China Tergerus, Ekonomi Indonesia Terkoreksi

 Terkoreksinya pertumbuhan ekonomi China, berimbas terhadap pertumbuhan di tanah air. Karena China mitra dagang terbesar  Indonesia selama 10 tahun terakhir. Penurunan 1% pada kinerja ekonomi China akan menciptakan penurunan GDP Indonesia sebesar 0,3%.

Salah satu pelaku bisnis produk elektronik GPS Tracker di kawasan niaga Mangga Dua, Jakarta Utara mengaku bisnis elektronik  tak terlalu berdampak  dengan kondisi merebaknya virus corona dari Wuhan, China. Sejauh ini  tak semua pedagang mengalami gangguan pasokan dan  menurutnya masih relatif aman.

Namun membaca beberapa tulisan di internet, ternyata banyak juga yang mulai  merasakan adanya penurunan penjualan sejak awal 2020. Hal ini disebabkan  daya beli yang mulai turun dan berkurangnya pengunjung mal. Terlebih penjualan produk-produk  elektronik buatan China  telah berkurang hingga 50%.

Sementara dari industri sparepart otomotif, Hadi Yudiansyah,  Direktur Operasional PT Nandya Karya Perkasa (NKP) mengungkapkan, wabah virus corona cukup berimbas bagi bisnisnya. Apalagi bila bicara masalah bahan baku, selain rupiah anjlok,  NKP juga menghadapi masalah karena tak mendapat pasokan dari mitra suppliernya di China. “Kebutuhan material impor kami sekitar 30%-40%. Dengan dampak Covid19 ini kemarin sempat bermasalah karena pihak China menutup produksi mereka. Sekarang sudah mulai produksi lagi di China. Hanya yang mengkhawatirkan adalah nilai tukar rupiah yang anjlok,”tutur Hadi yang saat ini hanya bisa menunggu informasi dari customer OEM mengenai rencana produksi selanjutnya.

Hadi Yudiansyah, Direktur Operasional NKP (Foto: pelakubisnis.com)

Saat ini dari sekitar 30 – 40% pasokan impor NKP, sekitar 30% berasal dari China, selebihnya dari Taiwan dan Korea. “Sekarang kami masih mengandalkan stok material yang ada. Biasanya stok material impor  bisa untuk kebutuhan  2 – 3 bulan,”ungkap Hadi.

Ia menambahkan, dengan  adanya wabah ini , ia  harus terus  waspada  karena saat ini tak hanya bisa bergantung pada customers saja,   tapi persoalan bahan baku juga menjadi masalah pelik. Dimana saat ini  rupiah anjlok, hal  ini  sudah terasa karena bea masuk impor jadi ikut  naik dan beberapa supplier juga sudah ada info kenaikan harga material. “Setiap hari khawatir dalam 2 hal, kurs rupiah dan penyebaran virus, takut disuruh liburkan karyawan karena virus ini yang  paling bisa bikin perusahaan bermasalah,”kata Hadi.

Lebih lanjut ia menambahkan. bea masuk yang tergantung pada nilai kurs  dimana sebelumnya rate dollar hanya di kisaran Rp13,500,-, kemarin  (22/3) rupiah melemah sampai ke angka Rp16,225,- dan mereda di angka Rp 15.960,-.  Meski demikian secara otomatis ada kenaikan beban kurs dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. “Kalau untuk produksi kami masih menunggu dari customer. Beberapa supplier material sudah informasi utk mengajukan kenaikan harga dan kalau hitungan kasar,  kenaikan  harga material sekitar 15-20%. Kalau yang saya baca pemerintah mau tunda atau hilangkan bea masuk impor di bulan April ini, dan ada paket kebijakan mengenai perpajakan, mungkin itu bisa membantu juga,”Hadi penuh harap.

Shinta Kamdani. Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Hubungan Internasional mengungkapkan, ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap China cukup besar. Pasalnya, China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia juga salah satu dari 3 penyumbang Foreign Direct Investment (FDI) terbesar di Indonesia selama 10 tahun terakhir. Pada 2019, China merupakan penyumbang FDI terbesar Indonesia. Sebesar 20,4% dari total FDI Indonesia (setara USD 1,4 miliar) berasal dari China dan sebesar 16,3% (setara USD 1,2 miliar) FDI berasal dari Hongkong. China pun memiliki tingkat pertumbuhan FDI yang positif di Indonesia dari tahun ke tahun. Dengan adanya wabah, potensi peningkatan FDI dan realisasi FDI asal China di Indonesia akan sangat terganggu.

Sementara dilihat dari signifikansi perdagangan, kata Shinta,  25,85% dari total ekspor non-migas Indonesia di 2019 diekspor ke China dan sebesar 44,58% dari total impor non-migas Indonesia di 2019 berasal dari China. Impor ini pun sebagian besar (75-80%) merupakan impor produktif dalam bentuk barang modal, bahan baku dan bahan pendukung industri. Bisa dikatakan ketergantungan Indonesia terhadap input produksi dan barang modal asal China relatif tinggi sehingga disrupsi supply dari China sangat mengganggu kinerja sektor non-migas nasional.

Ketergantungan bahan baku dari China mempersulit industri manufaktur nasional mencari alternatif (Foto: ist)

“Per akhir Pebruari 2020, industri sepatu nasional sudah mencatat penurunan kinerja sebesar 10-15% karena kendala supply bahan baku dari China. Industri elektronik pun sudah menyampaikan kemungkinan penghentian kegiatan usaha bila per April 2020 tidak ada supply produk elektronik yang lancar dari China,” lanjut Shinta serius.

