Perang Dagang AS VS China Memasuki Babak Kedua, Bagaimana Kelanjutannya?
Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China sudah terjadi sejak 2018, dengan peningkatan signifikan pada tahun 2025. Konflik ini dimulai dengan tindakan AS mengenakan tarif impor terhadap produk China dan dibalas dengan tarif serupa dari China. Bagaimana kondisinya kini?
Perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) semakin panas menyusul China kembali menaikkan tarif impor untuk barang dari AS menjadi 125%. Mengutip Bloomberg pada 11/4/2025, Kementerian Keuangan China menjelaskan, negaranya akan mengabaikan tarif lebih lanjut dari AS terhadap produk-produk China.
“Mengingat tidak ada lagi kemungkinan penerimaan pasar untuk barang-barang AS yang diekspor ke China berdasarkan tingkat tarif saat ini, jika pihak AS kemudian terus mengenakan tarif pada barang-barang China yang diekspor ke AS, pihak China tidak akan memperhatikannya,” tertulis dalam keterangan resmi Kementerian Keuangan China.

Keputusan itu menjadi babak baru perang dagang AS – China, sejak Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS pada Januari 2025. Betapa tidak, keputusan menaikan tarif antara kedua negara itu dimulai pada Februari 2025 lalu. Saat, Presiden Trump mengenakan tarif impor sebesar 10% untuk barang-barang China.
Negara tirai Bambu ini merespon kebijakan tersebut dengan mengenakan tarif sebesar 15% pada batu bara dan produk gas alam cair. China juga menetapkan tarif sebesar 10% pada minyak mentah, mesin pertanian, dan mobil berkapasitas besar.
Pada 3 Maret 2025, Trump menaikkan tarif impor barang-barang China sebesar 10% menjadi 20%. China langsung membalas dengan mengenakan tarif sebesar 15% pada produk ayam, gandum, jagung, dan kapas yang berasal dari Amerika Serikat.
Tidak hanya itu, China pada 10 Maret 2025 mulai memberikan tarif sebesar 10% pada sorgum, kedelai, daging babi, daging sapi, produk perairan, buah-buahan, sayur-sayuran, dan produk susu yang berasal dari AS.
Sebulan berselang, Trump kembali menaikkan tarif terhadap China sebesar 34%. Trump menuduh China mengenakan tarif dan hambatan perdagangan non-tarif sebesar 67% terhadap AS. Gedung Putih mengonfirmasi bahwa tarif baru itu akan diterapkan di atas tarif yang telah ditetapkan sebelumnya, sehingga menghasilkan tarif efektif sebesar 54% terhadap semua impor China ke AS, sebagaimana dikutip dari bisnis.com, pada 11/4/2025.
Wakil Perdana Menteri He Lifeng bertemu dengan Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent di Swiss sebagai negosiasi awal penyelesaian perang tarif antara dua negara besar tersebut.”Baru-baru ini, AS berulang kali mengatakan ingin berunding dengan China. Pertemuan ini diminta oleh pihak AS,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, sebagaimana dikutip dari antaranews.com 7/5/2025.
Dalam rilis yang disampaikan Kementerian Luar Negeri China sebelumnya disebutkan He Lifeng akan mengunjungi Swiss pada 9 – 12 Mei 2025 atas undangan pemerintah Swiss. Selama kunjungannya ke Swiss, He Lifeng yang bertanggung jawab atas urusan ekonomi dan perdagangan China-AS, akan mengadakan pertemuan dengan pejabat AS yang bertanggung jawab atas urusan Keuangan, Scott Bessent.
Dunia mengamati situasi yang terjadi di Geneva, Swiss, lokasi delegasi Amerika Serikat dan China bertemu. Mereka hendak mencari jalan keluar dari perang dagang yang dipandang merugikan AS-China dan dunia. Terbersit niat Presiden Amerika Serikat Donald Trump menurunkan tarif impor barang asal China hingga 80 persen. Namun, langkah itu dirasa belum cukup mengatasi potensi stagnasi ekonomi global. ”Tarif 80 persen kepada China tampaknya tepat! China harus membuka pasarnya bagi AS. Itu akan sangat baik bagi mereka! Pasar tertutup tidak lagi berfungsi!” tulis Trump dalam unggahan media sosial, Jumat (9/5/2025) malam, sehari sebelum pertemuan dimulai, sebagaimana dikutip dari kompas.id, pada 11/5/2025.
Selanjutnya ada 12-16 Mei 2025, Wakil PM He Lifeng akan ke Prancis untuk menjadi ketua bersama dalam Dialog Ekonomi dan Keuangan Tingkat Tinggi China-Prancis ke-10.”China dengan tegas menentang kenaikan tarif AS. Posisi ini tetap tidak berubah,” kata Lin Jian, masih dari sumber antaranews.com

Namun, ucap Lin Jian, China terbuka untuk berdialog yang harus didasarkan pada kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan.”Menekan atau memaksa China dengan cara apa pun tidak akan berhasil. Kami akan dengan tegas melindungi kepentingan sah kami dan menegakkan keadilan dan kewajaran internasional,” tambah Lin Jian.
Berdasarkan laman Perwakilan Dagang AS, total nilai perdagangan AS dan China pada 2024 mencapai 582,4 miliar dolar AS. Ekspor barang AS ke China mencapai 143,5 miliar dolar AS sedangkan ekspor China ke AS mencapai 438,9 miliar dolar AS sehingga AS mengalami defisit perdagangan barang dengan China mencapai 295,4 miliar dolar AS.
Sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa kedua negara akan menurunkan tarif resiprokal mereka sebesar 115% selama 90 hari. Pengumuman ini muncul setelah China dan AS melakukan perundingan dagang secara intensif di Swiss, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, baik AS maupun China menyatakan terdapat kemajuan dalam perundingan dagang di Swiss. Scott Bessent menggambarkan pembicaraan intensif kedua negara sebagai “produktif dan konstruktif,” sementara Wakil Perdana Menteri China He Lifeng mengatakan bahwa pembicaraan itu “mendalam” dan “terus terang”, sebagaimana dikutip dari bbc.com, pada 12/5 lalu.
Bessent menyatakan bahwa AS dan China telah membuat “kemajuan substansial” dalam meredakan perang dagang. Wakil Perdana Menteri China He Lifeng mengatakan perundingan tersebut “sangat penting bagi kedua negara dan memiliki dampak signifikan pada stabilitas dan perkembangan ekonomi global”.
AS dan China sepakat menurunkan tarif impor atas barang dari masing-masing negara sementara waktu, sesuai kesepakatan dari negosiasi di Jenewa, Swiss. Kesepakatan itu meredakan tensi perang dagang yang memanas beberapa bulan belakangan. Dilansir Bisnis.com dari Bloomberg, tarif impor Amerika Serikat (AS) terhadap barang-barang China yang semula 145% turun ke 30%, termasuk untuk barang-barang terkait fentanyl. Sementara itu, tarif impor China terhadap barang-barang AS akan turun dari 125% menjadi 10%. Kesepakatan kedua negara berlaku mulai 14/5/2025.
Sebagai informasi, Perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok adalah konflik perdagangan yang terjadi sejak 2018, dengan peningkatan signifikan pada tahun 2025. Konflik ini dimulai dengan tindakan AS mengenakan tarif impor terhadap produk Tiongkok dan dibalas dengan tarif serupa dari Tiongkok.[] Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama: ist
