Batik Lasem Bertahan di Tengah PPKM Darurat

Omzet batik Lasem selama pandemi  tergerus mencapai 60%.  Bahkan, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sejak 3 Juli lalu,  membuat omzet terjun bebas tinggal 10%. Apakah Batik Lasem Pusaka Beruang mampu bertahan?

Anda mungkin mengenal Kecamatan Lasem, Kabupaten, Rembang, Jawa Tengah? Di sini pusat kerajinan batik cukup kondang dengan karya batik tulis Lasem. Sedikitnya di kecamatan itu terdapat sekitar 125 pelaku usaha batik tulis dengan melibatkan tak kurang 5000-an pecanting batik.

Dalam beberapa literatur batik yang terdapat di museum batik nasional, batik Lasem disebutkan sebagai salah satu varian klasik atau pakem dangan pola dan corak warna yang khas yaitu paduan warna berani dan mencolok dengan motif-motif beraneka macam dan khas tetapi tetap indah serta elegan.

Batik itu populer dengan sebutan batik tulis kendoro kendiri atau batik Pesisiran Laseman. Batik ini berbeda dengan batik Jogya atau Solo yang sangat baku pada pakem keraton yang motifnya eksklusif dan khusus bagi golongan ningrat. Batik Laseman sangat liat bercirikan egalitarian. Batik ini lebih terbuka atau umum penggunaannya bagi segala kalangan atau lapisan masyarakat. Konon perkembangan batik Laseman dipengaruhi oleh unsur-unsur seni dan budaya negeri seberang, yaitu Tiongkok dan Campa.

Batik Tulis Lasem memiliki nilai sejarah tinggi bagi masyarakat kota Rembang. Sudah ada berkat kedatangan  Laksamana Cheng Ho  ke Indonesia pada tahun 1413.  Batik Tulis Lasem dirintis pertama kali oleh Puteri Na Li Ni, istri Bi Nang Un, seorang nakhoda kapal dalam armada Cheng Ho. Dari situ batik lasem mulai dikenal di Indonesia, sampai mendapat sebutan ‘batik’ encim-encim karena memang zaman dulu banyak digunakan wanita keturunan Tionghoa.

Salah seorang pengusaha Batik Tulis Lasem yang terkenal itu adalah Santoso Hartono, pemilik Batik Tulis Pusaka Beruang. Sudah tiga generasi keluarga Santoso (keturunan Djie Siaw Huwie) menjalani usaha membatik. 

Menurut Santoso, salah satu motif batik Lasem yang terkenal adalah batik motif tiga negeri. “Batik nya bolak-balik, diwarnai lagi, dilorot dan diwarnai lagi. Untuk membuat motif batik tiga negeri yang benar, dilakukan proses 21 kali langkah dengan 4 kali ‘pelorotan’. Yang aslinya, dari warna merah, biru, hijau baru setelah itu coklat. Setiap pengrajin memberikan desain yang berbeda-beda. Masing-masing pengrajin memiliki ciri yang berbeda-beda. Nantinya akan ketahuan batik mana buatan siapa. Dibedakan berdasarkan pewarnaannya. Kalau pelanggan kami biasanya tahu,”jelasnya.

Sejak Indonesia dilanda Covid-19 pada Maret sampai Mei tahun lalu, lanjut Santoso, penjualan turun 60 persen. Pada saat itu diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Padahal sebelum pandemi omzet batik Lasem merek Pusaka Beruang mencapai Rp350 juta perbulan. Baru Juni tahun lalu, omzetnya bergerak berkisar Rp 150 juta-an/per bulan

Anjloknya penjualan batik Pusaka Beruang karena selama setahun tidak ada pameran. Santoso menambahkan, justru penjulan terbesar di saat ada pameran. “Pusaka Beruang setiap ada pamaeran batik di Jakarta selalu ikut. Selama setahun bisa beberapa kali ikut pameran di berbagai kota,” kata Santoso seraya menambahkan tahun 2020 lalu tidak ada pameran yang digelara satu pun.

Walaupun tahun lalu, lanjut Santoso, pernah ikut pameran virtual, tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Konsumen kita membeli batik masih lebih suku dengan cara offline. Konsumen bisa langsung memegang batik dan sekaligus mencocokan dengan postur tubuhnya.

Lebih lanjut ditambahkan, selama pandemi ini mencoba melakukan pemasaran digital melalui media sosial. Tapi, hasilnya belum sesuai harapan. Meskipun produk Pusaka Beruang ada di beberapa platform e-commerce, tapi tidak juga mendongkat omzet penjualan. “Penjualan melalui e-commerce hanya sekitar 10-20%, sisanya melalui penjualan offline.

Santoso menambahkan, sebelum pandemi Covid-19 karyawannya mencapai 500 karyawan, tapi saat diberlakukannya PSBB, terpaksa dipangkas  tingga 350 karyawan. Namun demikian, mulai Juli tahun lalu, pemerintah memberlakukan new normal (kebiasaan baru), sehingga mulai ada beberapa wisatawan domestik berkunjung ke Lasem.

“Posisi Lasem dinilai strategis yang berada di jalur Pantura, sering dikunjung wisata untuk membeli batik. Kebetulan saya punya toko yang posisinya cukup strategis di Lasem,” katanya kepada pelakubisnis.com. minggu ketiga Juli lalu.

