Indonesia Dukung Keketuaan Kamboja di ASEAN Sepanjang2022
Jakarta, 12 Januari 2022, pelakubisnis.com – Indonesia mendukung keketuaan Kamboja di 2022 yang mengusung tema ASEAN A.C.T.: Addressing, Challenges, Together. Di samping itu, Indonesia juga menantikan kerja sama yang lebih kuat dengan seluruh negara anggota ASEAN dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, serta memastikan pertumbuhan ekonomi di Kawasan, khususnya terkait penanganan dampak pandemi Covid-19 di sektor ekonomi, perdagangan, dan investasi pada 2022.
Demikian disampaikan Direktur Perundingan ASEAN Dina Kurniasari yang mewakili Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Djatmiko Bris Witjaksono saat memimpin delegasi Indonesia pada Senior Economic Officials Meeting (SEOM) Retreat yang diselenggarakan melalui video conference, pada 11/1.
“Indonesia mendukung penuh usulan Priority Economic Deliverables (PED) Kamboja. Selain itu, secara khusus kami mendorong agar seluruh negara anggota ASEAN dapat mempertimbangkan untuk memiliki standarkeberlanjutan berdasarkan indikator dalam tujuan pembangunanberkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) untuk meningkatkan daya saing produk asal ASEAN dan mendorong agar dapat dilakukan kajian terkait pentingnya memiliki standar keberlanjutan di ASEAN,”jelas Dina.
Terkait Perundingan ASEAN-Kanada, SEOM sepakat agar work plan dan term of reference(TOR) untuk pembentukan Komite Perundingan untuk ASEAN–Canada Free Trade Agreement(ACAFTA) harus segera difinalisasi, agar perundingan dapat segera dimulai pada awal 2022 dengan target penyelesaian secara substansi selama dua tahun. Sehingga, dapat dijadikan sebagai salah satu capaian Indonesia pada masa keketuaan ASEAN pada 2023.
“Kami selaku country coordinator ACAFTA juga mengingatkan mandat dari para menteri untuk segera mengintensifkan perundingan ACAFTA di tahun inidan juga mendorong agar segera dilakukannya pertemuan khusus dengan Kanada di akhir Januari atau awal Februari 2022. Hal ini dilakukan untuk segera dapat menyelesaikan TORdan work plan serta melanjutkan pembahasan berbagai isu pending yang belum disepakati saat peluncuranACAFTA tahun lalu,”tegas Dina.
Khusus penanganan bersama untuk dampak pandemi Covid-19, secara khusus negara anggota ASEAN membahas kemungkinan ditambahnya daftaruntuk produk esensial dalam Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) Essential Goods. MoU ini bertujuan untuk membantu penanganan Covid-19 di ASEAN dengan memastikan tidak ada hambatan saat terjadi perdagangan barang. MoU akan berakhir pada 13 November 2022 dan terdiri dari 107 daftarproduk esensial (terdiri dari obat medis, produk alat kesehatan, dan beberapa jenis makanan).
“Kami menekankan pentingnya negara ASEAN menyepakati definisidari ‘produk esensial’serta melakukan reviuterhadap efek langsung di sektor perdagangan, implementasi dan utilisasi dari pelaksanaan fase pertama dan kedua sebelum memperluas ruang lingkup dan memperpanjang implementasidari MoU ini,”pungkas Dina.
Ekonomi Kamboja
Kamboja mengusulkan 17 PriorityEconomic Deliverables (PED) pada periode keketuaannya yang terbagi dalam empat Strategic Thrust, yaitu Enhancing Digital Connectivity, Science, and Technology; Narrowing the Development Gap for ASEAN’s Competitiveness; Promoting a More Integrated, Inclusive, Resilient and Competitive ASEAN; danterakhir Global ASEAN for Growth and Development.
Terkait PED mengenai Feasibility Study of Technology Transfer Models for Projects Related to Sustainable Development Goals (SDGs),Indonesia akan mengusulkan badan khusus standar di ASEAN (ACCSQ) dapat melanjutkan pembahasan StandardProduct SDGdi forum ACCSQ sesuai dengan hasil pertemuan pertemuan ACCSQ ke-56 padaNovember 2021 bahwa ACCSQ perlu membahas SDGsebagai tren baru kegiatan ACCSQ mendatang.
Sedangkan, terkait PEDmengenai Full EIF of RCEP Agreement,Indonesia menargetkan penyelesaian ratifikasi pada kuartal pertama tahun 2022 dan bisa mengimplementasikan persetujuan RCEP pada akhir semester I tahun 2022.[]sp
