Mendag Budi Santoso Siap Fasilitasi Sekolah Vokasi Ikuti Business Matching

Kudus, 13 Maret 2026, pelakubisnis.com – Menteri Perdagangan siap memfasilitasi sekolah vokasi dalam presentasi bisnis (pitching) dan penjajakan bisnis (business matching) yang difasilitasi perwakilan perdagangan (perwadag) RI di luar negeri. Strategi ini dapat membuka akses pasar ekspor jasa sehingga siswa dan lulusan sekolah vokasi dapat diserap industri internasional.

Demikian disampaikan Mendag Budi saat mengunjungi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Raden Umar Said hari ini, pada 12/3, di Kudus, Jawa Tengah.

Selain mengunjungi SMK dengan spesialisasi di bidang animasi tersebut, Mendag Budi juga mengunjungi dua SMK lain di Kudus, yaitu SMK NU Banat dengan spesialisasi tata busana dan SMK Wisudha Karya dengan spesialisasi jasa keahlian. Ketiga SMK tersebut merupakan SMK binaan Djarum Foundation di bidang pendidikan.

“Tugas kami adalah mencarikan pasarnya. Sebagai langkah selanjutnya, Kemendag akan memfasilitasi presentasi daring antara sekolah vokasi dan 46 perwadag RI untuk membantu pemasaran ke luar negeri. Perwadag akan mencarikan pembelinya, kemudian mempertemukan secara daring melalui business matching,” kata Budi.

Menurut Budi, pitching dengan perwadag RI akan menjadi jalan untuk semakin membuka peluang ekspor jasa terutama sektor jasa bisnis lainnya yang meliputi, antara lain, jasa gim; animasi; niaga elektronik (e-commerce); Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE); dan desain mulai dari grafis, kemasan, hingga fesyen. Potensi ekspor jasa juga dapat semakin maksimal dengan membuka pasar-pasar potensial.

Berdasarkan data Bank Dunia selama periode 10 tahun (2014—2023), rata-rata kontribusi nilai jasa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia mencapai 63,3 persen. Di Indonesia, kontribusi nilai jasa masih sebesar 43,8 persen dari PDB, dan menunjukkan masih besarnya peluang peningkatan kontribusi nilai jasa Indonesia terhadap PDB nasional. Sementara itu, Bank Indonesia mencatat, pada 2025, nilai ekspor jasa Indonesia mencapai USD 42,80 miliar.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang hadir dalam kunjungan tersebut mengatakan, keberadaan sekolah vokasi dan balai latihan kerja (BLK) menjadi sarana pendukung untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja. “Saat ini sudah tersedia 4.200 BLK. Secara tidak langsung, terhitung pada 2025, serapan tenaga kerja di Provinsi Jawa Tengah mencapai hampir 470 ribu orang. Investasinya hampir Rp88 triliun dan dominasinya adalah padat karya,” kata Luthfi.

Direktur Djarum Foundation Primadi H. Serad menyampaikan pentingnya kesiapan lulusan SMK agar dapat terserap optimal oleh industri. Oleh karena itu, Djarum Foundation terus mendorong SMK di Kudus untuk mencetak lulusannya dengan kompetensi tinggi. Ia berharap, pemerintah dapat semakin membukakan jalan bagi talenta-talenta vokasi agar dapat terserap dengan baik di dalam maupun luar negeri.

“Animasi ini permintaannya tinggi, tetapi suplainya sedikit. Tugas kami adalah menjembatani pemenuhan permintaan yang tinggi. Untuk itu, talenta vokasi harus kompeten dari sisi infrastruktur, guru-guru, dan relasi. Hal inilah yang kami butuhkan agar kami dapat dibantu membukakan jalan bagi mereka untuk berkarya,” kata Primadi.

Salah satu siswi SMK Raden Umar Said, Alika, menyampaikan ketertarikannya terhadap animasi. Ia memilih belajar animasi di SMK Raden Umar Said untuk mewujudkan mimpinya menjadi concept artist atau storyboard artist. Saat ini, ia juga sedang terlibat proyek yang akan digunakan langsung oleh klien. “Proyek yang sedang saya kerjakan saat ini adalah membuat mini series dari sebuah jenama susu untuk momen Ramadan,” kata Alika.

Sementara itu, hasil karya pelajar SMK NU Banat telah melanglang buana mulai dari Jepang, Singapura, Italia, Prancis, hingga Hong Kong. Salah satu siswi SMK NU Banat, Dayana, menyampaikan, SMK NU Banat tidak hanya mengajarkan teknik membuat busana, tetapi juga mengembangkan kemampuan membaca tren yang akan bermanfaat untuk meningkatkan daya saing. “Kami diajarkan untuk membuat busana seperti tren-tren yang akan maju. Jadi, ketika membuat busana, kami tidak akan ketinggalan zaman,” ujar Dayana.

Salah satu pelajar NU Banat lainnya juga menunjukkan antusiasme untuk menjadi wirausahawan dengan mengatakan ingin mendirikan jenama lokal fesyen sendiri. Motivasi ini ia dapatkan dari sekolah setelah mendapatkan pelajaran penjenamaan (branding).

Kemudian, di SMK Wisudha Karya, Mendag Busan berkeliling melihat fasilitas pelatihan untuk jasa pelayaran, kelistrikan, hingga teknik mesin. Lulusan SMK Wisudha Karya juga telah terserap industri di luar negeri seperti ke Jepang.[]sp