Kisah UMKM Yayasan Astra Dwiyono Menyulap Limbah Kulit Telur Menjadi Karya Seni

Gegara menginjak kulit telur  Teguh Joko Dwiyono  terjun menjadi pebisnis dan mendirikan Wayang Art yang produk kriyanya sampai ke mancanegara dari Asia, Eropa hingga Amerika. Setidaknya ia pernah mengirim produk kriya berbasis kulit telur hingga 2 kontainer  berukuran 20 feet  dengan nilai ratusan juta rupiah.

Owner Wayang Art, Teguh Joko Dwiyono bersama koleksi hiasan dinding karyanya yang terpajang di Hotel Ascott Menteng Jakarta/Foto Ist

Seperti biasanya selalu ada sessi menarik di momen Halal Bihalal Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) Bersama Pewarta dan Cotent Creator yaitu sessi Workshop dimana para undangan ditantang  membuat  sebuah karya seni.  Halal Bihalal tahun ini mengambil tema “Merajut Cahaya Silaturahmi Melalui Kreasi Limbah” Yayasan Astra – YDBA mengundang  UMKM binaannya, Owner Wayang Art, Teguh Joko Dwiyono.  .

Hari itu para pewarta ditantang membuat suatu karya seni dengan medium frame foto. Dan tiba-tiba saja di depan meja masing-masing pewarta disodorkan piring steroform, lem, koas, frame foto dan kulit telur. Sesaat riuh, beragam reaksi para pewarta namun semua terlihat gembira dan terkesan. Teguh Joko Dwiyono dan tim Wayang Art  pun dengan sabar mendampingi dan mengajarkan para pewarta berkreasi membuat karya seni. Tak hanya kulit telur, kini Pak Dwi, demikian sapaan akrab pria 71 tahun ini, juga memakai limbah plastik kresek menjadi suatu karya seni seperti lukisan dan hiasan dinding lainnya.

Kisahnya  bermula dari suatu momen yang sangat sederhana di tahun 1995. Tak sengaja Pak Dwi menginjak kulit telur di dapur. Dari kejadian kecil itu, lahir sebuah intuisi yang kemudian mengubah jalan hidup Pak Dwi yang sebelumnya menjadi pengrajin  dan konsultan interior.Gegara menginjak kulit telur, ia menjadi pelaku usaha kreatif.

Sebelum terjun ke dunia usaha, ia bekerja sebagai konsultan interior.  Pun latar belakang pendidikannya bukan dari jurusan bisnis, melainkan teknik sipil, sehingga perjalanan kewirausahaannya dimulai tanpa bekal manajerial yang kuat.. Hal itu yang membuatnya sempat jatuh terpuruk merugi.

Sekitar tahun 1995, ia mulai bereksperimen dengan kulit telur sebagai bahan kerajinan. Proses ini tidak instan—dibutuhkan waktu dua tahun penuh untuk mencoba, gagal, dan menyempurnakan teknik. Masa eksperimen itu bertepatan dengan masuknya  krisis moneter 1998, ketika banyak pekerja terkena PHK. Ia pun kemudian merekrut dan melatih mereka untuk ikut memproduksi kerajinan dari kulit telur. “Hasil dari pelatihan dari mereka saya pamerkan di Pameran Festival. Hasil kreasi mereka saya bayar. Ternyata di pameran itu produk kami booming. Ada pesanan dari New Zealand, itu juga bikin kita kaget,”ungkap Pak Dwi.

Tak disangka, produk berbahan kulit telur justru menarik perhatian pasar internasional.  Bahkan, pesanan datang dari luar negeri seperti Selandia Baru. Namun, keberhasilan mendadak itu justru menjadi boomerang.  Tanpa pemahaman bisnis, ia menerima semua pesanan yang masuk. Akibatnya, produksi tidak mampu memenuhi permintaan dan banyak komplain dari pelanggan. Dalam waktu singkat, usaha tersebut mengalami kerugian besar. Modal habis, reputasi terganggu, dan bisnis nyaris runtuh.

Lukisan dari limbah plastik kresek karya anak TK binaan Pak Dwi yang dijual dengan harga Rp100 ribu/Foto: Ist

Titik balik terjadi ketika ia bergabung dengan YDBA pada tahun 2000. Di sinilah ia mulai belajar dasar-dasar bisnis secara serius. “Disitulah saya mulai ikut pameran PPE (Pameran Produk Ekspor). “Alhamdulillah saat itu langsung dapat pesanan dari Amerika, kemudian ke London dan beberapa negara lain,”kenang  alumni  Fakultas Teknik Sipil IKIP Karangmalang, yang kini berubah menjadi universitas Negeri Yogyakarta.   

Menurutnya menjadi UMKM binaan YDBA tak hanya direkrut lalu ditinggal. Tapi ia diberikan banyak ilmu bisnis melalui program pelatihan.  Pelatihan yang diikuti mencakup manajemen keuangan, produksi, pemasaran, hingga kepemimpinan. Ia juga aktif membaca dan belajar mandiri. Perlahan, ia mulai memahami bahwa produk bagus saja tidak cukup. Bisnis membutuhkan sistem, strategi, dan disiplin.

