Banjir Batik Printing, Menggerus Batik Tulis
Indonesia menjadi pasar potensial batik yang beberapa tahun belakangan ini diserbu batik printing dalam dan luar negeri. Padahal Batik printing sebetulnya tak layak disebut batik, melainkan kain atau tekstil bermotif batik yang diproduksi dengan mesin. Tapi semuanya mempunyai pasar masing-masing
Sejak batik ditetapkan sebagai warisan budaya yang Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 lalu, membuat komoditi ini menjadi tren di Indonesia. Padahal sebelumnya, batik hanya digunakan pada momentum-momentum tertentu, seperti acara pesta perkawinan, acara serimonial dan pakaian segaram lainnya.
Sejak itu booming penggunaan batik di Indonesia menjadi bagian gaya fesyen yang dapat digunakan seperti fesyen umum lainnya. Namun demikian, melihat permintaan pasar batik di Indonesia yang terus meningkat, bermunculan bermunculan batik-batik printing yang dijual jauh lebih rendah dibandingkan harga batik tulis. Bila harga batik tulis satu pc minimal, Rp. 250.000, maka batik printing dijual dengan harga Rp 25.000 per-pc.
Sementara pasar Indonesia yang begitu besar, membuat importer-importer tertarik memasok batik printing dari China, misalnya. Sejak beberapa tahun lalu, batik printing asal China membanjiri pasar dalam negeri. Di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang menjadi salah satu pusat grosir tekstil di Jakarta, beberapa tahun lalu dibanjiri batik printing berasal dari Thailand dan Cina.
Harga kain-kain batik impor ini memang jauh lebih murah ketimbang produksi dalam negeri, yakni dalam kisaran Rp 25 ribu per meter. Sedangkan kain batik asli yang berupa batik tulis bisa mencapai ratusan ribu rupiah per meternya. Kondisi ini, berisiko melemahkan posisi perajin Indonesia dalam kompetisi pasar. Padahal, dari sisi kualitas, batik produk dalam negeri lebih unggul ketimbang yang impor.
Di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, pedagang batik berderet dari pintu masuk sisi barat hingga ke timur. Berbagai motif, bahan hingga kualitas batik, bisa ditemukan di pasar tersebut. Namun sebagai layaknya pasar rakyat, batik jenis printing dan cap paling banyak dicari.
Harga pakaian batik di Pasar Beringharjo bervariasi, dari yang paling murah Rp 25 ribu sampai yang paling mahal kisaran Rp 500 ribu. Pembeli di Pasar Beringharjo bisa melakukan penawaran. Jika cocok barang dan harga, bisa langsung jadi untuk membawa pulang barang.
Boleh jadi sejak diberlakukannya ACFTA (Asean China Free Trade Agreement) yang berlaku mulai, Januari 2010 lalu, membuat produk-produk China seakan tak terbendung menggrogoti pangsa pasar produk-produk dalam negeri. Pasca diberlakukannya ACFTA, mulai terlihat imbasnya. Beberapa produk asal China, termasuk batik printing membanjiri pasar dalam negeri. Produk China – berlahan mulai menguasai pasar domestik. Bila fenomena ini dibiarkan terus menerus, produk domestik akan tergerus.
Keberhasilan China melakukan penetrasi pasar, bahkan mampu menguasai pangsa pasar karena industri China memproduksi produk dalam skala besar. Dari segi harga jual dapat ditekan. Ini yang menjadi salah satu faktor produk China dapat lebih kompetitif dibandingkan produk domestik.
Belum lagi berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang turut derasnya masuk batik-batik printing asal Malaysia dan Thailand masuk ke Indonesia. Pasalnya, di era ini sudah tidak ada lagi hambatan untuk melakukan penetrasi pasar di kawasan ASEAN. Dalam menghadapi MEA saat ini, kami juga mendorong pelaku industri nasional untuk menguatkan branding produknya. Hal ini menjadi penting guna meningkatkan daya saing.
Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto industri dalam negeri akan mampu memenangi dan melengkapi pasar MEA karena populasi ASEAN serta ekonominya didominasi oleh Indonesia. Negara kita menyumbang 40 persen dalam populasi dan 35 persen dalam kontribusinya terhadap ekonomi. Sehingga jika dilihat dari populasi dan PDB, kita sudah menang.
Hal itu kalau dilihat secara makro. Pertanyaannya bagaimana kalau dilihat secara mikro, khususnya kehadiran batik printing dari kawasan Asean dan China? Apakah tidak mengganggu eksistensi para pengrajin batik tulis karena adanya disparitas harya yang mencolok antara batik printing dengan batik tulis?

Beberapa tahun lalu, misalnya, serbuan batik printing dari China berdampak buruk bagi perajin batik tulis maupun batik cap yang ada di Indonesia termasuk juga sentra perajin batik tulis yang berada di Dusun Bergan, Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul, DIY, misalnya. Penduduk yang sebagian besar perajin batik tulis ini kini banyak menganggur dibandingkan membatik. Permintaan batik tulis dalam negeri sendiri jatuh karena banyak batik printing yang beredar di pasaran.
Kenapa masyarakat Indonesia saat ini lebih suka menggunakan batik printing ataupun yang lebih mahal batik cap karena harganya relatif terjangkau. Satu potong kain batik printing yang sudah jadi baju harga di bawah Rp 100.000, namun satu potong batik tulis minimal harganya Rp400 ribu dan yang harga premium mencapai diatas Rp1 juta. Harga satu potong kain batik tulis yang mahal ini membuat pasar batik tulis sangat terbatas dan hanya dijangkau oleh masyarakat menengah ke atas.
