Little Avery Daycare Tetap Tumbuh di Tengah Pandemic

Tak sedikit sektor usaha yang terdampak karena situasi pandemic.  Pertumbuhan bisnis stagnan bahkan ‘anjlok’ terpuruk  dan tutup.  Tapi apa kabar dengan bisnis daycare?

Sejatinya di tengah situasi  pandemic  Covid-19 bisnis penitipan anak (daycare)  ikut terpuruk karena pemberlakuan PSBB –Pembatasan Sosial Berskala Besar–  yang mengharuskan masyarakat pekerja untuk WFH –work from home–.  Sebisa mungkin untuk ‘stay at home’!  Demikian seruan pemerintah. Lantas bagaimana keberlangsungan bisnis daycare yang dibutuhkan ketika orangtua  yang bekerja di luar rumah menitipkan anaknya kesitu? Simak cerita Arheta Leimena,  Principal Daycare Little Avery Pre School, Daycare Course.

Terletak  di Kawasan  Perumahan Grand Galaxi City, Bekasi, Little Avery Pre School, Daycare, Course menempati posisi strategis antara pemukiman, perniagaan, perkantoran  dan akses tol menuju pusat kota Bekasi dan Jakarta.  Pertengahan Juni lalu pelakubisnis.com menyambangi  tempat ini  dan menemui Aretha Leimena.

Siang itu terlihat beberapa balita tengah bersiap-siap pulang ke rumah ditemani  pendamping yang menggantikan orangtua mereka.  Ada yang tengah menunggu jemputan, ada pula yang sedang sibuk menyimpul tali sepatunya tanpa dibantu orang dewasa.  Kemudian datang seorang ibu bersama anaknya dan hendak mendaftarkan diri  bergabung di sekolah ini. “Hallo….,”ujar si anak menyapa dengan ramah.  “Saya mau menitipkan anak disini sekalian sekolah. Sudah lama saya perhatikan tempat ini kok kayanya bagus dan kebetulan kantor saya tak jauh dari sini, tinggal jalan kaki,”ujar si ibu kepada pelakubisnis.com.

Berawal  dari kebutuhan sendiri,  Founder  Little Avery Pre School, Daycare, Course,  Marvella Cynthia Dewi bersama suaminya Andri selaku Owner/CEO Little Avery  membangun bisnis pra sekolah, tempat penitipan anak (TPA) dan lembaga kursus. Mereka  mempercayakan pengelolaannya kepada Aretha selaku  Principal Daycare. “Kami berteman karena anak-anak kami satu sekolah.  Awal mula munculnya ide ini karena  kebutuhan sendiri dimana kami sebagai seorang ibu yang bekerja. Sehingga kami tahu kebutuhan  ibu yang bekerja dengan anak yang harus dijaga dengan maksimal. Melihat kebutuhan itu, kami memikirkan untuk mendirikan daycare. Hal ini sudah menjadi kebutuhan di masa sekarang, di mana banyak pasangan suami istri yang harus tetap bekerja.  Kemudian tinggal di kota besar yang mungkin jauh dari orangtua kandung yang biasanya kalau dulu  dititipkan ke mereka untuk menjaga anak,”papar Aretha.

Menurutnya kebiasaan-kebiasaan lama itu tentu sudah bergeser. Kemudian terlintas membuat bisnis ‘daycare’ untuk kebutuhan pada masa kini. Banyak keluarga muda, keluarga bekerja mereka perlu aktualisasi diri untuk terus bekerja, tidak setelah menikah  lalu berhenti bekerja. Akhirnya pilihannya memang daycare. Dan urusan domestic pun sedikit dapat teratasi dengan kehadiran daycare.

“Sebetulnya konsep kami dari awal adalah one stop education center.  Jadi bukan hanya daycare tapi kami juga ada sekolah formal dan lembaga kursus yang berada di satu gedung ini. Itu sebabnya kami sebut one stop education center. Visi kami ke sana,”kata Aretha kepada pelakubisnis.com sambil memantau anak-anak didiknya dari layar monitor CCTV yang ditempatkan di setiap ruang.

Ia melanjutkan, ketika pagi hari orangtua mau berangkat kerja, mereka men-drop anaknya di Little Avery dan anak-anak  mereka  akan mendapatkan semua kebutuhan sampai nanti sore saat penjemputan. “ Dari pagi mereka bisa men-drop anak,  kalau belum mandi, belum sarapan, kami siapkan semuanya,” terang Aretha.

Gedung Little Avery terdiri dari  empat lantai.  Untuk kegiatan pre school terletak di lantai 1 dan 2. Sementara untuk kegiatan daycare berada di lantai 3 dan 4. “Ada  penambahan ruangan dan area bermain outdoor di lantai 4,”tambahnya.

