Sepak Terjang Kamiyanti Mendobrak Pasar Ekspor

Setelah 20 tahun berkecimpung  di bidang ekspor dengan menjabat sebagai buyer dari perusahaan modern market di Timur Tengah, akhirnya ia memilih pindah kuadran berganti peran sebagai supplier bagi perusahaan ritel raksasa tersebut.   Seperti apa sepak terjang Kamiyanti  sebagai eksportir?

Kamiyanti, Ketua Bidang Ekspor UKM IKM Indonesia/Foto: pelakubisnis.com

Siapa sangka tubuhnya yang mungil mampu  menggebrak pasar global   dengan mengekspor   produk-produk buatan dalam negeri. “Belum lama kami mengekspor sepatu  menembus 10 ribu pasang,”ungkap  Kamiyanti, Ketua Bidang Ekspor UKM IKM Nusantara kepada pelakubisnis.com membuka percakapan.

Pencapaian yang diraihnya tidak instan. Lebih dari 20 tahun ia bergelut di bidang ekspor.  Kepiawaiannya  blusukan mencari supplier di tanah air membuat portofolio jaringan pemasok semakin luas.  Ia semakin mafhum dengan business process di bidang ekspor  karena sebelumnya ia pernah berada dalam dunia pengadaan barang  yang  membuatnya lebih mudah mendapati banyak  supplier. Dan hubungan baik yang terjalin dengan perusahaan modern market  tersebut, membuatnya mampu membuka pasar ke Timur Tengah.  Sukseskah? Yap! Terbilang sukses.  Bayangkan, saat ini outlet  modern market  yang menerima produknya ini memiliki 250 gerai  yang tersebar di beberapa wilayah Timur Tengah seperti Oman, Abudhabi,  Dubai dan Qatar.

Adalah jaringan ritel Lulu Hypermarket Dubai  tempatnya bekerja dulu yang  memberi  kepercayaan  untuk handling buyer. Setahun dua kali  ia melakukan survey pasar ke  Dubai dan negara-negara Timur Tengah lainnya,  mencari apa yang dibutuhkan pasar.  Ketika diketahui demand di masing-masing negara, barulah ia mendatangi pabrik-pabrik di Indonesia dan terjadilah transaksi.

Menurutnya begitu besar potensi pasar ekspor.  Apalagi bila kita mafhum tentang bisnis prosesnya.  Secara bertahap dilakukan survey pasar.  Setelah diketahui keinginan pasar, ia akan membawa sampel ke expo. Setelah buyer tertarik dan memilih produk, barulah ia bergerilya mencari  barang. “Harga jual di negara Timur Tengah relatif lebih mahal tiga kali lipat.  Keripik pisang yang disini dijual Rp15 ribu/bungkus, di sana bisa Rp50 ribu. Kalau UKM IKM kita bisa ekspor ke sana apa gak milyaran dapatnya?,”ujar Kamiyanti memberi gambaran besarnya peluang pasar ekspor. 

Setelah 20 tahun menjalani perannya sebagai buyer mewakili perusahaan ritel ternama tersebut, lama-lama ia merasa lelah dan mulai berpikir untuk pindah kuadran.  Dengan jaringan supplier yang  dimililki dan  keinginan pasar ekspor ke Timur Tengah yang menjadi jaringannya saat itu, menguatkan hatinya untuk pindah kuadran.

Lensi dan Kamiyanti berbagi peran dalam membesarkan CV Permata Lens Abadi/Foto: Ist

Enam tahun lalu ia coba jajaki sendiri. Namun terasa sulit.  Hingga akhirnya tahun 2018 ia mengajak Lensi Permatasari yang tak lain adalah teman sekolahnya semasa di SMA.  Kemudian mereka  merintis usaha dan membangun badan hukum CV Permata Lens Abadi.  Dalam hal ini,  untuk urusan yang terkait dengan perizinan ekspor adalah bagian pekerjaan Kamiyanti. Sementara rekannya, Lensi Permatasari yang memiliki idle money berperan sebagai investor.  “Lensi sebagai investornya, saya yang  mencari buyer-nya,  karena link buyer sudah ada. Alhamdulillah sampai sekarang pasar masih repeat buying,”tutur wanita 52 tahun ini.

“Dulu saya berperan sebagai buyer, sekarang saya jadi supplier.  Jadi buyer butuh  apa, kami siapkan.  Jaringan UKM IKM  cukup banyak. Saya bilang, kalian punya barang apa, sini kasih kita semua!,”ujar ibu dari Muhammad Rahdika ini.

Sementara  Lensi, mengakui  tidak memiliki latarbelakang  di bidang bisnis. Lulus kuliah di bidang Pariwisata, ia menikah  dan menjadi ibu rumah tangga. Sampai akhirnya datang Kamiyanti menawarkan kerja sama , terjun ke dunia bisnis. Saat itu Kamiyanti  pun mulai mengenalkan  business process  dunia ekspor impor kepada sahabatnya ini. 

Bermodal Rp150 juta, gayung bersambut, akhirnya  Lensi memberanikan diri menaruh uangnya  menjalankan bisnis ekspor bersama Kamiyanti.  “Dalam hal ini CV Permata Lens Abadi tidak buat produk, tapi  menyediakan produk sesuai permintaan pasar ekspor,”ujar Lensi Permatasari, Owner CV Permata Lens Abadi.