Sementara di Purbalingga lain lagi ceritranya. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Purbalingga mewajibkan pemakaian batik khas daerah setempat menjadi berkah bagi para perajin batik. Tapi ketua Paguyupan Batik Purbalingga Yoga Prabowo menilai peredaran batik printing yang belakangan ini banyak dijual di toko-toko kain dan pakaian jadi di Purbalingga sangat memukul perajin batik, karena harga jual batik printing jauh lebih murah dibandingkan batik tulis.
Namun demikian, Desainer kondang Anne Avantie tak mempermasalahkan maraknya produk batik printing di pasaran. Ia memahami jika produk batik printing melukai sebagian perajin batik tulis. Namun, ia juga melihat bahwa ada banyak pekerja di balik produk-produk batik printing tersebut. Tak hanya untuk batik printing, pandangan yang sama juga diberikannya untuk banyaknya industri yang mencontek motif-motif batik tertentu. “Tukang printing juga manusia. Kalau printing-nya tutup berapa banyak orang yang enggak bisa makan. Orang yang punya uang hanya bisa jual printing, ya biarlah. Tapi hati saya tetap nasionalis,” kata Anne, Juni lalu, sebagaimana dikutip dari kompas.com.
Batik printing adalah kain motif batik, tapi tidak dibuat dengan cara membatik alias menutupi kain dengan lilin batik (malam), melainkan menggunakan mesin cetak. Itu sebabnya batik printing terlihat tanpa cacat dan harganya jauh lebih murah karena tinggal cetak. Hal itu disampaikan Anne dalam sambutan pembukaan Pasar Tiban Anne Vantie di Grand Atrium Mall Kota Kasablanka.

Tapi perlu diingat, batik printing bukan batik, melainkan kain atau tekstil bermotif batik yang diproduksi dengan mesin. Namun, karena harganya murah dan dapat mengikuti permintaan batik yang tinggi, maka batik printing pun kian merajalela di pasaran.
Sementara Laretna T. Adishakti selaku Dewan Pakar Paguyuban Pencinta Batik Indonesia Sekar Jagad mengatakan, kemunculan batik printing atau sablon memberi imbas negatif untuk perkembangan batik tulis atau cap. “Batik tidak sekadar simbol atau motif, tapi ada suatu proses di dalamnya. Dalam membuat motif itu juga sebuah kemampuan dan karya tangan yang patut dihargai,” kata Laretna seraya menambahkan demi menyejahterakan para pembatik tulis atau cap, sebaiknya konsumen jangan membeli batik printing. Itu lantaran batik printing merusak citra seni membatik yang sesungguhnya, sebagaimana dikutip dari viva.co.id.
Desainer Oscar Lawalata mengaku khawatir dengan keberadaan pabrik tekstil dengan produksi batik print. Hal ini dianggapnya sebagai salah satu alasan banyak pengrajin batik tak bisa bermain di roda ekonomi.
“Kita suka complain Malaysia bagaimana. Lindungin dulu dong yang di dalam. Lindungin dulu pengrajinnya. Tolong industri teksil yang printing itu didisiplinkan. Jangan menyebut batik print deh. Batik is batik. Jangan di-printing. Kecuali cap, itu nggak apa-apa. Kan pengerjaannya masih pakai tangan langsung, bukan mesin,” paparnya pada Oktober lalu, sebagaimana dikutip dari liputan6.com.
Hingga akhirnya, Oscar Lawalata mengajak publik untuk memiliki persepsi lain soal batik. “Batik itu bukan soal motif. Tapi, proses yang harus dihargai. Jangan cuma lucu, ini kan batik. Boleh, tapi jangan bangga. Yang harus dibanggain itu saat kita bisa support pengrajin,” tandasnya
Menurut Diren Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih, setiap jenis batik memiliki pasarnya masing-masing, untuk itu dibutuhkan kejujuran dari pembatik maupun penjual dalam menjajakan dagangannya. “Maksudnya, kalau printing ya sampaikan kalau itu printing, tidak usah takut. Nanti kita kasih pasar khusus. Masing-masing itu ada pasarnya, yaitu orang-orang yang hanya mampu beli batik semester atau satu kain Rp100.000 – Rp200.000. Jadi kalau kita sendiri tidak jujur, itu susah,” ungkap Gati, sebagaimana dikutip dari antaranews.com.
Oleh karena itu, perlu mengetahui apakah batik tulis atau batik printing dan cap. Umumnya batik cap atau printing kelihatan motifnya lebih rapi dibandingkan batik tulis.Sebab batik cap dan printing dikerjakan dengan pola yang sama, menggunakan cap dan mesin, sehingga kelihatan motifnya lebih rapi dan teratur. Beda hanya batik tulis yang dikerjakan dengan tangan, terkadang motifnya kurang teratur.
Kemudian tinta batik tulis menembus sampai belakang kain, sehingga motifnya dapat dilihat dari dua sisi. Selain, itu bentuk gambar/motif batik tulis tidak ada pengulangan, sementara batik cap atau printing diproduksi secara masal dengan motif yang sama.
Batik tulis dibandingkan dengan batik cap atau printing dapat dibedakan dengan aromayang khas. Oleh karena itu, bila ingin membeli batik tulis, cium kainnya akan menimbulkan aroma bau yang tidak menyengat, sementara batik cap dan printing akan menimbulkan bau yang menyengat karena menggunakan tinta berbahan kimia. [] Yuniman Taqwa
