Indo Intertex & Inatex 2026 Memperkuat Ekosistem Industri Tekstil Nasional
Pameran tekstil dan garmen terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara, Indo Intertex & Inatex, akan kembali digelar pada 15–18 April 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pameran ini menghadirkan seluruh rantai nilai industri secara komprehensif, mulai dari mesin, produk tekstil, hingga teknologi printing dan bahan kimia untuk tekstil.
Indo Intertex & Inatex edisi ke-22, ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai ajang industri yang konsisten mendorong inovasi dan kolaborasi di sektor tekstil dan garmen. Event menjadi platform strategis mempertemukan pelaku industri untuk mempercepat pertumbuhan dan transformasi sektor tekstil nasional maupun regional.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmadja mengatakan, tahun 2026 diawali dengan kondisi global yang masih dinamis, ditandai oleh ketegangan geopolitik, disrupsi perdagangan, serta pergeseran rantai pasok.
Jemmy menekankan bahwa di tengah tantangan tersebut, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dituntut untuk semakin efisien, adaptif, dan visioner. Namun demikian, industri ini terbukti memiliki daya tahan yang kuat dan tetap menjadi sektor strategis yang menyerap jutaan tenaga kerja, menopang industrialisasi nasional, serta menghubungkan rantai nilai dari hulu hingga hilir.
Sementara Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam pembukaan Indo Intertex Inatex 2026, menegaskan, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) bukan sekadar sektor manufaktur biasa, melainkan sektor strategis yang memiliki peran besar dalam perekonomian nasional.
Menurut Agus, pelaku industri TPT merupakan mitra strategis pemerintah. Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan dan daya saing sektor ini.
Lebih lanjut ditambahkan, kehadiran berbagai asosiasi industri, pelaku usaha, serta mitra internasional dalam acara tersebut menunjukkan kuatnya jaringan dan komitmen kolektif dalam memajukan industri tekstil. Indo Intertex Inatex 2026 dinilai sebagai ajang strategis yang tidak hanya berskala nasional, tetapi juga global. Pameran ini menjadi ruang penting untuk memperkuat daya saing industri TPT Indonesia.
Boleh jadi Indo Intertex & Inatex berperan memperkuat ekosistem industri tekstil nasional dengan mempertemukan pelaku usaha melalui program business matching yang membuka peluang kerja sama dan transaksi bisnis secara langsung.
Pameran ini turut mendorong masuknya investasi serta pemanfaatan teknologi terkini untuk meningkatkan efisiensi produksi, kualitas produk, dan daya saing di pasar global. Setiap penyelenggaraannya menghadirkan dampak komersial yang nyata, mulai dari potensi transaksi hingga terbentuknya kemitraan jangka panjang yang memperkuat rantai pasok dan memperluas akses pasar.
Untuk itu, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah dan pelaku usaha. Menurut Agus, Tidak ada pihak yang bisa berjalan sendiri dalam menghadapi kompleksitas industri global. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kebijakan yang adaptif dan tepat sasaran, serta melibatkan pelaku usaha dalam proses perumusan kebijakan.
Dengan partisipasi negara-negara ASEAN dan mitra global lainnya, tambah Agus, acara ini memperkuat jejaring kerja sama lintas negara dan membuka peluang kolaborasi strategis. Pada akhirnya, pemerintah menegaskan bahwa masa depan industri TPT Indonesia bergantung pada kolaborasi, inovasi, dan optimisme bersama untuk menghadapi tantangan global dan meraih peluang pertumbuhan.
Momentum positif ini kian menguat seiring penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang memberikan fasilitas tarif impor nol persen bagi produk tekstil dan garmen Indonesia melalui skema tariff-rate quota (TRQ).
Kebijakan ini dinilai mampu meningkatkan daya saing produk nasional di pasar Amerika Serikat yang jauh lebih besar dibandingkan pasar domestik, sekaligus menopang sekitar 4 juta tenaga kerja dan memberi dampak ekonomi bagi hingga 20 juta masyarakat Indonesia. Dengan nilai ekspor saat ini sekitar USD 4 miliar, industri tekstil nasional pun membidik pertumbuhan signifikan hingga sepuluh kali lipat dalam satu dekade ke depan.

Jemmy menambahkan, penerapan tarif nol persen melalui kesepakatan ini memberikan optimisme baru bagi industri tekstil nasional. Akses ke pasar global pun semakin terbuka, sehingga memperkuat daya saing Indonesia di momentum yang tepat.
“Kami berharap ini dapat menjadi titik awal kebangkitan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), dengan mendorong masuknya investasi, meningkatkan kinerja ekspor, serta menggerakkan kembali seluruh ekosistem industri, ” kata Jemmy, pada konperensi pers, pada 8/4.
Sementara Direktur PT Peraga Expo, Paul Kingsen, mengatakan, Indo Intertex dan Inatex hadir untuk menjawab kebutuhan industri secara nyata, mulai dari menghadirkan pemasok yang relevan, menampilkan teknologi yang terpercaya, hingga menciptakan lingkungan bisnis yang mendukung pelaku industri dalam mengambil keputusan secara lebih cepat. “Kami juga melihat kualitas partisipasi yang terus meningkat, seiring dengan fokus pasar pada efisiensi, inovasi, dan manufaktur berkelanjutan,” ujar Paul, pada 8/4
Indo Intertex & Inatex 2026 menghadirkan berbagai inovasi terkini di sepanjang rantai nilai industri tekstil, mulai dari mesin berkelanjutan, produk ramah lingkungan, hingga teknologi daur ulang, efisiensi energi, dan solusi berbasis AI yang mendorong transformasi digital industri.
Selain pameran, berbagai program unggulan turut diselenggarakan, seperti seminar terkait perkembangan industri tekstil, workshop bisnis, serta rangkaian aktivitas interaktif yang dihadirkan oleh para exhibitor dan mitra.
Tahun ini, pameran diikuti oleh 428 perusahaan industri TPT, dengan partisipasi industri dalam negeri mencapai 65%. Sementara itu, keikutsertaan industri permesinan TPT dalam negeri tercatat sebesar 60%, yang menunjukkan kuatnya kontribusi dan kesiapan pelaku industri nasional dalam mendorong pertumbuhan sektor ini.[] Yuniman Taqwa
