Rex Marindo Besut Sekolah Bisnis Kuliner

Siapa saja bisa terjun ke bisnis kuliner! Mulai dari dapur rumah dan bukan tidak mungkin berkembang dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Namun, perlu ilmu untuk menggeluti bisnis ini. Boleh jadi kehadiran Foodizz  merupakan kawah candradimuka menggali ilmu bisnis kuliner!

Bisnis kuliner  memang menarik. Peluang pasarnya sangat besar! Bayangkan, dari Rp1100 trliun sumbangan ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sekitar 40-an persen di sumbang dari sektor kuliner.  Angka ini menunjukkan indikasi bahwa bisnis kuliner sangat  menggiurkan . Apalagi jumlah penduduk Indonesia mencapai Rp 270 jiwa, menjadikan bisnis ini banyak dilirik para millennial, misalnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sekitar  64, 2 juta UKM yang ada di Indonesia. Dari angka-angka tersebut, lebih dari 40 persen UKM yang bergerak di sektor kuliner. Mengapa banyak UKM yang tertarik terjun di bisnis ini?

Pasalnya bisnis ini dapat dimulai  dari garasi, bisa dari dapur rumah dan  dengan modal terbatas tapi menyerap banyak tenaga kerja.  Namun untuk terjun serius menekuni bisnis kuliner diperlukan ilmu, sehingga usaha kuliner kita bisa berkembang. Untuk membekali ilmu bisnis kuliner, belakangan ini muncul sekolah kuliner sebagai best practice menekuni secara serius bisnis.

Rex Marindo, CEO Foodizz/Foto: Ist

Adalah Rex Marindo yang mendirikan Foodizz pada tahun 2018. Tapi baru April kemarin Start up  bidang kuliner ini meluncurkan sekolah bisnis kuliner yang pertama di Indonesia. Menurut  CEO Foodizz. Rex, sekolah bisnis kuliner visi dan misi Foodizz untuk menciptakan 5 juta calon dan pelaku usaha kuliner dan menciptakan 15 juta lapangan kerja.

Rex Marindo, seorang pengusaha muda yang sukses membangun kerajaan bisnisnya dengan berbagai tempat nongkrong dan tempat kuliner yang saat ini menjadi favorit anak muda kekinian. Kisah sukses Rex Marindo membangun gurita bisnis dari Warunk Upnormal sampai Bakso Boedjangan menjadi inspirasi anak muda yang ingin bangkit membangun usahanya sendiri.

Sebelum sukses dengan usaha kulinernya, Rex Marindo adalah seorang konsultan pemasaran. Sebagai pendiri tempat makan terkenal yang sangat disukai anak muda, mulai Warunk Upnormal, Bakso Boedjangan, Nasi Goreng Rempah Mafia sampai dengan Sambal khas Karmila, siapa yang menyangka kalau Rex memulai bisnisnya dari nol.

Namun menurut Rex, sejak dua  tahun terakhir tidak lagi  di dalam manajemen CRP Group (Warunk Upnormal & Bakso Boedjangan). Kini  ia menekuni sekolah bisnis kuliner. Bersama timnya, ia ingin membantu para usaha kuliner lokal agar berkembang menjadi tingkat nasional dan global.  Program sekolah bisnis kuliner dari Foodizz ini tersedia dalam bentuk online dan offline selama enam bulan yang terdiri dari empat bulan pembelajaran intensif dan dua bulan mentoring, sebagaimana dikutip dari kompas.com, pada 11 April lalu.

Rex bersama teman-teman membangun  Foodizz dengan tujuan untuk mendistribusikan dan memasyarakatkan ilmu kuliner..”Biar nanti makin banyak pengusaha yang bisa berkembang, yang bisa sustainable dan punya impack ke masyarakat sangat luasnya,” katanya dalam sebuah webinar yang dilselenggarakan oleh Foodizz, Minggu kedua Oktober lalu.

“Selama perjalanan saya dengan teman-teman Foodizz, kami melihat ada jarak yang cukup jauh sehingga menyebabkan terjadinya kegagalan bisnis kuliner karena kurangnya ilmu pengetahuan yang komprehensif dan menyeluruh. Oleh karena itu, Foodizz hadir untuk memberikan edukasi dan mempersempit jarak dengan meluncurkan program edukasi terbaru yaitu Sekolah Bisnis Kuliner. Program ini nantinya memungkinkan para peserta dapat memperoleh akses di ekosistem bisnis kuliner seperti ilmu bisnis secara teori, koneksi partnership, investor, vendor, teknologi dan perizinan pemerintah yang tentunya dengan pendampingan dari para advisor yang telah ahli di bidangnya,” kata Rex serius.

Sekolah Bisnis Kuliner yang diresmikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno ini merupakan sekolah bisnis kuliner pertama di Indonesia. Sekolah yang fokus pada bisnis kuliner ini digagas oleh perusahaan rintisan dari Bandung, Foodizz. “Semoga Sekolah Bisnis Kuliner Foodizz ini bisa mencetak praktisi kuliner Indonesia yang mampu bersaing di pasar global,” kata Sandiaga Uno, Sabtu 10 April 2021, lewat livestreaming yang disiarkan dari Pantai Sanur, Bali.

Lebih lanjut ditambahkan, industri kuliner merupakan salah satu penopang ekonomi yang mampu membuka banyak lapangan pekerjaan di Indonesia. Sebagai platform yang telah membantu pemerintah dalam pemberdayaan dan mendorong tumbuhnya pebisnis kuliner, Foodizz telah berkolaborasi dengan Kemenparekraf RI untuk memberikan edukasi bisnis kuliner di beberapa wilayah di Indonesia. “Saya berharap, dengan adanya Sekolah Bisnis Kuliner dapat mencetak pebisnis kuliner di Indonesia yang mampu bersaing di pasar global. Selamat dan sukses untuk Foodizz,”ujar Menteri Kemenparekraf, Sandiaga Uno.

Menghadiirkan para praktisi kuliner/Foto: Foodizz

Komitmen Foodizz dalam mengedukasi para calon pelaku bisnis kuliner dilanjutkan dengan menghadirkan dua penasihat baru yang juga merupakan ahli di bidang bisnis kuliner Indonesia. Penasihat pertama adalah Budi Satria Isman, yang merupakan CEO dari Mikro Investindo dan ProIndonesia Foundation yang telah meraih gelar Master Degree dari The George Washington University di bidang Organization Management. Budi Satria Isman sebelumnya pernah menjabat di berbagai perusahaan besar multinasional seperti Coca cola, Danone Group, Sari Husada, ExxonMobil dan Shell Oil. Penasihat kedua adalah Yuzsak M Yahya, yang merupakan CEO Serasa Group dan menjabat sebagai Business and Finance Advisor di beberapa perusahaan ternama, sebagaimana dikutip dari merdeka.com, 12 April lalu.

Kerjasama Foodizz dengan Budi Satria Isman dan Yuzsak M Yahya sebagai penasihat baru bertujuan untuk membantu mengedukasi calon pelaku bisnis kuliner dalam membangun, mengelola hingga mempertahankan bisnis kuliner mereka. Edukasi terhadap dunia bisnis kuliner yang diperoleh dari kedua penasihat tersebut tentunya didasari pada pengalaman dan pengetahuan para advisor yang sudah memiliki pengalaman di bisnis kuliner bertahun-tahun.

Mengapa sih ingin menjadi pengusaha? “Salah satu hadist ada yang berbunyi  Sembilan dari sepuluh pintu rejeki itu ada dalam perniagaan,” katanya seraya menambahkan tentu kita tidak melakukan komparasi, artinya mau kerja, mau jadi pengusaha semua baik, asal niatnya baik dan dijalankan dengan baik.

