Strategi Restu Ahsani Kembangkan Bisnis Konveksi
Alih-alih memiliki latarbelakang sekolah kebidanan, ia justru terjun menekuni bidang tata busana. Dari gaun pesta hingga akhirnya banjir pesanan home dress (baju rumahan). Dan pandemi membawa berkah bagi usaha konveksinya.

Pandemi memberikan pelajaran berharga bagi Restu Ahsani, ketika tiba-tiba muncul Covid-19 yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi tak hanya di dalam negeri, bahkan hampir di seluruh dunia. Di kuartal pertama tahun 2020 itu tak sedikit perusahaan yang melakukan perampingan atau paling tidak merumahkan banyak karyawannya sebagai upaya efiensi cost.
Sejatinya Rere, demikian panggilan kecil Restu Ahsani, saat ini bekerja di bidang kesehatan karena ia lulusan sekolah kebidanan. “Itu karena keinginan orangtua, saya pribadi sebelum kuliah sudah senang desain baju. Saya suka menjahit, bikin baju sendiri. Teman-teman saya hafal banget, saya ini kalau pakai baju maunya beda dari orang lain. Kebetulan saya suka menggambar. Dulu tuh di Garut lumayan susah cari kerja. Akhirnya sambil nunggu dapat kerja, saya ambil kursus menjahit. Makanya kalau ada pesta, saya lebih memilih jahit baju sendiri,”ungkap Rere dari ujung telepon kepada pelakubisnis.com.
Selepas lulus kuliah, Rere kursus menjahit. Tak lama kemudian ia menikah dan keburu hamil. Pada kondisi itu akhirnya sambil menjalani peran sebagai ibu rumahtangga ia mengisi waktunya menerima jahitan bridge made seperti gaun pengantin (wedding dress), baju-baju pesta (bridge gown-red), baju resmi dan lain-lain, bahkan ia juga menerima jasa merias wajah. Saat itu suaminya masih bekerja di salah satu bank swasta.
Namun malang tak dapat ditepis, datang virus Corona yang tak kita duga-duga menjadi isyu pandemic yang secara cepat merenggut banyak nyawa hingga meluluhlantahkan sendi-sendi perekonomian hampir di seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. “Jadi waktu itu saya yang biasanya dapat pemasukan dari hasil menjahit baju kondangan, tiba-tiba jadi sepi, tidak ada acara-acara seperti pesta perkawinan,”tutur alumni Program Studi Diploma III Kebidanan Yayasan Pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia(YPSDMI) ini.

Bagaimana tidak, karena virus Corona pemerintah menerapkan social distancing, physical distancing ke seluruh lapisan masyarakat hingga perusahaan-perusahaan terpaksa memberlakukan work from home –bekerja dari rumah-red).
Ditambah lagi setahun sebelumnya, suami Rere memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan. Otomatis ketika pandemic tidak ada pendapatan. Disitu menjadi milestone titik perjuangannya menopang kehidupan keluarga untuk menutupi semua kebutuhan sehari-hari.
Hingga di tahun 2022 ia mencoba peruntungan membuka usaha konveksi masker. Dengan modal Rp1 juta ia belanja bahan baku ke Cigondewah, Bandung. Sebenarnya tak sampai Rp1 juta. Persisnya dari modal Rp200 ribu. Dimana saat itu di awal pandemic ia dan suami melihat peluang usaha pembuatan masker untuk kebutuhan protocol kesehatan. Bisnis masker booming, kebutuhan masker sangat tinggi karena semua harus menutup bagian hidung dan mulutnya agar tidak tertular virus yang merajalela Covid-19.
Diakuinya saat itu betul-betul pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari hanya mengandalkan keuntungan dari penjualan masker. “Kebetulan saya punya stok kain perca bekas buat kebaya, karena sebelumnya saya memang jahit baju-baju kebaya. Ada sisa kain lalu kami jadikan masker,”ungkap ibu beranak tiga ini.
Lalu, muncul fenomena WFH –work from home– . Karena banyak karyawan yang bekerja dari rumah, maka sepanjang hari mereka hanya memakai baju rumah seperti daster misalnya, yang layaknya sehari-hari para ibu pakai. Dengan modal Rp1 juta dari hasil penjualan masker, ia dan suami mulai menggenjot mesin jahit, memproduksi home dress seperti daster. Awalnya produksi benar-benar hanya dikerjakan Rere berdua dengan suami yang notabene tidak memiliki latar belakang di bidang keterampilan menjahit. “Di awal kami hanya buat daster dengan model sederhana saja, jahit lurus selesai,”kenang istri dari Diky Sodikin ini.
Tak pelak, melalui akun Rere di Tiktok, ia membuat review proses produksinya membuat home dress. Yang paling menarik perhatian warga Tiktok, cukup mengorder 1 kodi (20 pieces) seperti daster dan pijamas, mereka sudah bisa membeli daster dan pijamas dengan harga grosir dengan harga yang relatif lebih murah dari pasar dan mereka bisa tempel label merk sendiri (maklon-red).
Diakuinya, pelanggan yang membeli produk home dress nya bukanlah orang-orang yang sudah mengenalnya. Melalui Tiktok, banyak orang yang tidak mengenal Rere sebelumnya, memesan produk hasil jahitannya. Diantaranya dari Aceh dan daerah Sumatera lainnya, lalu Kalimantan, bahkan pemesan ada juga yang berasal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Sementara pasar terdekat seperti Bandung dan Jakarta justru kurang ada peminatnya. “Rupanya mereka yang melihat produk kami lewat Tiktok. Katanya sih 3 detik pertama produk kita sudah langsung bisa dilihat orang. Saya coba masuk lewat IG (instagram), tapi untuk saya susah ya…Makanya pasar sekarang masih ramai di Tiktok sih meski saya juga masuk ke IG,”papar UKM binaan PT Telkom Indonesia (Persero).
Menurutnya dari komunikasi yang dilakukan di akun Tiktok nya yang menggunakan nama ‘rerekonveksibaju’ yang cukup menarik perhatian pelanggan. Karena dia menawarkan sistem maklon dimana pelanggan boleh memesan menggunakan label merk sendiri. “Kalau konveksi lain biasanya pesan skala banyak sampai berapa ribu pieces baru dapat harga termurah. Sekarang sedang tren musim menggunakan label plat (seperti ukiran) dan ini diminati para pedagang. Kalau sudah ada merk, mereka bisa jual lebih mahal,”jelas wanita kelahiran 18 Maret 1989 ini.

