Prediksi Landscape Bisnis Tahun 2022
Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan lingkungan bisnis yang terjadi selama pandemi. Perubahan-perubahan bisnis tahun 2022 ini, menjadi hal menarik yang patut dicermati agar kita tetap eksis dengan beradaptasi terhadap perubahan konsumen.
Akhir Desember 2021 Inventure – Alvara melakukan survey terhadap 770 responden di 10 kota utama di Indonesia, yaitu: Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, Palembang, Balikpapan, Banjarmasin dan Denpasar. Dilakukan riset digital monitoring dengan mengumpulkan percakapan-percakapan di media sosial untuk mengetahui sentimen dari berbagai isu di 25 industri di atas. Hasil riset ini diwujudkan dalam laporan berjudul: 10 Megashifts in the 25 Hottest Industries Post-Pandemi.
Inventure, Alvara, Ivosights pada 9 Februari lalu menggelar Indonesia Industry Outlook #IIO2022,yang berlangsung secara virtual. Hal imi dalam rangka turut berkontribusi untuk mengungkap perubahan-perubahan lingkungan bisnis yang terjadi selama pandemi.
Banyak hal menarik yang tersaji dalam hasil survey tersebut. Menurut Yuswohady, Founding Chairman Indonesia Industry Outlook (IIO), ada 10 sektor industri yang dipresentasikan dalam gelaran IIO 2022 ini.
Sektor perbankan, misalnya. Ungkapan “Banking is necessary, banks are not” oleh Bill Gates pada tahun 1994 mungkin menjadi cerminan nyata yang terjadi di era ini. Neo Bank hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut. Tanpa harus memiliki banyak kantor cabang atau asset fisik value layanannya bank konvensional, mereka dapat memberikan value proposition seperti biaya layanan yang relatif rendah dan tampilan user friendly yang digemari millennial zillennials.
Kehadiran neo bank yang mayoritas dari bank kecil (yang kemudian diakuisisi pemain fintech besar) menimbulkan sedikit keraguan pada konsumen. Apakah Neo Bank (Bank Jogo, Aladin, Bank Neo, Line Bank dan lain-lain) cukup aman untuk digunakan?
Berdasarkan hasil survey sekitar 93% mempercayai digital banking yang besar seperti, Livin Bank Mandiri, BRImo, BCA blu dan lain-lain. Ini artinya track record selama puluhan tahun atau ratusan tahun, seperti BRI tidak bisa dipungkiri. Sementara hanya 7% respon yang percaya Neo Bank, seperti Bank Jago, Bank Aladin dan lain-lain.
Sedangkan sekitar 94% responden menyukai digital banking dan hanya 6% respon yang menyukai Neo Bank. Ini merupakan pekerjaan besar Neo Bank untuk meyakinkan konsumen bahwa mereka bisa dipercaya.
Temuan di sektor otomotif juga cukup. Menurut Yuswohady, konsumen diberi pertanyaan dengan dihilangkannya pajak PPnBM 0%, pada 6 bulan ke depan, konsumen akan membeli mobil baru. “Yang menyatakan setuju cuma 29 persen dan 70-an persen tidak membeli mobil baru. Jadi artinya apa, tahun lalu industri otomotif kita bisa dikatakan bangkit karena penjualannya mencapai 800 ribuan mobil, itu cukup besar. Tetapi itu didorong oleh insentif pemerintah PPnBM 0 persen,” katanya.
Namun demikian ketika ditanya apakah akan membeli mobil ketika PPnBM itu dihilangkan? Jawaban responden 70% tidak akan membeli mobil di tahun 2022. Bagaimana kira-kira prospek otomotif tahun 2022?
Sedangkan sektor media ibarat efek ‘Layangan Putus’. Lokal over the top OTT mendapatkan penerimaan yang luar biasa. Berdasarkan hasil survei Inventure-Alvara, menunjukkan 74,2% responden lebih menyukai layanan OTT video dibanding layanan TV kabel, dimana tren konten original lokal semakin deepening terbukti dari hasil riset mengatakan bahwa 81,4% responden tertarik menonton konten original lokal serta 80% responden tertarik berlangganan OTT lokal yang lebih banyak menyediakan konten lokal.
Beberapa produk OTT lokal adalah Vidio, RCTI+, Mola TV, MNC, dan Bioskoponline. Berdasarkan riset yang dilakukan Inventure – Alvara akhir 2021, tingkat ketertarikan masyarakat berlangganan OTT lokal mencapai 66,9% dari total responden 770. Vidio.com menjadi platform yang paling disukai, menyusul RCTI +, MNC dan Mola TV.
