Bandeng Olahan, Mimpi Besar Petani Tambak Ikan Kabupaten Pemalang

Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang Jawa Tengah terkenal dengan budidaya ikan bandeng air payau dan menjadi pemasok besar makanan olahan bandeng presto Juana, Pandanaran dan sebagainya. Muhammad Taufik, menjadi salah satu petani tambak ikan bandeng yang menikmati ‘gurihnya’ usaha tambak ikan bandeng. Dalam satu kali panen penjualannya mencapai Rp90 juta per kolam. Jadi berapa ratus juta rupiah bila memiliki banyak kolam?

Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah terkenal sebagai daerah perikanan dan merupakan salah satu penghasil ikan bandeng terbesar di Indonesia. Tak heran bila tempat ini dijuluki ‘Bandeng Sejuta Rasa’ karena dari tempat ini beragam masakan olahan bandeng dihasilkan. Dari kabupaten ini tersebar ratusan petani ikan bandeng yang hasilnya terdistribusi ke wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur  hingga Jabodetabek.

Tahun 2021 terbentuk  Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) Rukun Makmur Kecamatan Ulujami yang  fokus memproduksi  ikan bandeng olahan. Namun demikian, dari ratusan petani budidaya ikan bandeng belum tentu menjadi anggota BUMDesma. Justru banyak petani  mandiri yang tidak terikat dengan pola penjualan melalui BUMDesma Ulujami tetap berpikir praktis, selama ada tengkulak yang menampung hasil budidayanya, maka disitulah petani menjual ikan bandeng hasil tangkapannya. Tapi kehadiran BUMDesma Ulujami setidaknya memberi pencerahan bagi masyarakat petani di Kabupaten Pemalang bahwa daerah ini tak sekedar sukses membudidayakan ikan bandeng saja melainkan mampu mengolahnya menjadi makanan olahan seperti bandeng krispi, abon bandeng, bandeng presto bahkan menjadi bandeng salto (salai dan presto) yang berupa ikan asap tanpa duri.

Pada kesempatan di event Trade Expo Indonesia (TEI) 2024, Ketua BUMDesma Rukun Makmur Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang Jawa Tengah, Sardiyan menjelaskan, ikan bandeng yang dihasilkan petani di Ulujami, Kabupaten Pemalang memang sudah cukup dikenal dan produsen bandeng olahan seperti Bandeng Presto Juana, Bandeng Presto Pandanaran hingga Purwokerto , sebagian besar dipasok dari daerah ini.

Muhammad Taufik (43) generasi kedua petambak ikan bandeng Desa Limpangan, Ulujami/Foto: dok. pribadi

Salah satu petani pembudidaya ikan bandeng di Ulujami adalah Muhammad Taufik. Pria kelahiran 1982 ini meneruskan usaha ayahnya yang sudah puluhan tahun menjadi petani (tambak) bandeng mandiri di Desa Limbangan, Ulujami, Kabupaten Pemalang. Namun diakuinya saat ini hasil budidaya ikan bandengnya belum masuk ke BUMDesma.  Karena kemampuan menyerap hasil panen tambak ikan bandeng  masih sangat terbatas akhirnya di sana banyak tengkulak  yang siap membeli hasil panen petani dalam skala besar.

Tak pelak lagi, petani bandeng lebih banyak menjual hasil panen ke para tengkulak. Dari tangan para tengkulak itu, ikan bandeng dijual kembali ke pabrik-pabrik Bandeng Presto ke Juwana, Bandeng Presto di  Pati, Bandeng Presto Semarang dan Jakarta, di samping pasar bebas lainnya. “Pabrik Bandeng Presto BUMDes belum sebesar  pabrik Presto di Semarang. Hanya sebagian kecil hasil panen petambak bandeng di Pemalang yang mampu diserap BUMDes,” katanya kepada pelakubisnis.com seraya menambahkan, mungkin tujuan berdirinya BUMDes ini untuk mengangkat hasil panen bandeng petambak lokal, sehingga masyarakat lokal turut menikmati. Untuk menuju ke situ butuh proses,”ucapnya.

