Narasi Industri TPT Sunset, Harus dibalik Menjadi Industri Sunrise
Narasi lama yang menyebut industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) sebagai “sunset industry” merupakan narasi keliru dan justru harus dibalik menjadi “sunrise industry”. Buktinya, industri TPT sepanjang tahun 2025 mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,55% (year-on-year), dengan nilai ekspor mencapai USD12,08 miliar.
Tahun 2026 dibuka dengan berbagai tantangan, mulai dari ketegangan geopolitik hingga perubahan rantai pasok dunia. Namun, di tengah tekanan tersebut, industri tekstil tetap berdiri sebagai salah satu sektor strategis yang tangguh. Industri ini tidak hanya berperan sebagai penggerak manufaktur, tetapi juga sebagai tulang punggung ekonomi yang menyerap jutaan tenaga kerja dan menghubungkan rantai nilai dari hulu hingga hilir.
Pasalnya, selama puluhan tahun, Indonesia telah membangun ekosistem tekstil yang terintegrasi. Mulau dari produksi serat, benang, kain, hingga produk jadi. Kini, di tengah persaingan global yang semakin ketat, transformasi menjadi kunci utama. Perusahaan-perusahaan mulai berinvestasi pada teknologi, meningkatkan efisiensi produksi, serta mengadopsi praktik berkelanjutan demi menjawab tuntutan zaman sekaligus mempersiapkan masa depan industri.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan , narasi lama yang menyebut industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) sebagai “sunset industry” merupakan narasi tersebut keliru dan justru harus dibalik menjadi “sunrise industry”.
“Dengan kebijakan yang tepat dan sinergi antara pemerintah dan industri, sektor TPT Indonesia berhasil menunjukkan kebangkitan dan potensi pertumbuhan yang kuat,” kata Agus dalam pembukaan pameran Indo Intertex – Inatex 2026, yang berlangsug pad 15/4 lalu.
Menurutnya, kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan pertumbuhan mencapai 5,11% pada tahun 2025. “Sektor industri pengolahan bahkan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,30%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir,” ungkap Agus.

Agus menegaskan, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 19,07% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, serta mendominasi ekspor hingga 84,89% dari total nilai ekspor nasional. Selain itu, sektor ini telah menyerap tenaga kerja sebanyak 20,31 juta orang, yang menunjukkan peran strategisnya dalam perekonomian nasional.
Di tengah tantangan global, kinerja industri manufaktur tetap menunjukkan ketahanan. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Maret 2026 yang berada di level 51,86 atau masih berada pada fase ekspansi.
Khusus untuk industri TPT, sepanjang tahun 2025 mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,55% (year-on-year), dengan nilai ekspor mencapai USD12,08 miliar serta surplus sebesar USD3,45 miliar, yang terutama disumbang oleh ekspor pakaian jadi.
Sementara itu, dari sisi investasi, sektor industri TPTP mampu menarik investasi sebesar Rp20,23 triliun, serta menyerap tenaga kerja sebanyak 3,96 juta orang atau sekitar 19,48% dari total tenaga kerja di sektor industri pengolahan.
“Dari kinerja tersebut, industri TPT juga mencerminkan masih terjaganya kepercayaan dari pihak investor untuk membawa investasinya ke Indonesia di tengah ketidakpastian geoekonomi dan geopolitik global saat ini,” ungkapnya.
Namun demikian, lanjut Agustus, industri TPT masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti kenaikan harga bahan baku global, disrupsi rantai pasok, serta dinamika permintaan pasar internasional. Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha untuk merumuskan langkah antisipatif yang tepat dan terukur.
“Pemerintah terus mencermati perkembangan situasi global, termasuk dinamika perdagangan internasional, perubahan struktur rantai pasok, serta kebijakan negara-negara mitra dagang,” ujar Menperin.
Menurutnya, penyelenggaraan Indo Intertex – Inatex 2026 menjadi sangat strategis karena juga sebagai platform business matching yang mempertemukan pelaku industri nasional dan internasional, sekaligus membuka peluang kemitraan dan investasi.
“Pameran ini tidak hanya menjadi ajang untuk menampilkan inovasi, tetapi juga sebagai wadah kolaborasi yang dalam pandangan pemerintah merupakan hal positif. Lebih dari itu, pameran ini dapat menunjukkan kepada masyarakat, baik di dalam negeri maupun global, sebagai platform yang menumbuhkan optimisme bahwa industri TPT masih menjadi sektor sunrise,” imbuhnya.
