Kemenperin Gelar IFI 2026,  Kembangkan Inovasi Produk Antara Pangan Lokal

Jakarta, 17 Juni 2026, pelakubisnis.com – Kementerian Perindustrian menggelar Indonesia Food Innovation (IFI) 2026: Intermediate Product Edition. Program ini merupakan bentuk pembinaan bagi para pelaku industri kecil dan menengah (IKM) pangan agar semakin dapat mengembangkan produk antara (intermediate product) yang berbasis sumber daya lokal.

Langkah tersebut dilakukan karena industri pangan merupakan salah satu sektor manufaktur yang memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus juga mendukung ketahanan pangan. Apalagi, di tengah meningkatnya kebutuhan pangan olahan dan perubahan pola konsumsi masyarakat, pengembangan inovasi serta peningkatan nilai tambah produk menjadi kunci dalam memperkuat daya saing industri pangan Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pengembangan industri pangan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penguatan sektor hulu hingga hilir, termasuk pengembangan produk antara yang menjadi fondasi rantai pasok industri pangan nasional.

“Penguatan industri pangan nasional perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemanfaatan sumber daya lokal, pengembangan produk antara, hingga peningkatan kapasitas pelaku usaha agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri yang lebih luas,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/6).

Agus memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan IFI 2026: Intermediate Product Edition. “Kami akan terus memperkuat kemampuan IKM pangan untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah, berstandar, dan mampu menjawab kebutuhan industri maupun pasar,” ujarnya.

Pelaksanaan IFI 2026 diawali dengan kegiatan kickoff yang diselenggarakan secara daring pada Rabu (17/6). Kegiatan ini diikuti pelaku IKM pangan dari berbagai daerah, yang juga turut melibatkan perwakilan kementerian dan lembaga, dinas yang membidangi perindustrian di daerah, asosiasi industri makanan dan minuman, perguruan tinggi, serta alumni IFI dari berbagai angkatan.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyampaikan, dari keseluruhan sektor manufaktur, industri makanan dan minuman menjadi kontributor terbesar dengan porsi 36,6 persen pada triwulan I-2026 serta mencatatkan nilai ekspor sebesar USD3,16 miliar pada Maret 2026.

“Jumlah IKM mencapai 99,7 persen dari total unit usaha industri di Indonesia dan menyerap lebih dari 65 persen tenaga kerja sektor industri. Di antara berbagai subsektor IKM, IKM pangan menjadi yang terbesar dengan jumlah sekitar 2,07 juta unit usaha atau setara 46,63 persen dari total IKM nasional,” tuturnya.

Meski memiliki jumlah yang besar, pelaku IKM pangan masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan sumber daya, pemenuhan standar dan legalitas usaha, inovasi produk, hingga fluktuasi pasokan bahan baku dan dinamika permintaan pasar. Salah satu pendekatan yang perlu diperkuat untuk menjawab berbagai tantangan tersebut adalah melalui pengembangan produk antara.

“Produk antara memiliki peran penting dalam penguatan industri pangan nasional karena mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar dari bahan baku yang diolah. Selain itu, pengembangan produk antara membuka peluang pasar yang lebih luas dan meningkatkan keterhubungan IKM dengan industri yang lebih besar dalam rantai pasok nasional,” ujar Reni.[]sp