Inovasi Pembelajaran Sejarah, Penguatan model literasi ecopedagogi di SMA Melalui AI ChatGPT
Rembang, 10 November 2025, pelakubisnis.com – Inovasi pembelajaran sejarah mulai digalakkan di Kabupaten Rembang melalui kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Penguatan Model Literasi Ecopedagogi Nilai Multikultural Sejarah Lasem berbasis Generative AI ChatGPT”.
Program ini digagas oleh tim dosen Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Semarang (UNNES), di bawah koordinasi Dr. R. Soeharso, M.Pd., bekerja sama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Kabupaten Rembang.
Kegiatan yang dilaksanakan di ruang pertemuan SMA Negeri 1 Rembang ini diikuti oleh guru-guru sejarah SMA Negeri se-Kabupaten Rembang. Tujuannya, membantu para pendidik memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) khususnya ChatGPT untuk mengembangkan bahan ajar sejarah berbasis nilai-nilai multikultural dan kearifan lokal Lasem.
Dr. Soeharso menjelaskan, pembelajaran sejarah selama ini sering dianggap membosankan karena terlalu berfokus pada hafalan nama, tokoh, dan tanggal. “Melalui pendekatan ecopedagogi dan pemanfaatan AI, kami ingin mengajak guru menghadirkan sejarah yang hidup dan relevan dengan kehidupan siswa,” ujarnya.
Dalam sesi pelatihan, para peserta diperkenalkan pada teknik pemindaian arsip digital menggunakan Google Lens, penyusunan bahan ajar melalui prompt ChatGPT, hingga pembuatan video pembelajaran dengan PowerPoint dan YouTube. Dimas Anggoro, M.Pd., turut memberikan pelatihan pembuatan infografis tokoh-tokoh lokal Lasem sebagai media penguatan karakter dan literasi budaya peserta didik.
Antusiasme peserta terlihat tinggi. Banyak guru aktif berdiskusi dan mencoba langsung menyusun skenario pembelajaran sejarah berbasis AI. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman guru terhadap konsep literasi ecopedagogi serta kemampuan mengintegrasikan teknologi digital dalam pengajaran sejarah lokal.
Program yang menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) ini tidak hanya menghasilkan peningkatan kompetensi guru, tetapi juga menumbuhkan kesadaran pentingnya pelestarian warisan budaya Lasem sebagai bagian dari pembangunan pariwisata budaya Rembang.
“Kami berharap siswa tidak hanya memahami sejarah sebagai peristiwa masa lalu, tetapi juga melihatnya sebagai potensi ekonomi kreatif dan sumber kebanggaan daerah,” tambah Soeharso.
Kegiatan ini juga menghasilkan beberapa luaran akademik seperti video tutorial, publikasi artikel jurnal, dan rencana kolaborasi lanjutan antara UNNES dan MGMP Sejarah Rembang.
Atas dukungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNNES, kegiatan ini diharapkan menjadi model pembelajaran inovatif yang dapat direplikasi di daerah lain dalam mengembangkan sejarah lokal berbasis multikultural dan teknologi AI.[] Dr.R. Soeharso, M.Pd
