Batik Lasem, Bertahan dari Generasi ke Generasi

Batik Lasem ada berkat kedatangan  Laksamana Cheng Ho  ke Indonesia pada tahun 1413.  Bahkan, dulunya batik ini dikenal sebagai batik “encim-encim” yang kini terus bertahan menjadi batik yang telah dimofikasi dengan berbagai motif, walau tidak kehilangahn nilai klasiknya.

Awal November lalu,  Pemerintah Kabupaten Rembang mempromosikan batik tulis Lasem. Salah satunya melalui pagelaran bertajuk: Metamorfosa Batik Tulis Lasem Persembahan Untuk Negeri yang berlangsung di halaman kantor Bupati Rembang. Acara ini digagas oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Rembang dengan menampilkan empat katagori lomba. Di antaranya, lomba membatik tulis Lasem, lomba fashion batik Lasem, lomba desain batik tulis Lasem, dan lomba karnival batik Lasem. Selain untuk umum, lomba tersebut juga ada katagori untuk anak usia SD, SMP, dan SMA.

Tak ketinggalan, para istri pejabat ikut naik ke atas panggung dengan mengenakan balutan kain batik tulis Lasem, yang sudah didesain indah. Aksi istri Wakil Bupati Rembang H.Bayu Andriyanto yakni Hj Vivit Bayu Andriyanto tampil  layaknya model fashion show. Aksinya menggendong anak kesayangannya diatas stage mendapat upplouse dari penonton yang hadir. Busana batik yang dikenakan memperlihatkan batik yang kekinian yang cocok dipakai oleh semua umur.

Sementara sebelumnya,  Pasaraya Pride of Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Rembang menggelar pameran Tribute to Batik Indonesia bertajuk The Art of Rembang, 2-31 Oktober. Tampil dengan model kekinian, batik Lasem dipamerkan tak hanya diharapkan makin dikenal, tapi juga dapat memajukan para perajin batik di Kota Rembang.

Bupati Rembang H Abdul Hafidz mengungkapkan, acara ini selain memeriahkan Hari Batik Nasional, juga untuk meningkatkan keterserapan produk UMKM asal Rembang. “Masyarakat mesti tahu akan produk unggulan Rembang. Dengan begitu masyarakat akan membeli sehingga pertumbuhan ekonomi akan pesat di Rembang dan produk asal Rembang semakin dikenal luas,” ujar Abdul Hafidz. Chintami Atmanegara, salah satu artis yang ikut menyokongkegiatan ini mengaku menyukai batik lasem karena motifnya sangat klasik, lebih detail, dan masih dikerjakan secara tradisional, sebagaimana dikutip dari lifestyle.okezone.com.

Batik Tulis Lasem memiliki nilai sejarah tinggi bagi masyarakat kota Rembang. Sudah ada berkat kedatangan  Laksamana Cheng Ho  ke Indonesia pada tahun 1413.  Batik Tulis Lasem dirintis pertama kali oleh Puteri Na Li Ni, istri Bi Nang Un, seorang nakhoda kapal dalam armada Cheng Ho. Dari situ batik lasem mulai dikenal di Indonesia, sampai mendapat sebutan ‘batik’ encim-encim karena memang jaman dulu banyak digunakan wanita warga keturunan Tionghoa.

Tradisi membatik di Rembang itu berlangsung turun temurun, dari generasi ke generasi. Salah seorang pengusaha Batik Tulis Lasem yang terkenal itu adalah Santoso Hartono, pemilik Batik Tulis Pusaka Beruang. Sudah tiga generasi keluarga Santoso (keturunan Djie Siaw Huwie) menjalani usaha membatik.  Sebelum krisis moneter (krismon) 1998 orang tuanya, tak sanggup lagi menampung ratusan karyawan yang selama puluhan tahun bekerja untuknya.  Satu per satu karyawan keluar dan memilih menjadi supir angkot, jadi tukang batu, tukang ojek atau becak. Hingga pada Maret 2005 Santoso membangkitkan kembali usaha keluarga sekaligus menggairahkan bisnis batik di kampung halamannya dengan melestarikan Batik Lasem.

