Blankenheim,  Sepatu Asal Bandung Yang  Mendunia

Satu lagi pegiat UMKM dari Bandung go ekspor!  Blankenheim, lahir dari dendam seorang Beny  Sofara yang mendapati produk sepatu  made in Indonesia di Belanda yang dijual dengan harga Rp 2-3 juta.  Ia pun terobsesi melahirkan produk sepatu yang persis sama dengan harga lebih murah dan dicari konsumen dunia.  

Dari namanya, Blankenheim, masyarakat dunia mungkin tak menyangka kalau brand sepatu ini lahir dari kota Bandung, Jawa Barat. Selembar kartu nama  bertuliskan ‘Der Starkere hat immer Recht’ Blankenheim Herren-Outfit  dan di sisi belakang  kartu itu  terdapat barcode yang menuntun kita mengetahui lebih dalam tentang identitas dari nama Blankenheim yang tertera di kartu itu. Ketika kita scan, masuklah kita ke semua link Blankenheim dari marketplace, website dan link social media  yang ternyata adalah brand sepatu yang belakangan dikaitkan dengan nama Erick Thohir,  karena Menteri BUMN Republik Indonesia ternyata mempublikasikan kalau dirinya pakai sepatu produk buatan Cibaduyut ini.

Beny Sofara, Owner/Founder Blankenheim Shoes

Mengapa namanya Blankenheim? Dari mana nama itu muncul? Beny Sofara, Owner/Founder Blankenheim menjawabnya. Nama itu muncul dari nama sebuah jalan di salah satu sudut  kota di Belanda. “Blankenheim adalah nama jalan di Kota Deventer, Belanda dimana saya 1 tahun tinggal di sana,”jelas Owner/Founder Blankenheim, Beny Sofara.

Berawal dari perburuannya mencari sepatu untuk suatu keperluan ketika dirinya menuntut ilmu di negeri Belanda. Agak kaget dan kecewa ketika ia menemukan sepatu yang kualitasnya cukup bagus dan harganya lumayan mahal  tapi setelah ia lihat detilnya ternyata  made in Indonesia. Saat itu ia pun mengurungkan niat untuk membeli sepatu tersebut di negeri kincir angin ini, terlebih saat itu ia masih kuliah belum terjangkau juga membeli sepatu sekitar Rp 2 sampai 3 juta, termasuk produk yang menyasar pasar kelas menengah di Belanda.

Dari sana ia terobsesi untuk membuat  produk sendiri. Ia pun mewujudkan keinginannya. Apalagi ia berasal dari kota kembang Bandung yang terkenal dengan industri sepatunya,  Cibaduyut  yang banyak melahirkan pengrajin sepatu. Tahun 2010-2011 ketika kembali ke Indonesia, Beny mulai melakukan survey kecil-kecilan dan mencari tukang jahit sepatu yang piawai membuat produk alas kaki ini. Dari situ  lahir brand Blankenheim!

“Saya dapat trigger nya! Kebetulan rumah saya di Bandung dekat pengrajin sepatu, cuma mereka banyak produksi model formal pantofel. Sementara saya ingin menciptakan produk yang free style bisa masuk formal bisa masuk casual. Saya buat dengan desain sendiri. Maka lahirnya brand  Blankenheim”terang Beny kepada pelakubisnis.com pertengahan Agustus lalu menceritakan ikhwal melahirkan brand sepatu Blankenheim. 

Suatu ketika ia mengikuti sebuah pameran dan ada satu pengunjung ‘bule’ yang mengira sepatu yang dijual Beny  adalah sepatu buatan Jerman. Saat itu Beny belum tahu kalau brand nya berasal dari bahasa Jerman.  Karena ternyata nama tersebut juga ada di sebuah kota kecil di Jerman. 

Diakui Beny dari awal merintis usaha sepatu ia memulainya lewat social media  (socmed) seperti Facebook. Hingga suatu hari ada seorang wanita asal Jerman yang sedang mencari silsilah nama marga Blankenheim yang konon merupakan nama leluhurnya dan kebetulan  juga seorang pengrajin sepatu. “Dari instagram  juga ada seseorang yang request sepatu dengan nama ayahnya yang kebetulan juga bernama Blankenheim. Dia ingin memberikan kado ulangtahun buat ayahnya, sebuah  sepatu dengan nama Blankenheim. Buat mereka itu ada kesenangan tersendiri,” ungkap pria kelahiran 22 Juli 1981 ini.

Sebuah kesinambungan yang tidak disangka-sangka. “Padahal saya ciptakan karena terinspirasi dengan negara-negara Eropa. Produk-produk sepatu Blankenheim ini banyak terinspirasi dari gaya Eropa yang minimalis, cenderung simple, tapi modern. Pokoknya saya ingin menciptakan produk yang dicintai masyarakat dunia namun tetap bisa dicintai  pasar lokal,”tutur Beny yang sudah mempatenkan brand sepatunya ini.