Terkait efek penurunan ekonomi China terhadap penurunan ekonomi Indonesia, tambah Shinta, mengikuti estimasi Mari Pangestu: Penurunan 1% pada kinerja ekonomi China akan menciptakan penurunan GDP Indonesia sebesar 0,3%. Ini merupakan kalkulasi yang cukup reasonable mengingat tingkat relevansi ekonomi China terhadap Indonesia di atas.

Jadi, dampak wabah virus corona, kata Shinta,  terhadap supply chain Indonesia sudah cukup jelas di berbagai industri. Khusus pada industri yang level inklusinya di jaringan supply chain sudah cukup dalam misalnya industry elektronik, otomotif, garmen-sepatu, farmasi, dan industri lain yang menggunakan mesin asal China karena impor komponennya sangat besar. Daftar ini pun diambil berdasarkan disrupsi supply input produksi yang umumnya diproduksi Wuhan-Hubei, belum mencakup input produksi yang hilang karena karantina atau after effect karantina di wilayah lain di China.

Sebagai gambaran, menurut Shinta, tingkat ketergantungan industri nasional terhadap supply asal China, pada tahun 2018 hampir 50% dari total impor Indonesia dari dunia untuk komponen alat elektronik berasal dari China. Sebesar 55% dari total impor Indonesia terhadap raw material industri garmen dan sepatu (man-made staple fibre) diimpor dari China. Sebesar 22% dari total impor Indonesia terhadap raw material industri manufaktur dan farmasi (organic chemical) dimpor dari China. Sebanyak 32% dari total impor mesin dan komponen mesin produksi Indonesia juga berasal dari China. Sebanyak 20% dari total impor besi-baja nasional yang dipergunakan berbagai industri, dari industri automotif hingga industri peralatan rumah tangga, juga berasal dari China.

“Semakin besar/banyak bahan modal, bahan baku dan bahan penolong industri yang diimpor dari China, semakin sulit industri manufaktur nasional mencari alternatif supply karena kelangkaan ini terjadi secara global sehingga tingkat kelangkaan supply alternatif juga tinggi,” katanya serius. Sementara mencari supply alternatif  tidak mudah karena masalah pada kecocokan spesifikasi dan standar supply alternatif terhadap kebutuhan produksi, kapabilitas produksi supplier alternatif belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan supply nasional, dan harga supply alternatif juga belum tentu affordable berdasarkan daya beli perusahaan.

Menurut Shinta, kemampuan mencari alternatif supply input produksi sangat tergantung pada produknya, jumlah dan kapasitas produksi alternative supplier di Indonesia dan negara lain. Sebagai contoh, alternatif input produksi untuk raw material industri tekstil-garmen bisa didapat dari Taiwan, Vietnam dan Korsel dengan harga yang lebih mahal. Alternatif input untuk industri farmasi (active pharmaceutical ingredients/API) hanya bisa dialihkan ke India.

Sementara komoditi kimia organik lainnya, tambah Shinta, masih bisa disupply oleh Singapura dan Malaysia. Namun demikian, dikarenakan persebaran virus yang cukup massif dan porsi ekspor China yang besar terhadap Asia (sebesar 51%), beberapa supplier alternatif di Asia juga tersendat melakukan aktivitas manufaktur mereka karena supply-nya juga sebagian berasal dari China. Di samping itu, dampak Corona terhadap tenaga kerja di negara supplier alternatif seperti di Korea dan Jepang juga besar dan berkontribusi pada sulitnya mencari supply alternatif.

Walaupun sampai saat ini, kata Shinta,  belum ada laporan yang lengkap terkait industri mana saja yang melakukan pengurangan atau penghentian produksi. “Yang saya lihat, pelaku usaha kita di beberapa sektor sudah kesulitan dan kehabisan bahan baku serta bahan penolong produksi karena shipment yang tertahan sebagai side-effect wabah, karena factory di China yang belum sepenuhnya beroperasi atau kapasitas produksinya belum normal dikarenakan kebijakan karantina yang berlaku, pekerja yang tidak dapat masuk disebabkan oleh travel ban atau karantina, atau mungkin peralihan kapasitas produksi untuk memproduksi keperluan medis,” lanjutnya.

Namun Shinta menambahkan,  sudah ada juga industri yang menyatakan mengalami penurunan kinerja produksi karena supply bahan bakunya tidak lancar dari China seperti industri sepatu yang kinerja produksinya sudah tergerus 10-15% per akhir Februari 2020 karena kendala kelancaran supply. Sudah ada juga informasi dari industri elektronik bahwa pelaku industri mempertimbangkan akan menghentikan produksi karena stok input produksinya akan habis per April.

Oleh karena itu, agar ekonomi nasional tidak terlalu terpuruk, lanjut Shinta, stimulasi ekonomi dari pemerintah harus digelontorkan secara targeted terhadap sektor riil, khususnya industri-industri yang mengalami tekanan karena wabah ini agar industrinya bisa beraktifitas senormal mungkin meskipun pasarnya down dan supply-nya sulit. Pada saat yang sama, perlu ada kontrol terhadap stabilitas makro ekonomi nasional, kontrol terhadap  permintaan pasar domestik (tidak terlalu tinggi karena panic buying dan tidak terlalu rendah) dan pengamanan daya beli masyarakat, khususnya masyarakat dengan kelas pendapatan rendah dan menengah-bawah. []Siti Ruslina