Generasi ketiga batik tulis Pusaka Beruang, (foto: pelakubisnis.com)

Santoso mulai belajar membatik sejak di kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Ia ‘nyambi’ membantu orangtuanya membatik dan sebagainya. Namun usaha batik tak cukup menguntungkan membuatnya pergi dari desa untuk merantau ke Jakarta. Ia sempat bekerja di perusahaan mebel di Cibinong dengan  gaji  Rp  45 ribu per bulan pada kisaran tahun 1987. “Kami dari enam bersaudara yang mewariskan keahlian membatik hanya saya,” kata Santoso di tengah-tengah Pameran bertajuk Warisan, minggu keempat November lalu.

Kemudian prahara pun datang! Kondisi krismon tahun 1998 membuat masyarakat di Desa Lasem kehilangan semangat membatik. Satu persatu pengrajin Batik Lasem rontok. Dari 140 pengrajin generasi tua praktis rontok tinggal 7 perajin. Hingga pada tahun 2005, Santoso pulang ke kampung halaman dan mengajak orangtuanya untuk membangkitkan kembali usaha keluarga.  Kebetulan pada momen itu pemerintah setempat dari instansi terkait melalui Indakop juga koperasi tingkat provinsi memberi stimulus berupa fasilitas kerja dan modal usaha untuk mendongkrak kerajinan batik khas kota Rembang, Batik Lasem. Dari permodalan sampai promosi dan pembinaan secara intens dari instansi terkait.

Awalnya ia menitipkan produknya ke Inacraft karena tak mampu  ikut pameran.   Tapi di tahun 2005 itu juga ia mendapat pinjaman dari Bank BRI. Tanggal 13 Maret ia membuka kembali usaha orangtuanya dibantu sekitar 4 orang tenaga kerja. Bulan April di tahun yang sama ia mendapat kucuran dana dari BRI dan di bulan itu pula ia mendapat pesanan dari pabrikan terkemuka dari Jakarta.

Diakuinya ia mendapat support penuh dari penjual bahan baku yang membuatnya bisa  membesarkan kembali bisnisnya. Seperti pori pewarna ia diberi pinjaman dari supplier di Solo. “Bayar suka-suka dan saya minta tempo satu bulan. Kalau transaksi juga kami tak mau per telepon, tapi kami datangi langsung ke tempatnya untuk membangun kepercayaan,”terang Santoso dari data yang dimiliki pelakubisnis.com.

Kini lewat koperasi ia mengembangkan Batik Lasem. Jumlah pemainnya mulai bertambah. Jika kondisi krismon sempat berjatuhan Tanggung renteng saling membantu rekan sesama pengrajin di desanya. Sementara kendalanya saat ini adalah masalah perpajakan. Kondisi ini menjadi dilematis karena usahanya menyerap tenaga kerja yang begitu banyak dan bahan baku serta BBM mahal.

Namun ia terus berinovasi dalam hal desain. Ia sendiri dibantu 754 orang tenaga kerja. Seratus orang tenaga kerja tetap dan selebihnya buruh harian. “Saya banyak dapat desainer ketemu di jalan. Guru sekolah saya, teman lama saya minta kerjaan juga dan ternyata cukup membantu. Kami dapat memproduksi 75 lembar kain batik per hari,” jelas pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah tahun 1968 ini.

Sebelum krismon 1998, desain-desain Batik Lasem sangat klasik dan konsisten dengan pemilihan warna-warna yang menjadi cirri khas batik yang sudah mulai ada di Indonesia sejak tahun ratusan tahun silam dengan motif seperti motif burung Hong, liong, dan seruni. “Kami masih belum pede (percaya diri) sampai sekarang. Makanya kami gak berani jual mahal,”aku penerima Upakarti Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada waktu itu atas prestasinya melestarikan batik tulis.

Uniknya Batik Lasem adalah ini batik tulis. Maklum bila hasilnya tak sama persis, paling tidak hanya sekitar 10 motif yang hampir sama. Kedua, terletak pada pewarnaannya yang menggunakan bahan baku yang cukup kuat (garam laktos sintesis). Setelah dijemur kain  ‘diketeli’ dulu untuk kemudian baru dibatik. Untuk menghasilkan sebuah warna indah, pengrajin batik lasem memberi campuran warna yang berulang-ulang hingga menghasilkan gradasi warna yang menarik.

