UMKM Rita Indriana, Rangkul Difabel Berkarya Lewat ABC Wooden Toys
Kepedulian Rita Indriana terhadap akses kerja bagi penyandang disabilitas melahirkan ABC Wooden Toys, usaha mainan edukatif yang mempekerjakan lulusan SLB. Berkat kualitas produknya, booth UMKM Yayasan Astra ini sukses mencuri perhatian pengunjung PRJ 2026 hingga menembus omzet Rp10 juta selama 8 hari pameran.

Minimnya kesempatan kerja bagi lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB) menggugah pasangan suami istri, Eka Kurniawan dan Rita Indriana mendirikan ABC Wooden Toys. Yakni usaha mainan edukatif yang menggunakan bahan baku kayu. “Latarbelakang berdirinya usaha ini berawal dari kepedulian kami melihat lulusan SMALB (Sekolah Menengah Atas Luar Biasa) yang setelah lulus hanya menjadi tukang bersih-bersih. Kebetulan suami saya kerja sebagai Guru di SLB,”tutur Rita Indriana dari ujung telepon kepada pelakubisnis.com.
Berawal dari kepedulian terhadap para lulusan difabel, pada tahun 2003 pasutri ini berpikir, apa yang bisa dilakukan untuk menolong penyandang disabilitas agar dapat diterima di dunia kerja. Menjadi mimpi bagi Eka dan Rita jika bisa memberdayakan mereka sesuai dengan skill yang dipelajari di bangku sekolah. Ternyata mimpi itu jadi kenyataan. Pasutri ini berhasil membuka ruang berkarya bagi penyandang disabilitas sekaligus membuktikan bahwa bisnis inklusi mampu menciptakan dampak sosial yang nyata.
Rita menjelaskan, di bangku sekolah murid-murid SMALB dibekali keterampilan di berbagai bidang seperti bidang kriya, masak memasak dan bidang otomotif. “Kebetulan suami saya mengajar bidang kriya, salah satunya membuat mainan edukatif yang terbuat dari kayu,”urainya soal latar belakang kelahiran ABC Wooden Toys, dari sebuah workshop sederhana di Jalan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang kemudian sekarang berada di Jl Gendeng, Baciro, Gondokusuman, DIY.
Dari potensi yang dimiliki para lulusan SMALB ini , ABC WoodenToys berhasil membuat produk-produk mainan edukatif yang diterima pasar kelas menengah atas. Dari produk puzzle yang dijual mulai harga Rp17 ribu hingga mainan anak seperti kereta-keretaan yang dijual hingga Rp150 ribuan.
Awalnya Rita melakukan penetrasi pasar ke sekolah-sekolah taman kanak-kanak dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini-red), rumahsakit-rumahsakit dan lain-lain yang dipilih secara acak dan belum tersegmentasi. Namun cara ini ternyata dirasakan kurang efektif karena Rita menyasar segmen pasar yang kurang tepat. Karena pasar yang didatangi secara umum menganggap harga jual produk ABC Wooden Toys lumayan tinggi dibandingkan mainan edukatif lain dengan bahan baku berbeda. “Kemudian kami coba masuk ke sekolah taman kanak-kanak di segmen ekonomi lebih ke atas. Kami lakukan survey dulu, mencari tahu berapa sih SPP di sekolah-sekolah mahal itu, kira-kira harga jual produk kami masuk tidak?”ungkap wanita 56 tahun ini.
Siapa sebenarnya target pasar ABC Wooden Toys? Ia menjelaskan, setelah melakukan survey, ditemukan ternyata target pasar produk-produk ABC Wooden Toys adalah ibu-ibu muda yang berusia sekitar 25 sampai 27 tahun atau di bawah 30 tahun di segmen kelas menengah atas. “Dengan visi mencerdaskan anak bangsa dan misi kami menciptakan lapangan kerja khususnya bagi penyandang disabilitas, kami membuat produk berkelas premium,”terang Rita seraya menambahkan, mengambil segmen premium berarti harus membuat produk yang bagus dan berkualitas.
Menjadi tantangan bagi Rita memproduksi produk berkualitas dan unggul. Untuk itu iapun menerapkan Standard Operating Procedure (SoP) di lini produksi. “Kami harus memastikan presisi dari setiap produk. Contoh! Bagaimana membuat puzzle agar kepingan-kepingan (potongan-potongan) kayunya memiliki ketepatan. Produk kami sudah berlabel SNI, produk kami sudah tersertifikasi merk dagang dan terstandarisasi secara nasional,”papar Rita.
Selain presisi, hal yang tak kalah penting bagi kualitas produknya adalah Uji Tarik. Seperti mainan kereta-keretaan, itu dilakukan uji Tarik agar semua ornament kereta tidak lepas. Yang ketiga adalah produk mainan edukatif yang terbuat dari kayu ini harus tumpul, tidak boleh tajam. Lalu yang tak kalah penting adalah penggunaan kayu berkualitas yang sudah ‘top cut’ tersertifikasi SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian, dulu dikenal Sistem Verifikasi Legalitas Kayu-red), lalu dioven dan menggunakan cat waterbased (non toxid paint). “Yang menjadi ciri khas produk kami adalah warnanya cerah-cerah dari warna-warna primer,”ungkapnya.
Diakuinya, saat ini memiliki 9 karyawan di lini produksi dan marketing, 5 diantaranya adalah penyandang disabilitas. Meski masing-masing memiliki skill yang terampil namun Rita tetap menerapkan SOP (Standard Operating Procedure). “Kami juga berkolaborasi dengan UMKM setempat untuk pengerjaan kerajinan mainan anak seperti kereta-keretaan,”papar Rita sambil menambahkan, di tempatnya karyawan selain mendapat gaji juga mendapat tunjangan ketenagakerjaan, sementara untuk tunjangan kesehatan para karyawan dipastikan memiliki KIS (Kartu Indonesia Sehat).
