Gaya Hidup Aktif dan Sehat, Perkuat Ekosistem Industri Pendukung
Jakarta, 4 Agusts 2026, pelakubisnis.com – Tren gaya hidup sehat di tengah masyarakat memacu pertumbuhan berbagai subsektor industri yang menghasilkan produk penunjang kebutuhan tersebut. Mulai dari industri peralatan dan pakaian olahraga, alas kaki olahraga, produk perawatan tubuh seperti kosmetik dan wewangian berbahan alami, hingga makanan dan minuman sehat, seluruhnya menunjukkan prospek yang semakin menjanjikan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat.
Kementerian Perindustrian terus mengupayakan agar kebutuhan pasar domestik terhadap berbagai produk penunjang gaya hidup sehat dapat dipenuhi oleh industri nasional. Di saat yang sama, Kemenperin memperkuat daya saing industri dalam negeri agar mampu memperluas penetrasi ke pasar ekspor dan menjadi bagian dari rantai pasok global.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Pameran Indonesia Sport and Active Wear (ISAW) dan Cosmetic Day 2026 di Plaza Industri, Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, pada 3–6 Agustus 2026. Mengusung tema “Lokal, Aktif, Halal”, pameran ini menjadi wadah promosi, kolaborasi, dan apresiasi bagi pelaku industri sport and active wear serta kosmetik nasional, sekaligus memperkuat ekosistem industri gaya hidup (lifestyle industry) Indonesia.
ISAW merupakan agenda tahunan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) yang telah diselenggarakan sejak 2023, sedangkan Cosmetic Day telah berlangsung sejak 2019. Penyatuan kedua kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat sinergi antar subsektor industri gaya hidup nasional sehingga tercipta ekosistem yang lebih terintegrasi, mulai dari industri pakaian olahraga, alas kaki, peralatan olahraga, kosmetik, hingga makanan dan minuman kesehatan.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, penyelenggaraan bersama ISAW dan Cosmetic Day mencerminkan semakin eratnya keterkaitan karakter pasar dan konsumennya. Menurutnya, industri sport and active wear maupun kosmetik sama-sama berkembang pesat seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin aktif, sehat, serta semakin memperhatikan penampilan.
“Kedua industri ini memiliki basis konsumen yang kuat, terutama dari kelompok usia produktif yang adaptif terhadap perkembangan tren serta menjadikan olahraga dan penampilan sebagai bagian dari gaya hidup,” ujar Faisol pada pembukaan ISAW dan Cosmetic Day 2026 di Jakarta, pada 3/8.
Faisol menjelaskan, tema “Lokal, Aktif, Halal” mengandung pesan strategis bagi pengembangan industri nasional. Nilai Lokal mencerminkan semangat memperkuat produk, inovasi, dan jenama karya anak bangsa. Nilai Aktif menggambarkan masyarakat yang sehat, dinamis, dan produktif. Sementara Halal menunjukkan komitmen terhadap produk yang aman, bersih, berkualitas, memiliki ketertelusuran bahan dan proses produksi, serta mampu membangun kepercayaan konsumen.
“Citra halal menjadi salah satu kekuatan produk Indonesia dalam menghadapi persaingan pasar global yang semakin kompetitif,” tegasnya.
Menurut Faisol, ketiga nilai tersebut harus diwujudkan melalui peningkatan kualitas produk, inovasi, serta pemenuhan berbagai standar, termasuk sertifikasi halal bagi produk yang dipersyaratkan.
“Dengan demikian, semangat Lokal, Aktif, Halal tidak hanya memperkuat kepercayaan konsumen, tetapi juga meningkatkan daya saing produk Indonesia dalam memanfaatkan peluang pasar domestik maupun ekspor, khususnya pasar lebih dari dua miliar konsumen Muslim di Asia dan Afrika,” ujarnya.
Potensi pasar tersebut didukung oleh meningkatnya permintaan produk sport and active wear di Indonesia. Berdasarkan laporan Sportswear in Indonesia yang diterbitkan Euromonitor International pada Februari 2026, nilai pasar sportswear Indonesia mencapai sekitar Rp38,5 triliun pada 2025 atau tumbuh sekitar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai pasar tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp58,6 triliun pada 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sekitar 9 persen selama periode 2025–2030.
“Pertumbuhan tersebut menunjukkan besarnya peluang pasar sportswear Indonesia yang harus mampu dimanfaatkan oleh industri dalam negeri,” ujar Faisol.
Menurutnya, potensi pasar tersebut merupakan peluang sekaligus tantangan bagi industri nasional untuk terus meningkatkan daya saing.
“Karena itu, ISAW dan Cosmetic Day 2026 bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari upaya bersama memperkuat daya saing IKM agar mampu menangkap peluang pasar yang terus berkembang,” imbuhnya.
Kinerja ekspor industri terkait juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor industri pakaian jadi (konveksi) dari tekstil meningkat dari USD7,08 miliar pada 2024 menjadi USD7,27 miliar pada 2025 atau tumbuh 2,7 persen.
“Tren positif tersebut menunjukkan semakin kuatnya daya saing industri apparel nasional, termasuk produk pakaian olahraga, di pasar global,” jelas Faisol.
Industri alat olahraga juga mencatat pertumbuhan ekspor sebesar 12 persen, dari USD274,4 juta menjadi USD306,3 juta. Sementara itu, ekspor industri kosmetik meningkat lebih tinggi, yakni 13,7 persen, dari USD416,8 juta menjadi USD473,8 juta pada periode yang sama.
Faisol juga mencontohkan keberhasilan IKM pakaian olahraga merek Speed yang telah dipercaya menjadi apparel resmi Tim Nasional Voli Indonesia.
“Keberhasilan seperti inilah yang harus terus kita perkuat sehingga semakin banyak merek lokal mampu menjadi tuan rumah di pasar domestik sekaligus memperluas kiprahnya di pasar global,” tuturnya.[]sp