Lebih lanjut ditambahkan, Kemenperin berkomitmen menjaga dan memperkuat pertumbuhan industri TPT melalui kebijakan strategis, antara lain menjaga dan memperluas akses pasar domestik maupun ekspor, serta mengawal pemberian fasilitas fiskal dan nonfiskal guna meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan transformasi industri dari hulu hingga hilir.
Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, langkah ke depan difokuskan pada penguatan fundamental industri melalui akselerasi adopsi teknologi industri 4.0, penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability), serta pengembangan produk bernilai tambah tinggi yang mampu memenuhi standar global dan memperluas pasar ekspor.
Dalam konteks global, pergeseran rantai pasok akibat dinamika geopolitik dan diversifikasi basis produksi membuka peluang relokasi investasi dan kemitraan strategis. Tren ini juga diperkuat oleh meningkatnya permintaan terhadap produk tekstil berkelanjutan.
Menperin pun menekankan pentingnya menjaga optimisme di tengah ketidakpastian global. “Kami meyakini bahwa kondisi geopolitik dan ketidakpastian pasar ini tidak akan berlangsung lama. Oleh karena itu, optimisme menjadi penting. Pelaku industri yang mampu bertahan dan resilien akan lebih cepat bangkit dan melesat ketika situasi kembali normal,” tegasnya.
Momentum ini dinilai perlu dimanfaatkan secara optimal melalui penguatan kerja sama perdagangan internasional guna memperkuat posisi industri nasional dalam rantai pasok global. “Pemerintah akan terus hadir sebagai mitra strategis bagi pelaku industri TPT nasional dalam menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada,” pungkasnya.
Sementara Direktorat Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional hingga saat ini masih beroperasi secara relatif stabil, meskipun dihadapkan pada dinamika global yang memengaruhi harga dan ketersediaan bahan baku.
“Kami terus mencermati fluktuasi harga bahan baku global yang berdampak pada industri TPT nasional, dengan memperkuat koordinasi untuk menjaga ketersediaan bahan baku dan kelancaran rantai pasok,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/4).

Dalam rapat koordinasi bersama asosiasi industri dan pelaku usaha, teridentifikasi bahwa tekanan utama saat ini berasal dari kenaikan harga bahan baku berbasis energi yang terjadi secara global. Harga paraxylene (PX) domestik, misalnya, mengalami kenaikan sekitar 40 persen mengikuti pergerakan harga internasional. Di sisi lain, pasokan bahan baku kimia seperti monoethylene glycol (MEG) masih dalam kondisi aman hingga April, meskipun untuk periode setelahnya masih memerlukan pemantauan lebih lanjut.
Kenaikan harga tersebut secara alami berdampak pada struktur biaya di sepanjang rantai produksi, mulai dari industri hulu hingga hilir. Hal ini pun turut memengaruhi harga kain dan produk intermediate, serta biaya komponen pendukung seperti kemasan berbasis plastik. Selain itu, dalam beberapa kasus juga ditemukan adanya penyesuaian pada aktivitas ekspor, termasuk retur barang akibat dinamika pasar global.
Namun demikian, industri nasional menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik. Pelaku usaha tetap menjaga keberlangsungan produksi melalui pengelolaan stok, penyesuaian strategi pengadaan, serta penguatan koordinasi dengan pemasok bahan baku. Permintaan domestik juga masih menunjukkan aktivitas, sementara peluang ekspor tetap terbuka seiring dengan perubahan kondisi di negara pesaing.
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Rizky Aditya Wijaya mengatakan, dalam penguatan struktur industri, keberadaan serat rayon sebagai produk berbasis sumber daya alam dalam negeri menjadi salah satu penopang penting dalam menjaga keseimbangan industri.
“Di tengah tekanan pada bahan baku berbasis petrokimia seperti polyester, pemanfaatan rayon yang diproduksi di dalam negeri memberikan alternatif bahan baku yang kompetitif sekaligus memperkuat kemandirian industri,” ujarnya.
Rizky menuturkan, sinergi antara serat alam dan serat sintetis ini menjadi bagian dari strategi adaptasi industri nasional dalam merespons dinamika global, sekaligus menjaga keberlanjutan produksi di sektor hilir.
“Industri TPT kita memiliki fondasi yang kuat, baik dari sisi struktur, pasar domestik, maupun pengalaman menghadapi berbagai siklus global. Dengan langkah antisipatif yang terukur dan kolaborasi yang erat, kami optimis industri ini akan tetap tumbuh dan semakin resilien,” pungkasnya[] Yuniman Taqwa/Abrar Rizq Ramadhan/Siti Ruslina
