Optimisme Martina Berto Derek Pertumbuhan

Bryan Tilaar optimis kosmetik di tanah air bisa tumbuh double digit tahun ini (Foto: pelakubisnis.com)

Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang melanda dunia, industri kosmetik justru diyakini mampu tumbuh double digit pada 2020 ini. PT Martina Berto Tbk pun optimis mampu meningkatkan pertumbuhan di kisaran angka 6-12% pada tahun ini.

Pertumbuhan industri kosmetik diprediksi tahun ini menembus  double digit. Namun demikian, ketidakpastian ekonomi global masih membayang-bayangi di tahun ini. Kondisi demikian disinyalir  mempengaruhi sektor industri kosmetik. Tapi, orang nomor satu di PT Martina Berto Tbk, Bryan Tilaar, meyakini pertumbuhan industri kosmetik secara nasional tahun ini  bisa mencapai 12%.

Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi turun tipis. Diperkirakan bertengger di angka 5,01%. Fenomena demikian, menurut Bryan memang ada pengaruhnya terhadap industri kosmetik. “Tapi kita tunggu di kuartal  pertama 2020,”katanya.

Menurut Bryan indikator pertumbuhan industri kosmetik di angka 12% memungkinkan bisa terjadi  karena  makin   tumbuhnya  kelas menengah, daya beli masyarakat semakin meningkat dan tidak ada tahun politik (pilpres dan pemilu).  Hal itu menjadi indikator optimis pertumbuhan industri ini bisa tembus dua digit pada 2020. Walaupun pada tahun ini ada di beberapa daerah yang melaksanakan pemilihan kepala daerah. “Tapi harusnya akan lebih baik dibandingkan 2019,” katanya kepada pelakubisnis.com, di kantor PT Martina Berto Tbk, Jakarta, minggu kedua Pebruari lalu.

Sektor industri kosmetik pun, kata Bryan, kian menggeliat. Tapi apa bisa garansi 100% kondisi tersebut,  tak ada yang bisa menjawab. Siapa sangka, tahu-tahu dunia dihebohkan dengan wabah virus corona yang berasal dari wilayah Wuhan, Tiongkok? Kini banyak orang menahan diri berpergian. Hal ini akan berpengaruh terhadap industri yang lain. Walaupun sampai saat ini dampak virus corona belum terasa mempengaruhi industri kosmetik di dalam negeri.

Sementara, Martina Berto telah selektif dalam melakukan pembelanjaan penjualan dan pemasaran dan menurunkan biaya sampai 14,14%. Namun rasionya terhadap penjualan meningkat menjadi 49,94% dari 39,95% tahun sebelumnya. Karena adanya program yang tetap harus diikuti khususnya di segmen modern trade. Penjualan yang dibukukan Perseroan tahun 2018 sebesar Rp.502,52 milyar atau memenuhi 64,43% dari target Penjualan tahun 2018.

Karena penurunan penjualan lebih besar dari pada penurunan beban overhead dan pemasaran, Perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp114,13 milyar dari target laba bersih tahun 2018 sebesar Rp15,00 milyar.

Namun demikian, prospek usaha industri kosmetik masih cukup bagus, untuk tahun 2018 Kementerian Perindustrian memperkirakan industri kosmetika masih tumbuh sekitar 7,33%. Hal ini banyak menarik pemain-pemain baru terutama dari sektor industri kecil dan menengah.

Martha Tilaar Group konsisten menyampaikan the real brand Indonesia, dengan nasionalis kebangsaan, dengan warna-warna Indonesia. (foto: Marthatilaargroup.com)

Bryan menambahkan, Martina Berto  pada 2018 ke 2019 mengalami pertumbuhan sekitar 6%. Di sisi lain banyak sekali perbaikan dari penurunan angka kerugian. “Jadi plus minus pada kurun waktu tersebut minusnya berkurang . Kurang lebih potret pertumbuhannya akan seperti itu,” kata Bryan seraya menambahkan laporan keuangan periode 2019 saat ini tengah disusun.

Lebih lanjut ditambahkan, Martina Berto pada 2020 ini optimis mengalami pertumbuhan di kisaran angka 6-12%. Untuk mencapai target tersebut, pihak manajemen berupaya  meningkatkan brand equity.  Brand Equity menjadi asset yang memberikan nilai tersendiri di mata pelanggannya. Asset yang dikandung dapat membantu pelanggan dalam menafsirkan, memproses, dan menyimpan informasi yang terkait dengan produk dan merek tersebut.