Darimana saja para murid ini datang? Kata Aretha, tak hanya yang bermukim di Kawasan Perumahan Galaxi City, tapi Little Avery sudah menjangkau perumahan lain dari Kemang Pratama Bekasi yang terdekat hingga dari wilayah Tambun dan Cibubur.   “Orangtuanya kerja cukup jauh. Jam operasional kita jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Tapi kita tetap menyediakan fasilitas, artinya mereka tetap bisa drop anak di bawah jam 6 pagi dan juga boleh jemput anak di atas jam 6 malam. Dan itu selalu terjadi, bahkan ada beberapa anak yang memang jemputannya di atas jam 7-8 malam, karena lokasi kerja orang tua yang sangat jauh, ditambah lagi dengan  kemacetan dan sebagainya. Kami juga menyediakan pengasuhan sampai over time  dan under time. Mereka hanya memerlukan tambahan sedikit biaya,”jelas Artha seraya menyebutkan  daycare nya menerima  murid mulai 2 bulan hingga usia sekolah dasar.

Adapun pertimbangan kenapa daycare ini di bangun di kawasan perumahan?  Menurut Aretha, idealnya  letak daycare dekat dengan rumah. Itu lebih baik dalam pengertian, karena selama ini daycare-daycare  yang ada sebelumnya banyak hadir di wilayah perkantoran. Jadi anak harus  mengikuti jam orangtua berangkat kerja. Artinya,  subuh-subuh anak sudah  dibawa sampai ke kantor, kemudian dititipkan di daycare. Kemudian pulang, anak juga menempuh perjalanan yang cukup jauh. Macet-macetan sampai di rumah. Itu menjadi pertimbangan pengelola  agar daycare tetap dibuka di perumahan.  Jadi orangtua sebelum berangkat mereka bisa antar anak. Waktu orangtua pulang mereka menjemput anaknya hanya perlu  beberapa menit  untuk sampai ke rumah, dibandingkan kalau dititip di kantor yang jauh dari rumah.

Diakui Aretha,  pihaknya sedapat mungkin menyajikan informasi kepada orangtua secara real time. Jadi kapan pun orangtua dapat menghubungi secara pribadi untuk mengecek keadaan anaknya. “Misalnya anak saya sedang apa nih, nangis nggak, rewel nggak, makanya habis atau tidak. Apa pun mereka boleh tanyakan, mereka boleh minta kirim foto, video, boleh video call dengan anaknya. Di samping sebelum orangtua tanya pasti saya provide informasi  keadaan anaknya. Saya selalu update, sudah datang, sudah naik ke atas, tidak nangis dan lain-lain. Sekarang lagi mandi sarapan makan nasi dan sebagainya,”tutur Aretha.

Ia menambahkan, semua hal tentang kondisi anak akan  disampaikan sedetil mungkin. Sampai  pada sessi makan siang. Sebelum anak-anak datang, Aretha akan foto menu apa di piringnya dan jumlah porsinya berapa. Kemudian setelah selesai makan juga yang akan foto, supaya orang tua terinformasi habis nggak yang dimakan anak. “Kalau pun sisa seberapa banyak. Karena kalau informasinya cuma anaknya mau makan, tapi mau makan yang bagaimana, berapa sendok dan lain-lain.   Jadi betul-betul harus real  kita laporkan, baik makan pagi, siang dan sore. Kemudian snack anak, buahnya apa, semua kami infokan. Di sini kami siapkan makan pagi, siang dan sore. Kemudian satu kali snack dan 1 kali buah. Dari gizinya terfasilitasi. Kita punya menu selama 1 bulan yang sudah-sudah  diatur gizi dan sebagainya. Nanti kita share ke orangtua di awal bulan.  Ini menu kami, kalau ada yang tidak cocok dengan menu kami bisa dinfokan,”ungkap Aretha lagi.

Lantas, bagaimana sumber daya manusia (SDM) yang disiapkan sejalan dengan program yang telah disusun? “Kami rekrut, kemudian kami adakan pelatihan. Kemudian ada agreement-agreement yang harus dipatuhi juga,”jawabnya.

Di awal berdiri pada Maret 2016, SDM Little Avery  ada 5 pengasuh dan tenaga-tenaga lainnya yang mengurus administrasi, kebersihan dan lain-lain.  Untuk saat ini total karyawan ada 35 orang sudah termasuk guru dan pengasuh untuk tiga unit usaha pre school, daycare dan lembaga kursus.  Untuk saat ini meski di tengah pandemic, jumlah siswa sekolah formal Little Avery untuk TK A dan TK B berjumlah 50 siswa. 

