Bisnis waralaba masih Prospektif

Oleh: Tri Raharjo

Rasio entrepreneurship di Indonesia yang baru mencapai  sekitar 3% dari jumlah penduduk, masih terlalu kecil bila dibandingkan Malaysia, Singapura, dan Thailand yang sudah di atas 4% dari jumlah penduduk. Padahal salah satu yang turut mendorong kemajuan ekonomi di suatu negara adalah tingginya rasio entrepreneurship terhadap penduduk di suatu negara.

Bahkan, Presiden Joko widodo, beberapa waktu lalu mengatakan, negara-negara maju rata-rata 14% rasio entrepreneur dibandingkan jumlah penduduknya. Presiden mengapresiasi langkah-langkah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dalam menebarkan nilai-nilai entrepreneurship, baik kepada siswa/i sekolah, mahasiswa, bahkan santri di pondok pesantren.

Berdasarkan indikator tersebut Indonesia perlu dipacu untuk mengembangkan potensi diri menjadi entrepreneur. Satu dekade terakhir ini, generasi millennial, mulai percaya diri ingin berkiprah di bidang usaha. Fenomena ini dapat terlihat dari seringnya digelar sejumlah workshop dan seminar entrepreneur di sejumlah perguruan tinggi. Setiap ada workshop atau seminar kewirausahaan di kampus-kampus, animo mahasiswa cukup tinggi mengikuti acara itu.

Tendensi itu tak pelak mendorong  berkembangnya bisnis franchise atau waralaba sebagai salah satu alternatif memulai usaha. Dengan menjadi mitra waralaba boleh jadi sebagai “pintu masuk” memulai usaha dengan potensi meminimalisasikan resiko. Pasalnya, konsep waralaba sudah dirancang sedemikian rupa, sehingga dalam waktu singkat mitra waralaba dapat langsung menjadi pelaku usaha.

Meskipun semua bisnis mempunyai resiko! Tapi pertanyaannya bagaimana memitigasi sebuah resiko supaya kecil? Jawaban atas pertanyaan ini yang harus dikuasai ketika investor ingin join di bisnis waralaba. Ada istilah investigation  before investigate. Hal ini yang perlu dilakukan calon mitra waralaba.

Namun demikian, mereka yang ingin menjadi mitra waralaba, perlu memperhatikan beberapa hal. Sebut saja masalah brand. Survei menyebutkan bahwa brand yang populer cenderung akan lebih dipilih investor untuk menjadi mitra waralaba. Pihak investor tak ingin mengambil resiko dalam memutuskan menjadi mitra waralaba.

Bila investor ingin investasi di sektor minimarket, misalnya, maka brand yang muncul adalah Alfamart dan Indomaret. Bila ingin invstasi di sektor kurir, maka brand yang muncul JNE dan TIKI. Jika anda ingin bisnis di sektor karaoke, maka brand yang muncul adalah Diva dan Inul Vizta. Fenomena itu, artinya merek-merek yang sudah establish, merek-merek yang sudah dipercaya konsumen dan proven di berbagai lokasi akan dipilih investor.

Jadi dapat diasumsikan semakin suatu brand dikenal, semakin brand menjadi market leader, maka kecenderungan konsumen maupun mitra waralaba akan memilihnya. Kesimpulan itu merupakan hasil survei TRAS N CO yang dilakukan di salah satu pameran franchise di Jakarta, beberapa waktu lalu. Metodelogi survei dilakukan secara interview langsung kepada pengunjung pameran itu.

Kemudian bisnis yang sudah terbukti berhasil (proven) menjadi penilaian investor. Sedikitnya dua tahun terakhir, bisnis waralaba tersebut menguntungkan. Biasanya sebelum investor memutuskan menjadi mitra waralaba, investor  melakukan evaluasi terhadap reputasi brand, quality product, standarisasi dan gerainya bertumbuh serta uniqueness dari waralaba tersebut.. Ukuran-ukuran penilaian tersebut  menentukan dalam memilih brand waralaba.

