Surplus Perdagangan Indonesia Capai USD 41,05 Miliar Pada Tahun 2025

Jakarta, 8 Februari 2026, pelakubisnis.com – Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan surplus neraca perdagangan Indonesia pada 2025 sebesar USD 41,05 miliar. Nilai ini tumbuh 31,03 persen dibandingkan surplus 2024 yang mencatatkan USD 31,33 miliar. Surplus 2025 dihasilkan di tengah tantangan proteksionisme global dan penurunan harga komoditas utama. Mendag Busan mengatakan, capaian ini memberikan optimistisme dalam menghadapi tantangan perdagangan global pada 2026.

Sementara itu, Indonesia juga mencatatkan surplus bulanan sebesar USD 2,51 miliar pada periode Desember 2025. Capaian tersebut menjadi surplus yang ke-68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Demikian disampaikan Mendag Budi pada media briefing “Capaian Kinerja 2025 dan Program Kerja 2026” di Jakarta, pada 6/2. Turut hadir Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri beserta jajaran Eselon I Kemendag.

“Neraca perdagangan kita pada 2025 mencatatkan surplus USD 41,05 miliar, meningkat hingga 31,03 persen. Tentu banyak tantangan global saat ini yang kita hadapi, tapi kita tetap optimistis bahwa kinerja perdagangan kita akan tumbuh dengan baik. Mudah-mudahan, dalam kondisi apa pun di pasar global, kita dapat terus meningkatkan ekspor,” ujar Budi.

Dari sisi ekspor (migas dan nonmigas), tercatat pertumbuhan 6,15 persen menjadi USD 282,91 miliar pada 2025 dari USD 266,53 miliar pada 2024. Pasar utama Indonesia, yaitu Tiongkok, Amerika Serikat (AS), India, Jepang, dan Singapura “Capaian ekspor 2025 meningkat 6,15 persen dibanding tahun sebelumnya. Artinya, dengan tantangan global yang ada dan harga komoditas yang turun, kita tetap tumbuh,” ujanya..

Dari sisi ekspor nonmigasnya, tercatat pertumbuhan sebesar 7,66 persen pada 2025 menjadi sebesar USD 269,84 miliar dari 2024 yang sebesar USD 250,65 miliar. Negara dengan pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi adalah Swiss, Singapura, Uni Emirat Arab, Tailan, dan Bangladesh. Dari sisi kawasannya, pertumbuhan ekspor tertinggi ada di Asia Tengah (59,39) persen, Afrika Barat (56,66 persen), dan Eropa Barat (43,95 persen).

Struktur ekspor Indonesia untuk 2025 masih didominasi sektor industri manufaktur dengan kontribusi sebesar 80,27 persen. Kontribusi diikuti sektor pertambangan dan lainnya (12,67) persen, migas (4,62 persen), serta pertanian (2,43 persen). Sektor pertanian mencatatkan peningkatan yang tertinggi dibandingkan 2024, yaitu sebesar 21,01 persen disusul sektor industri pengolahan yang tumbuh 14,47 persen.

Di sisi lain, struktur impor Indonesia 2025 masih didominasi impor bahan baku dan bahan penolong yang mencapai 70,00 persen dari total impor nasional. Selanjutnya, diikuti impor barang modal (20,73 persen) dan barang konsumsi (9,27 persen). Impor barang konsumsi justru turun sebesar 1,35 persen dibanding 2024, sementara impor bahan baku dan bahan penolong turun sebesar 0,83 persen. Sebaliknya, impor barang modal meningkat signifikan sebesar 20,06 persen, mengindikasikan adanya peningkatan investasi dan ekspansi kapasitas produksi di dalam negeri.

“Komposisi ini mencerminkan aktivitas industri dalam negeri yang masih kuat karena impor lebih banyak digunakan sebagai input produksi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kinerja ekspor,” tegas Budi.[] sp