Ani Ratnaningsih Menyulap Tanaman Kering Jadi Cuan
Pegiat UMKM Ani Ratnaningsih menyulap limbah tanaman menjadi produk craft bernilai jual tinggi. Perlu ketekunan dan kesabaran dalam mengolahnya. Dari bahan mentah, ada proses penjemuran, lalu dikeringkan (dried flower), proses bolder dan sebagainya. Tak mudah membangun usaha craft jenis ini tapi produknya sangat disukai turis asing. Bagaimana Ani membangun usahanya?

Berangkat dari hobi mengoleksi tanaman karena sedari kecil ia melihat orangtuanya suka dengan tanaman. Ditambah lagi skill yang dimiliki di bidang kriya (craft) yang membuat Ani Ratnaningsih terpacu membesarkan usaha craft bermerk Kembang Kamonesan. “ Dari kecil saya sudah suka kalau melihat daun dan bunga. Dulu waktu kecil saya senang bawa ranting dan daun kering ke rumah. Dari lima bersaudara, hanya saya yang memiliki ketertarikan akan tanaman. Sampai kimereka bilang, ngapain bawa-bawa sampah,”kata Ani Ratnaningsih, Owner Kembang Kamonesan membuka percakapan dengan pelakubisnis.com di kediamannya di daerah Antapani, Bandung, Jawa Barat.
Kembang Kamonesan dalam bahasa Sunda adalah bunga yang dibuat dari keahlian atau kabisa yang unik. Arti lebih luas dari nama ini adalah kerajinan tangan berbasis tanaman yang diolah secara unik, artistik dan kreatif yang diklasifikasikan pemilik usaha ini menjadi dua jenis kreasi yakni kreasi bunga kering dan bunga buatan yang kemudian menjadi produk akseroris fesyen, home décor, dried real flower, leaves, corn-husk based stationary dan bahan baku alami hiasan bunga kering lainnya. Harga jual produknya berkisar Rp20-250 ribu/piece.
Milestone usaha dimulai ketika suaminya memasuki masa pensiun dan ia pun mulai mencari kegiatan yang memberikan manfaat bagi diri dan orang lain (2015). Waktu itu ia mulai mencari tempat kursus oshibana (seni mengeringkan bunga dan tanaman-red). “Dari dulu ingin sekali dan ternyata ada tempat kursusnya di Bogor Jawa Barat, di tempat Bu Mutia Prasodjo,”kenang wanita kelahiran 21 September 1965 ini.

Dalam pikirannya kok bisa, tanaman yang tadinya segar kemudian layu dan mengering bisa awet dan menjadi sesuatu bernilai artistic dan ada nilai jualnya. Sementara di sekelilingnya banyak sekali limbah tanaman. Akhirnya ia masuk Aspringta (Asosiasi Pengusaha dan Pecinta Bunga Kering Bunga Buatan) yang dulu diinisiasi Lia Aminuddin sebelum menjadi Lia Eden.
Dari Aspringta, Ani belajar tentang pengeringan kulit jagung, palem putri dan lain-lain. Selesai kursus ia berpikir, kalau hanya sekedar hobbi, kalau ia meninggal, ilmu itu semua terkubur. Namun setelah melihat sustainability pada bidang ini, ia tergerak mengembangkan usaha dengan membawa nama Kembang Kemonesan. Stimulusnya adalah selain ada banyak orang yang berharap mendapat pekerjaan darinya dan itu tidak mudah, sebagai manusia ada pergulatan dalam pikirannya, apa yang bisa dia bawa saat ‘pulang’ kembali keharibaan Illahi nanti.
Di tahun 2015 sampai 2016 ia mengajar anak-anak dan ibu-ibu juga bapak-bapak di pelosok Cicalengka Bandung. Di awal kiprahnya ia mulai ikut bazaar seperti di Crafashtival 2015, Bazaar Komunitas Hayu Hejo Kita Baru Parahyangan dan sebagainya. Di tahun yang sama ia membuat cover notes dengan menggunakan bahan baku alam seperti daun dan ranting pohon.
