Tahun 2025 PLN Akan Gunakan Teknologi Co-Firing di 52 PLTU

PT PLN (Persero) tahun 2024 menerapkan teknologi co-firing di 47 PLTU. Pada tahun 2025, teknologi co-firing biomassa akan diperluas ke 52 PLTU dengan proyeksi kebutuhan biomassa mencapai 10,2 juta ton per tahun. Bagaimana rantai pasok kebutuhan biomassa?

Sepanjang tahun 2024 PT PLN (Persero) sukses mengimplementasikan teknologi substitusi batubara atau co-firing biomassa pada 47 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). PLN akan terus menggenjot penerapan co-firing biomassa sebagai bagian dari strategi untuk menurunkan emisi melalui pemberdayaan masyarakat lokal.

Langkah strategis ini berbasis ekonomi kerakyatan yang menghasilkan energi hijau sebesar 1,67 juta Megawatt hour (MWh), meningkat 60% dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 1,04 juta MWh. Dari peningkatan tersebut, konsumsi biomassa di sepanjang 2024 tercatat mencapai 1,62 juta ton, tumbuh signifikan dibandingkan konsumsi biomassa pada tahun 2023 sebanyak 1 juta ton. Pemanfaatan biomassa pada teknologi co-firing di PLTU ini mampu menurunkan emisi karbon sebesar 1,87 juta ton CO2 di tahun 2024.

Teknologi co-firing memanfaatkan biomassa sebagai substitusi parsial batubara/foto: its

Sementara biomassa adalah sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) yang berasal dari organisme yang pernah hidup. Sampah rumah tangga, sisa pengolahan sawit, bubuk hasil penggergajian kayu, sabut kelapa, hingga kotoran ternak adalah sejumlah contoh biomassa.

Teknologi co-firing akan memanfaatkan biomassa sebagai substitusi parsial batubara untuk dibakar di boiler pembangkit listrik. Terlebih biomassa ini dapat diperoleh dari beragaram bahan baku, seperti limbah hutan, perkebunan, atau pertanian. Pemanfaatan limbah biomassa dapat mengurangi emisi metana yang disebabkan oleh degradasi limbah biomassa itu sendiri.

Sekretaris Perusahaan  PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EP), Mamit Setiawan,  dalam keterangan Corporate Exposure, kebutuhan biomassa diproyeksikan meningkat dari 1,64 juta ton pada tahun 2024 menjadi 2 kali lipat yakni 3 juta ton pada tahun 2025 untuk 48 lokasi PLTU.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo mengatakan, sesuai arahan  Presiden Prabowo Subianto, PLN terus mendukung agenda swasembada energi dari pemerintah. Dulu PLN hanya bertugas menyediakan listrik, tetapi kini tugas PLN adalah menyediakan energi yang bersih dan affordable untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan. “Pada saat yang sama PLN  juga menjaga kelestarian lingkungan, kata Darmawan.

Co-firing biomassa yang dijalankan PLN berhasil menyumbang bauran energi terbarukan sebesar 1,86% di tahun 2024, jumlah ini meningkat  dibanding tahun 2023 yang berada di kisaran 1,2%. Menurut Darmawan, pemanfaatan biomassa tidak hanya berkontribusi dalam peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia, tetapi juga mendukung prinsip keberlanjutan dalam aspek Environmental, Social, and Governance (ESG). Selain mengurangi emisi karbon, teknologi ini turut mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Di tahun 2024, PLN memanfaatkan berbagai sumber biomassa untuk mendukung co-firing di PLTU meliputi Sawdust, Woodchip, Cangkang Sawit, Sekam Padi, Pellet Sekam Padi, Bonggol Jagung, Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP), Pellet Tankos Kelapa Sawit, Cangkang Kemiri, dan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK).

 “Melalui biomassa, kita dapat menciptakan ekonomi sirkuler dengan memanfaatkan limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang sebelumnya tidak bernilai. Selain itu, lahan-lahan kritis bisa direvitalisasi agar lebih hijau dan produktif,” ujar Darmawan.

Darmawan: tahun 2025, teknologi co-firing biomassa akan diperluas ke 52 PLTU /foto: doc. PLN

Lebih lanjut ditambahkan,  pada tahun 2025, teknologi co-firing biomassa akan diperluas ke 52 PLTU dengan proyeksi kebutuhan biomassa mencapai 10,2 juta ton per tahun. Untuk memastikan ketersediaan pasokan, PLN akan terus mengembangkan ekosistem biomassa berbasis ekonomi kerakyatan, salah satunya melalui program Pengembangan Ekosistem Biomassa Berbasis Ekonomi Kerakyatan dan Pertanian Terpadu.

“PLN EPI juga melakukan pengembangan ekosistem biomassa berbasis pertanian terpadu bersama Kementerian Pertanian. Program tersebut nantinya akan berkontribusi pada keberlanjutan pasokan yang saat ini masih bertumpu sumber biomassa dari limbah,” tambah Mamit.

Sementara Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sudaryono mengapresiasi langkah PLN dalam mendorong program biomassa dengan memanfaatkan lahan kritis yang berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah, dan kelompok masyarakat.

“Saya mengapresiasi langkah PLN dengan program ini. Kita dihadapkan pada tantangan perubahan iklim. Saya sangat menghargai karena dengan diwajibkan (program ini) maka sumber biomassa akan berasal dari tanah marjinal,” pungkas Sudaryono.

Kontribusi  peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia, Darmawan menilai co-firing juga mendukung prinsip keberlanjutan dalam aspek Environmental, Social, and Governance (ESG). Teknologi tersebut turut mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien dan berkelanjutan selain mengurangi emisi karbon.

Melalui biomassa, PLN dapat menciptakan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang sebelumnya tidak bernilai. “Selain itu, lahan-lahan kritis bisa direvitalisasi agar lebih hijau dan produktif,” tuturnya. Darmawan [] Yuniman Taqwa