Selain  brand Blankenheim, Beny juga memanfaatkan limbah Blankenheim dengan menciptakan produk-produk aksesoris seperti tas, dompet dan lain-lain yang terbuat dari kulit dan menggunakan second brand  Gouter yang juga namanya berbau Eropa.

Salah satu outlet Blankenheim di Citarum Bandung/Foto: pelakubisnis.com

Tak heran bila menyambangi outletnya di daerah Citarum, Bandung, Jawa Barat, Anda akan menemukan berbagai aksesoris seperti tas, dompet, gantungan kunci, sampai kopi bermerek Gouter. Benny menyebut Gouter sebagai “anak dari brand  Blankenheim” karena rata-rata produk aksesorisnya dibuat dari limbah Blankenheim. Sedangkan produk kopi sachet dengan kemasan alumunium foil merupakan produk kerja sama dengan supplier kopi lokal.

Dari awal kelahirannya diakui Beny, sepatu Blankenheim dijual melalui e-commerce. Barulah ketika pandemic berakhir ia mulai menyusun strategi  bisnis dengan melakukan penetrasi pasar lewat jalur O2O (online to offline-red). Terjadi persentase penjualan yang turun naik  terkait perpindahan O2O. “Baru sekitar 4 tahun kami offline, sekitar tahun 2019,”tegasnya.

Namun sangat menjual dan terjadi kenaikan yang cukup tinggi ketika Erick Thohir mempromosikan brand sepatunya di instagram tahun 2021. Pada saat itu sepatu  Blankenheim sempat  penjualannya paling tinggi di pasar marketplace. “Awalnya staf ahli Pak Teten Masduki yang memesan sepatu di pameran. Lalu beliau memesan sepatu Blankenheim untuk Pak Wishnutama , mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kebetulan Pak Wishnutama pas ada meeting dengan Pak Erick, beliau membawa sepatu Blankenheim. Pak Erick bertanya itu sepatu apa? Singkat cerita akhirnya sepatu itu diambil Pak Erick Thohir dan diposting ke social media (socmed). Selang dua minggu notifikasi bunyi terus, ternyata banyak order masuk dan instagram kami juga jadi banyak follower,”jelas Beny  tentang milestone penjualan tertinggi yang sempat dialami brand sepatunya.

Target pasar yang semula membidik kaum muda, terutama anak-anak muda yang baru lulus sekolah dan baru dapat kerja, akhirnya melebar ke usia produktif sejak Menteri BUMN Erick Thohir memamerkan produk ini lewat socmed.  

Kini segmen pasar Blankenheim bisa menjangkau banyak usia termasuk usia produktif meskipun diawal berfokus untuk segmen kaum muda. Pun yang menjadi difrensiasi dari sepatu Blankenheim adalah ini sepatu sneaker kulit untuk mereka para professional muda yang mau tampil casual. Satu hal yang menjadi positioning sepatu Blankenheim adalah sepatu sneaker  yang terbuat  dari bahan material kulit yang ringan. “Kami sangat konsisten menggunakan material dari bahan kulit,”tutur Beny seraya menjelaskan logo B (Blankenheim) yang tertera memiliki  arti simple dan modern.

Diakui Sarjana S1 Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Jawa Barat ini,  memang tak mudah melakukan penetrasi pasar diawal peluncuran produk sepatunya. Ia juga belum begitu percaya diri untuk langsung melempar produknya ke pasar. Di awal  dipakai sendiri sebelum diluncurkan ke pasar. Setelah itu  selama kurang lebih 6 bulan  baru di kalangan teman-temannya. Ia pakai, lalu teman-temannya tertarik. Dari teman-temannya pula ia mendapatkan insight customer dan menjadi masukan penting buatnya.

Dari situ ia banyak mendengar masukan dan saran dari  customer dan menjadi inovasi untuk  sepatu-sepatu baru. “Jadi kami dengarkan maunya customer seperti apa. Dari situ baru kita produksi, lalu ditest, setelah itu baru diluncurkan,”terang  mantan Account Manager Telkomsel ini.

Mengawali bisnis sepatu dengan sistem makloon ke pengrajin di Bandung dan seiring dalam perkembangannya kini ia sudah mampu memproduksi sepatu sendiri dengan mengandalkan 5 orang karyawan. “Karena ternyata dengan system makloon sering ada keluhan dari customer. Kita maklumi karena para pengrajin ini juga menangani pesanan brand lain. Kalau lagi butuh cepat kami harus menunggu antrian. Itu jadi kendala. Makanya kami cari pengrajin sendiri,”ungkap Beny seraya menambahkan untuk tas dan sepatu sudah diproduksi sendiri sementara untuk produk jaket diakuinya masih makloon. Sekarang ini produksi sepatu Blankenheim sebulan mencapai sekitar  250 pasang sepatu. 

