Indonesia Catat Surplus Perdagangan 2024 Sebesar USD 31,04 Miliar

Jakarta, 18 Januari 2025, pelakubisnis.com – Menteri Perdagangan Budi Santoso, menyatakan, Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD 31,04 miliar pada 2024. Surplus tersebut dihasilkan dari surplus  nonmigas  sebesar  USD  51,44  miliar  dan  defisit  migas  sebesar  USD  20,40  miliar. Surplus tahunan ini melanjutkan tren surplus untuk lima tahun berturut-turut sejak 2020.

“Perolehan surplus perdagangan Indonesia pada 2024adalah sebesar USD 31,04 miliar. Surplus initelah mencapai target surplus neraca perdagangan untuk 2024, yaitu USD 30,30 miliar—USD 38,80 miliar.Surplus tahun ini melanjutkan tren surplus tahunan selama lima tahun terakhir sejak 2020,”ujar Budi.

Lebih  lanjut ditambahkan, dari  sisi  perdagangan  nonmigasnya,  surplus nonmigas Indonesia  2024 sebagian  besar disumbang olehperdagangan  dengan  beberapa  negara  mitra dagang.  Amerika  Serikat  (AS)  menjadi  penyumbang  surplus  terbesar  dengan  USD  16,84  miliar, diikuti  India  USD 15,39 miliar,  Filipina  USD 8,85 miliar, Malaysia  USD  4,13  miliar, dan  Jepang  USD 3,71 miliar.

Sedangkan, neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2024 membukukan surplus sebesarUSD 2,24  miliar. Dengan  capaian  surplus  ini,  neraca  perdagangan  Indonesia  meneruskan  tren  surplus selama 56 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.Surplus Desember 2024 didorong surplus nonmigas sebesar USD 4,00 miliar dan defisit migas sebesar USD 1,76 miliar.

Budi menjelaskan, selama 2024, total nilai ekspor Indonesia mencapai USD 264,70 milliar atau naik 2,29 persen  dibandingkan  2023.  Sementara itu, nilai  ekspor  nonmigasnya  sendiri mencapai USD 248,83 miliar atau naik 2,46 persen dibanding 2023.

Sektor  dengan peningkatan ekspor paling  signifikan dibanding tahun sebelumnya  terjadi  pada sektor  pertanian sebesar 29,81 persen  diikuti industri5,33  persen.Sedangkan, ekspor  sektor pertambangan turun 10,20 persen.

“Pada 2024, kenaikan ekspor nonmigas secara tahunan terjadi pada sektor pertanian dan industri, sedangkan ekspor sektor pertambangan menurun,”tutur Budi.

Beberapa produk utama ekspor nonmigas dengan kenaikan tertinggi pada 2024, antara lain, kakao dan  olahannya  (HS  18) sebesar 118,63 persen; barang  dari  besi  dan  baja  (HS  73)  101,10 persen; aluminium  dan  barang dari padanya (HS 76) 70,07 persen; kopi, teh,  dan rempah-rempah (HS 09) 67,27persen; serta tembaga dan barang dari padanya (HS 74) 51,11 persen (CtC).

Budi mengungkapkan, Tiongkok, AS,  dan India masih  menjadi  pasar  utama  ekspor nonmigas  Indonesia  pada  2024  dengan  nilai  mencapai  USD 106,86 miliar.  Ketiga  negara  ini berkontribusi sebesar 42,94 persen dari total ekspor nonmigas nasional.

Sementara  itu,  ekspor  nonmigas  Indonesia  ke  beberapa  negara  pada  2024 dengan peningkatan terbesar,  antara  lain, ke Australia sebesar 60,58 persen  diikuti  Rusia 44,04 persen,  Brasil 34,84 persen, Turki 25,97 persen, dan Vietnam 25,04 persen.

Ditinjau  dari  kawasannya,  kata Budi,  kawasan  tujuan  ekspor nonmigas yang meningkat signifikan, antara lain, Eropa Timur dengan 113,92 persen, diikuti Australia 60,58 persen, dan AS20,37 persen.

Khusus periode Desember 2024, total ekspor Indonesia mencapai USD 23,46 miliar. Meskipun turun 2,24 persen dibanding ekspor November 2023, namun nilai ini naik 4,78 persen dibanding Desember 2023. Nilai ekspor nonmigas Desember 2024 tercatat USD 21,92 miliar dan migas USD 1,54 miliar. Ada  peningkatan  nilai  ekspor  nonmigas  Desember  2024 sebesar4,83  persen  jika  dibandingkan dengan Desember 2023.

Pada  2024,  total  impor  Indonesia  tercatat  sebesar  USD  233,66  miliar.  Nilai  ini  naik  5,31  persen dibanding periode yang sama pada 2023. Kenaikan ini terutama didorong kenaikan impor nonmigas sebesar 6,09 persen dan migas sebesar 1,24 persen dibanding periode yang sama pada 2023.

Budi memaparkan, pada 2024, seluruh impor golongan penggunaan barang meningkat. Impor barang konsumsi  naik  paling  signifikan  sebesar  5,37  persen,  diikuti kenaikan  impor barang modal sebesar 5,34 persen dan bahan baku/penolong 5,29 persen (CtC).

Beberapa produk impor nonmigas dengan kenaikan signifikan pada 2024, antara lain, logam mulia, perhiasan/permata (HS 71) 70,94 persen;kakao dan olahannya (HS 18) 48,81 persen;bahan kimia anorganik (HS 28) 22,93 persen;kain rajutan (HS 60) 17,41 persen;dan perangkat optik, fotografi, sinematografi (HS 90) 16,56 persen (CtC).

Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia didominasi dari Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan  total  pangsa  48,69  persen  dari  total  impor  nonmigas  pada  2024.  Beberapa  asal  impor nonmigas dengan kenaikan  tertinggi  pada  2024,  antara  lain, Myanmar  280,90  persen,  Pakistan 100,97 persen, Swedia 34,47 persen, Filipina 23,97 persen, dan Hongkong 22,97 persen (CtC).

Sementara itu, khusus Desember2024, impor Indonesia tercatat sebesar USD 21,22 miliar atau naik 8,10 persen  dibandingkan November  2024  (MoM). Nilai  ini naik  11,07  persen  dibandingkan Desember  2023  (YoY).Kenaikan  impor  Desember  2024  (MoM)  terjadi  baik  pada  sektor nonmigas sebesar 5,06 persen maupun pada migas sebesar 28,26 persen dari November 2024.

“Impor naik seiring dengan tengah tumbuhnya industri manufaktur. Indikator Purchasing ManagersIndex (PMI) Indonesia periode Desember 2024 masih berada di zona ekspansif sebesar 51,20 persen. Selain itu, ada perbaikan kondisi pasar domestik yang ditandai dengan peningkatan indikator Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 127,7 poin di penghujung 2024,”tutup Budi.[]sp