Kolaborasi Nurbaiti Bersama Ratusan Pengrajin, Usung Motif Modern Tapis Lampung
Bersama ratusan pengrajin, Nurbaiti berupaya mengembangkan sulam tapis sebagai Wastra Lampung yang lebih modern dan mengedukasi pengrajin kain tapis untuk berkarya lebih professional dengan sentuhan tangan piawainya. Kerapihan menyulam kain tapis menjadi faktor utama produknya disukai pasar. Bagaimana ia mentransformasi nilai kain tapis?

Nurbaiti cukup dikenal di kalangan komunitas pengrajin sulam tapis terutama di Branti-Tataan, Dusun Induk Negeri Ulangan Jaya, Negeri Katon, Pesawaran, Lampung. Boleh jadi tahun 2017 – 2021 merupakan periode kinerja terbaik bagi Owner Nurbaiti Tapis Jaya ini, dimana pada periode tersebut ia aktif sebagai UMKM binaan Bank Indonesia (BI). Tak heran bila di tahun 2018 ia mendapat penghargaan di event Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang diselenggarakan BI.
Saat ini nama Nurbaiti Tapis Jaya terdaftar sebagai UMKM binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung, yang bergerak di bidang kerajinan kain tapis modern dan tapis warna. Keluar dari pakem sulam tapis tradisional yang mengandalkan benang emas, produknya justru semakin diminati karena memberi sentuhan motif modern melalui benang berwarna sebagai difrensiasi.
Dari usia sekolah dasar (SD), ia sudah berada di lingkungan pengrajin kain tapis. Di masa remaja ketika duduk di bangku SMP ia sudah berjualan aksesoris bando tapis. “Pulang sekolah buat bando dan besoknya dibawa ke sekolah dan dijual dengan harga, saya masih ingat Rp75,-. Dulu 5 perak sudah dapat es krim. Di sini banyak anak-anak dari kecil sudah bisa membuat sulam tapis. Banyak keluarga ekonomi lemah di lingkungan kami yang mata pencahariannya dari menyulam tapis,”ungkap Nurbaiti.
Ia menamatkan Sekolah Menengah Atas di Bandar Lampung, lalu kemudian menikah dan dibawa suami pindah ke Jakarta. Namun tahun 2006 suaminya kena PHK yang membuat Nurbaiti dan keluarga kembali pulang ke Lampung. Ia pun kembali masuk ke lingkungan pengrajin tapis dimana saat itu ia bekerja di Gallery siKaM dan bekerja di sebuah butik milik Dosen UIN Lampung.”Tahun 2012 saya sempat sakit parah dan diminta suami berhenti bekerja,”kenangnya.
Hingga di tahun 2015 ada kunjungan dari Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Pesawaran yang merupakan awal Nurbaiti membuka gallery sendiri. Pada momen itu Dekranasda sedang mencari pengrajin tapis. “Saat itu saya belum berproduksi, benar-benar masih off total. Tapi tiba-tiba ibunya lurah di tempat kami bilang ke mereka (Dekranasda-red), itu ada pengrajin tapis, ditunjuklah saya. Untungnya saya kalau buat tapis selalu menyisihkan untuk anak saya, jadi selalu ada stok. Akhirnya karena mereka minta contoh, saya kasih sekitar 3 sampai 5 helai kain tapis yang saya simpan dan semua dibeli oleh Ibu Bupati,”kata Nurbaiti seraya melanjutkan, kala itu istri Bupati Pesawaran (Nanda Indira-red) yang kala itu dijabat Dendi Ramadhona, kepincut dengan sulam tapis yang dibuat Nurbaiti.
Menurutnya rata-rata Ibu Rumah Tangga (IRT) di wilayah Negeri Katon, Pesawaran ini menjadi pengrajin tapis yang tergabung dalam Sanggar Tapis Jaya, binaan Nurbaiti, warga Desa Negeri Halangan Ratu, Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran. “ Kami disini sanggup menciptakan motif primitif,”kata ibu 3 anak ini, yang mengarahkan pengrajin membuat pola dan motif seperti apa. Motif primitif adalah motif yang terus berganti. Kain tapis yang dibuat Nurbaiti dan timnya bukan lagi yang menggunakan benang emas, melainkan sudah menggunakan benang berwarna yang membuat kain tapis lebih ringan dengan motif yang lebih modern.