Setelah mendapatkan pembinaan dan pendampingan, ia kembali mengikuti pameran-pameran melalui akses Yayasan Astra – YDBA. Ia berhasil menembus pasar internasional, mengirim produk ke Amerika, London, dan berbagai negara lain.

Bahkan, dalam pameran di Jerman yang diikuti ratusan negara, produknya menjadi satu-satunya yang berbahan kulit telur. “Saya ikut pameran di Jerman. Ada 135 negara peserta pameran  (exhibitor). Akhirnya saya beberapa kali ikut pameran di Jerman, selalu sold out. Saya juga ke Singapura, Brunei Darussalam, Maroko dan lain-lain,”tukas seniman yang sekarang ini lebih banyak menghabiskan waktunya mengajar tentang inovasi produk berbasis limbah kulit telur dan plastik ke banyak daerah di Indonesia.  “Saya buka kelas gratis juga. Jadi siapapun yang ingin belajar bagaimana mengolah kulit telur maupun plastik, itu saya kasih free,”tambah Pak Dwi.

Produk-produk karya seninya  laris terjual dan membuatnya kembali percaya diri untuk berkembang. Ia bahkan beberapa kali mengikuti pameran internasional. Kapasitas produksi meningkat, dengan puluhan karyawan yang sebagian besar adalah mantan korban PHK.

Ia juga membangun sistem produksi, termasuk bekerja sama dengan pengrajin di Pleret, Bantul Yogyakarta,  untuk mendukung bahan dasar produknya.

Salah satu kunci keberhasilannya adalah inovasi desain. Ia memastikan produknya selalu berbeda dan mengikuti tren, tanpa kehilangan ciri khas. “Limbah saya olah sedemikian rupa, saya jadikan satu karya seni yang bisa dijual Rp100 hingga Rp200 ribu. Dari 5 kantong kresek saja itu punya nilai tambah tinggi,”papar pengrajin yang pada Hari Ulang Tahun Jakarta Ke-497 mengumpulkan 497 orang tanpa basic pendidikan formal apalagi seni, mengajak mereka  berkarya bersama mengolah limbah plastic menjadi karya seni yang bernilai tinggi.

Selain itu, ia sangat memperhatikan kualitas produk. Ia melakukan eksperimen ekstrem, seperti menguji ketahanan produk terhadap kelembaban dan suhu. Bereksperimen selama 2 tahun  untuk kesiapan menciptakan produk yang diminati pasar ekspor. “Saya berpikir kalau ada pesanan dari luar negeri bagaimana ya? Produk saya harus bisa bertahan di negara 4 musim,”ungkap Pak Dwi yang produk-produknya sudah terpajang di galeri di luar negeri.

Upaya tersebut membuahkan hasil dimana produknya mampu menembus pasar luar negeri dengan standar tinggi, bahkan memiliki galeri khusus di Amerika. Setidaknya ia pernah mengirim hingga 2 kontainer truk berukuran 20 feet bernilai sekitar Rp150 juta.”Saya berjalan sampai sekitar 8 tahun buyer masih repeat order terus. Saat itu saya sampai merekrut sekitar 30-an orang,”tukasnya.

Produk-produk eksklusifnya dijual dengan sistem penomoran, menambah nilai artistik dan eksklusivitas di mata pembeli.

Namun, seiring waktu, permintaan mulai menurun. Beberapa tahun sebelum pandemi, ia memutuskan untuk mengurangi aktivitas ekspor dan fokus ke pasar lokal.

Di fase berikutnya, ia mulai beralih ke pengolahan limbah plastik, khususnya kantong kresek, menjadi karya seni bernilai tinggi. Dari bahan yang tidak bernilai, ia mampu menciptakan produk dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Baginya, ini bukan hanya bisnis, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Ia aktif mengajar masyarakat secara gratis, mulai dari anak-anak hingga lansia, untuk mengolah sampah menjadi produk bernilai.

Metode yang ia kembangkan sederhana dan mudah diterapkan, sehingga bisa dilakukan oleh siapa saja. Ia juga bekerja sama dengan berbagai lembaga untuk mengadakan pelatihan dan pameran, sekaligus mendorong gerakan sadar lingkungan.

Kini, fokusnya tidak lagi semata pada keuntungan, melainkan pada pemberdayaan dan keberlanjutan. Ia ingin ilmunya diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari kulit telur hingga limbah plastik, perjalanan ini menunjukkan bahwa kreativitas, ketekunan, dan pembelajaran dari kegagalan dapat mengubah hal sederhana menjadi peluang besar. “Orang jangan pelit ilmu, itu satu. Kedua, bagaimana kita menjadi  orang yang bermanfaat buat orang lain, itu yang paling utama. Duit itu gak usah dicari nanti dia datang sendiri. Saya memberikan kelas gratis dan tanpa saya sadari itu jadi market juga. Orang lihat lukisan kita bagus. Jadi kita tidak usah khawatir tapi ya memang kita harus punya sesuatu,”. []Siti Ruslina