Pada 9 September 2016, menyelenggarakan workshop pengeringan bunga dan berkesempatan membuat pembatas buku bersama Ibu-Ibu Agrianita Fakultas Peternakan IPB-Bogor. Ia juga mengajar mahasiswa-mahasiswi Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB-red). Di daerah sentra jagung Garut Jawa Barat ini para mahasiswa ITB melakukan kegiatan KKN . “Saat itu mereka (para mahasiswa-red) kebingungan mau dibawa kemana sampah kulit jagung ini?,”ujar istri dari alumni ITB, Rahadian Krishna ini. Kebetulan saat itu ada yang mengajaknya mengajar di Garut sebulan sekali. Tahun 2017 persisnya ia memberikan pelatihan pemutihan dan pewarnaan kulit jagung di Desa Dangdeur, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Di Cicalengka ia melakukan pembinaan sejak Desember 2015 sampai tahun 2018. Di awal 2016 semua ilmu sudah ditransfer dan ia meminta kepada para muridnya untuk mulai produksi. Pikir Ani, ilmu sudah dikasih semua, semoga memberi manfaat. “Ibu, saya memang bisa bikin kalung seperti ini tapi saya gak tahu beli bahannya dimana. Kalaupun ada di Cicalengka, harganya pasti mahal. Dan saya juga gak tahu jualnya kemana,”Ani meniru respon pesimis para pengrajin di daerah tersebut.
Padahal ceruk pasar Kembang Kamonesan masih besar namun suplay bahan baku masih terbatas. Untuk kulit jagung ia masih mencari ke Garut. Contoh seperti di Cicalengka, menurut Ani, skill orang-orangnya sudah bagus, namun mereka tidak ada keinginan untuk memproduksi bahan baku meski sebenarnya bisa dan sudah diajarkan. Akhirnya mereka tetap membeli bahan baku jadi. “Mereka hanya mau membuat aksesoris, sementara membuat bahan bakunya seperti kulit jagung, mereka gak mau tahu prosesnya,” jelas Ani yang selama mengajar menemukan karakter murid yang berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain.

Cicalengka binaan Ani Ratnaningsih/Foto: Dok. Pribadi
Terkait dengan kerapihan ada daerah yang hasilnya kurang rapih karena biasa mendapat order dari pasar grosiran. Sedangkan bicara produk handycraft, itu perlu ketelitian dan kerapihan. Ia berusaha mengubah mindset para pengrajin untuk membuat sesuatu seperti halnya membuat untuk diri sendiri. Berikan yang terbaik! Bukan hanya bagus tapi rapih dan bersih.
Di tahun 2016 ia mengelola sumber daya manusia. Dari 40 orang binaan kini tinggal 6 orang yang bekerja untuknya. Bahkan ketika covid tinggal 3 orang. Mereka mundur rata-rata karena urusan domestik membantu suami di rumah dan masalah utama terkait ekonomi. “Saya belum bisa kasih apa-apa selain ilmu,”tuturnya kepada murid binaannya.
Produk anting dan kalung tulip Kembang Kamonesan juga pernah dibawa Perkumpulan Bumi Alumni ke event G20 di Bali. Masing-masing item ia bawa 10pcs dan sisa 1 anting dan 2 kalung tulip. “Produk ibu simpel juga unik. Jadi untuk oleh-oleh gampang masuk tas,”kata si penjaga booth ke Ani.

Kendala mindset pengrajin yang rata-rata ibu rumahtangga yang ia bentuk menjadi pengrajin. Akhirnya hanya 6 orang yang tersaring. Menurut wanita 60 tahun ini, mereka yang tersaring adalah yang memiliki skill, talenta dan mental bisnis cukup kuat.
