Indonesia Menang Sengketa Baja Nirkarat di WTO

Jakarta, 3 Oktober 2025, pelakubisnis.com – Pemerintah Indonesia menyambut baik putusan Panel Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)  atas  kasus  sengketa stainless  steel (baja  nirkarat) Indonesia  yang  melibatkan  Uni  Eropa  (EU).  Putusan tersebut tercantum dalam laporan akhir Panel WTO atas sengketa “DS616 European Union –Countervailing and Anti-Dumping Duties on Stainless Steel Cold-Rolled Flat Products from Indonesia” yang dirilis pada 2 Oktober 2025.

Panel  WTO  menyatakan,  sebagian  besar  tindakan  UE  terkait  pengenaan  bea  masuk  imbalan (countervailing duties/CVD) terhadap  baja  nirkarat  Indonesia  tidak  konsisten  dengan  aturan  WTO,  khususnya  Agreement  on Subsidies and Countervailing Measures (SCM Agreement).

Menteri    Perdagangan    RI    Budi    Santoso    menegaskan,    putusan    ini    merupakan    capaian    penting    dalam memperjuangkan kepentingan ekspor Indonesia. Putusan ini juga menjadi sinyal positif keberlanjutan ekspor baja nirkarat Indonesia ke UE.

“Kemenangan Indonesia pada sengketa ini adalah pencapaian besar untuk menjamin akses pasar baja nirkarat Indonesia di UE dan negara lain. Kami mendorong UE menghormati putusan Panel WTO dan segera mencabut bea masuk  imbalan  yang  tidak  sesuai  aturan.  Selanjutnya,  Indonesia  berharap  kedua  pihak  dapat  lebih  fokus  pada penguatan kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan,”ujar Mendag Budi.

Dalam  putusannya,  Panel  WTO  menilai  kebijakan  ekspor  nikel  Indonesia  tidak  menyebabkan  harga  bahan  baku untuk  produksi  baja  nirkarat  ada  di  bawah  harga  wajar.  Selain  itu,  fasilitas  pengecualian  bea  masuk  di  kawasan berikat  terhadap  bahan  baku  baja  nirkarat  juga  bukan  merupakan  subsidi  ilegal.  Panel  WTO  juga menilai subsidi transnasional dari perusahaan atau lembaga keuangan Tiongkok kepada industri baja nirkarat di Indonesia bukan merupakan subsidi yang melawan hukum.

Sejak 17 November 2021, UE mengenakan bea masukantidumping sebesar 10,2–20,2 pesen terhadap baja nirkarat Indonesia. Kebijakan ini kemudian diubah melalui Regulasi UE 2022/433 yang berlaku sejak 15 Maret 2022 dengan tarif  antidumping  9,3–20,2  persen  serta  tambahan  bea  imbalan  sebesar  0–21,4  persen.  Indonesia  menggugat kebijakan tersebut ke Badan Penyelesaian Sengketa WTO sejak Februari 2023.

Mendag  Budi  menambahkan,  dengan  putusan  ini,  WTO  merekomendasikan  agar  UE  menyesuaikan  kebijakan perdagangannya  dengan  mencabut  pengenaan  bea masuk  imbalan  terhadap  baja  nirkarat  asal  Indonesia. “Keputusan Panel WTO ini menegaskan bahwa tuduhan UE tidak terbukti. Pemerintah Indonesia akan terus mengawal  agar  putusan  ini  segera  diadopsi,  sehingga  akses  pasar  baja  nirkarat  Indonesia  di  UE  dapat  semakin terbuka,”pungkasnya.[]sp