Mengawali bisnis secara serius di akhir tahun 2015 ketika 3 sampai 5 helai selendangnya diborong istri Bupati Kabupaten Pesawaran. Bahkan stok kain sutera miliknya ikut dibeli sang bupati. Ia dapat sekitar Rp5 jutaan yang dijadikan modal membangun usaha tapis. Produknya dibeli lagi oleh Nanda Indira dan tak lama dari momen itu, datang kunjungan dari Bank Indonesia (BI) yang saat itu tengah mencari UMKM potensial.

Singkat cerita, karena dukungan pihak BI , 7 kain tapisnya dibawa pameran ke Jakarta oleh BI dan laku terjual senilai Rp17 juta. Dari situ penjualan Nurbaiti Tapis Jaya terus mengalami kenaikan. “Tahun 2018 dipanggil wawancara dengan Ibu Iriana Joko Widodo. Tahun 2019 rencananya saya langsung diwawancara Bapak Jokowi tapi tidak jadi karena kepadatan jadwal beliau,”ungkapnya menggambarkan prestasi yang sempat diraih beberapa tahun silam.
Di tahun 2022 ia dipanggil lagi ke Jakarta untuk bekerjasama dengan desainer Yogie Pratama dan hasil karya timnya dipamerkan dalam fashion show. “Disitu saya mendapat buket bunga dari Sandiaga Uno dan Ibu Kapolri di tahun itu,”cerita wanita kelahiran 12 Desember 1976 ini.
“Meski saya tak pernah ikut tapi produk saya sering dibawa pameran ,”ujarnya seraya menjelaskan sejauh yang ia ketahui pengrajin kain tapis di Lampung hingga saat ini masih bisa dihitung dengan jari. Namun yang terkenal dengan kerajinan tapisnya hingga saat ini paling banyak ada di wilayah Kabupaten Pesawaran, Pringsewu dan Tanggamus. “Kalau yang murni pengrajin, itu ada di tempat kami, kami yang buat, kami yang produksi, Nurbaiti Tapis Jaya sudah cukup dikenal,”aku Alumnus SMEA PGRI 3 Sukarame, Bandar Lampung ini.
Saat ini Nurbaiti tak hanya membina pengrajin tapis dari lingkungan tempat tinggal di sekitar Branti dan Pesawaran, ia juga merangkul pengrajin dari wilayah lain seperti Tanjung Bintang, Negeri Katon bahkan sampai ke pegunungan di wilayah Pringsewu. Bahkan anak-anak didik Nurbaiti sudah bisa melatih ke sekolah-sekolah. Pun tak hanya yang pandai menapis, ia pun mempekerjakan masyarakat sekitar untuk posisi pembuat pola ataupun memayet.
“Dalam waktu dekat kami akan menghadap Ibu Gubernur dalam waktu dekat ini. Kami ingin menyampaikan bahwa kami punya komunitas tapis. Kebetulan sekarang saya menjabat Wakil Ketua Komunitas Sanggar Tapis Lampung. Sebenarnya kami akan dilantik oleh Ibu Ketua Dekranasda sebelumnya. Namun karena beliau sudah mulai banyak kampanye dan kami juga sudah banyak kegiatan, akhirnya pelantikan itu ditunda,”paparnya.
Misinya untuk ketemu ibu Gubernur menurutnya ingin memperkenalkan diri kalau pihaknya punya komunitas tapis dan menyampaikan ide membuat sistem cluster pengrajin tapis. Ia ingin mengangkat pengrajin tapis hingga ke pelosok daerah . Ia minta dukungan pemasaran. “Pengrajin saya sudah lebih dari 100 orang. Itu pengrajin inti, belum pengrajin borongan yang mereka hanya setor selendang atau yang lain. Kami butuh dukungan pemasaran apalagi di saat seperti ini. Karena sepinya penjualan dari akhir tahun kemarin, sampai sekarang bahkan beberapa pengrajin saya stop dulu,’ungkapnya.