Untuk sekolah formal  tersedia mulai baby class. Baby class mulai usia 1 tahun ketika sudah bisa berjalan, bisa ikut kelas ini.  Sedangkan untuk kelas kursus di Little Avery ada bermacam-macam. Ada kursus  matematika,  sempoa, Bahasa Inggris,  Bahasa Mandarin, kursus baca tulis, juga balet dan  kursus sepak bola, mulai dari anak-anak balita. “Latihannya  di lapangan bola futsal. Semuanya untuk anak-anak balita usia TK,”jelas Aretha, sambil menambahkan, “Untuk unit usaha ‘Daycare’ mulai usia 2 bulan sampai usia SD. Kita sudah biasa terima anak  kelas 3 SD dan 4 SD. Jadi ketika pulang sekolah mereka ke sini. Anak lebih mandiri,”.

Bahkan ada anak yang datang dalam kondisi masih tidur  dan lanjutkan tidurnya disini  sebelum mandi.  Di sini tersedia banyak tempat tidurnya. Tiap anak masing-masing dengan kasurnya tersendiri.

Anak yang masih mengenakan pampers akan diajarkan mulai belajar toilet training untuk  melatih kemandiriannya. Karena rata-rata anak-anak di sini dari bayi-bayi sampai sekolah (TK). Tak sedikit dari mereka yang tadinya ambil layanan daycare kemudian berlanjut terus hingga mengambil kelas pre school. Betul-betul sekolah menjadi second home. “Harus menjadi second home agar dipercaya orangtua. Orang tua nyaman, tenang, jadi mereka bisa terus di sini,”ujar Aretha.

Tak heran bila usaha daycare nya banyak diminati masyarakat sekitar. Pasalnya, dari fasilitas memandikan anak, ada pengasuh yang menyediakan makan dan kalau bayi yang  masih minum ASI, orangtuanya bisa  bawa ASI dari rumah. Kita ada tempat penyimpanan ASI khusus, jadi nanti kami yang berikan. Kalau sudah tidak ASI biasanya orangtua membawa susu masing-masing kebutuhan anaknya. Disini mereka ada loker  masing-masing. Disediakan juga  loker mandi  dengan nomor masing-masing.  Untuk yang sudah besar,  minimal sudah 1 tahun, mereka mengambil embernya sendiri. Mereka diajarkan mandiri dari kecil. Mereka sudah tahu embernya yang mana, jadi teratur,”paparnya.

Adapula  dapur kering  untuk menyiapkan makanan mereka. Sedangkan sajian menu yang diberikan bagi anak-anak disuplay dari restoran yang posisinya berdampingan dengan gedung sekolah, daycare dan tempat kursus ini  yang tak lain juga masih satu kepemilikan dengan Little Avery. Jadi kalau pagi dari restoran itu yang menyiapkan makanan untuk anak-anak daycare.  Aretha menyebutnya,  “One Stop Solution”.

Tak dipungkiri di zaman sekarang, bekerja dan punya anak menjadi dilemma bagi sebagian masyarakat yang bekerja di luar rumah. Kondisi merupakan potensi besar buat usaha  daycare.

Saat ini Little Avery ada di lingkungan pemukiman, lokasinya sudah dipertimbangkan cukup strategis dan kebetulan banyak  kawasan perkantoran juga. Memang ada juga daycare yang berada di dalam  mall dan ruko-ruko. “Kami lihat  daerah ini berkembang terus, banyak perumahan, tentunya analisa kami, perumahan-perumahan baru seperti ini banyak ditempati pasangan muda yang tentunya punya anak-anak usia daycare dan perlu sekali keberadaan daycare. Dan akses lokasi kami strategis dari wilayah pemukiman seperti Jati Asih, Kranji, Pekayon sampai daerah Summarecon Bekasi,” cerita Aretha seraya menambahkan, “Faktor kepercayaan juga yang membuat usaha ini jalan. Kalau orangtua  percaya, meskipun  jauh, mereka tetap pilih tempat ini,”.

Tak mudah membangun kepercayaan customer. Demikian halnya mengelola usaha seperti daycare karena resikonya menjaga anak. Tapi yang terpenting menurut Aretha adalah komunikasi dua arah. “Sebetulnya komunikasi orangtua di daycare itu hanya satu pintu dari saya. Karena semua pengasuh dan staf tidak boleh memegang HP selama aktivitas. Kami harus fokus jaga anak. Saya usahakan sedapat mungkin saya tangani langsung. Saya pegang handphone dua.  Komunikasi itu penting sekali buat kami. Sejak awal mereka komunikasi sama saya dan saya membebaskan mereka untuk bertanya apa saja. Bahkan, di luar jam daycare. Di  malam  hari pun mereka boleh tanya pada saya. Mungkin faktor-faktor itu yang menunjang mereka percaya kepada kami. Saya selalu open jam berapa saja,  sekalipun week end. Misalnya ada problem anaknya  nggak mau makan, gimana kami cari solusi bareng,”ungkap Aretha.