Selama ini petambak bandeng di Desa Limbangan, menunggu digarap secara semi intensif dengan menggunakan pakan ikan yang dibuat pabrik.  Dengan memberi pakan bandeng buatan pabrik, hasil ikan bandeng tidak berbau lumpur. Taufik salah satu petani yang sudah mulai menggunakan sistem intensif dengan membeli pakan ternak yang dipasok dari Cikarang, Jawa Barat. “Sekarang ikan bandengan asal Desa  Limbangan sudah di tingkat kualitas yang bagus, istilahnya di grade A. Karena kualitas lebih bagus itu yang membuat harga ikan bandeng di daerah saya dengan di Sumatera dan Kalimantan ada selisih harga (lebih mahal) karena berbeda rasa,” ungkap Taufik.

Sejauh ini, petambak bandeng mandiri di Desa Limbangan bebas menjual hasil panen ikan bandengnya ke tengkulak. Bisa dijual di lokal, Juwana Pati, Semarang, Purwokerto, BUMDes Ulujami  atau Jakarta.“Saya sendiri sebagai petambak bandeng sudah generasi kedua. Ayah saya punya kolam ikan dan sekarang diturunkan ke saya sebagai anak laki-laki paling besar,” kata anak keempat dari 5 bersaudara (tiga perempuan, dua laki-laki-red) ini,  seraya menambahkan, orangtuanya sejak tahuan 80-an sudah menjadi petani tambak bandeng. Di Pemalang memang sudah lama dikenal dengan budidaya bandeng. Namun ayahnya sempat beralih ke budidaya udang tiger (udang windu-red) pada tahun 80-an sampai 90-an, namun sekarang kembali menekuni usaha tambak ikan bandeng.

Aktifitas panen bandeng di Desa Limbangan, Ulujami/Foto: Dok. Pribadi

Sekitar tahun 2014 kembali lagi ke budidaya ikan . Saat itu, menurut Taufik, budidaya  masih dilakukan dengan cara lama, secara tradisional tanpa menggunakan pakan buatan. Sekarang budidaya bandeng sudah skala produksi dengan menggunakan pakan buatan pabrik.

Taufik menjelaskan, bila dulu dalam 1 hektar diberi bandengan sebanyak 5000 ekor, tapi sekarang dalam 1 hektar berisi ikan 15.000 ekor. Pengelolaan tambak menggunakan mesin sirkulasi udara, menggunakan pakan buatan pabrik. Bila dulu tebar bibit ikan bandeng dari ukuran benih sampai besar. Sekarang petambak sudah punya kolam khusus pembibitan (kolam pengkerdilan-red) yang dimasukkan sekitar 200.000 bibit ikan bandeng. Bila ukuran ikan sudah sebesar ukuran ibu jari, baru dipindah ke kolam pembesaran. Dengan cara demikian tingkat kematian ikan lebih rendah, karena ikan sudah mulai besar. Misalnya di kolam pembesaran ditebar 15.000 ikan , maka kemungkinan hidup bisa mencapai 90 persen.

Ia menambahkan, model pertambakan ikan bandeng, biasanya ada petambak yang khusus menjual bibit ikan. Setelah 2 bulan atau seukuran ibu jari, ikan-ikan tersebut dijual ke petambak bandeng. “Saya punya beberapa kolam. Ada kolam khusus pembibitan dan ada beberapa kolam khusus pembesaran. Saya juga jual bibit ikan bandeng berusia 2 bulan (ukuran ibu jari) yang siap dibesarkan,” tandasnya serius.

Ikan bandeng  dari mulai pembibitan sampai panen memerlukan waktu 6 sampai 7 bulan. Sejak dulu para petani budidaya bandengan dijalankan secara otodidak. Tapi sejak budidaya ikan bandengan dijalankan secara semi intensif, sudah mulai mengenal teknologi budidaya ikan bandeng. Misalnya menerapkan teknologi sirkulasi udara, menggunakan pakan ikan buatan pabrik yang biasa digunakan adalah pakan ikan dari Cikarang, Jawa Barat.

