M Bloc Space, Dorong Potensi Brand Lokal Lewat Culturepreneur

Lewat M Block Space, Handoko Hendroyono  menyulap Gudang Perum Peruri menjadi etalase lokal yang keren untuk anak-anak milenial. Kuncinya,  tidak sekedar modal, jaringan dan kekuatan bisnis, tapi komunitas  yang terlibat dan akhirnya menjadi besar, itu  potensi yang besar untuk dikembangkan.

Generasi baby boomers dan generasi X mungkin mafhum  dulu ada Komplek Perum Peruri  di Kawasan Melawai-Blok M Jakarta Selatan.  Namun mereka yang lama tak berkunjung ke kawasan ini mungkin akan kaget melihat kondisi lokasi itu sekarang.   Gudang percetakan uang itu sekarang disulap menjadi  sebuah tempat berkumpulnya anak-anak muda berekspresi dan bersosialisasi.

Adalah Handoko Hendroyono bersama almarhum Glenn Fredly dan beberapa teman mereka seperti  Jacob Gatot Sura, Maria Sugianto, Lince Mengong dan Wendi Putranto yang mendirikan M Bloc Space dan diresmikan pada 26 September 2019, sebelum pandemic Covid-19 menghantam negeri ini.  Dan tempat ini booming di bulan Maret 2020, namun sayang seribu sayang, tiba-tiba muncul virus corona yang memaksa pemerintah mengambil keputusan ‘lockdown’.

Dalam satu sessi  di acara Indonesia Brand Forum 2021 yang bertajuk “Empower Dream The Local”, Handoko Hendroyono mempresentasikan tentang latar belakang kenapa ia membangun M Block Space yang kini tengah menjadi tempat yang happening bagi anak-anak muda Jakarta khususnya.  “Saya akan mempresentasikan tentang 4 hal yakni Place Making, Place Branding, Entrepreneur dan Culturpreneur,”kata Handoko.

Memang, M Bloc Space diawal pandemic mendadak ‘bikin’ kalangan  milenial penasaran. Di awal pandemic anak-anak muda ingin sekali  ke sana. Tapi keburu terjadi lockdown di banyak tempat di Tanah Air. Tak heran ketika pemerintah melakukan relaksasi  terkait dengan Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat (PPKM),  MBloc Space kembali menjadi  pilihan bagi anak-anak muda di Jakarta bahkan dari luar Jakarta nongkrong bareng teman-teman.

M Bloc Space berangkat dari ide dasar seorang Handoko Hendroyono yang punya hobby mmenggambar. “Ini penting bagi saya, saya hobby gambar saya bisa mengekspresikan apa yang ingin saya sampaikan.  Saya sangat tidak percaya dengan kompetisi tapi saya sangat percaya dengan otenticity dan saya sangat percaya dengan kemampuan brand lokal yang sangat keren saat ini dan dengan spirit gotongroyong dan kebersamaan, saya sangat dekat dengan brand-brand artisan. Potensinya luar biasa sehingga saya merasa bisa bersama-sama, baik di bidang apapun juga kita bisa berkembang bersama-sama,’ungkap produser film ‘Filosofi Kopi” (2014-2015) ini.

Ini yang menyebabkan ia  senang bereksplorasi di banyak bidang.   Seperti ketika ia  memproduseri  film ‘Filosofi Copy’, dan akhirnya berkembang menjadi  sebuah ekosistem. Kesukaannya  menggambar, membuat komik dan  di music sebelumnya  ada Glenn Fredly.

Ia juga konsern dengan  Gastronomi  (tataboga) . Ia adalah CEO pertama dari Filosofi Kopi yang  akhirnya melahirkan Gelato di Kebun Ide, salah satu gerai resto yang banyak diminati pengunjung di M Bloc Space. Menu andalannya adalah Gelato, es krim tradisional khas Italia. “Saya sangat getol dengan yang namanya Place Making,” tuturnya.

Place Making adalah ini sebuah pengembangan tempat, yang intinya adalah mengundang partisipasi publik. Ini menjadi menarik ketika publik berdaya secara bersama-sama.

Diakuinya karena hobby gambar, ia juga sering mendisplay gambar-gambar  secara eksperimental yang kemudian ia refleksikan  di M Bloc Space. “Ada gambar yang benar-benar menimbulkan pertanyaan, ada gambar yang benar-benar berisi  roh. Ini cara ini engage dengan konsumen, engage  dengan crowd dan ini sangat penting ketika kita bisa melakukan engagement sama seperti brand itu sendiri,”papar Handoko.

Berikutnya, ia sangat percaya dengan kultural. Jadi sebenarnya lebih sebagai culturalpreneur . Ia memperhatikan  negara-negara seperti Korea, Jepang, dan Skandinavia,  yang sangat kuat kulturalnya. Ia mencoba  mengembangkan ekositem musik, film art, gastronomi dan lain-lain dengan melihat contoh negara-negara tersebut.

Ini yang membuatnya melihat gedung bekas gudang Perum Peruri itu  menjadi sangat luar biasa ketika kita mampu mengangkat faktor kultural  menjadi potensi yang sangat besar. “Dan saya lihat, seperti gedung ini (menunjuk gedung di area M Bloc Space-red), bisa menjadi heritage yang bisa dikembangkan. Dan disitulah menjadi  menarik ketika kita bicara tentang Place Making,”papar Handoko dalam presentasinya di event Indonesia Brand Forum  2021.

Space, branding, creative dan confidence . Penting banget  bagi kita dan saya melihat bahwa  space ada sebuah ruang atau experience yang harus kita garap. Kenapa? Ini bisa mengangkat jadi diri kita,  percaya diri  dan akhirnya bisa berkembang. Ini saat brand-brand lokal berdaya bareng. Akhirnya tempat ini (M Bloc Space-red) dapat menjadi hub bagi anak-anak yang kreatif, anak-anak muda dan family, ini saatnya untuk kita berdaya bareng.  Saya membedakan brand dan komunitas. Bagaimana kita bisa memperjuangkan brand-brand local,”urainya.  

Menurut Handoko, komunitas adalah hal penting. Kuncinya tidak sekedar modal, jaringan dan kekuatan bisnis. Tapi komunitas adalah yang terlibat dan akhirnya menjadi besar.

Akhirnya lewat M Bloc Space, produk-produk menjadi lifestyle. Lihat bagaimana gerai Suwe Orajamu di kawasan hangout ini mampu memunculkan minat bagi anak muda untuk minum jamu-jamuan dengan kemasan modern. “Dengan brand kami membangun portofolio, reputasi , dan membangun impact.  Kita harus meng-create impact menjadi sesuatu yang luar biasa. Saya yakin ini akan menjadi destinasi baru.  Terbukti sudah banyak pengunjung mancanegara yang datang,”papar Handoko yang akhirnya membuat tempat serupa lewat Pos Bloc di Pasar Baru, Jakarta Pusat, dengan kemasan  bangunan  tua yang usianya sudah lebih dari 100 tahun. “Ini menjadi etalase lokal yang keren. Saya yakin, sesuatu yang Old itu it’s the new new. Harusnya kita hargai akar kita karena itu potensi yang besar untuk kita kembangkan,”pungkas Handoko.[]Siti Ruslina/Ilustrasi: Kemenparekraf