Namun di tengah perjalanan membangun usaha ini, mereka pun tak luput dari benturan masalah. Suka duka sebagai pengusaha pun dialami Lensi yang sebelumnya tak memiliki pengalaman di bidang bisnis.  “Resiko jadi pengusaha pasti ada untung ruginya. Gak selamanya mulus. Sebagai eksportir kami memiliki hubungan kerja dengan pihak ketiga, dalam hal ini penghasil produk seperti penjahit, pengrajin dan lain-lain. Karena saling terkait dan ketergantungan, hubungan ini harus berlandaskan kepercayaan. Tapi gak tahu kenapa mungkin namanya manusia tidak luput dari kesalahan, suka ada yang cheating atau nakal,”ungkap Alumni Universitas Sahid Jakarta ini.

Ia memberi contoh! Muncul masalah waktu yang meleset dari perjanjian, tidak sesuai target  atau hasil akhir produk yang tidak sesuai dengan sample dan muncul  masalah-masalah lainnya. “Memang  selalu ada kekecewaan, karena pasti merugikan saya. Tapi akhirnya itu dijadikan sebagai pengalaman dan pelajaran berharga yang harus disiasati untuk lebih preventive ke depannya,”timpal  ibu empat anak ini.

Menembus pasar global dengan nilai ekspor Rp1 milyar/Foto: Ist

Tahun 2019 kegiatan ekspor berjalan mulus.  Sudah puluhan kontainer diberangkatkan. Hingga muncul pandemic tahun 2020. Usaha  Kamiyanti dan Lensi vakum sebentar dan kembali  aktif  lagi ketika  datang orderan masker penutup mulut yang saat itu booming . “ Bisa  tembus 1 kontainer ukuran 20 feet berisi masker bernilai Rp 1 milyar,”aku Kamiyanti.  

Dan belum lama ini  juga sukses mengirim sepatu karya anak Indonesia ke Dubai dengan nilai ekspor mencapai  lebih dari Rp1 milyar. Selain masker dan sepatu, bersama Lensi, ia mengekspor produk celana legging,  produk tekstil, handcraft  dan itu full container sampai 20 feet. “Alhamdulillah pertama ekspor langsung  balik modal ,”ucapnya.

Sukses menembus pasar Timur Tengah,  sekarang bersama UKM IKM Nusantara,  ia mencoba menjajaki pasar lebih luas dan menambah item produk seperti  pashmina sampai frozen  food  dan lain-lain yang juga diekspor ke  Dubai.  Dan selanjutnya ia bersama tim UKM IKM Nusantara siap-siap ekspor ke  Amerika Serikat (USA).

Berdayakan UMKM membuat produk celana legging, handcraft sampai masker/Foto: Ist

Diakuinya tidak sampai terjadi kendala ‘carry over stock’ (kelebihan stok-red).Semua berjalan lancar sesuai order. Diakuinya lebih mengerjakan sesuai pesanan dan tidak memproduksi lebih produk orderan. Kalaupun ada lebih sedikit itu langsung dijual di pasar dalam negeri dan itu laku terjual.

Sejauh ini sistem pembayaran dari buyer  menurutnya terbilang aman dan lebih berkomitmen.  “Saat ini permintaan pasar lebih banyak  produk-produk fesyen dan tekstil,”tuturnya dalam melihat  pasar ekspor.

“Sekarang saya menunggu gebrakan dari pemerintah.  Jangan dana anggaran buat UKM IKM disalah gunakan saja,”tukas Kamiyanti.

Sebenarnya, lanjut Kamiyanti,  kendala yang paling dirasakan UMKM/UKM  saat ini  adalah dalam hal minimum order quantity (MOQ) ketika memesan packaging (kemasan).  Indonesia sudah buat desain packaging yang bagus sekali. Namun satu kendala yang masih menjadi persoalan adalah mahalnya biaya memesan packaging.  “Jadi satu UKM bila hanya memproduksi 5000 kemasan,  biaya packaging-nya menjadi mahal sekali.  Kalau beli lebih dari 500 ribu, baru harganya bisa Rp 100,-. Tapi kalau beli untuk 5000 kemasan, itu harganya Rp5000 per kemasan,”paparnya. 

Rumah-rumah desain untuk packaging  di Indonesia cukup banyak, namun sampai hari ini masih terkendala  dengan masalah biaya packaging yang mahal. Memang ironis!  “Saya sudah beberapa kali sampaikan ke kementerian, tapi sampai sekarang belum ada solusinya. Sampai sekarang belum ada titik temu.  Padahal desain kemasan kita gak kalah loh dengan China,”ungkap wanita asal Sulawesi ini.

Kedua, masalah pajak.” UKM kalau bisa jangan dikenakan pajak dulu. Sekarang  seperti  petani  ekspor kacang mede dikenakan pajak,  harusnya tidak usah. Sekarang untuk urus  perijinan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)  saja harus bayar.  Halal Sertifikat tidak bayar sih. Ditambah lagi packaging-nya kurang bagus  karena pelaku usahanya  tak kuat dengan biaya kemasan yang mahal terpaksa hanya memakai sticker,”keluh Kamiyanti. []Siti Ruslina/Foto: Ist