Bappebti Tingkatkan Peran SRG untuk Perkuat Pasar Dalam dan Luar Negeri

Jakarta, 3  November  2024, pelakubisnis.com – Badan  Pengawas  Perdagangan  Berjangka  Komoditi  (Bappebti)  akan berperan  aktif  mendukung  program  prioritas  pemerintah  Kabinet  Merah  Putih  yang  fokus  pada swasembada   pangan,   swasembada   energi,   dan   hilirisasi.   Untuk   mendukung   program   tersebut, Kementerian  Perdagangan  telah  menetapkan  tiga  program  prioritas  yaitu  pengamanan  pasar  dalam negeri,  perluasan  ekspor,  dan  mendorong usaha  mikro,  kecil,  dan  menengah  (UMKM)BISA(Berani Inovasi,  Siap  Adaptasi) ekspor.  Salah  satu  instrumen  Bappebti  untuk  mendukung ketiga program adalah optimalisasi Sistem Resi Gudang (SRG).

 “Bappebti  berkomitmen  mendukung  penuh  program  prioritas  pemerintah,  salah  satunya  melaluioptimalisasiSRG yang merupakan instrumen Perdagangan Berjangka Komoditas(PBK). SRGbertujuan untuk  menjaga  pasar  atas  produk/komoditas  yang  disimpan  di  gudang  SRG,sehingga  dapat  memiliki nilai lebih bagi masyarakat baik petani, petambak, nelayan, maupun pekebun,” jelas Kasan, dalam rilisnya, pada 1/11.

Saatini,terdapat  22  jenis  komoditas yang  dapat  menggunakan  SRG  berdasarkan  Peraturan  Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 24 Tahun 2023 yaitu gabah, beras, jagung, kopi, kakao, lada, karet, rumput  laut,  rotan,  garam,  gambir,  teh,  kopra,  timah,  bawang  merah,  ikan,  pala,  ayam  karkas  beku, gula kristal putih, kedelai, tembakau, dan kayu manis.

Kasan  menerangkan,  pada  saat  terjadi  gejolak  penurunan  harga  komoditas  akibat  kondisi  seperti panen  raya,  faktor  cuaca  ekstrim,  atau  gejolak  harga  komoditas  dunia,  pemilik  komoditas  dapat memanfaatkan  gudang  SRG  untuk  penyimpanan.  Semua  komoditas  yang  disimpan  pada  gudang  SRG terjamin kualitasnya karena melalui uji mutu sebelum disimpan.

Gudang  SRG  juga  memenuhi  Standar  Nasional  Indonesia  (SNI)  sehingga  mampu  menjaga  kualitas komoditas selama  masa  penyimpanan.  Saat  ini,terdapat  123  gudang  SRG  yang  dibangun  oleh pemerintah melalui program Kementerian Perdagangan dan 144 gudang SRG swasta yang tersebar di seluruh Indonesia. Melalui mekanisme penyimpanan tersebut, SRG akan mampu menunjang program pemerintah karena mampu mendukung stabilitas harga dan pasokan komoditas serta menjaga inflasi.

Kepala  Biro  Pembinaan  dan  Pengembangan  SRG  dan  Pasar  Lelang  Komoditas  (PLK),  Heryono  Hadi Preasetyo menjelaskan, terdapat sejumlah komoditas dari gudang SRG yang terbukti mampu menjaga inflasi,  seperti  gabah,  beras,  kedelai,  bawang  merah,  ikan,  dan  gula. Di  samping  untuk  menjaga stabilitas  harga  dan  inflasi,  penguatan  SRG  juga  didorong  untuk  mendukung  peningkatan  ekspor nonmigas   Indonesia.   Dalam   beberapatahun   terakhir   telah   berhasil   dilakukan   ekspor   terhadap komoditas yang disimpan di gudang SRG.

Ekspor  komoditas  melalui SRG menunjukkan  keberhasilan  dalam  meningkatkan  daya  saing  produk lokal di pasar internasional. Komoditas yang telah diekspor tersebut, antara lain kopi dari SRG Subang dan Aceh, beras organik dari SRG Wonogiri, gabah dari SRG Subang, ikan dari SRG Bali, lada putih dari SRG Bangka,  dan  rumput  laut  dari SRG Makassar.  Beraneka  komoditas  tersebut mencerminkan keragaman produk Indonesia yang diminati oleh pasar luar negeri.

Heryono  melanjutkan,  potensi  pengembangan  SRG  ke  depan  masih  sangat  besar  terutama  untuk dimaksimalkan dalam mendukung ekspor. “Kita harus pastikan ke depan lebih banyak komoditas yang dapat diekspor dari Gudang SRG karena terjamin kualitas, kuantitas, dan kontinuitasnya,” tegasnya.

Selain itu, jenis komoditas SRG juga masih dapat berkembang. Tahun 2025, SRG dengan PLK akan terus terintegrasi sebagai amanat Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2022 tentang Penataan, Pembinaan, dan Pengembangan Pasar Lelang Komoditas. Kolaborasi Bappebti dengan swasta, pemerintah daerah, pusat registrasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta lembaga keuangan bank dan nonbank jugamasih harus terus dioptimalkan terutama dalam upaya menjaga inflasi.

Sekretaris  Bappebti,  Olvy  Andrianita  menambahkan,  konsep  SRG  di  Indonesiasudah  sangat  jelas  dan terarah, serta berpihak ke rakyat kecil. Terlebih,SRG didukung dengan regulasi, di antaranyaUndang-undang Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang  Nomor  9  tahun  2011, Permendag  Nomor 53  Tahun  2022  tentang  Pelaksanaan  Skema  Subsidi Resi  Gudang, dan Permendag  Nomor  24  Tahun  2023  tentang  Barang  dan  Persyaratan  Barangyang dapat disimpan dalam SRG.

“Dengan  dukungan  regulasi,  diharapkan  implementasi  SRG  di  Indonesia  dapat  berjalan  dengan  baik. Salah  satu  yang  harus  kita  perkuat  adalah  penguatan  literasi  kepada  masyarakat,  baik  pemilik komoditas,    pelaku    usaha,    maupun    pihak    terkait,serta    menggandeng    pihak    swasta    dalam penyelenggaraan SRG,” tegas Olvy.

Terkait  perkembangan  transaksi  SRG,  pada  periode  Januari—September  2024,  nilai  penerbitan resi gudang tercatat mencapai Rp2,35 triliun, meningkat 200persendibandingkan periode yang samapada 2023 yang mencapai Rp781,12 miliar. Nilai pembiayaan resi gudangpada periode Januari—September 2024 mencapaiRp1,57 triliunatau naik 191persendari periode yang sama pada 2023 yang mencapai Rp539,75 miliar. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya volume dan nilai komoditas atas komoditas timah, kopi, kedelai, gabah, beras, dan ikan yang disimpan dalam gudang SRG.[]sp