World Economic Forum 2022, Kembali ke Perdagangan, Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat

Swiss,  26Mei  2022, pelakubisnis.com – Menteri  Perdagangan  Muhammad  Lutfi  menekankan  lagi  pentingnya  setiap negara  di  dunia  kembali  ke  perdagangan.  Melalui  perdagangan,  kesejahteraan  masyarakat  dapat terwujud.  Hal  ini  disampaikan  Mendag  Lutfi  di  sela  gelaran  World  Economic  Forum  (WEF)  2022  di Davos, Swiss, pada 25/5.

“Ini  saatnya  bagi  dunia  untuk  kembali  ke  perdagangan.  Perdagangan  dapat  mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan melawan kemiskinan,”ujar Mendag.

Pada  WEF  2022,   Lutfi  mengikuti  sejumlah  forum  dan  menjadi  pembicara  di  beberapa  sesidiskusi untuk membahas berbagai permasalahan dunia.Ada tiga sorotan utama Mendag Lutfi, yaitu adanya peluang peningkatan nilai tambah dan penciptaan ekonomi baru di tengah tantangan saat ini, perlunya sistem perdagangan multilateral dunia, dan mewujudkan pertumbuhan melalui kerja sama kawasan.

Kendati  kondisi  saat  ini  terkesan  muram  dan  bahkan  dikatakan  para  ekonom bahwa  dunia tengah berada di ambang resesi yang luar biasa, namun  Lutfi melihat peluang dari tantangan yang dihadapi. “Sebagai bagian dari Pemerintah, saya melihat ini adalah peluang. Misalnya, tingginya harga  komoditas  saat  ini  membuat  semakin  banyak  orang  berinvestasi  dan  berinovasi  menciptakan nilai tambah   di   negara-negara   seperti   Indonesia.   Kesempatan   ini   merupakan   peluang   untuk menciptakan nilai tambah yang baik. Nilai-nilai komoditas yang baik ini menyebabkan negara-negara seperti Indonesia bisa naik kelas dalam rantai nilai global (GVCs) atau rantai pasok dunia,”jelasnya.

Selain  itu,  lanjut  Mendag,  kesempatan  itu  harus  diambil  untuk  dapat  menciptakan  ekonomi  baru, seperti  ekonomi  hijau  melalui  pengembangan  energi  baru  dan  terbarukan,  serta  ikut  menciptakan terobosan-terobosan perdagangan dunia.

Perdagangan, terutama perdagangan multilateral, sangat penting untuk kembali ditingkatkan. Melalui perdagangan   tersebut,   ketimpangan   pertumbuhan   ekonomi   antara   negara   maju   dan   negara berkembang yang selama ini terjadi diharapkan dapat diatasi.

Indonesia  akan  menyuarakan  kembali  pentingnya  membangun  perdagangan  multilateral  dalam Konferensi Tingkat Menteri Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Juni 2022. “Mudah-mudahan dengan ini kita bisa mengurai kebuntuan-kebuntuan pada Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-12 yang akan digelar pada12—15 Juni  2022  di  Jenewa,  Swiss.  Namun  yang  perlu  diperhatikan,  salah  satu terobosan  itu  bukan  hanya  sistem  perdagangan  multilateral  tetapi  juga  bagaimana  menguasai kawasan untuk bisa mewujudkan pertumbuhan tersebut,”tegas Mendag.

Dukung Indonesia Trading House di Swiss

Lutfi  mendukung inisiasi terobosan baru Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang   meluncurkan   Indonesia   Trading   House   di   Swiss.   Peluncuran   tersebut   ditandai   dengan penandatanganan  nota  kesepahaman  (MoU)  antara  Kadin  dan  Pasar  Indonesia. Penandatanganan dilakukan  oleh  Ketua  Umum  Kadin  Arsjad  Rasjid  dengan  Pemilik  Pasar  Indonesia Catharina  Oehler pada 25/5 di Paviliun Indonesia, di Davos, Swiss. Penandatanganan disaksikan secara langsung oleh Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein Muliaman D. Hadad.

“Kami mendukung inisiasi terobosan baru Kadin Indonesia dan Pasar Indonesia untuk bisa menjual produk-produk  Indonesia,  terutama  produk  pelaku usaha  kecil  dan  menengah  (UKM).  Pelaku  UKM biasanya  diliputi  keragu-raguan  saat  melakukan  penetrasi  pasar  baru  dikarenakan  risikonya  yang tinggi,”ujar  Lutfi

Mendag   Lutfi   juga   menyampaikan,  penandatanganan  MoU   antara   Kadin   dan   Pasar   Indonesia diharapkan  bisa  mendorong  ekspor  produk  Indonesia  di  masa  mendatang. “Ini juga merupakan komitmen kita untuk bisa menjadi pemain di pasar lokal dan menjadi jagoan di pasar global,”imbuhnya.

Sementara  Arsjad  menyampaikan  harapannya  terhadap  dukungan  dari  Kementerian. “Langkah ini merupakan upaya untuk memfasilitasi agar UKM Indonesia bisa besar dan ikut mendapatkan insentif dari persetujuan Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Pratnership Agreement (CEPA),”ujarnya.

Pada periode Januari-Maret 2022, total perdagangan Indonesia-Swiss mencapai USD 1,36 miliar atau meningkat  349  persen  dibandingkan  periode  yang  sama  tahun  sebelumya  yang  tercatat  sebesar 301,96  juta.  Sementara  total  perdagangan  Indonesia-Swiss  pada  2021  tercatat  sebesar  USD  1,99 miliar.

Ekspor  utama  Indonesia  ke  Swiss  pada  2021  yaitu  perhiasan  (USD  900,04  juta);  emas  (USD  212,17 juta); limbah dan scrap dari logam berharga (USD 76,01 juta), serat optik (USD 43,31 juta); dan perak (USD  31,17  juta).Sedangkan  impor  utama  Indonesia  dari  Swiss  yaitu  emas  (USD  119,97  juta);  jam tangan (selain kotak dari logam berharga) (USD 42,94 juta); jam tangan (dengan kotak logam berharga) (USD 42,31 juta); darah manusia, antiserum, vaksin (USD 29,38 juta); dan tinta cetak (USD 18,31 juta).

Di tahun yang sama, Swiss merupakan negara tujuan ekspor ke-28 dan asal impor ke-31 bagi Indonesia.  Di  sektor  investasi,  Swiss  menempati  posisi  ke-10  sumber  FDI  Indonesia  dengan  nilai  investasi  USD 599,8 juta (281 proyek) dan menyerap tenaga kerja Indonesia sebanyak 358 orang. Nilai FDI Swiss di tahun 2021 mengalami peningkatan tajam sebesar 358 persen dibandingkan tahun 2020.[] sp