Meski menggunakan brand berbau asing, tapi menurut Beny saat ini kontribusi penjualan terbesar masih dari pasar lokal sebesar 90%. Sementara untuk pasar  internasional ia masih harus berupaya keras menembusnya. Di beberapa kesempatan ia sempat dikenalkan dengan calon buyer dari Afrika. Hanya saja tidak jadi karena ada permintaan menggunakan brand besar seperti Louise Vuitton dan lain-lain. Tapi ia tolak. “Itu bahaya! Lain halnya bila mereka beli tanpa brand,”ungkap Beny seraya menyebutkan, pada tanggal 18-21 Agustus 2023 sepatu Blankenheim  mendapat kesempatan diperkenalkan  ke Manila, Philipina  oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dijembatani oleh Atase Perdagangan dan ITPC (Indonesian Trade Promotion  Center)  untuk mencari peluang pasar ekspor. Dilalahnya justru produk aksesoris nya yang disukai buyer.

Menjadi kendala buatnya ketika pasar ekspor meminta ukuran sepatu yang lebih besar, sementara pengrajin belum terbiasa dan dibutuhkan modal lebih besar. “Cetakannya saja modalnya Rp40 juta. Tapi untuk saat ini tak apa kami masuk pasar ekspor lewat tas dan aksesoris saja dulu. Perlahan mungkin siapa tahu bisa merambah ke sepatunya,”ujar Sarjana S2 bidang Management dari Saxion University, Deventer, Belanda.

Selama tiga tahun dalam perjalanannya Beny membawa  image Blankenheim sebagai sepatu yang mengangkat nilai-nilai emotional-nya Cibaduyut yang sedang meredup. “Misi kami adalah pebisnis lokal yang memberdayakan pengrajin dari Cibaduyut dengan menggunakan material lokal. Kita ingin mengangkat craftman  sepatu Cibaduyut untuk kembali bersinar. Si Blankenheim ini semacam etalase Cibaduyut tapi dengan  kemasan yang lebih kekinian dan modern,”papar Beny.  

Tak dipungkiri sejak viralnya endorsement yang dilakukan Menteri BUMN Erick Thohir, omzet  sepatu Blankenheim naik 50 sampai 70 persen setelah pandemic kemarin.  “Waktu pandemic kami hanya menurunkan angka produksi karena biar pengrajin dapurnya tetap ‘ngebul’,”kata Benny. Sementara harga bahan baku sol dan bahan kulit naik juga 25 persen. Karena slow moving jadi ia menurunkan produksi jadi sekian persen.

Tak ayal sejak Menteri BUMN Erick Thohir memamerkan sepatu Blankenheim yang dipakainya di socmed, sejak saat itu banjir order dari banyak perusahaan BUMN juga masyarakat umum. Tak hanya sepatu Blankenheim, kategori produk kerajinan lain yang dijual Beny pun ikut terdongkrak.  “Sudah cukup banyak pelanggan B2B (business to business) kami. Seperti Pertamina, bank BUMN dan BUMD juga. Kami juga sudah masuk platform PaDi UMKM (Pasar Digital UMKM Indonesia-red),”terang  Beny  tentang bisnis sepatunya yang omzetnya diperkirakan sekitar Rp2 milyar per tahun dengan harga jual mulai Rp626 ribu hingga jutaan rupiah.

Sejauh ini kategori aksesoris seperti dompet, gelang, yang  terbuat dari  sisa produksi kulit sepatunya juga tak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih dalam membidik segmen korporat (B2B).

Dalam hal sumber pendanaan menurutnya terakhir  ia pernah mendapat pendanaan dari Program KUR BRI  karena Blankenheim  pernah menjadi Juara 2 UMKM EXPO(RT) Brilianpreneur 2022 sehingga meraih hadiah sebesar Rp20 juta dan diberikan fasiilitas  kurs 0% namun tidak diambil lagi karena menurutnya ia masih mampu mengcover biaya produksi. Perolehan penghargaan Brilianpreneur 2022 menurut Beny dikarenakan keadaptifan  pengorganisasian Blankenheim untuk go digital dan sudah hadir di marketplace bahkan sudah memiliki website yang memungkinkan konsumen bisa langsung bertransaksi melalui website.  Selain Brilianpreneur 2022, Blankenheim juga memperoleh sejumlah  penghargaan seperti sebagai finalis di  Anugerah Kreasi Indonesia dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan beberapa penghargaan lainnya.

Banyak pembinaan dari  beberapa instansi kementerian seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Perindustrian,  Kemenparekraf juga pendanaan dan fasilitas pameran dari bank-bank BUMN seperti BRI, BNI dan Bank Mandiri. Pun karena latarbelakang nama brand yang dibangun berorientasi pada negeri Belanda, usahanya juga sempat mendapatkan bimbingan dari lembaga nirlaba Nederland.

Karena diawal latarbelakang lahirnya brand  Blankenheim Shoes dari Belanda, namun ternyata  nama Blankenheim berasal dari Jerman, maka saat ini dari desain komunikasi visual outlet Blankenheim bernuansa Eropa dan menggunakan komunikasi bahasa Jerman tapi  simbol warna orange yang menjadi identitas negeri Belanda tetap mendominasi dan menjadi ciri khas outlet Blankenheim.[]Siti Ruslina/Abrar Rizq Ramadhan