Dan yang lebih penting lagi adalah hitungan-hitungannya menarik. Maksudnya, ukuran tingkat profit, tingkat Break Even Point (BEP) dan mengoperasikannya tidak sulit. Semakin cepat waktu BEP, semakin menarik bisnis waralaba tersebut. Rata-rata margin  bisnis ini berada di kisaran 30%. Artinya lebih manarik dibandingkan dengan instrumen investasi, deposito, danareksa dan sebagainya.

Di samping itu, perlu diketahui proyeksi income dan proyeksi profit and loss serta biaya yang dikeluarkan harus dicermati secara matang. Terhadap hal ini, masing-masing bisnis mempunyai stimulasi berbeda. Kemudian setelah diketahui hitung-hitungan tersebut, maka investor harus mengecek franchisor, apakah over confidence terhadap hitungan tersebut atau tidak?

Pihak investor harus mengecek realitas di lapangan. Misalnya franchisor memproyeksikan balik modal tiga tahun. Pertanyaannya apakah realita di lapangan hitungan tersebut benar?  Investor harus betul-betul survei ke lapangan. Misalnya berapa banyak jumlah pengunjung di sebuah café, berapa besar dana yang dikeluarkan pengunjung, berapa lama jam buka, jam berapa saja waktu sepi dan waktu ramai?

Itu sebabnya, bisnis-bisnis yang dapat dikembangkan menjadi waralaba adalah bisnis-bisnis yang bukan situational product. Oleh karena itu, sebaiknya investor memilih waralaba yang sudah proven. Sedikitnya minimal lima tahun bisnis tersebut berjalan. Ada saja bisnis yang usianya baru dua atau tiga tahun langsung redup. Model-model bisnis situational ini tidak cocok untuk dijadikan waralaba.

Di usia lima tahun, suatu perusahaan waralaba sistemnya dinilai sudah sempurna dan cenderung bisnisnya sudah stabil. Apalagi ada aturan yang dikeluarkan pemerintah bahwa perusahaan yang ingin mengembangkan usaha dengan sistem waralaba, minimal sudah berusia lima tahun.  Dasar ini juga seharusnya menjadi bahan pertimbangan investor dalam menanamkan investasi di bisnis waralaba.

Dan yang tak kalah penting adalah mengelola bisnis waralaba itu sendiri. Dalam hal ini, ada dua model pengelolaan waralaba. Pertama, investor menyerahkan pengelolaan waralaba oleh pihak franchisor dan kedua dikelola sendiri oleh pihak mitra waralaba.

Perlu diketahui, bisnis waralaba itu bukan hanya semata perkara modal belaka. Tapi biasanya franchisor mencari mitra waralaba adalah orang yang mau kerja, mau control dan monitoring dan mau mengelola uang. Sementara pihak franchisor akan melakukan support. Dari mulai support awal, seperti memilih lokasi, set up gerai, training karyawan, pendampingan awal ketika baru buka gerai.

Kemudian ketika bisnis telah jalan yang dioperasikan oleh pihak mitra, maka tanggungjawabnya di pihak mitra. Pertanyaannya apakah pengelola waralaba tersebut sudah bertransformasi ilmunya dengan baik? Sudah mengikuti standarisasi apa belum?

Biasanya sudah dapat duplikasi knowledge dari franchisor selama pendampingan awal. Tinggal running! Problemnya ada target yang sesuai dengan business plan. Misalnya proyeksi pendapatan, biaya berapa, profit berapa. Nah, apakah bisa on the track terhadap business plan tersebut? Tanggungjawab itu yang diperlukan untuk mencapai target.

Ketika ada kendala di lapangan, biasanya ada support berkelanjutan. Umpamanya ada kasus bulan ini kok gerainya sepi. Bagaimana caranya mengatasi kondisi seperti itu. Biasanya ada promosi-promosi khusus yang ditawarkan. Pihak franchisor tidak akan melepaskan mitra waralabanya menghadapi problem di lapangan.

Model bisnis proses yang seperti ini sangat cocok bagi mereka yang baru mulai terjun ke bisnis. Itu sebabnya bisnis waralaba masih mempunyai prospek besar berkembang di Indonesia, karena rasio entrepreneur jumlah penduduk masih sangat kecil. Pertanyaannya, konsistenkah franchisor menjalankan bisnis modelnya?***

*Penulis adalah Sekjen Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI)