Kiprah UMKM Milenial Septi Setiani Membawa Sekar Jawi

Septi Setiani  memberanikan diri membawa brand Sekar Jawi  masuk ke industri  food and cosmetics  yang lumayan sesak pemainnya.  Berbekal modal Rp 200 ribu dari orangtua dan support dari dosen-dosen kampus tempatnya menuntut ilmu, ia meracik ramuan rempah-rempah dan menjualnya. Kini omzetnya mencapai Rp80 juta per bulan.  Bagaimana lika-liku Septi membangun bisnis?

Bila tak bertemu dengan seorang bapak di bus saat itu, boleh jadi Septi Setiani belum juga memulai usaha. Suatu hari, di  tahun 2006, pulang kuliah di  bus umum  ia bertemu dengan penumpang  yang tampangnya sangat meyakinkan.  Dan karakter Septi yang ramah dan supel  membuat seorang bapak ini  tertarik berbincang-bincang dengannya. Hingga satu titik si bapak bertanya tentang kegiatan sehari-hari Septi.  Wanita kelahiran September 1986 ini pun bercerita tentang kegiatannya  meracik ramu-ramuan herbal. Gayung bersambut. Si Bapak tertarik dan langsung memesan 20 pieces produknya.  Ia pun bersemangat memproduksi produk rempah-rempah pesanan si bapak.  

“Produk-produk kosmetik tradisional saat itu sedang  digemari. Dan sebuah challenge  bagi saya untuk menggeluti usaha ini ketika melihat banyak sekali produk-produk kecantikan tradisional dari Bali yang membawa  imej sebagai produk Bali, bahkan sampai ada yang menyebut ‘Ini  adalah The Bodyshop-nya Indonesia’ ,”cerita  wanita asal Cilacap, Jawa Tengah ini.

Sangat rasional pikir alumni Diploma II Fakultas Ilmu Farmasi,  Universitas Gajah Mada (UGM) ini bila ia juga bisa menciptakan produk herbal dan kosmetik. Dengan menggunakan fasilitas laboratorium kampus, ia pun berusaha menciptakan produk jamu yang terdiri dari ramuan rempah-rempah dengan formula yang benar-benar pas. “Ilmu yang didapat di kampus saya terapkan. Dulu kalau praktikum kami sering diminta buat minyak rambut, minyak cem-ceman dan lain-lain. Jadi tahu ilmunya. Kami diajarkan bagaimana formulasinya, kandungannya apa, standarisasi mutunya bagaimana? Mulai dari mengukur kadar air,  kandungan kimia bahan baku, proses pengolahan paska panen dan lain-lain. Jadi kami diajarkan cara menjaga standarisasi mutu dari bahan baku yang akan kita proses hingga menjadi produk,”ungkap Septi.

Lulus kuliah sambil mencari kerja  ia terus belajar memproduksi jamu-jamuan.  Namun karena sudah tak lagi kuliah, maka untuk proses membuat ramuan ia gunakan fasilitas seadanya di tempat kostnya.  Sementara untuk proses pengeringan ia masih minta tolong petugas laboratorium di kampusnya dulu. “Mereka support saya Alhamdulillah,”ujar Septi yang saat itu akhirnya mendapat pekerjaan menjadi karyawan bagian administrasi di salah satu sekolah tinggi di Yogyakarta dan sempat juga bekerja di rumah sakit.  Kendati sudah bekerja ia tetap menekuni usaha memproduksi jamu-jamuan.

Saat itu meski sudah tak lagi kuliah, ia tetap silaturahmi ke UGM dan tak sungkan-sungkan meminta masukan dari dosen-dosennya semasa kuliah.  Ia bersyukur support yang tak henti-henti dari para dosennya menjadi salah satu faktor pendukung sukses Septi membuat produk.

Hingga suatu hari, di kisaran tahun 2007-2008, ia memberanikan diri masuk ke Pusat Oleh-Oleh Hamzah Batik, Yogyakarta, mencoba menawarkan produknya. “Dulu namanya masih Mirota Batik. Saya ketemu dengan ibu-ibu di bagian purchasing. Tapi ibu itu galak bener Mbak,”kenang Septi ketika pertama menawarkan produk ke Mirota Batik.

Apakah Septi mundur ketika menemui kendala menawarkan produknya ke Mirota Batik? Ternyata tidak! Mental wanita peranakan Cilacap ini memang tahan banting. Ia terus berusaha meyakinkan ‘si ibu galak’ agar mau menerima produknya. Paling tidak dititipkan di pusat oleh-oleh tersebut dengan sistem konsinyasi. “Kalau aku gak nekad, aku gak bakal bisa maju,”pikir Septi saat itu karena ia sadar, tidak punya modal uang, bahkan dari keluarga atau teman juga tidak punya jaringan koneksi. Otomatis ia merasa harus berjuang sendiri.

