedIn ternyata banyak yang berasal dari perusahaan migas mancanegara yang ingin dibuatkan miniatur kayu berupa anjungan lepas pantai dan rig yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. “Satu pesanan harganya bisa Rp20-30 juta, kalau pesan dua berarti bisa Rp60 juta,” ungkap Slamet. Untuk urusan ongkos kreatif, Slamet berpatokan pada tingkat kerumitan dalam pembuatannya. “Paling mahal ada yang hampir Rp100 juta,” jelasnya.

Semakin banyaknya pesanan membuat Slamet membutuhkan tenaga kerja tambahan. Mulai tahun 2019 hingga kini dirinya dibantu oleh empat orang pekerja dalam kegiatan kerajinan kayunya tersebut. Setiap bulannya, Markas Miniatur Jati bisa membuat kreasi miniatur kayu sekitar 3-4 unit. “Kebanyakan yang kecil-kecil, tetapi yang besar juga ada. Yang paling besar itu pernah kami buat panjangnya 1 meter, itu miniatur FPSO pesanan dari Petrobras Brazil,” jelasnya.

Terhitung, sudah ada permintaan dari 24 negara untuk minatur kayu kreasi Slamet dan teman-teman. “Paling sering saya kirim ke Dubai (Uni Emirat Arab), Amerika Serikat, Belanda, sampai Irak,” bebernya. Untuk pesanan miniatur yang paling laris, menurut Slamet adalah miniatur yang terkait bidang migas. “Itu hampir 98 persen pesanannya, berupa onshore rig, offshore rig, sampai miniatur kapal,” tutup Slamet.[] adi