Kalau kita berbicara dalam konteks pengusaha, kata Rex, sembilan dari sepuluh pintu rejeki ada dalam konteks perniagaan, maka ini menarik. Artinya Sembilan dari sepuluh kemungkinan kita bisa sukses, punya penghasilan yang besar, punya passive income asset dan lain-lain, itu datangnya dari bidang usaha.

Menurut Rex bisnis kuliner ini sesuatu yang sangat menarik sekali. ‘Saya mulai bisnis kuliner sekitar tahun 2013, tapi sebelumnya ia sebagai konsultan brand. “Ada teman saya Kang Adit memulai bisnis ayam geprek dimulai dari garasi, rumah, tapi sekarang sudah menghasilkan omzet ratusan juta rupiah perbulan,” katanya. Dalam tempo setahun omzetnya sudah miliaran rupiah. Ia memulai bisnis dari ayam geprek, pakai sambel, ada kol goreng dan sebagainya. “Artinya apa? Teman-teman bisa menjalankan hal-hal seperti ini.. Jangan berpikir bisnis kuliner yang sifatnya mahal. Zaman sekarang kita bisa memulai bisnis kuliner dengan lebih murah. Bisa dimulai dari garasi, gerobak  dan dapur rumah,” ujarnya memberi contoh.

“Konsepnnya sederhana, ketika jualan minuman, jualan pisang, jualan gorengan pakai ilmu, maka akhir bisa berkembang dan menjadi sukses,” katanya. Kehadiran Foodizz sebagai sekolah bisnis kuliner untuk mendapatkan ilmu mengelola bisnis kuliner. Semua orang bisa belajar, pasarnya luas, bukanya gampang, tapi prosesnya akan sulit. Kunci bisnis kuliner bisa berkembang besar bila memahami  ilmu bisnis kuliner. Memang bisnis ini penuh tantangan, banyak gerai-gerai kuliner yang tutup di tengah pandemi. Ini karena tidak pakai ilmu dalam menjalankan bisnis kuliner.

Lebih lanjut ditambahkan, banyak ilmu yang dapat dipelajari di sekolah kuliner.. Tapi pada ilmu dasar yang harus dipelajari, Pertama.  harus konsen  terhadap produk yang mau dijual. Produk ini ada 4 tips, yaitu pertama,  produknya pasti laku dan banyak peminatnya, misalnya nasi goreng, tempe mendoan, jus dan sebagainya. Kedua, cari bahan bakunya yang mudah dan banyak. Ketiga Standard Operating Procedure  (SoP) harus simpel dan keempat produknya harus ada Wow effect, misalnya ukurannya besar dan ekstrim.

Kedua, cara menjualnya lewat mana? “Nah ini kita bisa customize. Misalnya belum ada uang, kita bisa pakai garasi rumah, dapur rumah, bisa  pakai gerobak, atau ambil kemitraan/ franchise . Bisa mulai bisnis dari marketplace  atau free order.

Ketiga brand identity  dan Hak Kekayaan Intelektual . Perlu cari nama yang unik, mudah diingat dan punya efek keren. Brand tersebut didaftarkan  Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Dan keempat harus mempunyai design yang keren  dan mempunyai keunikan. Dengan kata lain punya positiong dan difrensiasi yang kuat.

Keempat belajar tentang angka, agar  bisnisnya makin  mantap. “Pebisnis nggak boleh nggak ngerti angka. Harus pasang angka, minimalnya yang sederhana-sederhana. Contoh berapa modalnya, berapa omzetnya, berapa biayanya , berapa profitnya dan kapan balik modal,” katanya serius  kepada peserta webinar. Ini wajib hukumnya.

“Kelima kita promosi bentuk produk yang kita jual. Teman-teman bisa lihat instrgam Goerengan bagus infomasinya. Dia punya sosial media, kemudian  konsepnya bagus,” ujar Rex. Kita bisa melihat brand-brand yang sudah ada.  Dan terakhir konsisten dan banyak berdoa. Bekerja keras dengan menggunakan ilmu.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa/Foto: Foodizz