Singkat cerita, selang satu atau dua minggu, ia mendapat telepon kalau 20 pieces produk rempah mandi nya sudah habis terjual dan si ‘ibu galak’ kembali memesan produk yang sama.   Namun kali ini ibu tersebut memberi masukan agar diurus legalitas produknya, karena legalitas adalah added value bagi sebuah produk terlebih untuk produk-produk kecantikan.

Berkat masukan dari si ‘ibu galak’,  saat itu  sekitar tahun 2013 Septi mulai mengurus perizinan dan  setelah melalui serangkaian proses, akhirnya ia berhasil mendapatkan  izin Umot (Usaha Mikro Obat Tradisional-red).

Awalnya ia menggunakan nama merek ‘Setia Ayu’ karena mencari nama-nama berbau Jawa dan ia terus  terinspirasi juga dari nama brand besar Sari Ayu. Kemudian berubah nama menjadi Sekar Jawi yang diartikan sebagai brand produk lokal dari Jawa.  Mengambil dari bahasa Jawa, Sekar berarti lokal, sedangkan kata Jawi merujuk pada sebutan ‘Tanah Jawa’.     

Banyak rintangan ditemui tak membuat Septi patah arang. Komitmen bersama suami untuk terjun ke bisnis jamu dan kosmetik sudah kadung terlontar.  Di tahun 2012, ia memutuskan  berhenti kerja setelah memiliki momongan dan mencoba peruntungan untuk fokus menjalani bisnis. Di saat yang bersamaan suaminya, Sofyan Feri, hendak dimutasikan ke luar kota dari pekerjaannya.  Uniknya sang suami juga  memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan berkomitmen membantu Septi menjalani usaha jamu dan kosmetik.  “Nekad tapi kami takut juga sebenarnya. Takut gak bisa beli susu anak, takut gak  makan,”kenang wanita 36 tahun ini.

Akhirnya tahun 2013 ia  bersama suami lebih fokus membesarkan Sekar Jawi.   Diantaranya menguatkan brand image  Sekar Jawi sebagai produk asal  Yogyakarta.  Dan langkah berikutnya adalah mengurus soal legalitas usaha.  Sebelum mengurus izin produksi, dipastikan harus memiliki pabrik yang sesuai dengan standar  Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Diakuinya pengurusan izin produksi dan izin edar tidak semudah yang ia bayangkan.  Ada proses pembuatan denah dimana harus mengaplikasikan  bangunan usaha yang sesuai gambar denah. Saat ini ia sudah mendapatkan sertifikat izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga-red) dan sertifikat izin  UMOT.  Hingga kini ia sudah punya tiga legalitas usaha.  “Biaya perizinan UMOT memang tidak sebesar biaya perizinan kosmetik. Tapi Alhamdulillah untuk produk-produk seperti minyak kemiri, minyak sereh dan lain-lain itu sudah ada izin edarnya. Yang mahal itu di pengujian laboratoriumnya,”terang pelaku UMKM yang telah masuk ke dalam komunitas binaan BPOM ini.

Dari awal mimpinya ingin semua orang mengenal produknya. Sasarannya adalah mass market.  Mulai melakukan penetrasi pasar melalui pasar tradisional,  pusat oleh-oleh dan modern market bermodalkan legalitas  izin edar dan sebagainya yang dimiliki  sebagai senjata pamungkas, membuat  Septi lebih mudah menitipkan produknya dengan sistem konsinyasi.

Yang jelas, legalitas menjadi nomor satu bagi Septi untuk berani menawarkan produknya ke pasar. Sejalan dengan itu ia juga terus konsern mengemas produknya dengan packaging yang menarik perhatian.  Langkah komunikasi yang disampaikan lewat kemasan produk-produk Sekar Jawi adalah menjadikan Yogyakarta sebagai ikon dari produk-produknya. `

Ia percaya, kemasan menjadi faktor penting juga dalam membentuk imej produk. Dalam hal ini ia memasukkan ikon Yogyakarta pada desain kemasannya sebagai imej produknya. Tak lupa ia masukkan  atribut Jogja seperti Tugu Jogja dan lentera Jogja yang khas.

Menurut Septi, dari kemasan, orang langsung melihat imej dari produk yang dijual. Pun itu terjadi ketika produknya mengikuti sejumlah pameran yang harus melalui proses kurasi. Dari pengalamannya hampir rata-rata kurator pertama kali yang dinilai adalah kemasan produk. “Yang penting produk itu punya ciri khas,”tutur ibu tiga anak ini.

Selain hadir di pusat oleh-oleh, pasar modern dan pasar tradisional, produk-produk Sekar Jawi juga ada di Galeri UMKM Bandara Internasional Yogyakarta. “Sudah ada yang repeat order dari bandara. Ada juga yang akhirnya repeat  order  lewat social media kami atau lewat market place. Seperti hotel itu biasanya mereka hubungi admin kami,”ungkapnya.