Selama pandemi ini, kata Santoso, berusaha menyelamatkan pekerja di rumah-masih-masing. Sebab bila mereka tidak bekerja membatik di rumah, kemungkinan mereka bisa terkena Covid-19, karena harus keluar rumah mencari nafkah.  “Bersyukur selama ini karyawan saya tidak ada yang meninggal karena Covid-19,” katanya serius.

Perlu diketahui, menurut Santoso, di masa pandemi ini, ibu-ibu pecanting batiklah yang bisa menghidupkan keluarganya. Sementara para suami bekerja serabutan karena sulit mendapat pekerjaan. Apalagi sawah di Kecamatan Lasem merupakan sawah tadah hujan, sehingga tidak menentu waktu tanam dan panen.

Memasuki Maret sampai Mei 2021, lanjut Santoso, omzet bergerak berkisar Rp 200 juta. “Tapi ketika diberlakukan PPKM Darurat selama 20-an hari, omzet baru mencapai Rp30 juta. Meskipun omzet anjlok, tapi selama PPKM darurat ini dipertahankan tidak mengurangi karyawan,” urainya serius.

Pasalnya, bila mengurangi karyawan akan menimbulkan dampak negatif, karena kehilangan penghasilan. Belum lagi bila kondisinya sudah normal, kalau sampai mengurangi karyawan, nantinya akan sulit lagi untuk mencari karyawan baru. Istilah peribahasa “habis manis sepah dibuang”. Ia tak ingin hal itu terjadi.

Untuk mengatasi dilema seperti itu, kata Santoso, terpaksa menjual batik dengan harga diskon. “Selama pandemi semua produk batik keluaran Pusaka Beruang didiskon mencapai 30 sampai 40 persen dari harga jual,” katanya serius. Sebagai catatan harga normal batik Pusaka Beruang berkisar dari harga Rp 120 ribu sampai Rp 1 juta-an.

Santoso menambahkan, selama pandemi ia sempat melakukan diversifikasi produk dengan membuat masker berbahan batik. Namun demikian, strategi ini pun tak mampu menderek omzet. “Itu kerjaan anak saya membuat masker, tidak bisa diandalkan untuk meningkatkan omzet,” katanya.

Beruntung pemerintah daerah (Pemda Rembang) membudayakan memakai batik di Kabupaten Rembang cukup berhasil. Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sana memakai batik sedikitnya  empat hari dalam seminggu. Bahkan, pegawai swasta di sini juga menggunakan batik sebagai seragam kerja.

Langkah itu diambil, menurut Santoso, untuk memperlancar cash flow perusahaan. Yang penting produksi terus berjalan, walaupun sampai babak belum selama menghadapi pandemi. Tapi beruntung kewajiban membayar utang ke bank tetap berjalan. Meskipun pihak bank menawarkan mekanisme pembayaran utang hanya cicilan pokok utang. Tapi, nantinya sama saja, bunga akan dihitung dikemudian hari.

“Saya bilang sama pihak bank tidak mau di reschedule. Lebih baik saya ‘batuk-batuk’ (tertatih-tatih-red). Saya hanya minta menunda waktu pembayaran di akhir bulan. Misalnya jatuh tempo pembayaran cicilan utang awal bulan, saya minta pembayaran dilakukan pada akhir bulan,” tambahnya.

Lebih lanjut ditambahkan, beberapa waktu lalu ada bank BUMN yang menawarkan pinjaman bunga lunak. Tawaran itu diambil untuk menutupi  utang-utang sebelumnya. Selain itu diikutsertakan dalam pameran yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Mendapat pelatihan, diantaranya membuat design product dan mendapat bantuan mesin jahit.

Rencananya bila tidak ada aral melintang, Lasem menjadi kota fesyen pada tahun 2022. Bila hal terwujud, boleh jadi fenomena itu bisa merubah perwajahan industri batik di Lasem. Itu sebabnya, kata Santosa, secara perlahan-lahan ia mulai melakukan diversifikasi produk. Artinya membuat batik Lasem menjadi produk-produk fesyen. “Walaupun saat  ini belum berjalan, tapi sudah dipersiapkan jauh-jauh hari,” katanya serius.

Rencananya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan membangun show room bersama di atas lahan seluas 5000 meter.  Pasalnya, Lasem akan dikembangkan sebagai salah sutu ‘desa wisata, di Kabupaten Rembang. Di situ akan dijual multi produk khas Lasem, diantaranya batik tulis Lasem. Bila rencana tersebut terealisasi pada tahun depan, kata Santoso, maka batik Lasem akan lebih dikenal.

Menurut Santoso tahun ini bisa bertahan saja sudah bagus. Apalagi Covid-19 varian delta yang penyebarannya begitu cepat, membuat kunjungan wisata belum bisa diharapkan maksimal. Sementara pameran-pameran belum berani digelar secara offline, sehingga untuk bisa bertahan saja di tahun ini sudah bagus.. Kita tunggu kapan melandainya Covid-9, sehingga bisa kembali ke era new normal.

Bahkan, mudah-mudahan setelah program vaksinasi pemerintah mencapai 70% penduduk Indonesia yang divaksin, maka akan tercipta herd immunity (kekebalan imunitas), dan kehidupan sosial masyarakat kembali normal. Batik Lasem pun bisa menggeliat kembali. [] Yuniman Taqwa/Siti Ruslina/Foto utama: pelakubisnis.com