Stok yang masih tersimpan saat ini menurutnya bernilai sampai Rp100 juta. Itupun sebagian sudah ia titipkan di beberapa toko tapis. “Saya ambil modal pribadi saya untuk masuk ke modal lagi. Makanya sekarang kain tapis itu saya buat jadi rompi dan baju agar pemasarannya biar lebih cepat,”kata Nurbaiti seraya menambahkan penetrasi pasar pakaian jadi yang terbuat dari tapis sudah cukup baik.
Kini selama kurang lebih 4 tahun ini Nurbaiti bergabung dalam binaan UMKM Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung dan Dinas Koperasi Provinsi Lampung. Terakhir ia ikut andil dalam Pameran Lampung Craft 2025. “Kalau ada event kami isi di kedua dinas itu,”tukasnya.
Prinsipnya, rejeki di tangan Tuhan. “Ada yang menegur, kok kamu mau sih sampai ‘ngemper’ jualan di tenda-tenda. Bagi saya tidak masalah yang penting saya bisa mempertahankan para pengrajin saya tetap berjalan,”tuturnya.
Dua tahun terakhir ia ikut BrillianPreneur yang diselenggarakan BRI. Tahun 2023 masuk nominasi, bahkan sampel produknya dibeli salah satu kurator di acara tersebut. Dan akhir tahun kemarin meski tidak daftar tetap dipanggil untuk ikut di acara BriilianPreneur BRI di Tangerang Selatan.
Jual tapis tidak seperti menjual makanan yang setiap waktu dibeli orang. Orang membeli kain tapis boleh jadi setahun tiga kali juga tidak. Maklum satu set kain dan selendang tapis jumbo yang termurah saja sudah Rp2,5 juta. Itu yang membuatnya merasa perlu mencari target baru. Melakukan diversifikasi produk dengan membuat pakaian jadi seperti rompi adalah salah satu upaya agar tapis juga bisa dipakai untuk kegiatan sehari-hari dengan harga jual sekitar Rp350 – 500 ribu/pc. Makanya ia pun tak keberatan berjualan sampai ke lapangan terbuka yang penting ia dapat melakukan penetrasi pasar.
Diakuinya produknya melalui BI pernah di pajang di salah satu pameran di Tokyo Jepang. Dan pernah juga oleh Dekranasda dibawa ke Bali. Ia diingatkan oleh Ketua Komunitas Tapis, jangan asal gampang titip ke reseller. Karena nanti kalau brand nya tenggalam akan sulit lagi mendongkraknya. Pertimbangan dari Ketua Tapis Lampung membuatnya berpikir ulang untuk menggunakan cara reseller.
Kendalanya saat ini selain harus lebih kreatif memadu padan benang, memikirkan buat pola, memikirkan inovasi produk, belum lagi memikirkan pemasarannya bagaimana , ia juga mengelola ratusan pengrajin dan itu tidak mudah. “Apalagi kalau pengrajinnya nenek-nenek. Pekerjaannya rapih tapi dia sulit diarahkan,”keluh Nurbaiti.

Harapannya pemerintah memikirkan para pengrajin tapis. Karena pengrajin binaannya benar-benar pengrajin yang butuh makan. “Bahkan ada anak di daerah sini dari belum sekolah sampai dia kelas 2 SD sudah jadi tukang payet, sudah mahir. Sempat saya larang tapi dia suka. Keluarganya tinggal numpang di gubuk orang. Ibunya menerima sulam, dari situ dia suka bantu masuknya jarum untuk emaknya , akhirnya dia tertarik belajar dan sekarang ikut mamanya kerja. Dia menangis kalau dilarang, gak apa-apa bu’de, Najwa biar punya uang jajan,” cerita Nurbaiti.
Di tahun 2024 ini terjadi penurunan penjualan. Pertama, tidak ada event. Kedua, pasar menengah ke atas yang menjadi target kini mereka mengalami penurunan daya beli. Karena sebelumnya penjualan terbesar itu datang dari event pameran dan seminar. Jadi ketika event-event tersebut ditiadakan, sangat berdampak yang mengakibatkan turunnya omzet. “Tidak ada event sama sekali untuk tahun ini. Ini sudah seperti kondisi covid. Dulu jaman covid masih ada penjualan dari online, kalau sekarang karena ada pengefisiensi dana dan tidak ada kegiatan kunjungan, di hotel-hotel sepi, yang mau beli tapis kami siapa?,”.