Seiring berjalan waktu, omzet penjualan Sekar Jawi terus naik. Dari 20 pieces rempah mandi kini ia memiliki puluhan item produk. Dari yang omzet hanya ratusan ribu rupiah,  kemudian naik Rp20-30 juta per bulan di kisaran tahun 2012-2013, dan terus bertumbuh hingga mencetak omzet Rp 50 – 70 juta di kisaran 2018  – 2019 . “Dulu  waktu masih kerja (2007 – 2012), jualan sambilan saya 1 toko omzetnya sekitar Rp 5 – 7 juta. Pokoknya lebih besar dari gaji saya waktu kerja. Tapi memang namanya jualan ada naik turunnya,”ungkap Septi.

Saat itu ia dan suami rajin menabung dan investasi untuk perkembangan usahanya.  Karena ada proses perizinan yang harus diurus terkait dengan tempat produksi.  “Setidaknya harus punya  modal untuk tempat usaha. Akhirnya kami beli rumah dari uang tabungan, sekalian berfungsi sebagai tempat produksi,”jelas mantan Santri Pesantren Krapyak Yogyakarta ini.   

Kini Septi dan suami sudah memiliki asset 1 rumah tinggal, dan 2 tempat produksi berstandar BPOM. Dimana ada ruang produksi seluas 80 meter persegi yang ditata sederhana menjadi beberapa ruang berdasarkan fungsinya. “Menyusul 1 tempat produksi kosmetik lagi. Jadi kami bakal  punya 3 tempat area produksi,”paparnya yang saat ini sudah memiliki sekitar 50 item produk.

Usaha Septi sempat mengalami penurunan hingga 30% ketika datangnya pandemic  Covid-19 pada Maret 2022  lalu yang datang begitu tiba-tiba dan meluluhlantakkan hampir seluruh negara di dunia.  “Pilihannya saat itu, mau mundur atau maju. Produk-produk  ditarik semua karena semua toko tutup. Tapi recovery nya kita lebih cepat,”terang Septi yang menjual produknya dengan harga terjangkau mulai belasan ribu rupiah. 

Menyasar mass market bukan berarti Sekar Jawi hanya ada di pasar tradisional dan pusat oleh-oleh Yogyakarta. Rangkaian produk ciptaannya juga ada di modern market bahkan sampai ke Galeri UMKM Bandara International Yogyakarta.

Tahun 2019 masuk menjadi  UMKM binaan Pertamina. Itupun setelah mendapat banyak pencerahan dari pelatihan-pelatihan yang diberikan kementerian-kementerian terkait yang ikut membina komunitas UMKM.  “Kemarin itu sebelum pandemic kita sudah terlalu nyaman dengan sistem offline. Tapi ketika pandemic datang kami malas berubah. Padahal sebelum pandemic kami sudah punya website. Disitu pihak Pertamina memacu saya untuk berubah. Mereka ajarkan soal digital marketing, bagaimana berjualan di market place dan sebagainya. Mereka bilang, kamu kalau gak go digital, kamu akan tenggelam. Akhirnya kami belajar sampai sekarang,”cerita  Septi yang saat ini memiliki 10 karyawan tetap. 

“Karena ternyata banyak sekali program—program pemerintah yang men-support kita UMKM. Dapat networking dari komunitas UMKM-UMKM yang diselenggarakan pemerintah. Seringkali ketika berjalan sendirian kita merasa aman berada di zona nyaman. Tapi ketika kita keluar ketemu orang di pameran, disitu kita merasa kita belum ada apa-apanya. Makanya perlunya berkolaborasi dan bersinergi dengan banyak pihak. Seperti sertifikat halal itu kita gratis gak bayar,”ucapnya.

Diakui Septi  tahun ini  ia mendapat support dari Pertamina dari proses kurasi ia terpilih dan mendapatkan fasilitas  booth gratis di Pameran Trade Expo Indonesia 2022 yang berlangsung di ICE BSD Tangerang. “Mungkin karena saya mewakili UMKM milenial dan mereka lihat legalitas dan kemasan juga. Sejauh ini kami sudah ikut beberapa pelatihan UMKM  Pertamina dan belum lama ini diajak podcast yang disiarkan secara langsung dan tempat kami disulap seperti studio,”akunya.

Septi menjadi salah satu UMKM milenial binaan Pertamina yang terbilang ‘struggle’, kreatif dan inovatif dalam menciptakan produk, juga telah memberdayakan masyarakat sekitar area Sekar Jawi. Terutama para ibu rumah tangga yang sibuk mengurus anak tetapi  harus bekerja dan butuh uang tambahan. “Kami mempekerjakan mereka secara part time dengan sistem borongan. Kurang lebih ada 5 orang ibu-ibu yang membantu kami,” terang Septi  yang mengaku paska pandemic omzet penjualan kembali normal dan naik sampai Rp 80 juta per bulan.Ia berharap,  suatu hari ia memiliki gallery yang dikunjungi banyak orang dan menyediakan fasilitas field trip.  Selain itu ia juga bermimpi ingin punya kebun sendiri dimana semua bahan baku produk jamu dan kosmetiknya tinggal ambil dari kebun sendiri. [] Siti Ruslina