Sejauh ini pihak pabrik pakan ikan men-support petambak ikan bandeng. Di mana produsen pakan ternak tersebut mendatangkan tenaga pebimbing ke lokasi-lokasi tambak untuk mendapatkan penyuluhan. Di Kecamatan Ulujami , ada ratusan petambak ikan bandeng dari mulai skala kecil sampai skala besar. “Saya memiliki 3 kolam dengan ukuran 25.000 M2, 20.000 M2 dan 15.000 M2. Total luas tambak saya sekitar 6 hektar. Rata-rata panen per kolam mencapai 9-an  ton atau mencapai 27-an ton sekali panen dengan harga jual Rp 25.000/per kg,” tambah alumni Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Tegal 1998-2000 ini.

Menurutnya,   ikan bandeng bisa diolah beberapa varian. Dari mulai menjadi bandeng presto sampai bandeng  salai. Tapi masyarakat Pemalang belum familiar dengan bandeng salai. Saat ini ia lebih memilih menjual hasil panen tambaknya langsung ke tengkulak (tangan pertama). Sedikitnya sekali panen bisa meraup mencapai Rp 600-an juta. Angka sebesar itu belum dipotong biaya perawatan dan pakan ikan.

Sebelum menjadi petani tambak bandeng ia bekerja ke Jepang dari mulai tahun 2001 sampai 2019. Tapi ada waktu jeda. Tahun 2007 sempat usaha ikan tuna singgah ke Nusa Tenggara Timur (NTT). “Saya beli ikan tuna dari nelayan, kemudian dipotong-potong dan dijual kembali ke restoran  di Jakarta dan Bali untuk sashimi sushi. Sambil bisnis ikan tuna, ia kuliah mengambil jurusan Ilmu Hukum.

Sebetulnya prospek ikan laut sangat bagus, karena pasarnya global. Waktu itu usaha ikan tuna di NTT cukup berkembang namun pada akhirnya ia kembali pulang ke Pemalang. Karena saat itu ia harus memilih dekat dengan keluarga atau jauh dari keluarga. ”Istri saya guru di kampung  (Pemalang). Akhirnya saya mengalah mengikuti istri pulang kampung. Kebetulan orangtua memanggil pulang ke kampung untuk melanjutkan usaha tambak bandeng orangtua,” urai alumni Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana, NTT ini yang mulai serius menggeluti usaha tambak ikan bandeng sejak 2014. Tapi sempat kembali ke Jepang pada tahun 2017 sampai 2019, bekerja sebagai pengawas lembaga perikanan di Jepang.

Menurut Taufik, bekerja di Jepang memang gajinya lumayan. Dengan posisi sebagai Pengawas sebuah lembaga perikanan di Jepang, penghasilannya mencapai Rp 15 – 20 juta per bulan.  Tapi masalahnya usaha tambak ikan bandeng orangtua tidak ada yang mengawasi, dan hasilnya tidak maksimal. Tapi setelah ia turun langsung ternyata hasil dari tambak bandeng menjanjikan bila dikelola dengan serius. “Saya mulai menangani tambak bandeng secara serius baru tahun 2019 sampai sekarang,” tandasnya, seraya menyebut, sekarang penghasilan sebagai petambak ikan bandeng bisa melampuai gajinya selama bekerja di Jepang. Namun bukan berarti berjalan mulus. Ia juga sempat mengalami kerugian akibat banjir yang mengakibatkan ternak banyak yang mati karena sedimen lumpur. Terjadi gagal panen yang mengakibatkan kerugian. “Estimasi saya kerugian mencapai Rp80 jutaan,”ujar Taufik.

Diakuinya, sejak kecil sudah mengenal tambak ikan. Sering membantu orangtua di tambak. Boleh jadi orangtua menyekolahkan Taufik masuk ke SUPM juga karena harapan orangtua agar ia bisa melanjutkan usaha keluarga. “Sebetulnya saya mau lari dari dunia perikanan. Tapi ujung-ujungnya kembali juga ke habitat asal keluarga, terjun ke dunia perikanan,” ungkapnya seraya berharap semoga ilmu yang ia dapat di SUPM kelak berguna untuk memaksimalkan usaha tambak ikannya. Tak hanya sekedar budidaya ikan bandeng, melainkan bisa menghasilkan produk makanan olahan ikan bandeng siap saji yang lezat dan bisa mendunia. []Siti Ruslina/Yuniman Taqwa