Batik Tulis Lasem: diburu wisata dalam dan luar negeri (foto: pelakubisnis.com)

Ia juga memakai bahan kain primisima dan kereta kencana. Difrensiasi terletak pada motifnya yang bolak-balik memberikan ketajaman warna yang sama. “Batik nya bolak-balik, diwarnai lagi, dilorot dan diwarnai lagi. Untuk membuat motif batik tiga negeri yang benar, dilakukan proses 21 kali langkah dengan 4 kali ‘pelorotan’. Yang aslinya, dari warna merah, biru, hijau baru setelah itu coklat. Setiap pengrajin memberikan desain yang berbeda-beda. Masing-masing pengrajin memiliki cirri yang berbeda-beda. Nantinya akan ketahuan batik mana buatan siapa. Dibedakan berdasarkan pewarnaannya. Kalau pelanggan kami biasanya tahu,”jelasnya.

Menurut Santoso Batik Lasem terkenal dengan motif ‘Tiga Negeri’ yang memiliki corak agak ramai dan tersusun dari warna dasar yang gelap, memiliki 3 warna dan diberi sekar jagatan. Ada juga  motif 4 negeri dengan 4 warna (merah marun, biru, coklat dan ungu) dan Kendoro Mandiri, Semen Romo dan Pasiran.  Sebelum krismon pola pemasarannya hanya terbatas pada area Rembang  dan sekitarnya.

Santoso menambahkan, Batik Lasem yang asli itu dibatik dua sisi (bolak-balik). Mengapa dibatik dua sisi? Ceritanya untuk mewariskan ketrampilan membatik, si ibu membatik satu sisi, kemudian si anak meneruskan pekerjaan membalik di sisi belakang, supaya si anak bisa menirunya. Dari transformasi ilmu membali seperti ini, akhirnya menjadi suatu pakem batik khas Lasem. “Di Lase mini, tiga generasi yang membatik masih banyak. Nenek membatik, anak membatik dan cucu pun membatik,” katanya serius.

Saat ini Santoso memimpin Paguyupan Batik Tulis Lasem Kartini. Anggota Paguyupan ini berjumlah 80-an pengrajin Batik Lasem. Permasalahan yang dihadapi pengrajin Batik Tulis Lasem adalah masalah Sumber Daya Manusia (SDM). Belakangan pengrajin mulai tergerus, walaupun masih ada ibu-ibu di Desa Rembang, sambil mengurus anak dan mengurus rumah tangga, juga menyambi menjadi pengrajin batik.

Kini Batik Tulis Lasem terus berkembang. Sejak UNESCO menetapkan batik sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2 Oktober 2009, Batik Lasem pun turut berkembang. “Motif Lesem katanya sudah konteporer. Saya bilang, ya! Yang masih klasik juga, ya. Jadi banyak ragam,” kata Santoso serius.

Sebab, menurut Santoso, kalau pengrajin Batik Tulis Lasem hanya memproduksi batik bermotif 3 negeri saja, maka lama kelamaan konsumen bosan. “Sekarang Batik Lasem diminati wisata dari Jakarta, Semarang, Surabaya dan banyak lagi dari lain di Indonesia,” lanjutnya serius seraya menambahkan yang penting harga jualnya pas, sesuai dengan daya beli masyarakat.

Batik Tulis Pusaka Beruang dijual dengan harga bervasiasi. Dari Rp 120.000 sampai di atas Rp 1.000.000. Tapi tiga tahun terakhir ini pasarnya sepi. Namun demikian, Pusaka Beruang masih mampu meraup omzet Rp. 250.000.000/perbulan dengan memperkerjakan 700 pengrajin batik. “Rata-rata tiap bulannya saya memproduksi 2000 potong batik,” katanya serius.

Sementara pemasaran yang dilakukan, kata Santoso, dari pameran ke pameran. Di samping itu banyak wisatawan langsung datang ke rumahnya untuk membeli Batik Tulis Lasem. Selain itu, ia juga menggunakan media social (facebook) sebagai salah satu strategis pemasarannya. “Memang kendalanya, letak daerahnya (di Rembang-red) yang kurang bagus. Tapi, rejeki, ya nggak kemana,” ujanya berkelakar kepada pelakubisnis.com. [] Yuniman Taqwa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

,