PMI Manufaktur Indonesia Jeblok Capai 50 Persen
Penurunan tajam Purchasing Managers Index (PMI) menyentuh 27,5 pada April lalu, merupakan angka terendah sepanjang 9 tahun terakhir ini. Banyak penutupan pabrik dan anjloknya permintaan akibat pandemi Covid 19. Bagaimana langkah pemerintah membangkitkan kembali industri nasional?
Dampak dari pandemi Covid-19 telah memukul berbagai sektor perekonomian di berbagai negara termasuk Indonesia, khususnya mengenai sisi permintaan dan suplai. Terbukti, Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April 2020 turun hingga menyentuh angka 27,5. Turunnya utilitas industri hingga 50 persen menyebabkan merosotnya indeks PMI manufaktur Indonesia.
Anjloknya indeks manufaktur Indonesia sepanjang April lalu tercatat sebagai yang terendah sepanjang sejarah atau dalam sembilan tahun periode survei April 2011. Tak hanya itu, kinerja manufaktur Indonesia tercatat terendah di ASEAN, di bawah Myanmar dengan skor indeks sebesar 29,0 dan Singapura sebesar 29,3.
Penurunan tajam dari PMI manufaktur ini, tak lain merupakan dampak yang ditimbulkan oleh wabah virus Corona yang berimbas pada sektor industri. Akibatnya, banyak penutupan pabrik serta anjloknya permintaan, output, dan permintaan baru.
Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Firman Bakri mengatakan, selama wabah Covid-19 berlangsung, omzet bisnis pengusaha alas kaki kini tak menentu. Berdasarkan survei yang dilakukan asosiasi tersebut terhadap para anggota menunjukkan, banyak dari kapasitas industri saat ini hanya terpakai 21% hingga 45%. Adapun pabrik yang masih berproduksi dengan kapasitas sekitar 72% adalah industri sepatu besar dengan jumlah tenaga kerja di atas 5.000 orang.
Namun demikian, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, pada 7/5, meyakini bahwa industri manufaktur nasional dapat pulih secara bertahap ketika kembali beroperasi dengan normal. “Kami berharap nanti dalam tiga bulan setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selesai, angka PMI manufaktur Indonesia dapat kembali di level 51,9 seperti yang pernah kita raih pada Februari 2020,” ujarnya.

PMI manufaktur Indonesia di atas angka 50 menandakan bahwa sejumlah sektor manufaktur masih melakukan upaya perluasan usaha atau ekspansi. Sedangkan bila angka indeks berada di bawah 50, itu berarti terjadi kontraksi. Berdasarkan hasil survei BI, hampir seluruh sektor terkontraksi pada kuartal I 2020.
Kontraksi terdalam dialami subsektor logam dasar, besi dan baja dengan PMI 36,89%, diikuti subsektor semen dan barang galian nonlogam 40,26%, dan alat angkut, mesin dan peralatannya 41,28%. Sementara itu, PMI secara keseluruhan berada dalam fase kontraksi yakni sebesar 45,64%, turun dari 51,50% pada kuartal sebelumnya atau 52,65% pada kuartal I 2020.
Sejumlah industri yang mendapat pukulan berat imbas pandemi corona yakni, industri otomotif; industri besi baja; industri semen; industri pesawat terbang, industri elektronika dan peralatan telekomunikasi; industri tekstil; industri mesin dan alat berat.
Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani , aktivitas manufaktur memburuk sejak Maret 2020 dan puncaknya terjadi pada April 2020. Ia memprediksi kontraksi di industri manufaktur masih terjadi hingga Mei 2020. “Puncaknya terjadi pada April dan kemungkinan sampai Mei 2020,” terangnya.
Pemulihan angka PMI manufaktur Indonesia sangat tergantung juga terhadap kebijakan yang diambil pemerintah dalam menyikapi dampak wabah Covid-19 terhadap sektor industri dan perekonomian. Kebijakan yang tepat dan terukur nantinya akan membuka peluang bagi sektor industri dan perekonomian untuk bangkit pasca Covid-19.
“Sedangkan langkah yang perlu dan segera dilakukan adalah menyeimbangkan strategi pertumbuhan ekonomi dan pembatasan penyebaran Covid-19,” katanya seraya menambahkan, Kemenperin telah memetakan sejumlah sektor industri yang terdampak pandemi Covid-19. Dari hasil pemetaaan, didapati tiga kelompok besar, yaitu industri yang suffer, moderat, dan high demand.
Kemenperin berkomitmen untuk mencari jalan keluar terbaik agar industri yang terdampak berat tetap dapat bertahan. “Untuk industri yang masuk dalam kelompok high demand, akan kami optimalkan kinerjanya,” imbuhnya.
Menurunnya PMI Indonesia, sangat mempengaruhi penurunan PMI di Asia Tenggara. Pasalnya, volume sektor manufaktur Indonesia lebih besar dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Oleh karena itu, pihaknya akan memperbesar rasio penyerapan produk di pasar global dalam jangka menengah dan panjang. Salah satu cara yang akan dilakukan adalah membuka akses pasar di negara lain.
Dalam jangka pendek, lanjut Agus, pihaknya akan berusaha menyeimbangi strategi pertumbuhan ekonomi. “Tidak ada IOMKI (Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri) yang ditolak. Bagi industriawan yang mengajukan IOMKI, tentu dia wajib memperhatikan protokol kesehatan,” ujarnya.

Presiden Joko Widodo telah meminta pada jajaran menteri di bidang ekonomi untuk mengidentifikasi sektor mana saja yang mengalami kontraksi paling dalam. Sehingga, stimulus dan skenario recovery dapat dirancang dengan tepat. “Ini hati-hati mengenai indeks manufaktur Indonesia, agar juga dicarikan solusi dan jalan agar kontraksi ini bisa diperbaiki. Untuk itu saya minta menteri-menteri di bidang ekonomi memperhatikan angka-angka yang tadi saya sampaikan secara detail,” tuturnya.
Pemerintah terus berupaya mencari jalan keluar untuk mendorong para pelaku industri di tanah air agar kembali bergairah setelah mendapat tekanan berat dari dampak pandemi Covid-19. Kebijakan strategis tersebut, perlu diramu bersama dengan seluruh pemangku kepentingan terkait sehingga tepat sasaran.
“Kami ingin industri kita bisa cepat rebound pasca-wabah virus korona ini, dengan memberikan berbagai stimulus yang komprehensif sesuai kebutuhan di sektornya,” kata Menperin, Agus Gumiwang Kartasasmita ketika melakukan diskusi secara virtual dengan Pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Jakarta, pada 19/5.
Menperin menyampaikan, sebelum pandemi Covid-19, pihaknya telah berupaya meningkatkan daya saing sektor industri melalui implementasi Perpres Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi. “Kami akan terus perbarui atau menambah list penerima harga gas 6 dollar AS per MMBTU,” tuturnya.[] Yuniman Taqwa