Yang tak kalah penting, menurut Bryan adalah konsolidasi ke dalam agar lebih baik dibandingkan 2019. “Kami melakukan penetrasi ke minimarket lebih intensif, disamping mempertahankan segmen hypermarket dan department store. Kita juga melakukan renovasi Martha Tilaar Shop yang ada di mall-mall,” katanya serius. Bahkan, gairah konsumen jauh  lebih besar  dibandingkan 2019, maka seharusnya 2020 jauh lebih baik.

Pertumbuhan di pasar minimarket, tambah Bryan, mencapai 20%. Hal ini disebabkan karena potret nasional Fast Moving Consumers Good (FMCG) tumbuh terbesar di lini minimarket. Sedangkan hypermarket pertumbuhannya kurang bagus. Tapi di speciality store yang pertumbuhannya bagus.

Sedang di online business, kata Bryan, juga mengalami pertumbuhan cukup baik. Boleh jadi shopping online merupakan pasar masa depan. Tapi karena memang pertumbuhan di online saat ini  masih sangat kecil di Indonesia, sehingga sumbangan belanja online Martina Berto  baru sebesar 5%.

Untuk bisa bertahan dalam kondisi persaingan yang ketat, kata Bryan, harus melakukan inovasi. Apalagi banyaknya produk-produk impor yang beredar di Indonesia. Meskipun banyak produk impor tersebut diproduksi di Indonesia. “Banyak personalcare yang tadinya impor, kini diproduksi di Indonesia,” kata Bryan serius sambil menambahkan termasuk perusahaan manufaktur anak perusahaan Martha Tilaar Group, PT Cedefindo juga mendapat order membuat kosmetik brand-brand impor. Jadi industri kosmetik ini sangat menarik, baik impor maupun lokal.

Menurut catatan pelakubisnis.com, sedikitnya ada sembilan brand yang berada di bawah Martina Berto. Kesembilan brand tersebut adalah Belia, Biokos, Caring, Cempaka, Dewi Sri Spa, Mirabella, PAC, Rudy Hadisuwarno yang diakuisisi tahun 2016, dan Sariayu. Dari Sembilan brand tersebut, menurut Bryan, terdiri dari sekitar 1500 unit produk.

Masing-masing brand, kata Bryan, sudah terbentuk segmen yang hendak disasar. “Kami memiliki Departemen Brand dan tugas tim ini  mémanage masing-masing brand,” kata Bryan.

Sementara strategi pemasaran mulai meningkatkan lini digital marketing. Di Martina Berto, kata, Bryan, ada devisi sosial media yang tugasnya mengurusi digitalisasi. Ada banyak campaign yang dilakukan dengan menggunakan sosial media. Kini Martina Berto  lebih banyak melakukan marketing non-konvensional (digital marketing). Saat ini komposisi pemasarannya 45% secara konvensional dan 55% non-konvensional.

Sejauh ini apakah pihak Martha Tilaar Group konsisten menjaga brand yang dimilikinya? “Kami konsisten menyampaikan bahwa  ini the real brand Indonesia, dengan nasionalis kebangsaan dan dengan warna-warna Indonesia. Kita  selalu mengkomunikasikan dengan Indonesia yang kekinian dan cantik alami” urai Bryan serius.

Bahkan, pada 2018 Martha Tilaar Group  turut meramaikan penyelenggaraan Asean Games dan Asean Para Games pada acara pembukaan dan penutupan even olahraga tersebut. Hal ini menunjukkan di mata internasional, khususnya Asia bahwa produk-produk Martina Berto mencerminkan Indonesia yang  kekinian.

Bryan menambahkan, produk-produknya juga melakukan penetrasi ke pasar ekspor, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhannya sangat baik, meskipun secara nilai dan volume masih kecil. Kontribusi ekspor perusahaan kosmetika pertama yang mendapatkan ISO 9001 ini masih diangka 3% dari total  nilai dan volume penjualan. Meskipun nilai dan volumenya masih kecil, tapi pertumbuhannya mencapai 50%.

Di samping itu, divisi distribusi Martina Berto tidak hanya memdistribusikan  produk-produk sendiri, tapi juga mendistribusikan produk-produk brand lain, baik produk impor maupun dalam negeri. Pasalnya, lanjut Bryan, kalau Martina Berto tidak mengambil order distribusi brand-brand kompetitor itu, pasti  perusahaan distribusi lain pun akan mengambil order itu.