Di Little Avery juga ada psikolog  yang memungkinkan  kapan saja orangtua butuh konsultasi bisa dilakukan.  Adapula  dokter rekanan dari  klinik dan rumah sakit yang berada di sekitar daycare.

Standar operasional yang berlaku di sekolah ini bagi anak-anak daycare juga antara lain, setiap anak yang baru datang sampai di Little Avery harus ganti  baju bersih dulu. Demikian juga dengan pengasuhnya harus benar-benar steril. Apalagi di masa pandemic seperti sekarang. “Karyawan kalau sudah masuk tidak boleh keluar lagi. Karena semua makanan kita dapat di sini. Makan siang, makan pagi.  Jadi karyawannya langsung standby di dalam. Terutama untuk menjaga protokol kesehatan. Semuanya harus di dalam sampai jam kantor selesai,”papar Aretha.

Dengan mengusung konsep “One Stop Education Center”,  Dari awal Little Avery tak hanya hadir menawarkan jasa penitipan anak saja, namun berkomitmen memberikan yang terbaik bagi pendidikan anak-anak, khususnya anak-anak usia 1 tahun (yang sudah bisa berjalan-red) hingga usia anak 6 tahun dengan menghadirkan Pre School and Kindergarten yang resmi terdaftar di Dinas Pendidikan.

Dalam hal ini,  lanjut Aretha,   Pre school dan Kindergarten Little Avery menggunakan metode Montessori. Di mana tak hanya menggunakan Kurikulum Montessori untuk kebutuhan pendidikan anak, tapi  di Little Avery mengadopsi semua peralatannya juga untuk kegiatan belajar. Seperti untuk aktifitas yang  melatih kemampuan motorik kasar dan motorik halus anak, karena diusia dini kemampuan motorik ini menjadi awal untuk pengembangan kemampuan yang lainnya, seperti kemampuan sensorik dan kemampuan berpikir. “Oleh karenanya, Little Avery memiliki beberapa ruangan main bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan motorik kasar, yakni yang kami sebut Gym Room dan Ball Pool. semua bahan baku yang digunakan merujuk ke standar yang berlaku di Montessori,”tambahnya.

Melalui metode Montessori anak-anak akan belajar secara individu maupun kelompok, untuk menemukan dan menggali pengetahuan yang ada di dunia sekitarnya dan mengembangkan potensi  lebih maksimal. Demikian juga dengan para pengajarnya yang  dibekali training Montessori secara berkala,

Bagaimana bisnis daycare nya di masa pandemic?  Aretha menjelaskan, sebelum pandemic  jumlah member bulanan mencapai 40 anak. Di samping itu ada member mingguan dan harian. “Kalau sewaktu-waktu kalau orangtuanya sedang perlu meeting  dan bisa ditinggal sebentar, mereka bisa ambil yang harian dengan hitungan 12 jam terhitung mulai jam 6 pagi sampai jam 18.00 sore. Perlakuannya juga sama, tetap makan tiga kali, snack buah dan semua fasilitas sama,”ujarnya seraya menyebutkan total  member ada sekitar 90-an orang termasuk kelas pre school dan kelas kursus.

Untuk  mereka yang menjadi member daycare sekaligus  pre school akan diberikan diskon khusus. Jadi ada potongan harga yang cukup besar.  “Itu macam-macam menurut usia anak.  Baby lebih mahal. Rata-rata hargaa  Rp2 juta hingga Rp3 juta untuk segmen bayi di bawah 1 tahun. Angka itu tidak termasuk biaya makan. Rasio pengasuhannya lebih sedikit,  1 pengasuh pegang 1 bayi. Kalau pun ada penambahan, mungkin anak besar. Jadi 1 bayi dan 1 anak usia 4 -5 tahun . Sebelum pandemic jumlah member mencapai 39 anak. Dari 39 member, 5 sampai 7  diantaranya adalah bayi,”kata Aretha seraya memaparkan biaya di sekolah Little Avery yang berkisar Rp 7 sampai Rp13 jutaan/semester.

Di masa pandemic seperti sekarang  diakuinya jumlah member yang dititipkan  mengalami penurunan. Saat ini  tak sedikit yang menitipkan anak dengan sistem bayar harian.  

Diakuinya hingga saat ini  Little Avery belum ada cabang. Tak menutup kemungkinan  ke depannya  akan membuka cabang di tempat lain. “Semuanya inline pendidikan usia dini. Jadi satu paket makanya kami mengistilahkan one stop education center,”tutur peranakan Ambon, Maluku ini yang berencana suatu hari membuka usaha terapi anak berkebutuhan khusus.[]Siti Ruslina