Kiprah Sindu dari Pekerjaan SEO Hingga Kerajaan Gitar

Berangkat dari hobbi bermusik   Sindu membangun Kerajaan Gitar. Membidik segmen menengah bawah yang konsern dengan   harga,  ia mencoba menanamkan imej ke konsumen bahwa   harga bukanlah patokan. Bukan murah atau mahal. Bukan Bagus atau Jelek.  Tapi seni itu Selera!

Sindu, demikian sapaan Owner Kerajaan Gitar yang enggan menyebutkan nama lengkap karena  tidak suka publikasi.  Namun sikapnya yang bersahaja dan rendah hati   justru membuat pelakubisnis.com penasaran mengulik cerita tentang bisnis-bisnisnya.  Mencari peruntungan  menjadi professional  SEO Spesialist  yang ditekuni sejak 2008, justru  membawanya menemukan  banyak peluang bisnis. Salah satunya ia melihat peluang bisnis di industri  gitar rumahan (home industry-red).

Bila masuk ke website Kerajaan Gitar dan melihat akun sosial medianya, terlihat aktifitas berupa foto-foto konsumen yang berbelanja ke tempatnya, baik secara virtual (online) maupun tatap muka (offline). Sindu memang berusaha memberikan apresiasi bagi pelanggan-pelanggan yang  membeli gitarnya dengan cara memposting  konsumen usai mereka  berbelanja di tempatnya .  

Sekedar diketahui, Indonesia  memiliki banyak produsen gitar yang terampil. Potensi bisnis di industri gitar Tanah Air sangat besar.Terlebih tak sedikit pemainnya yang mengekspor gitar ke banyak negara di dunia. Di kisaran tahun 2016, mengutip dari wartaekonomi.co.id, pemain besar seperti  PT Yamaha Music Manufacturing Indonesia  (YMMI)  mengekspor hingga 10 juta pieces per tahun.  Dari total kapasitas produksi YMMI saat itu, 90% masuk ke pasar ekspor dan sisanya baru ke pasar lokal.   Itu yang sekelas YMMI yang jaringannya sudah sangat luas.   Tapi coba kit tengok  pemain di  industri gitar rumahan. 

 Di daerah seperti  Kebumen, Purwokerto, Solo  hingga  Semarang banyak bermunculan industri rumahan pembuat gitar. Semarang salah satu daerah yang memiliki lebih dari 5  pelaku UMKM gitar.  Salah satunya, Kerajaan Gitar. Mengusung positioning sebagai produsen grosiran gitar, pemain industri rumahan yang berada di bilangan WR Supratman, Semarang Timur, Jawa Tengah ini  terus menggenjot volume produksinya karena besarnya permintaan pasar.    

Didasari kesukaan akan musik inilah yang membuat seorang Sindu  terusik dan penasaran masuk ke industri pembuatan gitar.  Terlebih karena hobby pula ia mafhum tentang kualitas gitar. Makanya berdasarkan  alasan mencari kepuasan bermain gitar,  terbersit   keinginan untuk bisa membuat gitar sendiri . Tapi ia berpikir, suka musik saja tanpa skill yang memadai tentu tak masuk akal bisa memproduksi gitar. 

Singkat cerita, akhirnya Sindu berhasil menemukan partner yang memiliki misi yang sama, yakni membuat gitar  yang berkualitas dengan harga terjangkau.  Karena misinya ingin mengisi pasar kalangan menengah bawah yang minat membeli gitar tapi budget pas-pasan.    Dalam hal ini  ia berkolaborasi dengan dua temannya, Robi dan Muharom yang mahir dalam hal perkayuan.  Meski biasa mengerjakan pekerjaan  ‘tukang kayu’ namun keduanya tidak memiliki pengalaman membuat gitar. “Berawal dari hobbi, saya bersama teman memberanikan diri  memproduksi gitar bersama teman-teman,”ungkapnya .