Di 2024 kemarin secara mandiri ia menghadiri event handycraft di Jepang. Diakuinya keberagaman hanya ada di Indonesia. Tapi handycraft Jepang sangat rapih dan detil. Tahun lalu ia juga mendapat fasilitas ikut pameran di event Hongkong Mega Show 2024 dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat. Dari kurasi 200-an orang UMKM Jawa Barat, terpilih 6 orang yang berangkat (business to business). “Hari pertama ada buyer yang minta 15 ribu pieces, tapi saya gak mau. Saya katakan, ini bukan mass product, ini handmade. Seribu pieces saja saya kewalahan karena handmade. Kalau orang pikirannya cuma dagang mungkin akan menerima begitu saja, tapi usaha saya ini gak begitu. Kami ingin kerja sama yang panjang. Jadi barang tapi kalau dibalikin semua karena tidak sesuai spek? Saya perlu channel dan orang-orang yang terpercaya. Saya yang kerjakan sendiri juga antara satu produk dengan produk lain hasilnya beda-beda,”jelasnya seraya menyebut banyak mengambil pelajaran dari kejadian di Hongkong itu. Namun ia sadar diri kapasitasnya belum sampai ke sana, karena produknya handmade. Apalagi diakuinya masih terkendala dalam hal pemasaran. Belum lagi kendala bercampur dengan urusan domestik.
Sementara ini aktifitas pemasaran Kembang Kemonesan banyak dilakukan secara offline (below the line) melalui Dekranasda, di hotel-hotel dan ikut pameran-pameran craft seperti Inacraft (2023), Brilianpreneur (2025), BRI UMKM EXPO(RT) 2025, atau bazaar seperti di Kota Baru Parahyangan (2018) sampai ke Hongkong Mega Show 2024, tergabung dalam Craft Council of West Java Province Indonesia. “Dari Agustus hingga Oktober ini ikut di beberapa event craft seperti Bazaar Nikah Massal dan Hotel Sheraton selama sebulan. Mungkin ada sekitar 6 event lagi di tahun ini,”papar ibu dari tiga anak ini.
Diakuinya ingin seperti sosok Rieka Suatan, pakar keterampilan yang cukup familiar di negeri ini. Dengan bekal kemampuannya mengajar bidang keterampilan seperti atelier, Rieka mampu membina banyak pengrajin craft di tanah air. Kalau Rieka Suatan tidak menjual produk melainkan menjual keterampilan. Tapi Ani Ratnaningsih selain mentor, ia juga memproduksi barang kerajinan tangan (craft).
Ani sempat menolak ketika mendapat orderan belasan ribu pieces produk craft. “Kenapa tidak memproduksi aksesoris dengan bahan imitasi dan dijual massal di pasar? Setidaknya bisa mendongrak revenue? Dengan membuat second brand misalnya?,”pancing pelakubisnis.com. Dijawabnya, “Saya di persimpangan itu pak, saya juga instruktur mengajar ke daerah-daerah seperti Lampung saya mengajar 100-an orang di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, terus ada di Sulawesi di Masamba, dan beberapa daerah di luar Jawa Barat. Tapi mengajar saja tidak ada kepuasan seperti menghasilkan produk. Makanya saya memproduksi barang. Jadi untuk membuat lebih banyak sebagai mass product, terus terang saya belum bisa!,”.
Diakuinya saat ini omzet Kembang Kemonesan masih di bawah Rp10juta per bulan. Dengan usia senja ia hanya mengisi waktu. Ikut training dari satu daerah ke daerahnya. Ia mulai berpikir, harusnya punya target berapa orang yang menjadi channel distribusinya kelak.
Dari sisi kemampuan, harusnya Ani bisa menghasilkan diversifikasi produk dari hulu ke hilir. Mulai dari pengolahan limbah tanaman seperti ranting pohon, daun, bunga, kulit jagung yang berkat kepiawaian tangannya bisa menjadi produk aksoris perhiasan dan perlengkapan rumah yang indah dan unik, seperti vas bunga, baki (nampan) dengan tatakan gelas dan sebagainya.
Tapi saat ini menurutnya, hal tersebut belum bisa dilakukan maksimal. Ani memang sangat hati-hati mengelola usaha Kembang Kamonesan. “Ada yang mengajak pameran di Jerman dengan sistem konsinyasi dan harus keluar uang yang tak sedikit untuk biaya operasional,”ujarnya seraya menyebutkan, pengalaman pameran di Singapura dan Malaysia, ia malah merugi.