Sedangkan mengenai resto pada masa pandemic masyarakat bergeser dari dine-in ke delivery. Pertanyaannya ketika pandemic mulai lewat – sekarang atau mulai berakhir – apakah orang tidak lagi delivery? “Market resto terpecah menjadi dua, ada market dine-in dan ada market sebesar 79,2%,” ujar Yuswohady seraya menambahkan kondisi ini merupakan berita bagus teman-teman di resto.
Pada saat pandemi, lanjut Yuswohady, beli makanan banyak melalui delivery dengan model Cloud Kitchen. Pertanyaannya apakah akan berlanjut setelah pandemi berakhir? Ternyata respon menjawab 82% responden akan melanjutkan. “Artinya dine-in dan delivery hidup berdampingan, di mana segmen terpecah menjadi dua, padahal sebelumnya dine-in mendominasi.
Sedangkan untuk health care ada dua, yaitu telemedicine dan face to face dengan dokter. Pada waktu pandemi orang akan telehealth, tapi setelah pandemi lewat orang sudah tidak takut lagi ketemu dokter. Pertanyaannya apakah telehealth ditinggalkan ketika sudah bisa face to face dengan dokter? “Ternyata tidak! Ada market untuk telemedicine ada nada market untuk face to face dengan dokter,” lanjutnya. Untuk kasus yang berat masyarakat sudah tidak takut ketemu dokter, sedangkan kasus yang ringan mereka menggunakan telemedicine. Market telemedicine terbentuk dua tahun terakhir ini.
Penerimaan konsumen untuk medical tourism ternyata bagus. Untuk rumah sakit pusat jantung, kanker, ortopedi dan lain-lain angkanya cukup bagus, sekitar 50,8% responden berminat. Seiring dengan situasi hidup yang semakin beriringan dengan covid, mayoritas responden mengharapkan adanya program wisata yang dipaket dengan layanan fasilitas kesehatan. Dengan pilihan terbesar sebanyak 64,5% responden adalah destinasi paket dengan fasilitas klinik.
Pilihan kedua teratas adalah dokter spesialis sebesr 60,%. Hal ini beriringan dengan inisiasi yang tengah dilakukan di Bali, misalnya, baru saja dibangun rumah sakit internasional bekerjasama dengan Mayo Clinic yang tersohor. Dengan adanya rumah sakit ini diharapkan 2 juta masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri setiap tahunnya akan berkurang dan memilih berobat di dalam negeri, sehingga tidak menghabiskan devisa.
Sementara work from destination atau workcation akan menjadi tren yang diminati konsumen, khusus segmen bisnis melalui wisata insentif. Hal ini sejalan dengan hasil riset dilakukan akhir Desember 2021 bahwa 69,7% responden tertarik melakukan work from hotel atau work from destination secara regular.
Kemudian dengan kasus covid menurut seiring dengan suksesnya program vaksinasi, seberapa tertarikkan anda berwisata road trip. Dengan menyambungnya jalan tol Jakarta – Surabaya dan nanti sampai Banyuwangi, maka pola berwisata mulai road trip. Ketika responden ditanya apakah mereka tertarik berwisata road trip, sekitar 74,8% menyatakan akan road trip, bukan menggunakan pesawat. “Mulai muncul market baru berwisata dengan road trip,” kata Yuswohady.
Berikut sektor kripto. Tahun 2022, menurut Yuswohady, adalah tahun kripto dan tahun metaverse. Dimana setiap pembelian dalam metaverse harus menggunakan token kripto berbasis blockchain. Misalnya jika seseorang ingin membeli sebuah lahan dalam dunia virtual sandbox, maka mata uang yang harus digunakan adalah token $Sand.
Dari hasil riset yang dilakukan Inventure – Alvara, kripto mulai menjadi favorit konsumen untuk berinvestasi, khususnya di kalangan millennial dan Gen Z. Dari total responden yang disurvei, 20% menyatakan berminat memiliki asset kripto. Sebuah angka yang cukup besar untuk instrumen investasi yang terbilang masih baru di Indonesia. Angka ini menduduki peringkat ke-4 produk investasi yang ingin dimiliki di tahun 2022, setelah deposito, saham dan reksadana.
Nantinya menurut Yuswohady, akan menjadi momentum para marketer, para entrepreneurs menerapkan metaverse dalam aktivitas marketing mereka. Banyak sekali aplikasi yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan metaverse ini. Kalau suatu perusahaan sudah menggunakan metaverse store untuk jualan, maka akan menjadi booming di tahun 2022 ini.
“Kita harus mulai menggunakan teknologi baru ini untuk aktivitas marketnya,” kata Yuswohady mengunci pengantarnya dalam acara IIO 2022.[] Siti Ruslina