Dari rumah bata merah belum berlantai keramik, dari tidak punya kendaraan sampai kebeli 5 unit motor, 3 motif baru mobil meski 2 diantaranya mobil dibawa kabur supir. Dari anak-anaknya belum sekolah sampai anaknya lulus kuliah.
Omzet penjualan saat ini semakin menurun tak seperti di masa-masa ketika Nurbaiti dalam binaan BI (2017-2021) dimana omzet bisa mencapai Rp30-40 juta per bulan. Tahun ini turun rata-rata Rp10 juta per bulan. Meski demikian tak dipungkiri mendapatkan banyak ‘cuan’ karena ada Festival Krakatau, yang mesti di tenda dalam kondisi hujan ia tetap bertahan. Hanya membawa produk rompi tapis yang sedang jadi tren, bisa terjual Rp12-13 juta selama 3 hari.
Harapannya ke depan yang menjadi mimpinya, bila di daerah Jawa ada Hari Batik, kenapa di Lampung tidak ada Hari Tapis? Kedua, di Lampung ini tidak ada generasi penerus tapis. “Karena anak-anak itu kalau orangtua yang meminta mereka belajar sulam tapis, peminatnya juga tidak sampai 2%. Tapi kalau sekolah yang menyuruh, saya rasa masih akan ada generasi penerus kerajinan tapis. Harus ada kurikulum di sekolah-sekolah untuk belajar tapis. Ini juga yang kami ajukan ke Bu Gubernur. Bagaimana caranya karyawan dalam seminggu ada satu hari menggunakan nuansa tapis. Kemarin ada informasi disuruh pakai nuansa tradisional. Tapi tetap orang pakai batik walaupun motif Lampung tapi itu batik yang bukan ciri khas Lampung,”ungkap Nurbaiti.
Ia berharap kerajinan tapis bisa lebih dikembangkan karena kerajinan ini berefek ke masyarakat, ke kaum lemah, dan para ibu rumah tangga. “Kalau yang dikembangkan cuma bordir motif tapis Lampung dengan ecoprint nya, itu bukan tapis tapi bordir yang berasal dari Jawa Barat. Kasihan pengrajin tapis yang di bawah ini yang butuh beras,”ujar Nurbaiti seraya mengatakan, tak sedikit dari pengrajin tapis yang mengambil uang duluan sebelum menyelesaikan pekerjaan karena kondisi ekonomi yang lemah. Tak sedikit dari mereka yang tinggal di pegunungan, mereka tidak punya rumah tinggal di pedesaan. Mau kerja pabrik, lokasinya jauh dan di rumah masih ada anak yang masih kecil. Tak punya ijazah, tak punya ladang. Orang yang menjadi pengrajin tapis itu orang yang tidak punya pekerjaan. “Bayangkan saya mengurus ratusan pengrajin tapis. Itulah keadaan mereka dan benar-benar mentok tak ada pilihan. Mau bayar SPP, bayar utang beras dan lain-lain. Itu realitanya di lapangan,”tuturnya.
Tahun 2016 di sebuah acara yang disponsori BKKBN, Nurbaiti diminta praktek langsung menyulam di depan para tamu diantaranya ada Puan Maharani yang ikut mencoba menapis. Puan bilang, tapis ini harus mahal karena sesulit itu ia mengerjakan.
Motifnya modern pengerjaan harus hand made. Menjadi pekerjaan rumah bagi Nurbaiti, ia berharap suatu hari ditemukan metode mengerjakan tapis ringan dengan cara yang lebih mudah, motifnya menarik tapi pengerjaannya cepat selesai. Motif yang tidak sepadat motif jaman dulu tapi semakin cantik dilihat. Ia katakan kepada UMKM binaannya, “Di awal belajar tak mesti bisa yang terpenting bekerja rapih dulu. Kalau sudah rapih kamu pasti bisa,”. [] Siti Ruslina