“Cukup dengan 1,8 juta dapat (20 pieces) demikian bunyi promosi akun @rerekonveksibaju lewat Tiktok. Rupanya cara komunikasi seperti ini cukup menarik perhatian para pedagang pakaian jadi yang mencari pasokan dagangan lewat Tiktok.
Rere berani ambil margin tipis dalam berjualan. Tak heran bila baju-baju hasil produknya laris manis terjual melalui promosi lewat Tiktok. “Sebenarnya tidak sengaja beriklan di Tiktok! Suatu hari ada seorang teman naksir baju hasil jahitan saya lalu bertanya, kalau beli hanya 1 kodi bisa? Kami layani meski margin tipis,”ujar Rere.
Diakuinya memang masih terlalu dini kalau usahanya disebut sukses. Karena usia konveksinya baru masuk tahun ketiga. Bila secara makro kehadiran Covid-19 melumpuhkan perekonomian nasional bahkan dunia, bagi Rere sebaliknya, pandemic justru menjadi milestone perkembangan usaha konveksinya.
Dari satu mesin jahit yang dipakai secara bergantian dengan suami, dimana di awal usaha konveksinya baru membuat masker dari kain perca. Paling tidak saat itu Rere dan suami saat itu hanya mampu membuat 100 pieces masker sehari. “Waktu itu jual masker masih mahal. Dari harga Rp10 ribu sampai Rp50 ribu ( terbuat dari brokat dengan aksen manik-manik misalnya-red) tergantung dari bahannya,”tutur ibu dari Almaira, Aqila dan Hafizh ini.
Kendala yang paling dirasakan Rere saat itu soal ketersediaan bahan baku yang banyak diborong konveksi besar. Masalah terbesar baginya adalah produksi tidak bisa memenuhi permintaan pedagang. Permintaan besar namun produksi terbatas. “Awalnya supplier belum tahu tren baju rumahan menggunakan bahan rayon. Lama kelamaan mulai banyak pesaing, disitu supplier jadi naikin harga karena permintaan naik,”cerita Rere.
Sementara dalam hal sumber daya manusia (SDM) hanya dikerjakan bertiga dan seperti suaminya tidak memiliki latarbelakang di bidang jahit menjahit. Tapi ia bersyukur seiring dengan waktu suaminya sudah semakin terampil menjahit. “Di konveksi lain menjualnya minimal satu rol. Sementara di tempat kami 1 kodi juga kami layani,”lanjutnya.
Dalam situasi naiknya harga bahan baku kain rayon, ia pun menyiasati keuntungan dengan membuat home dress yang dilengkapi dengan masker satu motif. “Jadi harga sedikit dinaikin tapi keuntungan tetap,”ujarnya.
Alhasil hingga hari ini usahanya terus bertumbuh. Dari omzet yang hanya Rp 1 juta per minggu, kini omzet per minggu mencapai Rp10 juta. Dan sejak 2021 lalu, yang awalnya hanya bermodal 1 mesin jahit dengan 2 tenaga kerja (Rere dan suami), kini sudah kurang lebih setahun terakhir jumlah karyawan bertambah menjadi 8 orang. Namun karena keterbatasan tempat ia menerapkan sistem kerja yang lebih efisien. Dimana ia merekrut karyawan yang sudah memiliki mesin sendiri sehingga bisa bekerja di rumahnya masing-masing. “Di tempat saya sendiri sudah ada 6 mesin jahit. Tiga mesin obras dan tiga mesin jahit ,”ungkap peranakan Garut, Jawa Barat ini.
Dulu kami merekrut para pekerja yang benar-benar baru belajar, belum bisa apa-apa. Waktu itu ia belum berani merekrut karyawan yang sudah berpengalaman. Di saat konveksi lain sudah memiliki banyak tenaga terampil, Rere hanya bisa merekrut tenaga kerja muda biasa-biasa saja, yang paling tidak hanya sanggup menyelesaikan kurang lebih selusin home dress sehari.
Hingga ketika mulai dipromosikan lewat Tiktok, barulah usaha konveksinya meningkat. Saat itu ia mulai berani merekrut karyawan yang berpengalaman.
Pada titik itu usaha Rere semakin berkembang dengan membuat model baju yang lebih beragam.”Kelak suatu hari saya ingin memakmurkan para penjahit di daerah saya khususnya. Karena sejauh ini pandangan sebagian orang, menjahit itu pekerjaan yang dipandang sebelah mata,” Rere mengungkapkan mimpinya di akhir percakapan. []Siti Ruslina
