Indonesia Perkuat Kerja Sama Dagang dengan Kenya, Uganda, dan Somalia

Tangerang, 12 Oktober 2024, pelakubisnis.com  – Indonesia terus berupaya  memperkuat kerja sama perdagangan dengan  Kenya,  Uganda,  dan  Somalia.  Saat  ini,  sektor  perdagangan  Indonesia  baik  dan  stabil  untuk meningkatkan  kerja  sama  perdagangan  dengan  ketiga  negara  dari  Afrika  Timur  tersebut.

Hal  ini disampaikan Direktur  Pengembangan  Pasar  dan  Informasi  Ekspor  (PPIE)Arief  Wibisono dalam  Forum Bisnis Indonesia–Nairobi yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibiton (ICE), Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten pada, 11/10.

Forum  ini  diselenggarakan  di  sela-sela  gelaran  Trade  Expo  Indonesia  (TEI)  ke-39  dengan  dihadiri  50 peserta  yang  terdiri  dari buyer dan  ekshibitor. Turut  hadir  Duta  Besar  RI  untuk  Nairobi  M.  Hery Saripudin,  Atase  Perdagangan  Kedutaan  Besar  Kenya  di  Jakarta  Maurine Abungu,  Konsul  Kehormatan RI  di  Uganda  Paresh  Shukla,  Insinyur  Senior  Kementerian  Pertanian,  Peternakan,  dan  Perikanan Uganda  Ochan  Jolly  Joe,  dan  Direktur  Jenderal  Badan  Promosi  Ekspor  Nasional  (National  Agency  for Exports Promotion/ANAPEX) Mike Tambwe Lubemba.

“Sektor  perdagangan  Indonesia  baik  dan  stabil  untuk memperkuatkerja  sama perdagangan dengan Kenya,    Uganda,    dan    Somalia.    Data    yang    kami    miliki    pun mencatat,    Indonesia    mampu mempertahankan  surplus  neraca  perdagangan  sebesar  USD  546  juta  dengan ketiga  negaratersebut. Surplus ini menunjukkan keunggulan Indonesia di sektor-sektor ekspor utamanya,” ujar Arief.

Arief menyatakan, hubungan perdagangan antara Indonesia dengan Kenya, Uganda, dan Somalia  menunjukkan  tren  positif  selama  lima  tahun  terakhir.  Hal  itu  dibuktikan  dengan  peningkatan transaksi perdagangan antara Indonesia dengan negara-negara tersebut sebesar 13,5 persen. Dengan begitu,kerja   sama perdagangan   antar   negara   mengalami   peningkatan dan memiliki   potensi berkelanjutan.

Arief menambahkan,  seluruh  perdagangan  yang  dijalankan  antara  Indonesia  dengan  Kenya,  Uganda, dan  Somalia  berasal  dari  sektor  nonmigas  dannongas  alam.  Hal  ini  menunjukkan  perdagangan bilateral antara  Indonesia  dengan  ketiga  negara  tersebut  berfokus  pada  produk-produk  manufaktur, pertanian,  dan  komoditas  nonenergi  lainnya.Dengan  demikian, seluruh negara  mitra  Indonesia  ini diharapkan dapat melanjutkankerja sama serta meningkatkan hubungan dagang dan investasi denganIndonesia.

Berdasarkan  data  Kementerian  Perdagangan,  ekspor  Indonesia  ke  Kenya,  Uganda,  dan  Somalia  pada 2023  mengalami  penurunan  sebesar  2,11  persen  dibandingkan  pada  tahun  sebelumnya. “Penurunan ini dipengaruhi faktor ekonomi global, gangguan rantai pasokan, dan pergeseran permintaan,”ungkap Arief.

Sementara itu, impor dari Kenya, Uganda, dan Somalia ke Indonesia pada 2023 mengalami penurunan sebesar  15,22persen dibandingkan  pada  2022. Meskipun  mengalami  fluktuasi, neraca  perdagangan antara Indonesia dan ketiga negara ini masih menguntungkan bagi Indonesia.

Arief menyatakan, produk  ekspor  utama  Indonesia  ke  Kenya,  Uganda,  dan  Somalia meliputiminyak sawit,  minyak  asam,  kain,  dan  sabun  batangan. Di  sisi  lain,  produk  impor utama negara-negara tersebut ke Indonesia adalah biji kakao, kacang hijau, teh hitam, poliester, katun, dan reptil.

Arief mengutarakan,Kenya tengah menjajaki peluang untuk berkolaborasi dalam inisiatif energi terbarukandengan Indonesia. Sektor ini memiliki potensi investasi yang besar.Hal itu didukung dengan  dorongan  global  menuju  keberlanjutan  dan  pengurangan  jejak  karbon. Kolaborasi tersebutdapat  melibatkan  bidang-bidang  seperti  tenaga  surya,  energi  angin,  dan  proyek  panas  bumi  dengan memanfaatkan sumber daya alam (SDA) Kenya dan keahlian teknologi Indonesia.

“Indonesia–Kenya juga  sedangberupaya  untuk  membentuk  Perjanjian  Perdagangan  Preferensial (Preferential  Trade  Agreement/PTA).  Hal  tersebut  dilakukan  untukmengurangi  tarif  dan  hambatan perdagangan  pada  barang  dan  jasa  tertentusehingga  memudahkan  bisnis  untuk  beroperasi  lintas batas.Perjanjian  ini  akan memperkuat hubungan  perdagangan,  mendorong  investasi,  dan  membuka peluang baru bagi bisnis di kedua negara,”terang Arief.[]sp