Tak pelak lagi, persaingan  di lini bisnis ini memang sangat ketat. Mudahnya produk-produk kosmetik impor masuk ke Indonesia  merupakan realita yang tak mungkin dapat ditepis. Kosmetik asal Korea Selatan, misalnya, kabarnya mulai marak menyerbu pasar dalam negeri, seiring dengan tren-nya budaya K-Pop dan sinetron Korsel yang melanda Indonesia.

Menanggapi fenomena demikian, tambah Bryan, bagi Martina Berto tak bergeming.  Martina Berto bukan pemain baru di industri kosmetik di Indonesia. “Bagi Martina Berto, silahkan saja bersaing secara sehat ,” katanya serius.

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1977 oleh Dr HC. Martha Tilaar, (Alm) Pranata Bernard, dan Theresa Harsini Setiady, kepak bisnisnya makin meluas. Martina Berto, misalnya, masuk di industri salon dan spa, walaupun di dalamnya ada skincare. Tapi Bartina Berto bukan industri klinik kecantikan.

Di segmen salon dan spa, umpamanya, Martina Berto sangat signifikan pertumbuhannya. “Makin banyak investor tertarik membeli franchise. Diperkirakan pertumbuhan industri salon  spa Martha Tilaar akan mencapai pertumbuhan 20%,” katanya. Meskipun core business ini bukan berada di Martina Berto, tapi ada di dalam Martha Tilaar Group.

Bryan memambahkan, ada beberapa entitas bisnis  yang berada di bawah  Martha Tillar Group. Ada Martina Berto yang mengelola brand-brand hampir di semua level segmen, dari segmen C untuk brand Mirabella dan Cempaka. Lalu, membidik segmen B melalui brand legendarisnya, Sariayu Martha Tilaar dan Belia yang menyasar segmen remaja. Hingga segmen A Plus untuk brand Dewi Sri Spa Martha Tilaar dan Martha Tilaar PAC serta di segmen A ada Biokos Martha Tilaar dan Rudi Hadisuwarno Martha Tilaar.

Sementara PT Cedefindo yang diakuisisi Martha Tilaar Group di tahun 1993  bidang usaha utama nya adalah Kontrak Manufaktur (Makloon) dalam produk kosmetik, sebagai perluasan bisnis perusahaan untuk hulu. Selain itu ada PT KreasiBoga Primata yang menangani kerjasama jasa outsourcing, seperti  jasa penempatan tenaga kerja, cleaning service, dan loundry.

Ada Sinergi Global Service, suatu perusahaan yang menangani sertifikasi kompetensi SDM. Kemudian ada Kampoeng Djamoe yang merupakan perkebunan tanaman organik untuk tanaman obat. Ada Roemah Martha Tilaar dengan kegiatan dan program mulai dari diskusi, lokalatih, festival, pertunjukan dan pameran seni. Ada Martha Beauty Gallery atau sekolah kecantikan ternama di Indonesia. Ada perusahaan yang mengelola salon dan spa non franchise, ada PT  Cantika Puspa Pesona yang mengelola franchise. Ada PT SAI Indonesia yang bergerak di bidang distribusi. Selain mendistribusikan produk-produk Martha Tilaar Group, juga mendistribusikan produk-produk perusahaan lain. Kemudian ada  Creative Style yang bergerak di bidang advertising.

Sumbangan  terbesar revenue Martha Tilaar Group berasal dari Martina Berto, PT SAI Indonesia dan PT Cedefindo “Ketiga perusahaan ini menyumbang pendapatan mencapai 52% dan sisanya sumbangan di luar ketiga perusahaan tersebut,” kata Bryan. Ke depan manajemen Martha Tilaar Group ingin pendapatan dari anak-anak perusahaan ini bisa berimbang. Artinya 50% disumbang dari tiga perusahaan tersebut dan sisanya disumbang entitas bisnis yang lain.

Supaya kontribusi pendapatan makin merata, kata Bryan, maka demand perusahaan harus tumbuh. Misalnya franchise salon dan spa harus meningkat. Sama halnya dengan masing-masing unit bisnis lainnya. Sampai saat unit Spa Martha Tilaar mencapai 40 gerai. Dari jumlah tersebut, hanya 5 yang milik sendiri (own store), sisanya milik mitra franchise.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa