Program CBI Perkuat Daya Saing IKM Fesyen dan Kriya
Jakarta 17 Agustus 2026, pelakubisnis.com – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, pelaku IKM tidak cukup hanya menghasilkan produk berkualitas. Mereka juga perlu memiliki strategi bisnis yang tepat, memahami karakter konsumennya, serta mampu membangun identitas dan keunikan produk yang menjadi pembeda di pasar.
“Kami terus memantau dan memastikan agar para wirausaha muda dan IKM sektor fesyen dan kriya bisa lebih berani, produktif, dan naik kelas dengan memiliki strategi bisnis yang tepat, terukur, dan terus dievaluasi. Oleh sebab itu, kami memiliki Program Creative Business Incubator (CBI) yang diinisiasi Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di bawah Ditjen IKMA yang fokus pada pengembangan sektor industri ini,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, pada 16/8.
Menurut Agus, sektor industri fesyen dan kriya memiliki prospek yang menjanjikan. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan industri fesyen dan kriya nasional yang menunjukkan tren positif, yakni meningkat dari 2,43 persen pada tahun 2024 menjadi 4,93 persen pada tahun 2025.
Kinerja ekspor sektor tersebut juga menunjukkan capaian positif. Pada periode Januari–April 2026, nilai ekspor industri kriya mencapai USD228 juta. Sementara itu, ekspor industri fesyen pakaian jadi mencapai USD2,78 miliar dan industri tekstil sebesar USD1,04 miliar.
Capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi industri fesyen dan kriya untuk terus memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Namun, perkembangan pasar sekaligus membawa tantangan berupa persaingan yang semakin ketat sehingga pelaku industri dituntut memiliki diferensiasi produk yang kuat.
“Tantangannya adalah bagaimana desainer maupun pemilik usaha dan jenama mampu membangun identitas yang kuat, memahami konsumen, serta menciptakan nilai unik yang menjadi keunggulan kompetitif di tengah persaingan pasar,” ujar Agus.
Agus meyakini, program pendampingan seperti CBI yang dilaksanakan BPIFK menjadi instrumen penting untuk memperkuat ekosistem dan rantai pasok lokal yang terintegrasi. Melalui program tersebut, para pelaku IKM diharapkan dapat saling terhubung sekaligus memiliki arah dan tujuan pengembangan bisnis yang semakin jelas.
Pada Juli 2026, BPIFK membuka Program CBI 2026 sebagai bagian dari upaya pengembangan wirausaha muda sektor industri kreatif, khususnya fesyen dan kriya. Program tersebut dirancang tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi juga pendampingan bisnis yang terstruktur dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menjelaskan, program CBI dilaksanakan melalui sejumlah tahapan pendampingan dengan melibatkan akademisi serta praktisi yang kompeten di bidang fesyen dan kriya.
“Peserta akan mendapatkan kelas dengan kurikulum yang telah disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan wirausaha muda, serta metode pembelajaran berupa materi, diskusi, penugasan mandiri, dan evaluasi. Kami berharap program ini mampu mendukung IKM agar dapat naik kelas, memperluas pasar, serta mengembangkan bisnis yang berkelanjutan,” ujar Reni.
Sejak tahun 2018, program coaching CBI telah melahirkan sejumlah wirausaha yang menunjukkan perkembangan bisnis secara signifikan. Para alumni mampu meningkatkan kapasitas produksi dan omzet, bahkan beberapa di antaranya berhasil naik kelas dari skala usaha mikro menjadi usaha kecil maupun dari usaha kecil menjadi usaha menengah.
Sejumlah alumni CBI juga telah berhasil memasuki rantai pasok industri yang lebih besar melalui kemitraan dengan berbagai jenama. Salah satunya adalah Rappo, alumni CBI 2024 asal Makassar, yang berhasil berkolaborasi dengan Garuda Indonesia dan Borobudur Marathon melalui inovasi pengolahan limbah plastik menjadi produk kreatif bernilai tambah.
“Keberhasilan para alumni tersebut menunjukkan bahwa pendampingan yang tepat dapat membuka peluang yang jauh lebih besar bagi IKM, baik dalam peningkatan kapasitas usaha, pengembangan pasar maupun membangun kemitraan dengan industri yang lebih besar,” tutur Reni.[] sp