Kendati demikian Ani juga mendapat support dari beberapa instansi dan komunitas seperti platform hybrid UMKM Digital, Bumi Alumni Galeri, yang kerap membawa produk Kembang Kamonesan di acara seperti G-20 di Bali. Mendapat support juga dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Dinas Pariwisata dan Budaya Provisi Jawa Barat.
Selain itu berkat kegigihan dan ketekunan Ani Ratnaningsih memproses limbah menjadi produk bernilai tambah, dimana ia menggunakan bahan alami berupa tanaman yang dikeringkan, pada tahun 2023 lalu Kembang Kamonesan mendapat penghargaan dari Dekranas lewat koleksi kalung Puspa Kinanti yang diakui sebagai Karya Kriya Terbaik Indonesia. Proses pengerjaannya sekitar 3 jam dari pengeringan, laminating, dipotong, dan lain-lain.
Beberapa kejuaraan dalam berkarya tak luput dari Ani yang selalu mengasah diri menggali potensi. Pada Mei 2018 ia pernah ikut Lomba Top Icon Souvenir Indonesia yang diselenggarakan Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Pusat dan saat itu Kembang Kamonesan meraih Juara 1 Pemenang Top Icon Souvenir Nasional Kategori Khusus, mewakili bidang Craft IPEMI Kota Bandung.
Baru tahun 2024, menjadi salah satu yang pertama bergabung dalam komunitas UMKM binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang diakuinya tanpa sengaja bergabung dengan lembaga nirlaba milik PT Astra International Tbk ini. “Pertama interaksi dengan YDBA lewat Universitas Parahiyangan (Unpar). Disitu ada formulir pendaftaran UMKM YDBA, saya ikut daftar. Saya generasi pertama UMKM Bandung yang ikut YDBA. Manajemen Keuangan Sederhana, sekecil apapun harus terpisah dari keuangan keluarga. Itu sudah saya lakukan sebelum masuk YDBA. Tapi ia belum sempat dapat pelatihan 5R. Baru manajemen pemasaran, membuat kemasan dan keuangan sederhana,”ungkap Alumni Universitas Padjadjaran, jurusan Sastra Arab ini.
Ia juga kerap memanfaatkan story telling dalam menjelaskan keunikan produknya. Tak heran bila ia selalu memberikan penjelasan tentang bagaimana satu produk itu dibuat dan di setiap lembar story telling kemasan produk Kembang Kamonesan selalu dicantumkan barcode untuk mengetahui lebih jauh tentang item produknya. “Kalau ingin tahu lebih banyak tinggal scan story tellingnya. Itu langkah awal yang diajarkan dari YDBA. Satu kelas 30 orang. Disitu diihat yang aktif dipilih 6 orang untuk didampingi. Dari sessi pertama sampai sessi terakhir saya dapat pendampingan terus,”terang Ani tentang pengalamannya ikut pelatihan di YDBA.
Selama 4 bulan ia mengikuti pelatihan YDBA. “Sebulan sekali ada 6 sessi pertemuan pelatihan. Manajemen keuangan instrukturnya dari Jakarta. Saya rasa dari sekian pelatihan yang saya ikuti, dengan YDBA sepertinya sudah lebih baik. Karena ada pendampingan. Selama ini pelatihan dengan yang lain, kadang nanya ke narasumber pun tidak dijawab,”tutur pegiat UMKM yang terpilih sebagai 6 peserta terbaik yang diberikan kesempatan presentasi dalam penutupan pendampingan YDBA, November 2024 ini. Sebenarnya menurut Ani, yang ia butuhkan adalah tutor yang bisa men’drive’ dirinya secara step by step. Dan itu ia peroleh di YDBA.
Diakuinya hingga saat ini pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dalam usahanya masih dibangun dengan atmosfir kekeluargaan. Selain ingin membangkitkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan, ia ingin menumbuhkan kreativitas, meningkatkan kompetensi dan pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan limbah tanaman. Satu hal lagi yang menjadi mimpi pemilik usaha Kembang Kamonesan ini, ia ingin mengembalikan Bandung sebagai kota kembang. “Kembang berarti ‘bunga’. Saya ingin mengembangkan kembali Bandung sebagai kota ‘bunga’,”pungkas Ani menutup percakapan.[]Siti Ruslina