Sebelum berkutat membuat gitar, kata Sindo, ia bekerja sebagai professional SEO (Search Engine Optimization). Dari profesinya ini, ia menghasilkan banyak cuan yang diinvestasikan ke beberapa bisnis. Salah satunya adalah membangun Kerajaan Gitar   dengan memproduksi  berbagai jenis  gitar. “Sudah empat tahun  menggeluti bisnis gitar,”kata pria 33 tahun ini.  

Menurutnya, beranjak dari keinginan membuat gitar dari hasil karya sendiri dan dibantu dua temannya yang memiliki hobby yang sama, maka lahirlah Kerajaan Gitar. “Terus terang waktu itu tidak berpikir tentang profit. Hanya sekedar mencari kepuasan bisa membuat gitar sesuai keinginan,”ungkap  Sindu yang menggunakan strategi harga menjadi dua segmen yakni segmen  di bawah Rp1 juta (mulai Rp185 ribu per piece-pen)  dan segmen gitar bermerek yang harganya di atas Rp1 juta.

Diakuinya kemajuan Kerajaan Gitar  tak lepas dari cerita awal bagaimana bisnis ini dimulai. Ada cerita menarik di awal Sindu terjun ke bisnis gitar. Saat itu ia sampai merogoh kocek hingga Rp 3 juta untuk menghasilkan produksi  1 piece  gitar dengan kualitas prima.  Trial and error banyak ditemui  sampai habis  Rp 3 juta untuk modal kerja menghasilkan 1 piece gitar perdana.

Menurut Sindu, ia bersama dua temannya, Robi dan Muharom   tidak memiliki pengalaman membuat gitar.  Tapi memang salah satu dari ketiganya ada yang mahir soal perkayuan. “Gitar perdana yang kami hasilkan kurang bagus.  Ketika sudah jadi, tiba-tiba kayunya mengecil.  Akhirnya dari modal Rp3 juta itu ya cuma dapat satu gitar. Sampai akhirnya kami berhasil membuat yang lebih baik. Itupun sempat  ditaksir orang,”kenang  Sindu bercerita hasil karya pertama Kerajaan Gitar yang memakan waktu sekitar 3 –  4 bulan.

“Karena memang  prosesnya lama. Menunggu lem kering, membuat lengkungan kayunya sampai  membuat cetakan. Cetakan salah ya diulang lagi. Waktu itu memang tidak serius membuatnya,”tambah Sindu yang juga  membesut  bisnis balon dan jasa aspal jalan ini.

Dari proses belajar produksi pertama, banyak catatan yang menarik ditandai  untuk  menghasilkan karya produk gitar yang berkualitas.  Dari mulai bagaimana mencetak body side sampai  finishing.

Dari situ ia mulai mendapat order dari seorang  teman . Ia pun tertantang untuk kembali membuat  gitar.  Kali ini ada kemajuan, dengan modal kerja Rp3,2 juta, Sindu dan kawan-kawan bisa membuat  8 gitar dengan meminimalisir segala kemungkinan gagak. Ia pun bersyukur karena  respon pembeli sangat positif. Rata-rata gitar tersebut dijual dengan harga sekitar Rp450 ribu/piece.  “Sekarang kami punya keterbatasan tenaga di bidang produksi , jadi sulit untuk berpikir sampai ekspor ke luar negeri,”tukas  Sindu yang sempat bekerja di warnet yang membuatnya sukses menjalani profesi  menjadi seorang SEO .

Setidaknya saat ini  volume penjualan  mencapai 50-70 pieces per bulan.  Sudah mulai sama dengan kondisi sebelum masa pandemic. Sedangkan masa pandemic  hanya sekitar 30 pieces gitar yang terjual.

Diakui Sindu , ia  bersyukur dengan apa yang diperolehnya saat ini. Tidak muluk-muluk, belum sampai bermimpi  bisa membawa produk gitarnya  go internasional.  Pun, selain produksi gitar, ia juga menjalani profesinya sebagai SEO Specialist. Itu makanya ia bisa masuk ke industri gitar dan balon bahkan jasa pembuatan aspal jalan. [] Siti Ruslina