Hingga kini ABC Wooden Toys sudah memiliki lebih dari 200 item produk yang terbagi ke dalam beberapa kategori yaitu puzzle, balok, kereta dan menara. “Kami juga menerima custom,”tukas Rita memperjelas bahwa bidang pekerjaannya kini merambah membuat produk-produk pendukung belajar mengajar berbasis kayu.

Kini Rita menjalankan sistem pemasaran dari berbagai medium. Ada sistem direct selling, ada dengan cara door to door offline dengan sistem konsinyasi ke sekolah-sekolah, ke toko-toko ATK (alat tulis kantor-red), sampai pemanfaatan online shop (e-commerce) dan sosial media (sosmed) . Ada 3 karyawan marketing yang menangani sosmed dengan membuat konten-konten secara kontinyu. Dalam hal ini menurut Rita, respon yang paling banyak masuk ke aplikasi Thread dan promo lewat TikTok dengan aktifitas postingan 2 kali sehari.
Usahanya juga masuk ke rumahsakit-rumahsakit. Karena selain memproduksi mainan edukatif, Rita juga menerima custom pengerjaan produksi alat terapis, rak-rak perabot rumahsakit dan sekolah serta produk-produk custom lainnya yang berbasis kayu.
Namun demikian diakui Rita hingga saat ini 60-70 persen kontribusi penjualan masih dari segmen business to business dalam hal ini seperti sekolah-sekolah, dinas pusat kesehatan masyarakat yang kerap memesan untuk souvenir dan juga dari Yayasan Astra melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).
Yang tak kalah kuat kontribusinya di lini penjualan adalah peran ratusan reseller yang tersebar di banyak kota di Indonesia. Kadang para reseller ini yang banyak menjual melalui platform e-commerce.
Melalui Yayasan Astra, UMKM ABC Wooden Toys juga mendapat bimbingan pelatihan, bimbingan serta pendampingan. Sejak tahun 2018 bergabung dengan Yayasan Astra, Rita mendapat banyak benefit yang mendukung perkembangan usahanya. Diantaranya mendapat pelatihan bidang keuangan, pemasaran, namun diakui Rita untuk pengimplementasian 5R masih menjadi pekerjaan rumah (PR). “Sejak ikut pelatihan YDBA kami jadi lebih tertib, pencatatan lebih rapih, berkas diarsip, dijilid, tapi terus terang untuk pengimplementasi 5R masih berat!,”kata Rita seraya mengakui ikut terbantu di lini pemasaran sejak mendapat pendampingan dari Yayasan Astra yang merekomendasikan produk-produknya sebagai souvenir kepada anak-anak perusahaan Astra Group. Melalui Yayasan Astra juga ABC Wooden Toys sukses berjualan lewat platform Shoppe hingga mencetak prestasi masuk level StarPlus.
Catatan yang tak kalah menarik ditandai adalah ketika produk-produk ABC Wooden Toys masuk ke event pameran seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan masuk Indonesia Student Equipment Fair (INASEF) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian RI.
Diakuinya sudah 8 kali ABC Wooden Toys hadir di PRJ. Di perhelatan akbar PRJ 2026 Rita berkesempatan membuka booth nya selama 8 hari dan mengantongi omzet lebih dari Rp10 juta. Ternyata pasar yang selama ini menganggap harga produk ABC Wooden Toys ‘mahal’ hal tersebut terbantahkan di pasar PRJ. Karena di ajang pameran ini produk-produk Rita bersaing dengan produk-produk kualitas sejenis yang harganya memang relatif lebih mahal, sementara di situ harga jual ABC Wooden Toys dianggap lebih murah. “Jadi produk kami di PRJ dianggap terjangkau,”kata Rita dengan tawa riang seraya menambahkan, lelah fisik timnya terbayar melihat semangat anak-anak dan konsumen saat mencoba langsung mainan edukasi yang dipamerkan.
Dan sebuah kebanggaan juga ketika ABC Wooden Toys berkesempatan mendapat dukungan dari Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan untuk memperluas jangkauan pasar internasional. Dalam hal ini ABC Wooden Toys sukses menembus pasar Singapura dan Canberra untuk penjualan ritel dan terus melakukan langkah strategis menuju pasar global.
Brand ABC Wooden Toys yang menurut Rita berasal dari singkatan Anak Bangsa Cerdas dan Kreatif, diakuinya siap go internasional. Dengan berbagai alat permainan edukatif diharapkan positioning memadukan inovasi, pendidikan dan pemberdayaan sosial dalam setiap produk yang dihasilkan akan semakin kuat. Dan ia ingin membangun kesejahteraan bersama lewat Kerjasama dan komunikasi terbuka antara pemilik, karyawan hingga konsumen. Meski omzet masih di bawah Rp500 juta per tahun, namun dari 400 sampai 600 unit produk yang dihasilkan setiap bulannya dengan target setiap bulan menghasilkan sekitar 2 item baru, ia yakin omzet penjualan akan terus terdongkrak setiap tahun.
Diharapkan dari potongan-potongan kayu yang disulap menjadi alat permainan edukatif ini, tak hanya mendukung tumbuh kembang anak tapi juga membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Kini tak hanya sukses menjadi UMKM, Rita juga sudah menebar ilmu menjadi narasumber motivator di beberapa forum UMKM yang diselenggarakan di berbagai daerah di Indonesia. []Siti Ruslina
